TOTALITAS PERJUANGAN

Seorang negarawan mengungkapkan, suatu Negara akan maju apabila ditunjang oleh tiga faktor pendukung yang satu sama lainnya saling berkaitan.

Pertama, sumber daya alam yang melimpah ruah. Suatu Negara bila ditunjang dengan sumber alamnya yang kaya, maka Negara tersebut tidak perlu membutuhkan atau membeli bahan-bahan mentah dari Negara-negara lain. Ia tinggal memanfaatkan tenaga-tenaga handal yang siap untuk mengelola sumber-sumber dan bahan-bahan mentah yang telah dimilikinya itu.

Kedua, Sumber daya manusia yang berkualitas tinggi. Bila suatu Negara memiliki sumber daya manusia yang cerdas dan berkualitas tinggi, maka Negara tersebut dapat memberdayakan masyarakatnya untuk mengelola negerinya sendiri tanpa membutuhkan tenaga-tenaga ahli dari luar negeri. Sebab, tenaga-tenaga handal dalam negeri tidak akan menghabiskan anggaran terlalu tinggi dan bisa dialokasikan untuk hal-hal lain yang lebih penting sifatnya. Sementara bila suatu Negara terlalu mengandalkan tenaga-tenaga ahli dari luar negeri, Negara tersebut akan mungkin terkuras alokasi anggarannya hanya untuk membiayai gaji tenaga ahli dari luar negeri tersebut dan belum tentu keuntungan yang didapat dari pekerjaannya itu menguntungkan negaranya. Salah satu contohnya freefort di Indonesia yang selalu menjadi perbincangan di tanah air dan luar negeri.

Yang ketiga, yaitu penguasaan teknologi yang modern, artinya peralatan untuk membangun Negara tersebut diusahakan harus terus dinamis dan modern. Sebab penggunaan alat-alat modern tersebut akan mengurangi penghamburan waktu alias suatu pekerjaan dapat dilakukan secara efektif efisien. Bila suatu pekerjaan dilakukan dengan peralatan tradisional membutuhkan waktu satu hari, mungkin bila dikerjakan dengan peralatan modern hanya dibutuhkan waktu satu jam saja, inilah maksudnya penguasaan teknologi secara modern tersebut. Semua ini adalah factor-faktor perjuangan.

Al-Maududi pernah suatu saat menasehatkan, perjuangan diibaratkan membabat ilalang di areal tanah ribuan hektar dengan sebilah pisau. Tidak usah mengeluh, lakukanlah dan gunakan pisau itu secara bersungguh-sungguh dan tunjukanlah kepada Allah, walaupun hasilnya hanya beberapa meter sehari. Kesungguhan dalam melakukan suatu pekerjaan lebih penting daripada alat atau fasilitas yang digunakannya. Walaupun usaha untuk membabat ilalang itu bagian depan sudah terselesaikan, besoknya bagian belakang telah tumbuh lagi. Bagian belakangnya terselesaikan, bagian depannya tumbuh kembali, begitu pula bagian samping kiri terbabat habis, bagian kanan tumbuh pula dan begitu seterusnya. Pekerjaan seperti ini bukan berarti sia-sia tapi upaya untuk menunjukkan nilai kesungguhan dihadapan Allah. Bila hanya melihat ilalang yang begitu rimbun di tanah ribuan hektar lantas kita putus asa karena tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk membabatnya, maka tidak akan pernah terjadi usaha untuk melakukannya. Melakukan suatu pekerjaan dengan fasilitas yang kita miliki itu lebih penting daripada menunggu fasilitas yang belum kita miliki. Sebab Allah akan melihat dan menilai kesungguhan seseorang dalam segala hal. Bila dengan sebilah pisau saja kita tidak mengeluh membabat ilalang tersebut, maka jangan kaget bila suatu saat Allah akan memberikan sebilah golok. Apabila golok sudak kita miliki, maka pergunakanlah golok tersebut sebaik-baiknya. Kalau kita sudah pintar menggunakan golok untuk membabat ilalang tersebut dan bersungguh-sungguh menggunakan dan mengerjakannya, maka tidak mustahil Allah akan memberikan kita traktor. Bila sudah demikian, maka apa yang kita sulitkan? Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Segala sesuatu bisa terjadi, hanya tinggal kitanya apa kita sudah yakin akan kekuasaan Allah dan bersungguh-sungguhkah kita melakukan suatu pekerjaan dan menunjukkannya kepada Allah, ikhlas karena-Nya. Sikap seperti inilah yang kita butuhkan sekarang insya Allah Negara ini akan maju.

Menurut Al-Maududi, rumus hidup dan kehidupan itu ada dua; pertama, bagaimana cara bekerja. Kedua, bagaimana cara bersyukur. Kedua rumus hidup ini terdapat dalam dua surat dalam al-Qur’an, yaitu surat al-Ankabut ayat 69 menegaskan tentang cara bekerja. Yakni :

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orangyang berbuat baik” (Al-Ankabut : 69).

 

Seseorang yang bekerja dengan sungguh-sungguh demi mendapatkan keridlaan Allah SWT, Allah tentu akan membukakan jalan-jalan, solusi apabila terdapat kesulitan dan akan memberkahi segala apa yang telah ia kerjakan itu. Kesungguhan dalam bekerja tidak selalu harus diukur dengan materi belaka, tapi yang utama dan terutama adalah keikhlasan mengerjakan dan kesungguhan dalam melaksanakan pekerjaan tersebut hanya untuk Allah swt. Dengan demikian, Allah tentu akan membukakan pintu-pintu kemudahan baginya. Inilah yang dimaksud dengan cara bekerja.

Dan surat Ibrahim ayat 7 yang menegaskan tentang cara bersyukur, yakni:

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu. Dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (Ibrahim : 7).

 

Allah telah menegaskan dalam surat Ibrahim diatas, bahwa siapa yang bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya, maka Allah akan menambahkan kembali kenikmatan itu bahkan lebih dari sekedar menambahkannya. Akan dialirkan pintu-pintu rezeki dan keberkahan kepadanya. Begitu pula sebaliknya, siapa saja yang inkar (tidak bersyukur) terhadap nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya, tidak akan segan-segan Allah akan menutup pintu rezeki dan kenikmatan-kenikmatan lainnya kepadanya, seimbang dengan kekufuran yang telah diperbuatnya kepada Allah Sang Pemberi segalanya. Adzab yang pedih yang dijanjikan Allah kepada mereka yang kufur nikmat itu tidak saja akan diberikan nanti diakhirat, namun tentunya di dunia ini pula ia akan menerima kenyataan pahit itu. Segala kesulitan, tantangan, dan rintangan yang sering ia hadapi akan terus terulang dan semakin menjadi, nau’udzubillahi min dzalik. Maka bagaimana kita bekerja itu termasuk didalamnya adalah kepandaian kita mengucapkan syukur kepada pemberi kenikmatan tersebut yaitu Allah swt. Bersyukur bermacam-macam bentuk pelaksanaanya tergantung kemampuan orang yang telah mendapatkan nikmat dari-Nya. Sekecil-kecilnya syukur adalah mengucapkan hamdalah dengan penuh keikhlasan kepada-Nya. Inilah sekilah makna dan cara bekerja menurut ayat yang tersirat dalam surat Ibrohim tersebut diatas. Wallahu ‘alam bisshawwab…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s