“Pengaruh Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pesantren Suryalaya Terhadap Praktek Keagamaan di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung Tasikmalaya.”

ABSTRAK

 “Pengaruh Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pesantren Suryalaya Terhadap Praktek Keagamaan di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung Tasikmalaya.”

Pesantren yang didirikan oleh Kyai Sepuh bernama Abdullah Mubarak Ibn Nur Muhammad, mempunyai tradisi kepesantrenan layaknya pesantren yang lain. Namun dengan tarekat yang menjadi sumber utama pengajaran, menyebabkan pesantren ini identik dengan tarekat yang dianutnya. Nama tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) seringkali menggantikan nama pesantren Suryalaya yang saat ini dipimpin oleh Abah Anom yang bernama Shahibul Wafa Tajul Arifin.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana praktek tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah serta  pengaruhnya terhadap masyarakat sekitarnya yaitu mesjid dan mushalla di desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung.

Penelitian ini dilakukan dengan mengadakan observasi langsung terhadap obyek penelitian. Penulis terlibat langsung untuk mengetahui jalannya praktek tarekat pada Pesantren Suryalaya sekaligus mengamati terhadap praktek-praktek yang terdapat di mesjid dan mushalla desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung.

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa praktek tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan di Pesantren Suryalaya ternyata diikuti pula oleh masjid-masjid dan mushalla yang ada disekitarnya yaitu di desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung. Hasil penelitian juga menunjukkan, bahwa selain melakukan praktek tarekat di masjid dan mushalla, juga jamaahnya terkadang mengikuti praktek tarekat di Pesantren Suryalaya secara langsung.

“Influence Qadiriyah Naqsabandiyah Pesantren Suryalaya Against Religious Practice in the Village Tanjungkerta Pagerageung Tasikmalaya District.”

Pesantren founded by Kyai Sepuh named Abdullah  Mubarak Ibn Nur Muhammad, has a tradition of kepesantrenan like other pesantren. But with a congregation that became the main source of teaching, leading boarding schools is identical to the congregation that was followed. Name of congregation Qadiriyah Naqsyabandiyah (TQN) often replaces the name of the current Suryalaya pesantren led by Abah Anom named Shahibul Wafa Tajul Arifin.

This study aimed to determine the extent of the practice Qadiriyah Naqsyabandiyah congregation and its effect on the surrounding community in the village mosque and mushalla Tanjungkerta Pagerageung District.

The research was carried out by conducting direct observation of the object of research. The author is directly involved to know the way the practice of the congregation at the Islamic School Suryalaya once observed of the practices contained in the mosque and village mushalla Tanjungkerta Pagerageung District.

The results showed that the practice of the congregation Qadiriyah Naqsyabandiyah performed in Pesantren Suryalaya was followed by the mosques and mushalla that is around the village Tanjungkerta Pagerageung District. The results also showed that in addition to the practice of the congregation at the mosque and mushalla, congregations sometimes also followed the practice of the congregation at the Islamic School Suryalaya directly.


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Tradisi pesantren merupakan kerangka sistem pendidikan Islam, tradisi di Jawa dan Madura yang dalam perjalanan sejarahnya telah menjadi obyek para sarjana yang mempelajari Islam di Indonesia.[1] Penelitian terhadap pesantren selalu menyisakan bagi para peneliti berikutnya, termasuk pula di dalamnya pesantren Suryalaya. Hal ini disebabkan pesantren Suryalaya mempunyai peranan yang dapat dilihat dari berbagai aspek. Bentuk pesantren itu sendiri, tarekat yang diamalkan dalam pesantren, pengobatan/terapi maupun sejarah perkembangan pesantren Suryalaya sering kali menjadi obyek penelitian baik peneliti dari dalam negeri maupun dari dunia Barat.[2]

Pesantren yang didirikan oleh Kyai Sepuh yang terkenal dengan panggilan Abah sepuh bernama Abdullah Mubarak Ibn Nur Muhammad[3], mempunyai tradisi kepesantrenan layaknya pesantren yang lain[4]. Namun dengan tarekat yang menjadi sumber utama pengajaran, menyebabkan pesantren ini identik dengan tarekat yang dianutnya. Nama tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah (TQN) seringkali menggantikan nama pesantren Suryalaya yang saat ini dipimpin oleh Abah Anom yang bernama Shahibul Wafa Tajul Arifin.

Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah adalah dua tarekat yang berbeda, baik pendirinya maupun bentuk ajarannya. Perpaduan dua tarekat ini merupakan jasa dari seorang ulama Indonesia yang berasal dari Sambas Kalimantan Barat bernama Syeikh Ahmad Khatib As Sambasi (lahir tahun 1802 M), yang bermukim dan meninggal di Mekkah pada tahun 1878 M.[5]

Masuknya tarekat qadiriyah dan naqsabandiyah ke daerah haramain diterangkan oleh berbagai ilmuwan. Snouck Hurgronje memberitakan ketika ia belajar di Mekah menyamar sebagai seorang muslim, melihat adanya markas besar tarekat Naqsabandiyah di kaki gunung Jabal Qais[6]. Demikian pula menurut Trimingham seorang Syaikh dari Minangkabau dibai’at di Mekah pada tahun 1845[7]. Menurut Van Bruneissen baik tarekat qadiriyah maupun naqsabandiyah dibawa ke tanah mekkah melalui para pengikutnya dari India.[8]

Di Makkah ini dan khususnya di Masjid al-Haram, muncul pusat-pusat diskusi (halaqah-halaqah) atau ribâthribâth dalam berbagai disiplin ilmu agama termasuk pengembangan ajaran-ajaran tarekat. Dan kemudian dalam perkembangan selanjutnya pada abad ke-18 muncul sebuah tarekat yang dimodifikasi dari gabungan Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah oleh Syekh Ahmad Khatib Sambasi dengan nama Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah[9].

Syeikh Akhmad Khatib As Sambasi yang berhasil memadukan kedua tarekat tersebut tidak memakai namanya untuk perpaduan kedua tarekat tersebut. Syeikh Akhmad Khatib as Sambasi yang notabene berasal dari Indonesia berusaha menyebarkan TQN kepada orang-orang yang berasal dari Indonesia.

Sebagai seorang guru tarekat, ia mengangkat muridnya yang dianggap dipercaya atau sering disebut khalifah yang sewaktu-waktu menjadi asistennya dalam memperlancar proses transformasi ajarannya. Mereka para khalifah tersebut adalah tiga orang yang dianggap paling berpengaruh dan menonjol yaitu; Syekh Abdul Karim yang berasal dari Banten, Syekh Ahmad Hasbullah ibn Muhammad yang berasal dari Madura, dan Syekh Tholhah yang berasal dari Cirebon.[10] Syekh Tholhah merupakan guru dari “Abah Sepuh” pendiri pondok pesantren Suryalaya. Pada tahun 1908 Syeikh Tholhah memberikan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) kepada “Abah Sepuh” atau tepatnya tiga tahun setelah pesantren berdiri.[11]

Zamakhsyari Dhofier menyebutkan bahwa di tahun tujuh puluhan, empat pusat utama TQN di Jawa, yaitu: Rejoso, Jombang di bawah pimpinan Kiai Tamim; Mranggen dipimpin oleh Kiai Muslih, Suryalaya, Tasikmalaya di bawah pimpinan K.H. Shohibul wafa Tajul ‘Arifin (Abah Anom); dan Pegentongan,Bogor dipimpin Kiai Thohir Falak. Silsilah Rejoso didapat dari jalur Ahmad Hasbullah, Suryalaya dari jalur Kiai Tolhah. Cirebon dan yang lainnya dari jalur Syaikh Abd. Al-Karim Banten dan khalifah-khalifah.[12]

Kepemimpinan Abah Anom telah memberikan perkembangan bagi TQN pada Pesantren Suryalaya. Pesantren tidak hanya sebagai pusat pengembangan TQN tetapi juga mempunyai peranan dalam  penyembuhan anak-anak remaja yang mempunyai ketergantungan terhadap narkotika dan zat terlarang lainnya. Dengan menggunakan metode riyadlah dalam tarekat ini, Abah Anom mengembangkan psikoterapi alternatif   untuk kesembuhan bagi mereka yang mempunyai  penyakit psikis dan penyakit-penyakit fisik akibat gangguan psikhis (psikosomatik) karena penyalahgunaan obat-obatan terlarang[13].

Untuk kepentingan terapi ini, kemursyidan TQN membuka “cabang-cabang pondok pesantren” dalam bentuk inabah[14] yang menurut Kharisudin Aqib pondok inabah ini merupakan suatu bentuk “ijtihad” metode suluk atau khalwat yang lazim dipraktekkan dalam tradisi tasawuf dalam rangka pembersihan jiwa (tazkiyatun nafsi)[15]. Pada saat ini inabah-inabah tersebut berjumlah 25 buah, 6 (enam) diantaranya tidak aktif.[16]

TQN di Pesantren Suryalaya telah menjelma dalam bentuk tarekat perpaduan dengan berbagai tradisi yang dimilikinya. Amalan-amalan tarekat yang terdapat TQN dapat digolongkan pada amalan khusus dan amalan umum. Amalan khusus adalah amalan yang harus benar-benar diamalkan oleh pengikut sebuah tarekat dan tidak diamalkan oleh orang di luar tarekat atau pengikut tarekat lain, amalan ini bisa bersifat individual ataupun kolektif. Yang termasuk individual adalah dzikir, muroqabah, rabitah, mengamalkan syariat, melaksanakan amalan-amalan sunnah, berperilaku zuhud dan wara’, khalwat atau uzlah. Sedangkan amalan kolektif adalah khataman.

Adapun yang termasuk dengan amalan-amalan umum adalah amalan yang ada dan menjadi tradisi dalam tarekat tetapi amalan juga biasa dilakukan oleh masyarakat Islam di luar pengikut tarekat. Yang termasuk individual adalah wirid, tawashul, hizib, ‘ataqah atau fida akbar dan yang termasuk kolektifnya adalah istighatsah, manaqib, ratib.

Dengan peranan pesantren yang cukup besar, baik dalam bidang pendidikan, tarekat, maupun penyembuhan tampaknya perlu dilakukan penelitian terhadap masyarakat sekitar pesantren khususnya di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung dalam praktek keagamaan, apakah pesantren Suryalaya mempunyai peranan cukup besar terhadap praktek keagamaan di masjid-masjid wilayah Desa Tanjungkerta Kecamatatan Pagerageung tempat di mana pesantren Suryalaya berada.

  1. B.     Perumusan Masalah

Untuk mempertegas penelitian ini, akan diuraikan rumusan masalah sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah praktek-praktek Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Suryalaya?
  2. Bagaimanakah pengaruh Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya terhadap praktek keagamaan pada masjid-masjid di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung tempat pesantren berada?
  1. C.    Tujuan Penelitian

Untuk lebih tegasnya tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui:

  1. Praktek-praktek Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Suryalaya.
  2. Pengaruh Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya terhadap praktek keagamaan pada mesjid-mesjid di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung tempat pesantren berada.

Pada dasarnya tujuan penelitian ini adalah karena melihat besarnya Pondok Pesantren Suryalaya baik sebagai sebuah tarekat (Qadiriyah Naqsabandiyah) maupun dengan peranan lainnya baik di dalam maupun di luar negeri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat Pesantren Suryalaya dalam dimensi lokal yaitu pengaruhnya terhadap lingkungan Kecamatan Pagerageung tempat pesantren berada. Pengaruh ini dapat dilihat dari adanya kesamaan praktek ritual pada Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya dengan masjid-masjid yang ada di Kecamatan Pagerageung.

D.  Signifikansi Penelitian

Penelitian ini mempunyai kegunaan yang cukup signifikan terutama untuk:

  1. Memberikan pemahaman terhadap keberadaan Pesantren Suryalaya pada saat ini baik dari tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah, lembaga pendidikan, maupun inabah untuk terapi psikis.
  2. Memberikan pemahaman tentang pelaksanaan ritual tarekat yang dilakukan oleh Pesantren Suryalaya.
  3. Memberikan pemahaman yang seimbang tentang peranan Pesantren Suryalaya pada tingkat regional maupun dalam dimensi lokal di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung tempat pesantren berada.

E.  Penelitian Terdahulu Yang Relevan

Terdapat beberapa penelitian terdahulu menyangkut dengan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah berkenaan dengan Pesantren Suryalaya yaitu :

  1. Martin van Bruinessen tentang Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia yang menguraikan tarekat tersebut dengan sedikit menjelaskan tentang bentuk ritual keagamaan-nya.
  2. Zamakhsari Dhofier dalam penelitiannya yang berhubungan dengan Tradisi Pesantren menyinggung dalam salah satu babnya tentang perkembangan tarekat Qadiriyah Nadsabandiyah.
  3. Nurcholis Majid dalam bukunya Islam Agama Peradaban membahas mengenai tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah sebagai sebuah praktek keagamaan dan gerakan kesufian.
  4. Haryatno meneliti Pondok Pesantren Suryala di  bidang terapi psikhis dalam tesisnya berjudul Jangka waktu Pembinaan dengan Penurunan Gejala-gejala Ketergantungan Narkotika di Inabah I PP Suryalaya, Yogyakarta FPS UGM, 1994.
  5. Penelitian yang dilakukan Kharisudin Aqib menyangkut upaya kesufian dalam mensucikan jiwa yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Suryalaya dengan judul disertasinya, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Suryalaya Studi Tentang Tazkiyatun Nafsi Sebagai Metode Penyadaran Diri, Disertasi UIN Jakarta ini selesai pada  Tahun 2001.
  6. Sebuah buku berjudul Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Sejarah Asal Usul dan Perkembangan-nya oleh Harun Nasution (ED) merupakan buku yang banyak dijadikan rujukan mengenai tarekat meskipun hanya membahas seputar keberadaannya, sejarah, asal usul dan perkembangan pada kemursyidan Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat.

Dari penelitian-penelitian tersebut, belum ada yang secara khusus meneliti tentang hubungan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah  Pondok Pesantren Suryalaya dengan masyarakat sekitarnya. Oleh karenanya penelitian ini dianggap belum pernah dilakukan oleh peneliti sebelumnya meskipun beberapa referensi tetap mengambil dari peneliti yang sudah ada.

BAB II

KAJIAN TEORI

 

Penelitian ini merupakan penelitian terhadap tarikat-tarikat Islam. Tarekat itu sendiri menurut Abu Bakar adalah suatu jalan untuk sampai kepada tujuan ibadah yaitu hakikat[17]. Tarekat secara harfiah berarti “jalan” mengacu kepada suatu system latihan meditasi maupun amalan-amalan yang dihubungkan dengan sederet guru sufi. Tarekat juga berarti organisasi yang tumbuh seputar metode sufi yang khas. Pada masa permulaan, setiap guru sufi dikelilingi oleh lingkaran murid mereka dan beberapa murid ini kelak akan menjadi guru pula. Boleh dikatakan bahwa tarekat itu mensistematiskan ajaran-ajaran dan metode tasawuf. Guru tarekat yang sama mengajarkan metode yang sama, zikir yang sama, muraqabah (meditasi) yang sama. Seorang pengikut tarekat akan memperoleh kemajuan melalui sederet amalan-amalan berdasarkan tingkat yang dilalui oleh semua pengikut tarekat yang sama. Dari pengikut biasa (mansub) menjadi murid (tamid) selanjutnya pembantu Syeikh atau wakil guru (khalifah-nya) dan akhirnya menjadi guru yang mandiri (mursyid).[18]

Secara sosiologis, nampaknya latar belakang lahirnya pola-pola kehidupan kerohanian termasuk tarekat ataupun tasawuf serta gelombang pasang surutnya tidak hanya berlandaskan doktrin keagamaan belaka, melainkan juga sumber-sumber nonagamawi seperti aspek sosial, politik, ekonomi dan psikologis sebagai wujud perubahan dan dinamika dalam kehidupan masyarakat pada waktu itu[19]. Sebagai contoh adalah munculnya gerakan kehidupan zuhud dan uzlah yang dipelopori oleh Hasan al-Basri (110 H) sebagai reaksi terhadap pola hidup hedonistik (berfoya-foya) yang dipraktekkan oleh para pejabat Bani Umayyah.[20]

Pada gilirannya kegiatan ini akan membentuk pandangan hidup baik individu ataupun kelompoknya. Dapatlah dikatakan bahwa ajaran agama dalam bentuk tarekat ini telah membentuk budaya dan pribadi seseorang yang terlihat dalam kegiatan keagamaannya. Geertz mengatakan bahwa wahyu membentuk suatu struktur psikologis dalam benak manusia yang membentuk pandangan hidupnya, yang menjadi sarana individu atau kelompok individu yang mengarahkan tingkah laku mereka.[21] Budaya agama tersebut akan terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan perkembangan kesejarahan dalam kondisi objektif dari kehidupan penganutnya[22].

Di Indonesia bentuk tarekat yang telah memberikan corak keagamaan tertentu adalah Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang termasuk jajaran Tarekat mu’tabarah dengan kualifikasi kejelasan silsilahnya, yakni bersambung baik tidak langsung  maupun langsung kepada Nabi dan Ajarannya sesuai dengan syari’at yang berlandaskan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.[23] Ajaran tarekat yang telah melekat pada pribadi seorang muslim dapat dilihat dalam kehidupan sehari-harinya terutama setelah ia melakukan shalat fardhu dalam bentuk amalan dzikir. Pada Pondok Pesantren Suryalaya ritual tarekat sangat mudah dijumpai terutama di masjid Pesantren setelah melakukan shalat fardhu atau waktu-waktu tertentu.

Sedangkan bagi masyarakat sekitarnya yaitu di Kecamatan Pagerageung, amalan tarekat dapat dilihat di masjid-masjid. Bagi sebuah pesantren, masjid merupakan elemen yang sangat penting dan bagi individu muslim lainnya, masjid merupakan sarana beribadah dalam menjalankan shalat lima waktu, khutbah dan sembahyang jum’ah.[24] Mesjid sebagai sebuah tempat beribadah umat Islam di Indonesia memiliki banyak sebutan atau istilah seperti surau, langgar, tajug dan masjid seperti yang akan dijelaskan. Keragaman istilah tersebut berkaitan erat dengan fungsi, ukuran dan kepemilikannya. Misalnya Tajug – di daerah Jawa Barat – selain fungsi utamanya sebagai tempat shalat berjamaah, rukun warga, juga sekaligus berfungsi lembaga pendidikan non formal keagamaan. Tajug berukuran lebih kecil dari masjid dan bersifat terbuka yakni siapapun boleh menggunakannya sebagai tempat beribadah. Kepemilikan Tajug sering dinisbahkan pada ustadz pengasuh yang biasanya menjadi pendiri tajug tersebut.

Selain masjid masih ada penamaan lain dalam bentuk yang sama yaitu “Langgar” yaitu:   tempat ibadah yang memenuhi persyaratan yang digunakan untuk shalat rawatib dan berada dilingkungan masyarakat yang jamaahnya sedikit dan umumnya dibangun oleh seorang tokoh agama atau ustad dan sekaligus dijadikan sebagai tempat pengajian atau majelis taklim dan tidak digunakan  untuk shalat jum’at. Dan  “Mushala” adalah tempat atau ruangan atau bangunan yang digunakan untuk shalat (rawatib atau sholat jum’at) yang terletak di tempat-tempat tertentu seperti Kantor, Mall/Pasar, Lembaga Pendidikan,  Stasiun pelabuhan laut, bandar udara, dan tempat-tempat umum lainnya. Kemudian dibeberapa daerah dikenal pula dengan istilah surau dan meunasah untuk pengertian yang sama mushala atau langgar. Di Jawa Barat (Sunda) di sebut Tajug. Banten (Serang) disebut Bale untuk sebutan mushalla, atau Bale Kambang yang dibangun alakadarnya yang digunakan sebagai tempat berteduh juga dapat digunakan untuk tempat shalat Zhuhur dan Ashar yang berada di tempat pemandian umum atau di pematang sawah yang hanya cukup untuk tiga  sampai lima orang. Baik masjid, mushalla, langgar, surau, tajug maupun bale sesuai dengan fungsinya sebagai tempat ibadah  adalah hak milik Allah dan statusnya bersifat terbuka untuk semua kaum muslimin.[25]

Dalam penelitian ini perlu dibatasi mengenai pengertian masjid sebagai tempat ibadah di mana di tempat itu dilakukan ibadah shalat jum’at. Akar kata dari masjid adalah sajada dimana sajada berarti sujud atau tunduk. Kata masjid sendiri berakar dari bahasa Arab. Kata masgid (m-s-g-d) ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke 5 Sebelum Masehi. Kata masgid (m-s-g-d) ini berarti “tiang suci” atau “tempat sembahan”[26] Dalam kajian sosiologi agama[27], kedudukan masjid mempunyai nilai sentral untuk mengetahui perilaku seseorang sebagai pemeluk agama Islam, maupun untuk mengetahui praktek-praktek keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat sekitarnya. Kajian sosiologi Islam pada dasarnya ingin memahami tentang sesuatu praktek keagamaan yang telah teratur dan terjadi secara berulang-ulang dalam masyarakat sebagai suatu kesatuan yang didasarkan pada ikatan-ikatan yang sudah teratur atau stabil.[28] 

Kajian sosiologis pedesaan menjadi bagian terpenting dalam memahami sebuah praktek keagamaan ataupun ritual tarekat ketika terjadinya perbedaan antara satu lokasi penelitian dengan penelitian lainnya. Pada tahun 1970 Smith dan Zopt melahirkan sosiologi pedesaan untuk mengkaji hubungan anggota masyarakat di dalam dan antara kelompok-kelompok di lingkungan pedesaan. Roger yang mempelajari ilmu kemasyarakatan dengan setting pedesaan perlu untuk mengungkapkan unsur-unsur yakni Daerah, Tanah yang produktif, lokasi, luas dan batas yang merupakan lingkungan geografis. Unsur penduduk,  jumlah penduduk, pertambahan penduduk, persebaran penduduk dan mata pencaharian penduduk. Unsur tata kehidupan pola tata pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa termasuk seluk beluk kehidupan masyarakat desa.[29]

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A.  Jenis Penelitian

Secara tipologis, penelitian penulis ini merupakan model penelitian terhadap tarekat-tarekat memakai metodologi deskriptif analitis dan mempergunakan pendekatan historis sosiologis. Penelitian ini juga dilakukan melalui library research untuk menelusuri data-data menyangkut Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah.

Penelitian ini mempergunakan pendekatan sosiologis historis di mana teori-teori yang berkenaan dengan sosiologi keagamaan dipakai untuk membantu untuk merekonstruksi kejadian-kejadian masa lampau secara sistematis dan obyektif, melalui pengumpulan, observasi maupun studi pustaka sehingga ditetapkan fakta-fakta untuk membuat suatu deskripsi tentang keberadaan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Suryalaya. Beberapa hal menyangkut kajian historis adalah mengenai keberadaan pesantren itu sendiri serta pengembangannya di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung..

Adapun kajian mengenai sosiologis akan mengungkapkan mengenai realitas sosial masyarakat. Hal ini digunakan untuk memperoleh informasi mengenai perbedaan-perbedaan praktek keagamaan antara satu masjid dengan masjid lainnya. Sinkronisasi antara satu masjid dengan masjid lainnya perlu diungkapkan untuk melihat keteraturan hubungan antara Pondok Pesantren Suryalaya dengan wilayah sekitarnya.

B.    Lokasi  Penelitian

Lokasi penelitian adalah Pondok Pesantren Suryalaya yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya.  Penelitian di Pondok Pesantren Suryalaya untuk mengetahui sejauh mana praktek Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Suryalaya. Lokus penelitian lainnya adalah masjid-masjid yang terdapat di Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui praktek-praktek keagamaan  dalam hal ini untuk mengetahui apakah Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya juga dilakukan di masjid-masjid Kecamatan Pagerageung.

Penelitian terhadap masjid-masjid di Pagerageung, dilatarbelakangi adanya kecenderungan tempat yang sama untuk melakukan kegiatan ritual Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. Sementara itu kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di rumah-rumah dalam bentuk dzikir sir tidak termasuk dalam penelitian ini, karena ritual itu sulit untuk diobservasi secara langsung.

C.  Sumber Data

Sumber data dapat dibagi dua yaitu sumber data primer dan sekunder. Adapun yang dikategorikan dengan data primer adalah hasil observasi peneliti pada lokus yang telah ditentukan serta hasil wawancara dengan pimpinan/pengurus pesantren dan dua orang pengurus mesjid di Kecamatan Pagerageung. Sedangkan sumber data sekunder penulis peroleh referensi menyangkut Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah serta hasil penelitian terdahulu yang relevan.

D. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu: studi pustaka, observasi, wawancara. Studi pustaka dilakukan untuk memperoleh data yang maksimal mengenai keberadaan tarekat Qadiriyah dan tarekat Naqsabandiyah serta tarekat sebagai hasil perpaduan antara keduanya. Selain itu studi pustaka juga dilakukan untuk memperoleh data-data keberadaan pesantren pada masa-masa sebelumnya ataupun demografi kependudukan Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung pada masa-masa awal pembentukan Pondok Pesantren Suryalaya

Observasi dilakukan dengan penginderaan langsung kondisi, situasi, proses  yang terjadi pada Pondok Pesantren Suryalaya untuk mengetahui ritual Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya. Observasi juga dilakukan dengan melihat praktek-praktek keagamaan di masjid-masjid di Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Observasi ini untuk mendapatkan data tentang masjid-masjid yang didalamnya dilakukan ritual Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah seperti yang dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya

Wawancara dilakukan kepada pimpinan dan pengurus Pondok Pesantren Suryalaya, hal ini untuk mengetahui perkembangan Pondok Pesantren, perkembangan mengenai ritual tarekat yang dikerjakan serta perkembangan lain yang menyangkut dengan Pondok Pesantren Suryalaya. Selain itu wawancara juga dilakukan kepada 2 (dua) orang pengurus masjid untuk mengetahui kegiatan pada masjid tersebut, jamaah masjid serta keberadaan masjid tersebut mulai berdiri hingga pada saat penelitian dilakukan. Dimungkinkan sebuah masjid awalnya hanya berupa mushalla yang dipergunakan oleh beberapa orang, namun setelah penduduk bertambah mushalla dapat berubah menjadi masjid yang dipakai untuk berjamaah shalat jum’at.

  Dengan melihat teknik pengumpulan data, secara terstruktur pengambilan data dilakukan dengan :

  1. Mengidentifikasi bahan-bahan pustaka, baik yang bersifat primer maupun sekunder, menyangkut tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah serta perpaduan antara kedua tarekat tersebut.
    1. Mengidentifikasi bahan-bahan pustaka, menyangkut sejarah dan keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya.
    2. Mengobservasi praktek Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah di Pondok Pesantren Suryalaya.
    3. Melakukan wawancara dengan pimpinan/pengurus Pondok Pesantren Suryalaya.
    4. Mengobservasi praktek keagamaan di masjid-masjid Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya berkenaan dengan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang dilakukan di Pondok Pesantren Suryalaya
    5. Melakukan wawancara dengan dua orang pengurus dari setiap masjid Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya.

E.   Analisis Data

Dalam menganalisis data, diterapkan teknik analisis isi secara kualitatif  (qualitative  content analysis). Adapun langkah analisis data dimaksud adalah sebagai berikut :

1)      Menyajikan data kepustakaan berkenaan dengan Tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah

2)      Menyajikan data mengenai Pondok Pesantren Suryalaya.

3)      Menyajikan data mengenai pengamalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah pada Pondok Pesantren Suryalaya.

4)      Menyajikan demografi Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya.

5)      Menganalisa data hasil observasi terhadap praktek keagamaan di masjid-masjid Kecamatan Pagerageung.

6)      Mencari hubungan antara praktek keagamaan di masjid-masjid Kecamatan Pagerageung dengan praktek Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya.

Data yang telah dikumpulkan menggunakan teknik di atas akan di analisis secara kualitatif dan hasilnya akan disajikan secara deskriptif analitis. Data tersebut terlebih dahulu dipilah, dikategorikan, dan dikelompokkan sesuai dengan kebutuhan analisis. Beberapa data disajikan dalam bentuk tabel, hal ini untuk mempermudah menganalisa data tersebut. Untuk mendeskripsikan sebuah hasil penelitian, dimungkinkan data tersebut diperoleh baik melalui studi pustaka, observasi maupun wawancara atau dengan salah satu dari ketiga metode tersebut. Data yang telah dianalisa tersebut selanjutnya dihubungkan dengan pokok permasalahan yang dikaji.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

 

Di Indonesia terkenal sebuah tarekat bernama Qodiriyah Naqsabandiyah ( disingkat TQN). Tarekat ini dianggap sebagai tarekat terbesar, terutama di pulau Jawa.[30]salah satu pusat penyebarannya berada di Jawa Barat, yaitu di Pondok Pesantren Suryalaya. Kini anggotanya berjuta-juta orang. Tersebar diseluruh pelosok tanah air dan berbagai Negara ASEAN, seperti Malaysia, Singafura dan Brunei Darussalam.[31]  

TQN yang berkembang di Pesantren Suryalaya ialah TQN yang berasal dari Syekh Ahmad Khotib Syambas melalui Syekh Tolhah dari Trusmi, Kalisapu Cirebon Jawa Barat. Penyiaran TQN hingga ke Suryalaya dipererat dengan hubungan kekeluargaan melalui pernikahan putera Syekh Tolhah, guru Abah Sepuh, dengan putra Abah Sepuh. Putra Syekh Tolhah bernama Raden H.K. Munadi. Putri Abah Sepuh bernama Hj. Sukanah. Dengan demikian, hubungan Syekh Tolhah dengan Abah Sepuh bukan saja hubungan guru murid melainkan juga hubungan besan.

Modal pertama TQN Suryalaya berupa sebuah mesjid yang dijadikan tempat mengaji dan mengajarkan TQN. Mesjid itu dibangun atas restu Syekh Tolhah. Cikal bakal pesantren tersebut diberi nama patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah dengan singkat disebut Suryalaya.. mesjid itu diresmikan pada tanggal 7 Rajab 1323 H /5 September 1905 M. tanggal tersebut kemudian dijadikan titi mangsa kelahiran (milad) Pesantren Suryalaya. Sekalipun pesantren itu telah diberi nama Suryalaya, ketika itu masyarakat masih menyebutnya Godebag, nama kampong di mana terletak Pesantren Suryalaya.[32]

TQN Pondok Pesantren Suryalaya adalah salah satu tarekat yang dinilai mu’tabar (sah). Zamakhsyari Dhofier menyatakan bahwa tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah adalah sebagai tarekat yang sah[33] akan tetapi, pada umumnya masyarakat masih terpengaruh oleh pandangan keliru dan negatif terhadap tarekat.

Pandangan keliru dan tuduhan pelaku bid’ah terhadap Pesantren Suryalaya telah muncul sejak kepemimpinan Abah Sepuh. Tuduhan itu makin hari semakin berkurang apalgi ketika kemerdekaan diproklamasikan. Menyurutnya fitnah dan tuduhan itu, berkat ketegaran pimpinan pesantren, katabahan ikhwan dalam pembuktian kebenaran ajaran dalam bentuk pengamalan TQN, juga perilaku yang didasari ketulusan dan kesucian jiwa. Selain itu, peranserta, dukungan dan kerjasama pemerintah dengan TQN Pesantren Suryalaya. Bahkan mungkin yang terutama berkat charisma kepemimpinan dan kepribadian pemimpin pesantren, baik Abah Sepuh maupun Abah Anom.

Dengan demikian dapat dimengerti mengapa TQN pada awal pemunculannya tidak begitu berkembang. Disamping itu adanya tekanan penjajah yang menuduh Abah Sepuh mengajarkan perlawanan terhadap Belanda. Abah Sepuh dipanggil penjajah atas tuduhan mengajarkan para santrinya tentang tata cara kekebalan, seperti tidak tembus peluru. Abah Sepuh secara diplomatis menjawab bahwa yang beliau ajarkan adalah bagaimana hidup agar saleh dengan melaksanakan TQN. Apabila hidup saleh dan selalu berbuat kebajikan, maka tidak aka nada lagi orang lain yang membenci. Jika tidak ada yang membenci, maka tidak mungkin ada orang yang berbuat jahat kepadanya. Apalagi menembakan pelurunya. Inilah yang dimaksud TQN mengajarkan kepada muridnya ilmu kekebalan.

Pada masa-masa berikutnya, dakwah TQN lebih merupakan dakwah bilhal, dengan perbuatan nyata dalam ikut serta membangun umat dalam berbagai lapangan kehidupan. Dakwah TQN pada masyarakat luas melalui jaringan-jaringan para wakil talqin, pejabat, dan keluarga pimpinan Pesantren Suryalaya yang berpusat di Patapan Suryalaya. Oleh karena itu, penyebaran wilayah dan pengaruh TQN banyak ditentukan oleh ketiga factor tersebut. Belakangan, pengaruh dan penyebaran wilayah itu didukung pula oleh kaum intelektual dan kelompok aghniya’ (orang-orang hartawan dan dermawan), yang ditopang oleh system pengorganisasian melalui Yayasan Serba Bhakti. Di samping itu, keberhasilan Pondok Remaja Inabah dalam meyadarkan para korban penyalahgunaan obat terlarang, seperti narkotika dan berbagai macam gangguan kejiwaan, turut mendukung pengaruh dan penyebaran wilayah TQN.[34]

Eksistensi Pesantren Suryalaya berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat sekitarnya. Pengaruh itu tentu pertama-tama dari sudut ajarannya. Sampai pada masa DI/TII masyarakat sekitar pesantren masih banyak yang tidak simpati, terutama mereka yang mendukung DI/TII. Suryalaya dianggap musuh DI/TII karena dukungannya terhadap pemerintah RI yang sah. Akan tetapi, kini dukungan masyarakat sekitarnya cukup menggembirakan. Umumnya, masyarakat sekitar Pesantren adalah ikhwan TQN atau setidak-tidaknya bersikap simpati. Disamping itu, pengaruh yang dirasakan masyarakat ialah dibidang peningkatan kesejahteraan rakyat, baik dibidang mental spiritual maupun dibidang pisik material. Pesantren Suryalaya selalu tampil menjadi pelopor dalam gerakan pelestarian lingkungan hidup. Penanaman dan penyebaran bibit cengkih tahun 1970-an dipelopori oleh pesantren sehingga Menteri Pertanian Syarif Tayyib menyumbang bibit cengkih sekitar lima ribu pohon. Bibit tersebut kemudian dijadikan modal oleh pesantren untuk penghijauan dan reboisasi DAS Citanduy.

Di bidang kesehatan pun tak ketinggalan. Pesantren mempelopori berdirinya PUSKESMAS dan POSYANDU, serta penyediaan air bersih. Begitu pula dibidang penerangan pesantren mempelopori pendirian stasiun relay TV untuk daerah sekitarnya sehingga masyarakat dapat mengikuti perkembangan pembangunan yang sedang dilaksanakan pemerintah dan rakyat Indonesia. kini sarana komunikasi dan transportasi yang dipelopori oleh pesantren tersebut semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Peningkatan sarana komunikasi tahun 1990 ditandai dengan dibukanya Warung Telekomunikasi (WARTEL) sehingga memudahkan komunikasi dengan masyarakat lain yang jauh. Di samping itu, Radio Orari telah lebih dahulu ada. Transportasi dari dank e Suryalaya, kini sangat mudah, karena sarana jalan yang menghubungkan Suryalaya dengan kota-kota lainnya telah memadai. Kemajuan lembaga ini dengan jumlah santri yang mencapai angka ribuan serta tamu yang berkunjung ke pesantren setiap harinya berjumlah ratusan orang, bahkan jumlah di atas bisa meningkat lebih banyak pada waktu pelaksanaan manaqiban, memberikan dampak bagi perekonomian masyarakat sekitarnya. Masyarakat merasa bangga atas keberadaan pesantren. Kebanggan itu ada yang dilatarbelakangi oleh kebanggaan atas kejayaan ajaran Islam, ada pula kebanggaan yang dilatarbelakangi dampak ekonomis dan prestise yang muncul bersamaan dengan kehadiran pesantren tersebut.[35]

BAB V

PENUTUP

 

A.  Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan sebelumnya, sampailah pada kesimpulan seperti di bawah ini :

  1. Tarekat Qadiriah wa Naqsabandiah yang terdapat pada pesantren Suryalaya menggabungkan dua tarekat yaitu Qadiriyah dan Naqsabandiah dengan melakukan dzikir jahr dan khafi. Selain itu Tarekat ini juga melakukan “ritual” ubudiyah lainnya di samping sebagai upaya alternatif dalam pengobatan korban Narkoba.
  2. Pelaksanaan Tarekat Qadiriah wa Naqsabandiah ternyata berpengaruh terhadap kehidupan beragama di lingkungan sekitarnya yaitu di Desa Tanjungkerta yang dapat dilihat dari seluruh aktifitas yang dilakukan oleh di Mesjid-mesjid dan mushalla.

B. Saran

Dengan memperhatikan hasil dari penelitian ini yang menunjukkan adanya pengaruh tarekat dari Pesantren Suryalaya terhadap lingkungan sekitarnya (Desa Tanjungkerta), maka dimohonkan kepada para peneliti berikutnya dapat melakukan penelitian dengan dimensi yang lebih luas lagi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abu Bakar Aceh, Pengantar Ilmu Tarekat, Ramadhani, Solo,           1992.

Abubakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf,         Ramadhani, Jakarta, 1992.

Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Raja Grapindo Persada,       Jakarta, 2009.

Al Ghozali, Ikhya Ulum al Din, Juz I, Dar Al Ma’arif, Bairut

Alwi Shihab, Islam Sufistik:: Islam Pertama dan Pengaruhnya         hingga Kini di Indonesia, Mizan, Bandung, 2001.

Andito, Atas Nama Agama, Wacana Agama Dalam Dialog             Bebas Konflik, Pustaka Hidayah, Bandung, 1998.

Asmaran AS.,Pengantar Studi Tasawuf, Raja Grafindo         Persada, Jakarta, 1994.

Azyumardi Azra, Jaringan Global dan Lokal Islam Nusantara,        Bandung: Mizan, 2002.

Buletin LPM Edukasi Quantum, melirik Pendidikan Sufistik di          Indonesia,Edisi 3/Th.2/XI/2003

Cecep Alba, Cahaya Tasawuf, CV. Wahana Karya Grafika,             Bandung, cetakan pertama, 2009.

Clifford  Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta:        Kanisius, 1992.          

Dadang Rahmad, Tarekat Dalam Islam Spiritualitas             Masyarakat Modern, Pustaka Setia, Bandung, 2002.

Drs. Saifudin Zuhri, MA., Pengaruh Tarekat di Dunia Islam,           Makalah disampaikan dalam diskusi bulanan dosen   Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, tanggal          28 Nopember 1994.

Elizabeth K Notingham, Sosiologi Agama, Rajawali, Jakarta,           1990.

Fazlur Rahman, Islam, terj. Ahsin Mohammad., cet. Ke-3,    Pustaka, Bandung, 1997.

HAMKA, Tasawuf Modern, Pustaka Panjimas, Jakarta, 2000.

HAR. Gibb and J.H. Karamers, Shorter Encyclopedia of Islam,        Leiden : E.J. Eril, 1961

Harun Nasution, Filasafat dan Mistisime dalam Islam,  Bulan           Binatang, Jakarta, 1973.

Hawas Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh- tokohnya di Nusantara, al Ikhlas, Surabaya, 1930.

Ibnu Manzur, Lisân al-Arab, Dar Ihya al-Turats al-‘Araby.    Beirut, T.th.

J. Spencer Trimingham, The Sufi Orders in Islam (London,   Oxford, New York, Oxfor University Press, New York,             1971

John L. Esposito, Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Moderen,            jilid 5,  Mizan, Bandung, 2001.

KH. Shohibul Wafa’ Tadjul Arifin, Miftah al-Shudur, Terj. H.         Aboe Bakar Atjeh, Kunci Pembuka Dada, Kutamas,         Sukabumi, t.t,

————- Kitab Uquudul Jumaan, PT. Mudawwamah         Warohmah, Tasikmalaya, cetakan pertama, 2007.

————– Ibadah Sebagai Mathoda Pembinaan Korban     Penyalahgunaan Narkotika dan Kenakalan Remaja,             khusus untuk ikhwan TQN, PT. Mudawwamah          Warohmah, Tasikmalaya, 1985.

Kharisudin Aqib, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah      Suryalaya Studi Tentang Tzkiyatun Nafsi Sebagai             Metode Penyadaran Diri, Disertasi UIN Jakarta, Tahun        2001

Mahfud Junaidi dalam MEDIA, Jurnal Ilmu dan Pendidikan             Islam, Benang Merah Sufisme dan Pendidikan Dalam             Islam, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, 2000.

Mir Valiuddin, Contemplative Disiplines in Sufism, Terj. M.S.          Nasrullah, Dzikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf,          Pustaka Hidayah, Bandung, 2000.

Shohimun Faisol dan Muhammad, dalam makalah Kontribusi           Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah Dalam Dakwah           Islamiyah Di Lombok.

Sri Mulyati, Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia,         Kencana, Jakarta, 2004.

Unang Sunardjo, Naskah Buku Pesantren Suryalaya dalam             Perjalanan Sejarahnya, Yayasan Serba Bhakti             Suryalaya, 1985.

Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Survey         Historis, Geografis, dan Sosiologis, Mizan, Bandung,         1996.

www.suryalaya.org/sejarah.html diakses tanggal 1 Mei 2010

Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren studi tentang             Pandangan Hidup Kyai, LP3ES, Jakarta, 1985.

Zurkani Yahya, Asal Usul Tarekat Qadiriyah wa      Naqsabandiyah dan perkembangannya dalam Harun             Nasution (ed) Tareqat Qadiriyah wa Naqsabandiyah:           Sejarah Asal Usul dan Perkembangannya, IAILM,            Tasikmalaya, 1990.

 [1] Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesantren studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : LP3ES, 1985), hal. 16.

[2] Telah dilakukan beberapa penelitian, diantaranya Martin Van Bruinessen meneliti tentang tarekat yang ada di pesantren Suryalaya dalam bentuk ritualnya, Zamakhsyari Dhafir dalam penelitiannya tentang Tradisi Pesantren menyinggung tentang perkembangan tarekat ini, Haryanto meneliti terhadap peranan Inabah dalam peranannya sebagai pengobatan terhadap ketergantungan narkotika, Kharisudin Aqib meneliti peranan TQN Suryala dalam bentuk tazkiyatun nafsi sebagai metode penyadaran diri dan dalam meneliti sejarah asal usul dan perkembangan tarekat ini dilakukan oleh Harun Nasution, lihat Kharisudin Aqib, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Suryalaya Studi Tentang Tzkiyatun Nafsi Sebagai Metode Penyadaran Diri, Disertasi UIN Jakarta, Tahun 2001. hal. 17-19

[3] Pesantren Suryalaya didirikan pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905 M oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit, www.suryalaya.org/sejarah.html diakses tanggal 1 Mei 2010

[4] Dibawah naungan Yayasan Serba Bakti yang didirikan pada 11 Maret 1961 telah didirikan pula lembaga pendidikan formal sesuai dengan keperluan dan kepentingan masyarakat. Lembaga pendididkan yang diselenggarakan dari mulai tingkat taman kanak-kanak hingga ke perguruan tinggi. Selain untuk menunjang pendidikan formal, yayasan juga berusaha mendukung berbagai kepentingan pesantren antara lain; mengatur pengajian bulanan yang biasa disebut manaqib, baik di Suryalaya maupun di tempat-tempat lainnya, www.suryalaya.org/yayasan.html diakses tanggal 1 Mei 2010

[5] Hawas Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara, Surabaya, al Ikhlas, 1980, hal 177.

[6] Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesntren studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : LP3ES, 1985), hal.141

[7] J. Spencer Trimingham, The Sufi Orders in Islam (London, Oxford, New York, Oxfor University Press, 1971), hal. 122

[8] Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Survey Historis, Geografis, dan Sosiologis, (Bandung: Mizan, 1996), hal. 72-73

[9] Shohimun Faisol dan Muhammad, dalam makalah Kontribusi Tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah Dalam Dakwah Islamiyah Di Lombok, hal 5

[10] Dadang Rahmad, Tarekat Dalam Islam Spiritualitas Masyarakat Modern,  (Bandung: Pustaka Setia, 2002), hal. 100

[11] www.suryalaya.org/sejarah.html diakses tanggal 1 Mei 2010

[12] Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesntren studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : LP3ES, 1985), hal. 90.

[13] Shahibul Wafa Tajul Arifin, Uqud al Juman, Tanbih, Jakarta, Yayasan Serba Bhakti, Ponpes suryalaya, 1995, hal 84-85.

[14] Inabah adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab anaba-yunibu (mengembalikan) sehingga inabah berarti pengembalian atau pemulihan, maksudnya proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi Allah ke jalan yang mendekat ke Allah. Istilah ini digunakan pula dalam Al-Qur’an yakni dalam Luqman surat ke-31 ayat ke-15, Surat ke-42, Al-Syura ayat ke-10; dan pada surat yang lainnya, lihat www.suryalaya.org/inabah.html diakses tanggal 1 Mei 2010.

[15] Kharisudin Aqib, Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah Suryalaya Studi Tentang Tzkiyatun Nafsi Sebagai Metode Penyadaran Diri, Disertasi UIN Jakarta, Tahun 2001. hal. 151

[16] www.suryalaya.org/inabah.html diakses tanggal 1 Mei 2010.

[17] Abubakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, (Jakarta: Ramadhani, 1992), hal. 63

[18] Van Bruinessen, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia, Survey Historis, Geografis, dan Sosiologis, (Bandung: Mizan, 1996), hal. 12

[19] Fazlur Rahman, Islam, terj. Ahsin Mohammad., cet. Ke-3 (Bandung : Pustaka, 1997), hlm. 219

[20] Harun Nasution, Filasafat dan Mistisime dalam Islam, (Jakarta : Bulan Binatang, 1973), hlm. 64

[21] Clifford  Geertz, Kebudayaan dan Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1992.

[22] Andito, Atas Nama Agama, Wacana Agama Dalam Dialog Bebas Konflik, Bandung, Pustaka Hidayah, 1998, hal. 282.

[23] Sri Mulyati, Tarekat -Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta : Kencana, 2004) hal.vii

[24] Zamaksyari Dhofier, Tradisi Pesntren studi tentang Pandangan Hidup Kyai, (Jakarta : LP3ES, 1985), hal. 49

[26] Hillenbrand, R “Masdjid. I. In the central Islamic lands”. Encyclopaedia of Islam Online.

[27] Sosiologi secara umum adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat secara empiris untuk mencapai hukum kemasyarakatan yang seumum-umumnya.  Sosiologi juga dapat diartikan sebagai ilmu tentang perilaku social ditinjau dari kecenderungan individu dengan individu lain, dengan memperhatikan symbol-simbol interaksi. Agama dalam arti sempit ialah seperangkat kepercayaan, dogma, pereturan etika, praktek penyembahan, amal ibadah, terhadap tuhan atau dewa-dewa tertentu. Dalam arti luas, agama adalah suatu kepercayaan atau seperangkat nilai yang minmbulkan ketaatan pada seseorang atau kelompok tertentu kepada sesuatu yang mereka kagumi, cita-citakan dan hargai. Sosiologi agama adalah studi tentang fenomena social, dan memandang agama sebagai fenomena social. Sosiologi agama selalu berusaha untuk menemukan pinsip-prinsip umum mengenai hubungan agama dengan masyarakat, lihat pengertian, tempat, fungsi dan aliran-aliran serta metode penelitian dalam sosiologi agama, http://orthevie.wordpress.com/2010/02/13/ pengertian-tempat-fungsi-dan-aliran-aliran-serta-metode-penelitian-dalam-sosiologi-agama/

[28]Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grapindo Persada, 2009), hal. 392.

[29] Sosiologi Pedesaan, http://blog.unila.ac.id/rone/mata-kuliah/sosiologi-pedesaan/ diakses tanggal 5 Mei 2010

[30] Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kiyai, LP3ES, Jakarta, h. 141.

[31] Unang Sunardjo, Naskah Buku Pesantren Suryalaya dalam Perjalanan Sejarahnya, Yayasan Serba Bhakti Suryalaya, 1985

[32] Harun Nasution ed., Thoriqot Qodiriyyah Naqsabandiyyah ; Sejarah, Asal-Usul, dan Perkembangannya, (Tasikmalaya : IAILM, 1990), h.199.

 [33] Tradisi Pesantren, h. 143.

[34] Harun Nasution, ed. h. 200-201

[35] Ibid., h.211.

Iklan

4 thoughts on ““Pengaruh Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Pesantren Suryalaya Terhadap Praktek Keagamaan di Desa Tanjungkerta Kecamatan Pagerageung Tasikmalaya.”

  1. ALHAMDULILLAH… MUDAH2AN DIBUKA HIDAYAH DAN BUKAN CUMA MENELITI SAJA, TAPI KAJI BERSAMA PARA PENERUS DI PONDOK PESANTEREN SURYALAYA. INSYAALLAH ANTUM JADI IKHWAN YANG DIMULIAKAN ALLAH. AMIN… SALAM KENAL DAN MAAF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s