PENAFSIRAN KONTEMPORER AL-QUR’AN TERHADAP ISU-ISU HAK ASASI MANUSIA (HAM) PEREMPUAN

PENAFSIRAN  KONTEMPORER  AL-QUR’AN TERHADAP ISU-ISU HAK ASASI MANUSIA (HAM) PEREMPUAN

 PENDAHULUAN

  1. A.    Latar belakang Masalah

Perempuan sebagai makhluk tuhan yang hidup di dunia seharusnya memiliki posisi dan kedudukan yang setara dengan laki-laki, namun kondisi tersebut belum sepenuhnya  dimiliki oleh perempuan, hal ini  terlihat di beberapa negara yang masih membatasi perempuan sebagai makhluk yang dipinggirkan, dilihat dari kesempatan kerja, keamanan, kehidupan dan sebagainya.

Menurut Douglas W. Cassel, hakikat HAM adalah ”.. kebebasan, kesetaraan, otonomi dan keamanan.” (Artidjo, 2004:1) Kempat nilai tersebut diperjuangkan untuk ditegakkan bagi eksistensi manusia termasuk perempuan di dunia ini. Secara Internasional perhatian terhadap HAM perempuan diwakili oleh PBB. Pada tahun 1947 PBB mendirikan Komisi Status Perempuan (Commission on the Status of Women/CSW) yang bertugas untuk melakukan studi, laporan dan rekomendasi berkaitan dengan perempuan. Seiring dengan perkembangan, CSW membuat Divisi untuk Kemajuan Perempuan (Divison for the Advancement of Women/DAW) dan Komite tentang penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW). DAW memainkan  peranan  dalam penyelenggaraan konferensi-konferensi PBB tentang perempuan: tahun 1975 di Meksiko, 1980 di Kopenhagen, 1985 di Nairobi dan tahun 1995 di Beijing, yang membahas secara spesifik nasib perempuan. (Artidjo, 2004:1). Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC) memberi kewenangan terbatas kepada CSW untuk mengkaji pelanggaran terhadap perempuan. (Mertus, 2003,63)   

Dalam ajaran agama lain dan paham pemikiran umum, dalam ajaran Islam juga dijunjung tinggi termasuk dalam aspek jendernya (Rusjdi, 2004). Di tengah anggapan bahwa HAM dan jender mendapat tempat yang tinggi, sebagian teks al-Qur’an mengisyaratkan ”ketidakcocokan” dengan isu tersebut.  Praduga tersebut tidak lepas dari  praduga diskriminasi dan subordinasi terhadap kaum perempuan; Q.S. an-Nisâ` [4]: 3-4, tentang isyarat dibolehkannya poligami, Q.S. al-Baqarah [2]: 180, tentang hak penerimaan waris bagi perempuan yang lebih rendah dari laki-laki, Q.S. an-Nisâ`[4]: 34, tentang penempatan laki-laki sebagai kepala rumah tangga dll. 

Mereka yang termasuk dalam kategori yang memberikan respon dibatasi pada pengertian penafsir al-Qur’an. Dengan pengertian terakhir, memudahkan peneliti melihat dialog penafsir dengan isu HAM perempuan. Karenanya penafsir dan karyanya yang dapat dikelompokkan obyek yang teliti dapat orang seperti Quraish Shihab dengan al-Misbah dan karya dia lainnya yang relevan, maupun Dawam Rahardjo dengan Ensiklopedi al-Qur’an-nya, sepanjang karya mereka mendiskusikan isu HAM perempuan dengan batasan antara 1990an -2006.

Fokus kajian akan diarahkan pada melihat proses manusiawi penafsiran al-Qur’an untuk melihat secara lebih jernih hakikat pesan ilahi yang lebih dekat dengan fitrah kemanusiaan itu sendiri. Oleh karena itu, yang mau dibongkar di sini adalah bangunan argumentasi yang dibangun bagi mereka yang melihat al-Qur’an kompatibel atau tidak kompatibel dengan HAM perempuan. 

  1. B.     Perumusan Masalah  

Secara singkat masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut:  Bagaimana penafsir al-Qur’an  kontemporer terhadap isu dasar HAM perempuan?

  1. C.    Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :  penafsir al-Qur’an  kontemporer terhadap isu dasar HAM perempuan.

ANALISIS TEORITIS

 

A.    Permasalahan Gender

  1. 1.      Pengertian

Gender adalah seperangkat peran yang diperuntuk untuk laki-laki dan perempuan yang disosialisikan melalui proses sosial budaya. Gender adalah atribut yang dilekatkan, dikodifikasi dan dilembagakan secara sosial   maupun kultural kepada perempuan dan laki-laki. Hal itu berkaitan dengan harapan dan pikiran masyarakat tentang bagaimana seharusnya menjadi laki-laki dan perempuan (Alimi, 2002). Gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Misalnya, perempuan itu lemah lembut, cantik, emosional atau keibuan. Sementara laki-laki dianggap kasar, kuat, perkasa, dan jantan (Fakih, 1999). Gender adalah seperangkat peran yang menyampaikan pesan kepada orang lain bahwa kita adalah feminim atau maskulin (Mosse, 1996)

  1. 2.      Bentuk Bias Gender pada Ayat-ayat Quran tentang Perempuan dan Laki-laki

Jenis bias gender yang terdapat pada ayat-ayat tentang laki-laki dan perempuan adalah: (1) dominasi laki-laki, (2) kekerasan, dan (3) pelabelan negatif.

  1.  Stratifikasi Perempuan Berlandaskan Perbedaan Gender

Jika kita mengaitkan masalah gender dengan stratifikasi maka mau tidak mau kita harus melihat kembali pada proses sosialisasi  yang telah mengawali pemapanan pembedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan hubungan gender.

Kondisi yang telah menempatkan kaum perempuan dalam posisi yang tidak menguntungkan di atas telah juga melahirkan pelbagai bentuk ketidakadilan gender (gender inequalities) yang termanifestasi antara lain dalam bentuk:

a)      Marginalisasi

Proses marginalisasi, yang merupakan proses pemiskinan terhadap perempuan, terjadi sejak di dalam rumah tangga dalam bentuk diskriminasi atas anggota keluarga laki-laki dengan anggota keluarga perempuan. Marginalisasi juga diperkuat oleh adat istiadat maupun tafsir keagamaan. Misalnya, banyak diantara suku-suku di Indonesia yang tidak memberi hak kepada kaum perempuan untuk mendapatkan waris sama sekali atau hanya mendapatkan separuh dari jumlah yang diperoleh kaum laki-laki.

b.  Subordinasi

      Pandangan berlandaskan gender juga ternyata bisa mengakibatkan subordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan itu irrasional atau emosional berakibat munculnya sikap menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting.

Subordinasi karena gender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yang berbeda dari satu tempat ke tempat lainnya.

Salah satu konsekuensi dari posisi subordinat perempuan ini adalah perkembangan keutamaan atas anak laki-laki. Seorang perempuan yang melahirkan bayi laki-laki akan lebih dihargai daripada seorang perempuan yang hanya melahirkan bayi perempuan. Demikian juga dengan bayi-bayi yang baru lahir tersebut. Kelahiran seorang bayi laki-laki akan disambut dengan kemeriahan yang lebih besar dibanding dengan kelahiran seorang bayi perempuan.

Subordinasi juga muncul dalam bentuk kekerasan yang menimpa kaum perempuan. Kekerasan yang menimpa kaum perempuan termanifestasi  dalam berbagai wujudnya, seperti perkosaan, pemukulan, pemotongan organ intim perempuan (penyunatan) dan pembuatan pornografi.

Hubungan subordinasi dengan kekerasan tersebut karena perempuan dilihat sebagai objek untuk dimiliki dan diperdagangkan oleh laki-laki, dan bukan sebagai individu dengan hak atas tubuh dan kehidupannya. (Mosse, 1996:76)

4.      Bias Gender dalam Bahasa Arab

Bahasa Arab yang telah menjadi bahasa umat Islam ini mengandung bias gender yang berpengaruh pada proses tekstualisasi firman Allah dalam bentuk al-Qur’an. Bias tersebut tercermin dalam tata bahasa Arab seperti setiap nama (isim) dalam bahasa Arab selalu berjenis kelamin (mudzakkar atau mu’annats), bisa secara hakiki maupun majazi. Sebagaimana seseorang tidak bisa mengabaikan kelas sosial ketika berbicara bahasa jawa, aturan di atas menyebabkan seseorang tidak bisa menghindari klasifikasi laki-laki dan perempuan dalam berbahasa Arab karena dalam bahasa ini tidak ada nama yang netral.  

 

 B. Perspektif Hak Asasi Manusia Untuk Perempuan

1. Hak Asasi Manusia Untuk Perempuan

Convention on the Political Rights of Woman’ yang diratifikasi dengan UU No.68 Tahun 1958), secara komprehensif harus dikaitkan pula dengan Piagam PBB dan dokumen-dokumen HAM Internasional lain seperti: Convention on the Rights of Child (CRC); The Vienna Declarationand Programme of Action (1993) yang antara lain menegaskan bahwa“hak asasi manusia Perempuan/perempuan merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari hak asasi manusia; ‘Beijing Declaration and Platformfor Action’ (1995); Declaration on the Protection of Woman and Children in Emergency and Armed Conflict; Convention Consent to Marriage, minimum Age for Marriage and Registration of Marriage; Perjanjian tentang Persamaan pembayaran Gaji Bagi Perempuan dan Pria untuk Pekerjaan yang Sama, di Jenewa (diratifikasi dengan UU No.80 tahun 1957).

2. HAM Perempuan dalam Dimensi Kultur dan Hukum

Pentingnya untuk tetap mempertimbangkan aspek kultural dan historis suatu bangsa atau masyarakat dalam penerapan HAM, nampak pada contoh sebagai berikut:

The Jakarta Message (1992), butir 18 antara lain menegaskan bahwa:

  1. No country however, should use its power dictate its concept of democracy and human rights or impose conditionalities on others..”.
  2. Deklarasi Kuala Lumpur (1993) tentang HAM yang dirumuskan oleh ‘Asean Inter Parliamentary Organization’ (AIPO) antara lain menegaskan:
  3. 3.      the peoples of Asean accept that human rights exist in a dynamic and envolving context and that each country has inherent historical experiences, and changing economic, social, political and cultural realities and value system which should be taken into account”.
  4. 4.      Deklarasi Bangkok 1993 yang dirumuskan oleh negara-negara Asia yang menyatakan bahwa: “while human rights are universal in nature, they must be considered in the context of a dynamic and evolving process of international normsetting, bearing in mind the significance of national and regional peculiaritiers and various historical, cultural and religious backgrounds.”
  5. Deklarasi Wina dan Program Aksi (1993) yang dihasilkan oleh Konferensi Dunia tentang Hak Asasi Manusia yang merumuskan bahwa:
  6. 6.      All human rights are universal, indivisible and interdependent andinterr elated While the significant of national and regional particularities and various historical, cultural and religious background must be borne in mind, it is the duty of states, regardless of their political, economic and cultural systems, to promote and protect all human rights and fundamental freedoms.”

Implementasinya masih harus menuntut perjuangan secara berkelanjutan, sebab masalah yang terkandung di dalamnya tidak sekedar melulu persoalan yuridis tetapi juga mengandung aspek politik, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan sebagainya. Pengertian diskriminasi sendiri dapat dikaji dari Pasal 1 ‘Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Woman’ (1979) yang menyatakan bahwa: “For the purpose of the present convention, the term “discrimination against woman” shall mean any distinction, exclusion or restriction made on the basis of sex which has the effect or purpose of impairing or nullifying the recognition, enjoyment or exercise by woman, irrespective of their marital status, on a basis  of equality of men and women, of human rights and fundamental freedoms in the political, economic, social, cultural, civil or any other field”.

Secara universal diskriminasi diidentifikasikan sebagai praktekpraktek yang meliputi; aborsi selektif dengan teknik-teknik cangggih untuk memperbaiki rasio laki-laki dan Perempuan (China, India dan Korea Utara); pembunuhan bayi Perempuan (India Selatan); penyunatan yang sangat kejam (Afrika); diskriminasi kesehatan terhadap anak-anak Perempuan (Bangladesh); kawin muda; penyimpangan seksual dan perkosaan; pelacuran anak-anak; diskriminasi Perempuan di bidang penguasaan hak pekerjaan, pendidikan, upah, perlindungan kerja; dan sebagainya.

Kemudian dalam Fourth World Conference on Woman di Beijing tanggal 4-15 September 1995, diidentifikasikan beberapa “wilayah kritis” yang berkaitan dengan Perempuan dan harus secara berkelanjutan diperjuangkan, meliputi; Perempuan dan kemiskinan, pendidikan dan pelatihan bagi Perempuan, Perempuan dan kesehatan, kekerasan terhadap Perempuan, Perempuan dan konflik bersenjata, Perempuan dan ekonomi, Perempuan dan kekuasaan dalam pengambilan keputusan, mekanisme  kelembagaan bagi peningkatan Perempuan; hak asasi Perempuan; Perempuan dan lingkungan, dan termasuk Perempuan yang masih anak-anak.

METODOLOGI PENELITIAN

  1. A.    Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan. Studi kepustakaan dilakukan pada dokumen-dokumen yang terkait dengan masalah yang diangkat.      

  1. B.     Pendekatan

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan model grounded research yang mendasarkan analisisnya pada data dan fakta yang ditemui di lapangan, bukan melalui ide atau teori yang ada sebelumnya yang bertujuan untuk menemukan teori melalui data yang di peroleh secara sistematik dengan menggunakan metode analisis komparatif konstan (Atho’ Mudzhar, 1998: 47).   

Data diperoleh dari buku-buku, dokumen-dokumen cetak dan peristiwa-peristiwa lainnya tertulis maupun tidak tertulis serta informan yaitu kyai, ustadz, santri, alumni dan tokoh terkait, formal maupun informal.

Pengumpulan datanya dilakukan dengan cara riset kepustakaan, yaitu pengumpulan data referensi-referensi tertulis, meliputi buku-buku tentang pesantren, pendidikan Islam pada umumnya dan dokumen tertulis yang berkaitan dengan topik penelitian.

 

 

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. A.        Analisis Pandangan Al Qur-an Tentang  Perempuan
    1. 1.      Peran Perempuan Menurut Persfektif Al Quran       

        Untuk mengetahui bagaimana sesungguhnya pandangan etis Al-Quran tentang perempuan dalam persfektif Islam, maka yang harus dilakukan adalah dengan membiarkan Al-Quran menafsirkan dan membicarakan tersebut dengan menggunakan perspektif sendiri. Dengan cara ini, maka kita akan bisa menarik garis demarkasi yang tegas antara batas perspektif Al-Quran dengan batas bias budaya melindunginya. Sehingga tidak samar lagi antara perspektif Al-Quran tentang “Islam” yang sesungguhnya dengan “Islam” yang ter-Arab-kan; di mana dalam konteks konstruksi gender telah memberikan tafsir yang patriarkal dan diskriminatif terhadap kaum perempuan.

        Dalam kaitan ini, Muhsin (2001) melalui bukunya, Qur’an and Woman, Rereading the Sacred Text From a Woman’s Perspective berusaha untuk menentukan kriteria yang pasti untuk mengevaluasi sejauh mana posisi perempuan dalam kultur Muslim telah benar-benar menggambarkan maksud Islam itu sendiri mengenai keberadaan perempuan dalam struktur sosial. la percaya bahwa Al-Quran sesungguhnya bisa digunakan sebagai kriteria untuk menguji apakah status perempuan dalam masyarakat Muslim sesungguhnya dapat dikatakan sudah Islami. Karenanya, dia menggugat penafsiran-penafsiran Al-Quran yang selama ini sangat terikat oleh nuansa androsentris dan tradisi Arab-Islam yang telah berlangsung selama berabad-abad sehingga berakibat mendistorsikan peran dan posisi kaum perempuan. Padahal dari hasil kajiannya menunjukkan bahwa banyak sekali ayat Al-Quran yang memprotes kesetaraan derajat perempuan terhadap laki-laki.

        Peran kaum perempuan yang dibicarakan dalam Al-Quran masuk ke dalam salah satu dari 3 kategori yang diklasifikasikan oleh Muchsin yaitu pertama, peran yang menggambarkan konteks sosial, budaya, dan sejarah di mana si perempuan tinggal, tanpa pujian atau kritik sekalipun dari Al-Quran. Kedua, peran yang memainkan fungsi keperempuanan yang secara universal diterima (yaitu mengasuh atau merawat), dengan beberapa pengecualian atau bahkan telah diberikan dalam Al-Quran sendiri. Ketiga, peran yang memainkan fungsi spesifik non-gender, yakni peran yang menggambarkan usaha manusia di muka bumi dan disebutkan dalam Al-Quran untuk menunjukkan fungsi spesifik ini, bukan untuk menunjukkan jenis kelamin pelakunya, yang kebetulan seorang perempuan.

        Kita harus memahami bahwa ada statemen yang bersifat normatif dan juga bersifat kontekstual di dalam Al-Quran. Syariah dalam Islam bersumber pada Al-Quran dan Sunnah; dan keduanya mengandung dua unsur penting : unsur normatif dan unsur kontekstual. Al-Quran diwahyukan bagi seluruh umat dan untuk sepanjang zaman. Namun, untuk dapat diterima orang pada waktu itu Al-Quran mengandung hal-hal yang mempunyai makna penting bagi mereka. Karena itulah, Kitab Suci juga memuat kandungan yang berasal dari sejarah kebudayan dan tradisi. Inilah yang oleh Engineer (2000) dikatakan dengan sifat kontekstualnya. Di samping itu, Al-Quran mempunyai kandungan yang bersifat transendental, yang meletakkan norma bagi perilaku keseharian manusia dan memberikan arahan untuk kehidupan akhirat.

        Sejauh menyangkut masalah perempuan, pengaruh kebudayaan dan tradisi cenderung sangat kuat. Al-Quran, tak diragukan lagi, memberikan banyak sekali hak kepada perempuan dan menguraikannya secara rinci. Al-Quran, bagi Engineer, adalah kitab suci pertama yang telah menyatakan begitu banyak hak bagi perempuan, justru pada masa di mana perempuan sangat tertindas di dalam peradaban-peradaban besar, yaitu Bizantium, Sasanid dan lain-lain. Engineer menyayangkan, bahwa kita melihat pada masa para fuqaha mengambil banyak dari adat (tradisi) Arab pra-Islam, sehingga melahirkan rumusan-rumusan yang membatasi jika tidak dikatakan menginjak-injak hak-hak perempuan. Padahal menurutnya, Al-Quran tidak pernah bermaksud mengenakan pembatasan-pembatasan yang tidak semestinya terhadap gerak-gerik perempuan, juga tidak menuntut mereka untuk menutup seluruh muka ketika keluar rumah. Namun para fuqaha terkemuka, meski terdapat perbedaan pendapat di kalangan mereka tentang ayat dan Sunnah tertentu, menuntut perempuan agar tidak keluar rumah mereka terkecuali dalam keadaan mendesak, dan itu pun dengan menutup wajah mereka. Ini jelas menunjukkan bagaimana hak-hak yang telah diberikan Al-Quran ditiadakan oleh para fuqaha karena mempertimbangkan situasi mereka. Namun, sayangnya, ketetapan-ketetapan syariah tersebut dipaksakan juga ketika konteksnya sudah berubah.

  1. 2.      Kesetaraan dalam Al Quran

        Ada beberapa alasan munculnya dorongan Al-Quran ke arah kesetaraan perempuan dan laki-laki. Pertama, Al-Quran memberikan tempat yang terhormat kepada seluruh manusia, yang meliputi perempuan dan laki-laki. Kedua, secara norma-etis Al-Quran membela prinsip-prinsip kesetaraan perempuan dan laki-laki. Perbedaan struktur biologis, menurut Al-Quran, tidak berarti ketidaksetaraan dan status yang didasarkan pada jenis kelamin. Menurutnya, kita harus membedakan antara fungsi-fungsi biologis dengan fungsi-fungsi sosial.

        Meskipun demikian, Al-Quran memang berbicara tentang laki-laki yang memiliki kelebihan dan keunggulan sosial atas perempuan. Ayat seperti ini, Enginner menyarankan, harus dilihat dalam konteks sosialnya yang tepat. Struktur sosial pada zaman Nabi tidaklah benar-benar mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan. Orang tidak dapat mengambil pandangan yang semata-mata teologis dalam hal semacam ini. Orang harus menggunakan pandangan sosio-teologis. Bahkan, Al-Quran pun terdiri dari ajaran yang kontekstual dan juga normatif. Tidak akan ada kitab Suci yang bisa efektif jika mengabaikan konteksnya sama sekali.

        Al-Quran, untuk tidak meninggalkan keraguan mengenai individualitas perempuan, menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki akan dinilai berdasarkan amal perbuatannya. Jika perempuan menjalankan amal keagamaan, demikian pula dalam kiprah sosialnya, mereka akan diberi ganjaran sebagaimana seharusnya, dan jika laki-laki melakukannya dia pun akan mendapatkan balasan yang setimpal (QS. Al Ahzab (33): 35). Al-Quran sama sekali tidak melakukan diskriminasi antara perempuan dan laki-laki dalam hal apapun. Keduanya “akan mendapat ganjaran” atas amal keagamaan dan keduniaan. Dengan demikian, dalam pencipta-anpun, perempuan menurut Al-Quran, sama sekali tidak lebih rendah dari laki-laki. Dengan demikian, adalah benar-benar sah berpendapat bahwa hak-hak perempuan dalam Islam telah dilindungi dengan baik. Kecuali dalam beberapa persoalan yang tidak mendasar, Al-Quran mengakui perempuan tidak berbeda banyak dengan laki-laki. Bagaimanapun juga, pernyataan yang nampak begitu meremehkan perempuan  lebih bersifat kontekstual dan bukan normatif, dan harus dilihat secara demikian.

        Tidak diragukan lagi Al-Quran memandang laki-laki dan perempuan dalam berbagai terminologi kesetaraan sebagai makhluk manusia dalam berbagai hal. Keseluruhan spirit Islam secara umum sangat menegaskan kesetaraan kedua jenis seks tersebut baik dalam status, posisi dan nilai. Mereka adalah sama-sama makhluk Allah, dengan nenek moyang yang sama, Adam dan Hawa, dan, karenanya, maka tentu saja mereka memiliki status dan nilai yang sama sebagai manusia dalam masyarakat. Bukanlah suatu alasan yang mendasar untuk membedakan keduanya hanya karena mereka yang satu adalah perempuan dan yang satu lagi adalah laki-laki. 

    Sementara itu menurut Jawad (1998), Islam telah memberikan suatu jaminan yang tegas dan pasti kepada kaum perempuan baik dalam peran sosial, hak-hak politik dan ekonomi, pendidikan dan pelatihan, maupun kesem-patan-kesempatan kerja. Untuk memproteksi hak-hak mereka tersebut dari penyalahgunaan oleh kaum laki-laki, Islam telah menyediakan rumusan hukum yang melindungi. Secara teoritis, perempuan dalam Islam diberikan beberapa hak, antara lain :

1. Hak independensi  kepemilikan :  hal ini  meliputi hak mengelola keuangan dan propertinya secara independen. Prinsip Al-Quran juga memberikan pengetahuan dan sekaligus mengokohkan hak kaum perempuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas ekonomi lainnya.

2.     Hak memelihara identitas diri : kaum  perempuan  dalam  Islam  selalu dilindungi secara hukum untuk menggunakan nama keluarganya, dan bukan nama suaminya. Sebab itu ia selalu dikenal dengan nama keluarga dan hal ini sebagai indikasi dari persoalan identitas dirinya. Jadi, dalam Islam tidak ada proses perubahan nama dari kaum perempuan baik sesudah ia menikah, bercerai ataupun menjanda.

3. Hak pendidikan: Al-Quran dan Sunnah telah mengadvokasikan tentang hak-hak perempuan dan laki-laki untuk sama-sama mencari ilmu pengetahuan. Al-Quran memerintahkan semua umat Islam untuk berupaya keras dalam mencari pengetahuan tanpa membedakan jenis kelamin.

4. Hak berpartisipasi dalam politik dan peristiwa-peristiwa publik: Islam sesungguhnya sangat mendorong kaum perempuan untuk aktif secara politik dan ikut terlibat dalam pengambilan keputusan. Perempuan diberikan kesempatan untuk mengekspresikan diri, mengajukan argumentasi, dan menyampaikan pemikirannya pada publik. Mereka dipercayai menjadi delegasi, mediator, dan mendapatkan hak perlin-dungan proteksi.

5.     Hak mendapatkan respek : Islam memperlakukan perempuan setara dengan laki-laki sebagai manusia. Sebab itu, Islam sangat menekankan adanya saling memahami dan respek antara keduanya. Dalam pandangan Islam seorang perempuan adalah individu yang terhormat dan patut mendapatkan respek, makhluk yang independen, makhluk sosial, dan makhluk berbakat, sebagaimana kaum laki-laki, yang memiliki hati, jiwa dan intelektualitas serta memiliki hak-hak yang secara fundamental untuk mengartiku-lasikan kemampuan dan ketrampilannya di setiap sektor aktivitas umat manusia.

2. . HAM Perempuan dalam Kajian Qur-an

        Hasil penelitian yang dikemukanan dalam buku  Argumen Kesetaraan Jender Perspektif Al-Quran, Umar menunjukkan bahwa Al-Quran cenderung mempersilahkan kepada kecerdasan manusia di dalam menata pembagian peran antara laki-laki dan perempuan. Dengan kesadaran bahwa persoalan ini cukup penting tetapi tidak dirinci di dalam Al-Quran maka hal ini menjadi isyarat adanya kewenangan manusia untuk menggunakan hak-hak kebebasannya dalam memilih pola pembagian peran laki-laki dan perempuan yang saling menguntungkan, baik dalam sektor domestik maupun sektor publik. Dalam pandangannya, Al-Quran tidak memberikan beban gender secara mutlak dan kaku kepada seseorang namun bagaimana agar adanya kewenangan manusia untuk menggunakan hak-hak kebebasannya dalam memilih pola pembagian peran laki-laki dan perempuan yang saling menguntungkan, baik dalam sektor domestik maupun sektor publik.

        Sementara penelitian yang dilakukan oleh Mukhtasar (1999) menunjukkan bahwa dalam teologi feminisme menolak misalnya penafsiran bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa sebagai seorang teolog feminis Islam, Hassan  menolak penafsiran beberapa ayat dalam Al-Quran yang secara eksplisit menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari dan untuk laki-laki sebab pernyataan ini berimplikasi pada relasi perempuan-laki-laki secara timpang, bahkan mengukuhkan pandangan bahwa perempuan adalah makhluk nomor dua. Bagaimana konsekuensi pandangan Hassan terhadap masalah kepemimpinan perempuan, penelitian tersebut belum secara tegas dan eksplisit memberi penjelasan.

        Sementara peneliti lain, Syamsuddin (1998) membuktikan bahwa sepanjang sejarah, perempuan distereotipkan memiliki kedudukan lebih rendah dari pada laki-laki, bahkan dianggap sebagai subordinat kaum laki-laki. Stereotip ini senantiasa muncul dan dipertahankan oleh sebagian besar masyarakat, terkecuali dalam masyarakat matrilinial yang jumlahnya hanya sedikit. Dalam tradisi fiqh, sebagian ulama juga cenderung menempatkan kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Namun di kalangan modernis Islam belakangan muncul suatu kesadaran bahwa Al-Quran memberikan kedudukan yang setara antara laki-laki dan perempuan.

        Pernyataan Al-Quran dalam surah An-Nisa (4): 34 yang seolah-olah membedakan status laki-laki dan perempuan semestinya tidak dipahami secara literal-normatif semata namun juga perlu dipahami secara kontekstual-historikal. Kesadaran akan kese-taraan kedudukan dan peran antara laki-laki dan perempuan pada gilirannya akan melahirkan kesadaraan akan keseimbangan tanggung jawab dalam berbagai tugas domestik dan publik keduanya, yang pada tahap selanjutnya akan menciptakan dan menegakkan prinsip keadilaan, yang menurut Fakih (1999), merupakan inti dari ajaran setiap agama. Al-Quran, menurutnya, mencakup pelbagai anjuran untuk menegakkan keadilan ekonomi, keadilan politik dan kultural termasuk keadilan gender. Karena itu, diperlukan metode pendekatan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Quran yang bisa dipergunakan untuk memahami bagaimana ajaran moral agama yang bersifat prinsipil yang mesti membutuhkan analisis sosial.

KESIMPULAN

        Hak Asasi manusia  berkaitan dengan perempuan  menutut AI-Quran sebagai  ditonjolkan dalam bentuk memberikan prinsip-prinsip kesetaraan antara laki-laki dan perempuan, baik dalam peran domestik maupun peran publiknya. Karenanya, bimbingan Al-Quran secara logis dan wajar dapat diterapkan dalam kehidupan umat manusia di era apapun, apabila penafsiran Al-Quran dilakukan terus-menerus oleh setiap generasi dengan tetap merefleksikan tujuannya secara utuh dan holistik, terutama dalam etika universal dan kosmo-politannya, seperti tentang spirit keadilan dan kesetaraan bagi setiap umat manusia, tanpa harus terdemarkasi oleh atribut seks, laki-laki dan perempuan.

        Hak-hak perempuan dalam dimensi masyarakat  seharusnya mulai dirubah, untuk memberikan jaln terhadap hak perempuan  yang sejalan dengan konsep yang dikembangkan  menurut Al Qur-an. Selain itu juga penafsiran tentang hak asasi manusia yang termaktub dalam Al qur-an penafirannya harus diluruskan sehingga tidak terlalu banyak merugikan perempuan, paling tidak kesetaraan harus muncul  dalam membuat tafsiran.

 

SARAN

        Kekeliruan  dalam membuat rumusan tentang persepsi  perempuan selama ini telah mempengaruhi setiap kehidupan laki-laki maupun perempuan itu sendiri. Sudah saatnya, saya kira, untuk mencoba merumuskan kembali kekeliruan yang muncul, sehingga dapat mengurangi atau menghilangkan  penindasan terhadap hak-hak perempuan termasuk dalam hak kehidupan mereka. Sekaranglah saatnya kita untuk mendorong dan mendukung cita-cita yang luas dalam partisipasi laki-laki dan perempuan yang mampu: menyeimbangkan kontribusi maksimal mereka kepada keluarga maupun masyarakat..

 

DAFTAR PUSTAKA

Alimi, Muh. Yasir. 2002. Jenis Kelamin Tuhan. Yogyakarta: LKIS.

Azkiyah, Nurul. 2002. “Keterkaitan Pendidikan Formal Perempuan dan Dunia Pembangunan”. Dalam Jurnal Perempuan. No. 23. Mei. Hal. 7-17

Darmosoetopo, Riboet. 1998. “Ideologi Gender dalam Perubahan Sosial”. Makalah Simposium Internsional Ilmu-ilmu Humaniora di Yogyakarta.

Engineer, Asghar Ali. 2002. “Islam And Poligamy”. Dalam Musyawa: Jurnal Studi Gender dan Islam. Vol. 1 No. 1 Maret. Hal.27-39.

Faisal, Abdullah, 2002. ” Konsep Wawwam di Dalam Alquran (Sebuah Pendekatan Teori Medan Makna). Dalam Relasi Jender dalam Islam. Surakarta: Pusat Studi Perempuan STAIN Surakarta.

Fakih, Mansoer. 1996. “Analisis Gender & Transformasi Sosial”. Yogyakarta Pustaka Pelajar.

______.1999. Analisis Gender & Transformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Dalam Jurnal Perempuan. No. 26.

Goddard Angela dan Lindsey Mean Petterson. 2000. “Lenguage and Gender”. London and New York: Routledge.

Hayati, Chusnul. 1996. “Perjuangan Perempuan Jawa Tengah dalam Pergerakan Nasional 1900-1945”. Dalam Lembaran SastraNo. 19. hal 45-59.

Hayati, Elly Nur. 2002. “… Jangan Pojokkan Perempuan Korban Kekerasan”. Dalam Jurnal Perempuan. No. 26.

Jandra, Mifedwil. 2000. “Islam dan Budaya Lokal”. Dalam Profetika. Vol. 2, No. 2, Juli 2000.

Kalibonso, Rita Serena. 2002. “Kejahatan itu Bernama Kekerasan dalam Rumah Tangga”. Dalam Jurnal Perempuan. No. 26.

Kartodirjo, Suyatno, 1998. “Perempuan dalam Kebudayan Priyayi: Kajian Sejarah Gender”.

Mahmudah. 2001. “Citra Perempuan dalam Media Masa: Upaya Peneyetaraan Gender”. Manusia dan Dinamika Budaya. Yogyakarta: Fakultas Sastra Bigraf l      Publishing.

Markhamah. 2002. “Jender dalam Tradisi Selamatan pada Masyarakat Keturunan Cina di Surakarta. Laporan Penelitian Yang Dibiayai oleh DP4M, Dirjen Dikti.

Mosse, YuliaCleves. 1996. Gender dan Pembangunan. Yogyakarta: RifkaAnnisa Women’s Cricis Centre dengan Pustaka Pelajar.

Muthaliin, Achmad. 2001. Bias Gender dalam Pendidikan. Surakarta:Muhammadiyah University Press.

Nasution, Khoiruddin. 2002. ” Perdebatan Sekitar Status Poligami: Ditinjau dari Perspektif Syariah Islam”. Dalam Musyawa: Jurnal Studi Gender dan Islam. Vol. 1 No. 1 Maret. Hal. 57-87.

Park, Sun Ai Lee. 1995. ” Konfusianisme dan Perempuan”. Dalam Pergualatan Mencari Jati Din. Jakarta: Interfidei.

J Pratiwi, Restu. 1995. “Perempuan pada Masa Tradisional Cina”. Dalam Pergulatan ‘        Mencari Jati Din. Jakarta: Interfidei bersama Matakin.

Jawad HA, 1998, The Rights of Women in Islam An Authentic Approach, Macmillan Press LTD. Koleksi PSW LAIN Sunan Kalijaga.

Muchsin AW, 2001, Qu’ran Menurut Perempuan Meluruskan Bias Gender dalam tradisi Tafsir, Serambi, Jakarta. Koleksi Pribadi.

Mukhtasar M dan A Kuswanjono, 1999, “Teologi Feminisme Riffat Hassan dan Rekonstruksi Pemahaman atas Kedudukan dan Peran Perempuan”, Jurnal Filsafat, Yogyakarta. Koleksi pribadi.

| Putra, Hedy Shri Ahimsa. 2002. “Gender dan Pemaknaannya: Sebuah Ulasan Singkat”. Makalah Workshop Sosialisasi Gender di STAIN Surakarta.

Putra, Hedy Shri Ahimsa. 2002a. “Masalah Gender dalam Beberapa Perspektif Antropologi Budaya”. Makalah Workshop Sosialisasi Gender di STAIN Surakarta.

Rojab, Budi. 2002. “Pendidikan Sekolah dan Perubahan Perempuan”. Dalam Jurnal Perempuan. No. 23. Met. Hal. 19-33.

Rahman A (ed), 1986, Role of Muslim Woman in Society, London : Seerah

Syamsuddin M, 1998 “Peranan Perempuan Muslim Dalam Upaya Peningkatan Kesejah-teraan Masyarakat”, Jurnal Penelitian Agama, Pusat Penelitian IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Koleksi Pribadi.

Umar N, 1999, Argumen Kesetaraan Jender, Perspektif Al-Quran, Paramadina, Jakarta, Koleksi Pribadi.

Shihab, Quraish. 2003. Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan KeserasianAl Qur’an. Volume 2: Surah All Imron, Surah An-Nisaa. Jakarta: Lentera Hati.

Sukmadjaja Asyarie-Rosy Yusuf. 1984. Indeks Al Qur’an. Jakarta: Balai Pustaka.

Supatra, Hendarto dan Mujid F. Amin. 1996. “Analisis KontrastifKata Lanang dan Wadon: Suatu Kajian Sosiosemantik untuk Mengungkap Status Perempuan Jawa”. Dalam Lembaran Sastra. No. 20 tahun 1996.

Umar, Nasaruddin. 2001. Argumen Kesetaraan Jneder PerspektifAl Qur ‘an. Jakarta:  Paramaida.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s