PEMIKIRAN IBN TAIMIYAH TENTANG METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN

PEMIKIRAN IBN TAIMIYAH TENTANG

METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN

A. Identifikasi Masalah

Ibn Taimiyah adalah seorang pemikir Muslim yang sangat besar pengaruhnya terhadap dunia Islam. Dia ahli dalam hampir semua cabang pengetahuan Islam. Karya-karya dia meliputi bidang Aqidah, Fiqh, Hadits, Tafsir, Tasawuf, Filsafat, dan Politik. Berbekal segala kemampuan yang dimiliki, Ibn Taimiyah berupaya membangun kembali masyarakat Islam di atas sendi-sendi Islam yang pokok, yaitu Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Upaya yang dilakukannya berangkat dari asumsi dasar bahwa kaum Muslimin generasi pertama maju dengan pesat karena mereka berpegang kepada ajaran Islam dan menghormati Al-Qur’an. Sebaliknya kaum Muslimin pada masanya lemah dan kurang dihargai komunitas agama lain karena mereka telah meninggalkan sumber ajarannya. Ia berkesimpulan bahwa tugas utama yang harus dijalankannya adalah menyeru ummat Islam untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah dan dalam memahaminya menggunakan pemahaman kaum Muslimin generasi pertama untuk menguji madzhab-madzhab dan hasil pemikiran kaum Muslimin dari masa ke masa.

Satu langkah strategis yang dilakukan oleh Ibn Taimiyah ke arah itu adalah merumuskan kerangka dasar atau prinsip-prinsip penafsiran Al-Qur’an dalam karyanya Muqaddimah fi Ushul al-Tafsir. Syaikh Abdurrahman Ibn Muhammad Ibn Qasim al-‘Asimi al-Najdi al-Hanbali menghimpun risalah tafsir Ibn Taimiyah dalam Juz 14-17.

Ibn Taimiyah dinilai telah membuka jalan bagi lahirnya mufassir klasik Ibn Katsir. Ibn Taimiyah memperoleh penghargaan dari Muhammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar. Bahkan M. Quraish Shihab menyatakan bahwa Ibn Taimiyah adalah salah seorang ulama yang paling banyak mempengaruhi jalan fikiran Rasyid Ridha. Penelitian mendalam terhadap karya-karya Ibn Taimiyah dalam bidang tafsir yang meliputi pandangan-pandangan teoretiknya tentang prinsip-prinsip penafsiran al-Qur’an, hasil evaluasinya terhadap kitab-kitab tafsir terdahulu, metode dan karakteristik penafsirannya, diharapkan dapat ditemukan kerangka penafsiran Al-Qur’an Ibn Taimiyah yang utuh dan menjadi sumbangan metodologis dalam studi tafsir bagi masyarakat Muslim masa kini dan masa yang akan datang.

Masalah utama yang diangkat dalam pelitian ini dituangkan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  1. Bagaimana pandangan Ibn Taimiyah terhadap penafsiran para ulama pada masanya atas Al-Qur’an?
  2. Bagaimana prinsip-prinsip dan metode penafsiran Al-Qur’an yang terbaik menurut Ibn Taimiyah?
  3. Bagaimana ciri khas penafsiran Ibn Taimiyah?

 B. Metodologi Penelitian

1. Penentuan Metode Penelitian

Penelitian ini akan mengkaji tentang sistem penafsiran Ibn Taimiyyah terhadap Al-Qur’an yuang mencakup penilaiannya terhadap penafsiran Al-Qur’an, pandangannya tentang metode penafsiran Al-Qur’an yang ideal dan karakteristik penafsiran atas ayat-ayat Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatip. Ia menekankan pada penggalian nilai-nilai yang terkandung dalam penafsiran Ibn Taimiyyah terhadap Al-Qur’an dengan cara melihat makna yang terkandung dalam karyanya sebagaimana adanya dan membuat interpretasi terhadap apa yang tersirat di baliknya.

Penggunaan metode penelitian kualitatif dalam penelitian didasarkan atas pertimbangan sebagai berikut:

Pertama, pemahaman dan pengamalan atas nilai-nilai agama sangat sulit diukur secara kuantitatif. Bahkan pengkonversian pemahaman dan praktik keagamaan ke dalam angka-angka yang dianalisis dan ditafsirkan secara pasti dapat menjerumuskan peneliti ke dalam dikotomi benar-salah atau kuat-lemah yang membahayakan karena ajaran agama terutama yang menyangkut kehidupan manusia banyak yang sifatnya zhanni (uncertain) yang memungkinkan lahirnya interpretasi dan pengamalan yang berbeda.

Kedua, data yang dikumpulkan sebagian besar berupa kata-kata yang tertulis yang berhubungan dengan pemahaman serta pengamalan atas nilai-nilai agama.

Ketiga, metode ini dapat digunakan untuk memahami berbagai keadaan, pemahaman, dan sifat individu secara holistik.

Keempat, metode kualitatip memungkinkan kita untuk memahami tokoh secara personal dan memandang dia sebagaimana dia sendiri mengungkapkan pandangan dunianya serta memungkinkan kita untuk menangkap pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari dalam lingkungannya. Dengan demikian dapat dirumuskan konsep-konsep yang hakiki tentang sisi-sisi kehidupan dia yang relepan dengan topik penelitian.

Kelima, metode kualitatip memungkinkan peneliti untuk melakukan verifikasi  dan eksplanasi secara mendalam serta mencatatnya ketika menemukan masalah-masalah baru dari objek penelitian yang secara teoritik dinilai menyimpang dari apa yang seharusnya.

Keenam, penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis yang berhubungan dengan teori tertentu. Teori-teori yang dianggap sudah mapan dalam bidang ini hanya dijadikan sebagai kerangka dalam melakukan penelitian ini.

 2. Teknik Penelitian

 Teknik penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan.  Pada saat studi kepustakaan dilakukan pencatatan mengenai segala hal yang ditemukan dari kepustakaan yang dianggap relevan dengan topik penelitian. Catatan penelitian itu disamping medokumentasikan persoalan-persoalan yang dijumpai juga dilengkapi dengan catatan peneliti tentang persoalan yang dianggap perlu diberikan catatan.

 3. Sumber Data

Sumber data terbagi dua bagian: (1) sumber data primer dan (2) sumber data sekunder. Sumber data primer penelitian ini adalah karya-karya Ibn Taimiyyah yang berhubungan masalah tafsir. Seangkan sumber data sekunder penelitian ini adalah karya-karya para ulama lain tentang penafsiran Al-Qur’an khusus yang membahas tentang biografi dan pemikiran-pemikiran Ibn Taimiyyah tentang tafsir.

 4. Tahap-tahap Penelitian

Tahapan-tahapan penelitian di lapangan, secara garis besarnya adalah sebagai berikut:

Pertama, menemukan berbagai literatur yang berhubungan dengan objek penelitian.  Penelitian ini dilakukan secara tertutup yakni di perpustakaan, oleh karena itu tidak memerlukan dari pemerintah.

Kedua, menemukan key source data (referensi yang dijadikan sumber data kunci/utama). Setelah sejumlah kitab/buku diperoleh, kemudian peneliti menyeleksi referensi tersebut guna menemukan yang paling utama.

Ketiga, pegumpulan data. Pada awal proses pengumpulan data, peneliti mereview daftar isi seluruh referensi yang sudah terkumpul guna menemukan bagian-bagian tertentu dari buku yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti. Setelah sumber-sumber itu difahami dengan baik pada waktu itu juga beberapa persoalan yang menonjol baik secara substantif maupun teoritik telah dicatat oleh peneliti yang kemudian dikembangkan pada proses pengumpulan data berikutnya. Kemudian, peneliti mencurahkan seluruh waktu dan perhatiannya untuk mempelajari secara mendalam segala sesuatu yang berhubungan dengan persoalan-persolan yang dijadikan perhatian utama dalam penelitian. Pada waktu pengumpulan data ini, segala sesuatu yang berkenaan dengan proses pengumpulan data dicatat secara global dan sistematis yang detailnya dimasukkan setiap hari setelah selesai pencarian data pada hari itu.

Keempat, mengerjakan atau menganalisis dan menafsirkan data. Tahap ini dilakukan peneliti secara komprehensip setelah selesai melakukan kegiatan pengumpulan data. Dikatakan secara komprehensip, karena sesungguhnya proses analisis data berlangsung secara terus menerus sejak peneliti mengumpulkan data pada tahap pertama. Yang dimaksud dengan analisis data di sini adalah sebuah proses untuk mengidentifikasi tema-tema secara formal dan membentuk generalisasi yang dapat diangkat dari data.

Kelima, pengecekan data. Setelah proses analisis data tuntas, temuan-temuan penelitian dituangkan ke dalam drap  laporan dan hasilnya didiskusikan dengan dengan teman-teman anggota Team Teaching Tafsir untuk dilakukan pengecekan an menampung masukkan. Mereka akan diberikan kesempatan untuk mengomentari seluruh temuan penelitian serta segala kekurangan atau penyimpangan dari yang sebenarnya dilengkapi atau dikoreksi.

5. Validitas Data

Tingkat keabsahan (trustworthiness) seluruh data yang dikumpulkan dalam penelitian ini telah diupayakan untuk memenuhi empat kriteria: (1) tingkat kepercayaan (credibility internal validity dalam penelitian kuantitatip), (2) keteralihan (transferabilityexternal validity dalam penelitian kuantitatip), (3) kebergantungan (dependabilityreliability dalam penelitian kuantitatip) dan (4) tingkat kepastian (confirmabilityobjectivity dalam penelitian kuantitatip).

Teknik yang diterapkan peneliti untuk menjaga keabsahan data yang disajikan dalam disertasi ini adalah sebagai berikut.

Pertama, untuk memenuhi kriteria  tingkat kepercayaan data yang dapat dibuktikan kebenarannya dengan cara membandingkan temuan-temuan penelitian dengan kenyataan-kenyataan lain yang berbeda yang ditemukan pada obyek penelitian, peneliti menerapkan teknik-teknik sebagai berikut:

  1. Penelitian di perpustakaan dilakukan dalam waktu yang cukup lama, yaitu satu tahun dan dilakukan secara langsung, yaitu peneliti menjadi instrumen penelitian, sehingga berbagai aspek dapat difahami dengan baik. Dengan demikian kemungkinan salah tafsir terhadap obyek penelitian sangat kecil.
  2. Penelitian dilakukan dengan penuh ketekunan sehingga datanya mendalam. Berbagai ciri dan unsur yang relevan dengan masalah yang diteliti dapat ditemukan dan peneliti memusatkan diri pada msalah-masalah tersebut secara detail.
  3. Melakukan pengecekkan data dengan cara membandingkan data yang dikumpulkan dengan data yang diperoleh dari sumber, metode,  peneliti dan teori yang berbeda (triangulasi).
  4. Memeriksakan data yang dikumpulkan kepada peneliti lain dengan cara mempresentasikannya dalam suatu diskusi analitik. Teknik ini dapat membuat peneliti tetap jujur dan terbuka, serta terjadi proses pengujian awal terhadap generalisasi yang akan dirumuskan.
  5. Melakukan analisis terhadap kasus negatif, yaitu mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak sesuai dengan pola dan kecenderungan umum dari data yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pembanding.
  6. Menelaah referensi lain yang berhubungan dengan topik penelitian sebanyak-banyaknya untuk menampung teori-teori yang relevan dan kritik-kritik tertulis sebagai bahan evaluasi.
  7. Melakukan pengecekkan terhadap sumber-sumber yang digunakan sebagai sumber dalam pengumpulan data; dalam masalah data itu sendiri, kategori analitis, penafsiran data, dan kesimpulan. Cara ini memungkinkan beberapa.

Kedua, untuk memenuhi kriteria keteralihan, yaitu bahwa  generalisasi yang ditemukan dalam penelitian dapat berlaku atau diaplikasikan pada semua bidang yang sama berdasarkan temuan yang diperoleh ini dilakukan penguraian yang rinci terhadap data. Peneliti menguraikan konteks penelitian dilakukan seteliti dan secermat mungkin dan berbagai argumen dikemukakan secukupnya yang dapat memperkuat generalisasi yang dikemukakan dan memancing peneliti lain untuk ikut merenungkannya secara mendalam.

Ketiga, untuk memenuhi kriteria kebergantungan yaitu bahwa hasil yang sama ditemukan dalam replikasi studi yang dilakukan dalam kondisi yang serupa dilakukan audit kebergantungan. Audit merupakan konsep fiskal yang dimanfaatkan untuk mengecek tingkat kebergantungan dan kepastian data baik dari segi proses maupun  hasil. Bidang-bidang yang diaudit adalah data mentah, data yang telah direduksi dan hasil kajian, rekonstruksi data dan hasil sintesis, catatan tentang proses penyelenggaraan penelitian, bahan yang berhubungan dengan maksud dan tujuan penelitian dan informasi tentang pengembangan instrumen. Proses audit dilaksanakan melalui tahap-tahap: praentri, penetapan bidang-bidang yang dapat diaudit, kesepakan antara auditor dan auditi, penentuan keabsahan dan menutup proses audit.

Keempat, untuk memenuhi kriteria  kepastian dilakukan audit kepastian yang bidang dan proses auditnya sama dengan pada audit kebergantungan, tapi proses audit lebih difokuskan pada tingkat kepastian data dengan cara memperhatikan secara lebih mendalam tentang apa dan bagaimana data dikumpulkan serta kondisi yang mengitari proses pengumpulan data yang mempengaruhi data.

 6. Teknik Analisis Data

Data yang sudah terkumpul dianalisis secara induktif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Analisis data dilakukan sejak penulis mengumpulkan data sampai setelah selesai mengumpulkan data yang dilakukan behind the table. Prosedur analisis data kualitatif ini dilakukan sebagai berikut:

  1. Membaca dan merenungkan secara mendalam seluruh catatan penelitian yang telah disusun peneliti ketika mengumpulkan data;
  2. Menyaring informasi sehingga informasi yang tidak sesuai dengan pengalaman atau tujuan penelitian dibuang;
  3. Menyusun data bedasarkan klasifikasi dan dimasukkan ke dalam maf-maf yang terpisah berdasarkan topik-topik yang telah diberi kode untuk memudahkan dalam penemuan tema atau generalisiasi;
  4. Memeriksa ulang data yang telah dikelompokkan berdasarkan topik untuk mendapatkan pola;
  5. Mencatat topik-topik penting. Kegiatan ini sesungguhnya telah dilakukan sejak kegiatan pengumpulan data dilakukan;
  6. Memperjelas topik-topik yang dinilai masih kabur;
  7. Memberikan kode dengan angka dan huruf atas topik-topik yang penting untuk memudahkan dalam penemuan pola;
  8. Menyusun generalisasi; dan
  9. Menyeleksi generalisasi-generalisasi dengan ketat dengan cara merujukkan generalisasi-generalisasi itu kepada kepustakaan yang relevan dan yang tidak sesuai serta tidak berguna bagi pengembangan teori dibuang.

 C. Pembahasan Hasil Penelitian

1. Sistematika Penafsirannya

Tafsir  Ibnu Taimiyyah yang menjadi bahan kajian ini dihimpun oleh Abdurrahman Muhammad ibn Qasim al-Ashimi an-Najdi al-Hambali bersama anaknya, Muhammad, dalam empat jilid. Tafsir tersebut dimuat dalam Majmu Fatawa Syaihul Islam Ahmad Ibnu Taimiyyah jilid 14-17. diterbitkan pertama kali pada tahun 1382 H. kurang lebih tahun 1961 M. maliputi 64 surat dari 114 surat dalam al-Qur’an. Ayat-ayat dalam surat tersebut tidak seluruhnya ditafsirkan satu-demi satu.[1]

Ibnu Taimiyyah sengaja tidak menafsirkan seluruh isi al-Qur’an  ayat demi ayat, karena ia berpendapat bahwa sebagian dari ayat-ayat al-Qur’an sudah jelas dengan sendirinya dan sebagiannya telah ditafsirkan ulama dalam sejumlah kitab. Ia membatasi penafsiran pada ayat-ayat yang dipandangnya masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut. Dengan demikian, sekalipun surat itu demikian pendek, jika tidak diperlukan tambahan penjelasan, maka ia tidak lakukan.[2]

Sejalan dengan pandangannya diatas, Ibnu Taimiyyah menafsirkan ayat-ayat dan surat-surat dalam al-Qur’an menurut kebutuhan. Ia mengawali tafsirnya dengan menjelaskan nama-nama al-Qur’an  berdasarkan sebutan-sebutan yang tertera dalam al-Qur’an  itu sendiri. Nama-nama itu, antara lain, al-Furqon, al-Kitab, al-Huda, al-Nur, al-Syifa, al-Bayan, al-Mauijhah, al-Rohmah, Bashair, aBalagh, al-Karim, al-Majid, al-Aziz, al-Mubarak, al-Tanjil, al-Munajjal, al-Shirat, al-Mustaqim, Hablullah, Al-Zikr, al-Dikra, Tadzkirah, al-Matsani, al-Hakim, al-Muhkam, al-Hakim, al-Mufashol, al-Burhan, al-I’lm,. Al-Qayyim.[3]

Langkah selanjutnya menafsirkan ayat-ayat yang dipandang perlu penjelasan lebih lanjut dari tafsir-tafsir yang telah ada. Setiap surat yang ditafsirkan tidak tentu meliputi keseluruhan ayatnya, baik pada surat-surat yang terhitung panjang maupun pada surat-surat yang relative pendek.

Ketika menafsirkan surat al-Fatihah, mula-mula ia menjelaskan gambaran umum surat-surat tersebut dengan mengutip hadits nabi saw. Riwayat muslim, bahwa Allah SWT Membagi al-fatihah untuk dirinya dan untuk hambanya. Ayat: “Alhamdulillahirobbilalamin” dan dua ayat sesudahnya adalah untuk Allah SWT Ayat: “Iyyakana’budu waiyyaka nastain”, sebagian yang pertama yakni “Iyyakana’budu”, untuk dia dan sebagian yang kedua, yakni “iyyakanastain”, untuk hambanya. Ayat: “Ihdinashirotolmustaqim dan shirotol-ladzina an’amta alaihim” hingga akhir surat tersebut adalah untuk  hambanya.[4]

Pembahasan selanjutnya dibagi-bagi dalam beberapa pasal, dengan mula-mula dipokuskan pada ayat yang dipandang sentral dalam surat itu, yakni, “Iyyakana’budu waiyyaka nasta’in”, kamudian kembali ke ayat yang permulaan, yakni “Alhamdulillahirobbilalamiin”, diikuti dengan fasal tauhid Rububiyyah dan tauhid Uluhiyyah. Disitu dibahas hakikat manusia, keterbatasan manusia dan kehendak Allah SWT Kepada hamba-hambanya.[5]

Ibnu Taimiyyah menerapkan langkah-langkah yang serupa ketika menafsirkan surat kedua dalam al-Qur’an, yakni al-Baqarah, surat ketiga al-Imran dan seterusnya.

 2. Corak Penafsirannya

Berdasarkan kategorisasi corak tafsir yang ada, sejak dahulu hingga sekarang tafsir Ibnu Taimiyyah dapat dimasukkan dalam kelompok tafsir yang bercorak sastra budaya kemasyarakatan. Ciri penafsiran bercorak demikian, sebgaimana diuraikan pada bagian terdahulu, ialah menjelaskan petunjuk-petunjuk ayat al-Qur’an  yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat serta usaha-usaha untuk menanggulangi masalah-masalah mereka berdasarkan petunjuk ayat-ayat, dengan mengemukakannya dalam bahasa yang mudah dimengerti lagi indah dan lancar.

Selaku mufassir, Ibnu Taimiyyah tidak disibukan dengan pelik-pelik I’rab dan persoalan kebahasaan pada umumnya, kecuali untuk menegaskan maknanya, atau untuk mentarjihkan makna yang sesuai dengan maksud ayat. Sebaliknya ia mencurahkan perhatian pada “Ihtiyar” menemukan solusi atau cara pemacahan masalah dalam al-Qur’an  terhadap problema jamannya dan persoalan kamasyarakatan yang dihadapi di lingkungan dimana ia hidup. Untuk itu terkadang ia menghimpun berbagai ayat yang tersebar dalam al-Quran mengenai suatu persoalan tertentu lalu menghadirkan sejumlah hadits yang menjelaskan persoalan tersebut, mengutip nash-nash dari ulama salaf, kalangan shabat,dan  tabi’in yang diperlukan untuk mengupas tuntas persoalan tersebut. Corak tafsir yang demikian, seperti disebut Muhammad al-Julainid, mendekati apa yang dewasa ini dikenal dengan tafsir al-Qur’an  al-Maudhu’i (tematik).

 3. Ciri-ciri Penafsirannya

Diantra ciri pokok penafsiran Ibnu Taimiyyah adalah sebagai berikut.

Pertama, memandang Satu Surat Sebagai Satu Kesatuan yang Serasi dan Utuh  Ketika menafsirkan surat al-fatihah, misalnya, ia lebih dahulu mehnjelaskan kedudukan surat tersebut sebagai “Umul Kitab” (induk kitab), “Fatihatul Kiltab” (pendahuluan, pembukaan kitab), “al-Sab’u Minal Matsani” (tujuh yang diulang-ulang), “al-Syafiyah” (penyembuh) “al-Wajibah fi al-Shalawat” (yang wajib dalam shalat), “al-Kafiyah” (yang mencukupi). Kemuidian menjelaskan keutamaan al-Fatihah sebagai surt yang paling utma dalam al-Qur’an. Seterusnya menjelaskan pokok-pokok kandungannya dan memfokuskan perhatian pada bagian-bagian ayat-ayat yang dipandang memerlukan tafsiran lebih lanjut dan menjelaskan kaitan ayat yang satu denga yang lain.[6]

Ketika menafsirkan surat al-Ikhlas Ibnu Taimiyyah menjelaskan perbedaan penggunaan lafal “Ahad” (Esa) dan lafad “Shamad” (Tuhan yang sempurna kemulyaanya) dalam masing-masing ayatnya. Lafal “Ahad” tidak didahului dengan alif dan lam (lam ta’rif), sedangkan lafal “Shamad” didahului dengan lam ta’rif. Maksudnya, lafal “Ahad”  itu tidak patut digunakan untuk menyipati sesuatu kecuali Allah SWT Jika digunakan untuk menyebut sesuatu selain Allah maka dalam susuna  kalimat bahasa arab harus dalam bentuk nafi’ (negativ), misalnya “Laa ahada fi al-Dar”; atau dalam bentuk idhofah, seperti dalam firman Allah : “Faba’atsu Ahadakum Biwariqikum Hadzihi” (QS. 18 : 19) adapun kata “Shamad” kadang digunakan oleh ahli bahasa untuk menyebut seseorang atau suatu mahluk. Maka untuk menghususkan apa yang dimaksud ayat digunakanlah alif dan menjadi “al-Shomad”, yang mengandung arti dialah Allah yang berhak untuk menyandang gelar “Samad”. Adapun mahluk, jika ia “Shamad” dalam beberapa segi, namun hakikat ke-Shamadan-nya relative.[7]

 Kedua, menekankan Kandungan Al-Quran sebagai Sumber Aqidah. Ketika menafsirkan ayat: “Alhamdulillahirobilalamin”, Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa Allah adalah tuhan yang disembah. Lafal Allah adalah lebih tepat digunakan dalam rangka beribadah. Maka dikatakan: “Allahu Akbar”, “Alhamdulillah”, “Subhana Allah”, “Laailaaha illa Allah” dan seterusnya. Sedangkan “al-Rab” adalah Tuhan yang memelihara, pencipta, pemberi rizki, penolong dan pemberi petunjuk. Maka lafal tersebut lebih pas digunakan ketika seseorang memohon dan meminta kepada Allah, seperti: “Rabighfir lii Waliwaalidayya” (QS. 71:28); “Robbana Dzalamnaa Anfusana” (QS 7 : 23); “Robbi inni Dzalamtu Nafsi” (QS.28:16); “Robbana laa Tuakhidzna in Nasiina au Akhto’naa” (QS. 2: 286).[8] Ia menegaskan bahwa surat al-Fatihah juga menekankan tauhid Rububiyyah dan Uluhiyyah. Ketika menafsirkan surat al-Ikhlas, Ibnu Taimiyyah menjelaskannya secara panjang lebar dalam rangka memperkokooh aqidash kaum muslimin pada umumnya.[9]

 Ketiga, menafsirkan Ayat Al-Quran dengan Al-Quran . Ibnu Taimiyyah konsisten dengan pandanganya  bahwa sebaik-baik cara menafsirkan adalah menafsirkan al-Qur’an  dengan al-Qur’an. Ketika menafsirkan ayat: “Ihdina Shirata al-Mustaqiim”, misalnya, ia mengutip sejumlah ayat al-Qur’an yang  memuat lafal “Hidayah” dan “Shirata al-Mmustaqim” berikut:[10]

¨br&ur #x‹»yd ‘ÏÛºuŽÅÀ $VJŠÉ)tGó¡ãB çnqãèÎ7¨?$$sù ( Ÿwur (#qãèÎ7­Fs? Ÿ@ç6¡9$# s-§xÿtGsù öNä3Î/ `tã ¾Ï&Î#‹Î7y™ 4 öNä3Ï9ºsŒ Nä38¢¹ur ¾ÏmÎ/ öNà6¯=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÎÌÈ  

153. “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain)[152], karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa”.

$yJßg»oY÷s?#uäur |=»tGÅ3ø9$# tûüÎ6oKó¡ßJø9$# ÇÊÊÐÈ   $yJßg»oY÷ƒy‰ydur xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÊÊÑÈ  

117. “Dan Kami berikan kepada keduanya kitab yang sangat jelas”.

118. “Dan Kami tunjuki keduanya ke jalan yang lurus”.

$¯RÎ) $oYóstFsù y7s9 $[s÷Gsù $YZÎ7•B ÇÊÈ   tÏÿøóu‹Ïj9 y7s9 ª!$# $tB tP£‰s)s? `ÏB šÎ7/RsŒ $tBur t¨zr’s? ¢OÏFãƒur ¼çmtFyJ÷èÏR y7ø‹n=tã y7tƒÏ‰öku‰ur $WÛºuŽÅÀ $VJ‹É)tFó¡•B ÇËÈ   x8tÝÁZtƒur ª!$# #·ŽóÇtR #¹“ƒÍ•tã ÇÌÈ  

  1. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata[1393],
  2. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,
  3. Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).

“Asshirata al-Mustaqim”, dengan mengacu  kepada ayat-ayat tersebut, dapat ditafsirkan sebagai al-Qur’an  agama Islam dan jalan ibadah kepada allah.[11]

Ayat lain yang ditafsirkan menurut Ibnu Taimiyyah dengan nash-nash al-Qur’an  misalnya:[12]

Ÿwur (#qßsÅ3Zs? ÏM»x.Ύô³ßJø9$# 4Ó®Lym £`ÏB÷sム4 ×ptBV{ur îpoYÏB÷s•B ׎öyz `ÏiB 7px.Ύô³•B öqs9ur öNä3÷Gt6yfôãr& 3 Ÿwur (#qßsÅ3Zè? tûüÏ.Ύô³ßJø9$# 4Ó®Lym (#qãZÏB÷sム4 Ӊö7yès9ur í`ÏB÷s•B ׎öyz `ÏiB 78Ύô³•B öqs9ur öNä3t6yfôãr& 3 y7Í´¯»s9’ré& tbqããô‰tƒ ’n<Î) ͑$¨Z9$# ( ª!$#ur (#þqããô‰tƒ ’n<Î) Ïp¨Yyfø9$# ÍotÏÿøóyJø9$#ur ¾ÏmÏRøŒÎ*Î/ ( ßûÎiüt7ãƒur ¾ÏmÏG»tƒ#uä Ĩ$¨Y=Ï9 öNßg¯=yès9 tbr㍩.x‹tGtƒ ÇËËÊÈ  

 221. Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun Dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

 

Permulaan ayat tersebut yakni “Wala Tankkihul Musyrikat” mengundang silang pendapat diantara  ulama. Sebagian membolehkan laki-laki  muslim menikahi perempuan Nashrani maupun Yahudi. Lalu muncul pertnyaan apakan orang-orang Yahudi atau Nashrani termasuk golongan musyrikin atau ntidak. Ibnu Taimiyyah mula-nmula menjelaskan kebolehan laki-laki muslim menikahi ahli kitab berdasarkan QS al-Maidah (5):5 berikut:

tPöqu‹ø9$# ¨@Ïmé& ãNä3s9 àM»t6Íh‹©Ü9$# ( ãP$yèsÛur tûïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# @@Ïm ö/ä3©9 öNä3ãB$yèsÛur @@Ïm öNçl°; ( àM»oY|ÁósçRùQ$#ur z`ÏB ÏM»oYÏB÷sßJø9$# àM»oY|ÁósçRùQ$#ur z`ÏB tûïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# `ÏB öNä3Î=ö6s% !#sŒÎ) £`èdqßJçF÷s?#uä £`èdu‘qã_é& tûüÏYÅÁøtèC uŽöxî tûüÅsÏÿ»|¡ãB Ÿwur ü“É‹Ï‚­GãB 5b#y‰÷{r& 3 `tBur öàÿõ3tƒ Ç`»uKƒM}$$Î/ ô‰s)sù xÝÎ6ym ¼ã&é#yJtã uqèdur ’Îû ÍotÅzFy$# z`ÏB z`ƒÎŽÅ£»sƒø:$# ÇÎÈ     

5. Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat Termasuk orang-orang merugi.

Sementara terdapat riwayat dari Ibnu Umar bahwa beliau benci menikahi ahli kitab dan berkata: “Aku tidak mengetahui kemusyrikan yang lebih besar ketimbang wanita yang berkata bahwa Tuhan-nya Isa anak Maryam”.[13] Lebih lanjut Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa ahli kitab itu tidak termasuk orang-orang musyrik berdasarkan firman Allah:

¨bÎ) tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä šúïÏ%©!$#ur (#rߊ$yd 3“t»|Á¨Z9$#ur šúüÏ«Î7»¢Á9$#ur ô`tB z`tB#uä «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# Ÿ@ÏJtãur $[sÎ=»|¹ öNßgn=sù öNèdãô_r& y‰YÏã óOÎgÎn/u‘ Ÿwur ì$öqyz öNÍköŽn=tæ Ÿwur öNèd šcqçRt“øts† ÇÏËÈ  

62. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa sementara orang memandang ahli kitab sebagai musyrik berdasarkan firman Allah:[14]

(#ÿrä‹sƒªB$# öNèdu‘$t6ômr& öNßguZ»t6÷dâ‘ur $\/$t/ö‘r& `ÏiB Âcrߊ «!$# yx‹Å¡yJø9$#ur šÆö/$# zNtƒötB !$tBur (#ÿrãÏBé& žwÎ) (#ÿr߉ç6÷èu‹Ï9 $Yg»s9Î) #Y‰Ïmºur ( Hw tm»s9Î) žwÎ) uqèd 4 ¼çmoY»ysö7ߙ $£Jt㠚cqà2̍ô±ç„ ÇÌÊÈ  

31. “Mereka menjadikan orang-orang Alimnya dan Rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.

Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa ahli kitab itu asal ushul agamanya tidak menyekutukan tuhan, tetapi tauhid. Namun perjalanannya mereka melakukan bid’ah kemusyrikan seperti diisyaratkan oleh ayat tersebut diatas. Ibnu Taimiyyah menambahkan keterangan, bahwa manakala ditemukan al-Qur’an  menyebutkan bahwa mereka melakukan kemusyrikan, itu adalah bid’ah yang telah diperintahkan Allah SWT Dan jika mereka dibedakan dari kaum musyrikin lantaran asal usul agama mereka mengikuti ajaran kitab suci yang membawa pesan tauhid, bukan syirik, dan Allah SWT Tidak menyebut ahli kitab sebagai musyrik dengan menggunakan kata benda, tetapi al-qurean menyebutkan kemusyrikannya dengan kata kerja “Yusyrikun”. Sedasngkan ayat dri surat al-Baqarah menyebutkannya dengan bentuk kata benda (isim): musyrikin dan musyrikat.[15] Penggunaan isim lebih tegas ketimbang fi’il.

Keempat, menafsirkan Ayat al-Quran dengan Hadits-hadits Nabi dan Perkataan para Sahabat. Ketika menafsirkan ayat: “Ihdinashirata al-Mustaqim”, Ibnu Taimiyyah mengutip hadits Nabi Saw. Dari Abdullah bin  Mas’ud berikut. Nabi Saw. Membuat sebuah garis, lalu membuat beberapa garis lagi di kanan dan kirinya. Kemudian berkata: “Ini sabilillah” dan yang ini jalan-jalan yang diatasnya terdapat setan-setan yang menyeru kepadanya. Siapa memenuhi panggilan  setan ia dilempar kedalam  neraka. Lalu beliau membaca, QS. 6: 153, “Wa anna hadza shirathi mustaqiman” (dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus).[16] 

Ketika menafsirkan surat al-Ikhlas Ibnu Taimiyyah mengutip puluhan hadits dan perkataan sahabat, baik yang menjelaskan sebab atau latar belakang turunnya surat, tersebut maupun makna lafal-lafal yang terkandung didalamnya, diantara riwayat-riwayat itu adalah sebagai berikut.[17] 

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Amir bin Thufail berkata kepada Nabi: “Kepada apa engkau menyeru kami hai Muhammad? Nabi menjawab:, “Kepada Allah” Amir bin Thufail berkata kembali, “Terangkan kepadaku, apakah ia dari emas atau dari perak, ataukah dari besi? Turunlah surat itu.”

Diriwayatkan dari Abu Zar’ah dari Ahmad bin Mani, dari Muhammad bin Maisir yakni Abu Sa’id al-Saghani, dari Abu Ja’far al-Razi, dari Rabi’ bin Abbas, dari Abul Aliyah dari Ubaid bin Ka’ab tentang lafal al-Shomad berkata;  “al-Shamadu aladzi lam Yalid Walam Yuulad Liannahu Laisa Syai’un Yalidu illa Yamutu wala Syai’un Yamutu illa Yuratsu”, “Wainallaha la Yamutu wala Yaratsu Walam Yakun lahu Kufuwan Ahadun”, “Qala lam Yakun lahu Syibhun wala Adlun lalisa Kamistlihi Syai’un”.

Ketika menafsirkan ayat do’a: “Rabbana la Tuakhidna Innasina au Akht’ana dan seterusnya, Ibnu Taimiyyah mengemukakan keutamaan do’a itu berdasarkan beberapa riwayat dari nabi saw serta mengemukakan falsafah do’a dari beliau sebagai berikut:[18]

“Ma min ‘Abdin Yad’ullaha Bida’watin laisa fiha Itsmun wala Qathi’atu Rahimin illa A’thaullahu biha Ihda Khishalin Tsalats”,  “Imma an Yu’ajjila lahu Da’watuhu Waimma an Yukafara ‘anhu Minadzdzunubi Mitsluha, wa Imam an yudfa’a ‘Anhu minal bala’i Mitsluha…”(HR. al-Tirmidzi).

“Tak seorang mukmin pun yang memohon kepada Allah suatu permohonan yang tidak mengandung dosa dan tidak pula memutuskan tali silaturahmi, kecuali Allah akan memberikan dengan permohonan itu salah satu dari antara tiga hal berikut: Pertama, Allah akan segera mengabulkan permintaannya; kedua, Allah menyediakan balasan baik sepadan dengan catatan kebaikan yang telah pernah ditempuh; ketiga; Allah akan mengampuni dosa-dosa yang sepadan dengan kebaikan yang dimohonkan”

Kelima, menggunakan Akal Secara Kritis dalam Menilai dan Menyimpulkan Keberadaan    Manusia Dihadapan al-Qur’an. Ketika menafsirkan ayat: “Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in” (hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (Q.S, 1:5)”, Ibnu Taimiyyah menyimpulkan bahwa manusia dihadapan ayat tersebut terbagi dalam empat golongan, pertama, manusia yang melaksanakan kedua kewajiban, yakni ibadah dan isti’anah. Merekalah orang- orang yang beriman dan beramal shaleh (Q.S. 49:7). Kedua, manusia hanya melaksanakan ibadah kepada Allah tetapi tidak meminta pertolongan dan tidak bertawakal kepada-Nya. Ketiga, manusia yang meminta pertolongan kepada Allah dan di tolongnya, tetapi tidak beibadah kepada-Nya. Keempat, manusia yang tidak menyembah Allah dan tidak meminta pertolongan kepada-Nya, padahal Allah telah menciptakan, memberi rizqi dan melimpahkan karunia kesehatan kepadanya.[19]

Ketika menafsirkan ayat: “Waqala al-Rasulu ya Rabbi inna Khamitthakhadzu Hadzal Qur’ana Mahjuran” (berklatalah Rasul: “Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an ini suatu yang tidak diacuhkan (Q.S. 25: 30), Ibnu Taimiyyah menyatakan, seperti dikutip Ali Ash Shabuni, bahwa: “Barangsiapa tidak membaca al-Quran ia telah meninggalkannya, barangsiapa membaca al-Quran tanpa memahami isinya ia telah meninggalkannya”, “Barangsiapa membaca al quran dan memahami isinya tetapi tidak mengamalkannya, ia telah meninggalkan al-Qur’an”.

Keenam, sangat Teliti dalam Memahami Redaksi Ayat dan Lafal-lafalnya. Ketika menafsirkan surat al-Ikhlash, Ibnu Taimiyyah menjelaskan perbedaan penggunaan lafal “Ahad” tanpa alif lam dan “al-Shamad” yang menggunakan alif lam, seperti telah disinggung dalam halaman terdahulu. Untuk memperoleh makna yang komprehensif atas lafal “al-Shamad” Ibnu Taimiyyah meghadirkan puluhan pemahaman ulama salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in serta para ahli bahasa. “al-Shamad” artinya sesuatu yang tak berongga, tak bercelah; Tuhan yang kepadanya disandarkan kebutuhan- kebutuhan; Tuhan yang sempurna lagi tinggi kedudukannya; yang dimintai pertolongan dalam bencana; Dzat yang tak membutuhkan kepada seseorang tetapi tiap-tiap orang membutuhkannya. Demikian uraian Ibnu Taimiyyah dalam tafsirnya.[20]

Ketujuh, keluasan Pembahasan Suatu Ayat dengan Menghadirkan Beberapa Ayat  yang Serupa. Ketika menafsirkan ayat: “Matsaluhum Kamatsalil Ladzis Tauqada Naran…” (perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api) (Q.S 2: 17), Ibnu Taimiyyah menyebutkan bahwa di dalam al-Qur’an terdapat redaksi ayat yang menggunakan lafal “Matsal” serupa itu lebih dari empat puluh tempat. Lalu ia mengutip beberpa ayat “Matsal” yang dimaksud sebagai berikut:[21]

ã@sW¨B tûïÏ%©!$# tbqà)ÏÿZムóOßgs9ºuqøBr& ’Îû È@‹Î6y™ «!$# È@sVyJx. >p¬6ym ôMtFu;/Rr& yìö7y™ Ÿ@Î/$uZy™ ’Îû Èe@ä. 7’s#ç7/Yߙ èps($ÏiB 7p¬6ym 3 ª!$#ur ß#Ï軟Òム`yJÏ9 âä!$t±o„ 3 ª!$#ur ììřºur íOŠÎ=tæ  

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui”.

$yg•ƒr’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä Ÿw (#qè=ÏÜö7è? Nä3ÏG»s%y‰|¹ Çd`yJø9$$Î/ 3“sŒF{$#ur “É‹©9$%x. ß,ÏÿYム¼ã&s!$tB uä!$sÍ‘ Ĩ$¨Z9$# Ÿwur ß`ÏB÷sム«!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# ( ¼ã&é#sVyJsù È@sVyJx. Ab#uqøÿ|¹ Ïmø‹n=tã Ò>#tè? ¼çmt/$|¹r’sù ×@Î/#ur ¼çmŸ2uŽtIsù #V$ù#|¹ ( žw šcrâ‘ωø)tƒ 4’n?tã &äóÓx« $£JÏiB (#qç7|¡Ÿ2 3 ª!$#ur Ÿw “ωôgtƒ tPöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$#  

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.

ã@sWtBur tûïÏ%©!$# šcqà)ÏÿYムãNßgs9ºuqøBr& uä!$tóÏGö/$# ÅV$|ÊötB «!$# $\GÎ7ø[s?ur ô`ÏiB öNÎgÅ¡àÿRr& È@sVyJx. ¥p¨Yy_ >ouqö/tÎ/ $ygt/$|¹r& ×@Î/#ur ôMs?$t«sù $ygn=à2é& Éú÷üxÿ÷èÅÊ bÎ*sù öN©9 $pkö:ÅÁム×@Î/#ur @@sÜsù 3 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÅÁt/  

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai), dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.

$yg•ƒr’¯»tƒ â¨$¨Z9$# z>ΎàÑ ×@sWtB (#qãèÏJtGó™$$sù ÿ¼ã&s! 4 žcÎ) šúïÏ%©!$# šcqããô‰s? `ÏB Èbrߊ «!$# `s9 (#qà)è=øƒs† $\/$t/èŒ Èqs9ur (#qãèyJtGô_$# ¼çms9 ( bÎ)ur ãNåkö:è=ó¡o„ Ü>$t/—%!$# $\«ø‹x© žw çnrä‹É)ZtFó¡o„ çm÷YÏB 4 y#ãè|Ê Ü=Ï9$©Ü9$# Ü>qè=ôÜyJø9$#ur  

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya, dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan Amat lemah (pulalah) yang disembah.

tô‰s)s9ur $oYö/uŽŸÑ Ĩ$¨Z=Ï9 ’Îû #x‹»yd Èb#uäöà)ø9$# `ÏB Èe@ä. 9@sWtB 4 ûÈõs9ur NßgtGø¤Å_ 7ptƒ$t«Î/ £`s9qà)u‹©9 tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿŸ2 ÷bÎ) óOçFRr& žwÎ) tbqè=ÏÜö7ãB  

“Dan sesungguhnya telah Kami buat dalam Al-Quran ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan Sesungguhnya jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang yang kafir itu akan berkata: “Kamu tidak lain hanyalah orang-orang yang membuat kepalsuan belaka.”

Penafsiran ayat al-Quran dengan menghimpun ayat- ayat yang serupa demikian itu pada masa sekarang dikenal dengan tafsir tematik.

D. Kesimpulan

Dari uraian terdahulu dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

Pertama, Ibnu Taimiyyah adalah pemikir Islam dan mufassir yang menjunjung tinggi keagungan al-Quran. Al-Quran dengan segala dalil-dalilnya merupakan kekayaan, antara lain, untuk menuju  kepada aqidah islamiyyah yang sempurna. Ia memandang al-Quran dan as-Sunnah sebagai pembimbing seluruh manusia, dan petunjuk jalan lurus dengan dalil-dalil yang terang. Sebagian dari al-Quran diketahui maknanya oleh orang arab karena ia berbahasa mereka, sebagian diketahui makananya oleh seseorang dengan keawamannya, sebagian hanya dimengerti oleh para ulama dan sebagian lagi tidak diketahui hakikatnya kecuali oleh Allah SWT.

Kedua, metode penafsiran al-Quran yang terbaik secara berturut-turut, menurut Ibnu Taimiyyah adalah penafsiran al-Quran dengan al-Quran, penafsiran al-Quran dengan Sunnah, penafsiran al-Quran dengan perkataan para sahabat dan penafsiran al-Quran dengan perkataan para Tabi’in. Contoh penafsiran terbaik demikian terdapat dalam tafsir ath-Thabari. Sementara tafsir yang dinilai Ibnu Taimiyyah mengandung penyimpangan adalah tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari, karena memuat unsur-unsur pandangan madzhab kalam, dalam hal ini mu’tazilah dalam kitab tersebut.

Ketiga, penafsiran Ibnu Taimiyyah terhadap ayat-ayat al-Quran dapat dikatakan unik, karena ia tidak mengikuti sistematika penafsiran yang lazim, baik yang terdapat pada tafsir-tafsir kamudian. Ia menyajikan tafsir atas ayat-ayat untuk memberikan pemecahan masalah-masalah pada masa hidupnya. Ia menafsirkan ayat sesuai dengan kebutuhan masyarakatnya. Penafsirannya yang demikian termasuk dalam kategori tafsir bercorak sastra budaya dan kemasyarakatan. Ciri pokok penafsirannya, antara lain memandang suatu surat sebagai satu kesatuan yang serasi dan utuh; menekankan kendungan al-Quran sebagi sumber aqidah; menafsirkan al-Quran dengan ayat-ayat al-Quran, hadits-hadits Nabi dan pendapat para sahabat serta ahli bahasa, sangat teliti dalam memahami redaksi ayat dan lafal-lafalnya; menggunakan akal secara kritis untuk menyimpulkan keberadaan manusia dihadapan ayat-ayat al-Quran. Cara penafsirannya cukup relevan untuk diterapkan pada masa kini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman al-Baghdady, Beberapa Pandangan Mengenai Penafsiran Al-Qur’an, Alih Bahasa Abu Laila (Bandung: PT. Al-Ma’arif, 1988).

Abdurrahman ibn Muhammad al-Asim al-Najdi al-Hambali. “Majmu’ Fatawa ibnu Taimiyyah”. Juz IX. (Makkah (t. th.).

Abu Dawud, Sunan Abi Dawud (Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1952).

Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, Tafsir ath-Thabari (Beirut: Darul Fikr, 1978).

Abu Luwis Ma’luf. Al Munjid fil Lughah wal ‘Alam (Beirut: Darul Misyiq, 1975).

­­Abul ‘Abbas Taqiyuddin Ahmad ibn Abdul Halim ibn Taimiyyah al-Harrani al-Dimasqi, Al-Furqan Baina Auliya’ir Rahman wa Auliyais Syaithan (Riasalah Idaratis Buhus al-Islamiyah wal Ifta’ wa al-Da’wah”, t. th.).

Abul ‘Abbas Taqiyuddin Ahmad ibn Abdul Halim ibn Taimiyyah al-Harrani al-Dimasqi. Amar Ma’ruf Nahi Munkar, terjemah Bustanudin Agus dan Kamaludin Marzuki (Jakarta: Menteng Raya Enam Dua, 1968).

Abul ‘Abbas Taqiyuddin Ahmad ibn Abdul Halim ibn Taimiyyah al-Harrani al-Dimasqi. al-Jawab Ash Shahih Liman Baddala Din al-Masih (Mesir: Matba’ah al-Madani, 1964).

Abul ‘Abbas Taqiyuddin Ahmad ibn Abdul Halim ibn Taimiyyah al-Harrani al-Dimasqi, Muqaddimah fi Usulit Tafsir, (Kuwait: Darul Qur’an al-Karim, 1319 H).

Abul ‘Abbas Taqiyuddin Ahmad ibn Abdul Halim ibn Taimiyyah al-Harrani al-Dimasqi, Syahrul ‘Aqidah al-Afahaniyah (Darul Kutub al-Hadirah, t. th.).

Abul ‘Abbas Taqiyuddin Ahmad ibn Abdul Halim ibn Taimiyyah al-Harrani al-Dimasqi. Tafsir Surah al-Ikhlash (Kairo: Darut Thiba’ah al-Muhammadiyah, t. th.).

Abul Husain ibn Hajjaj. Shahih Muslim (Mesir: Dar Ihyail Kutub al ‘Arabiyah; (t. th.).

Ahmad al-Syirbashi, Sejarah Tafsir Qur’an, Alih Bahasa oleh Tim Pustaka firdaus (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985).

Alami Zaddah Faidullah al-Hasini, Fathurrahman Litalib Ayat al Qur’an (Beirut: al-Mathba’ah al-Ahliyah, 1323 H).

Ali al-Usy, “Metodologi Penafsiran al-Qur’an: Sebuah Tinjauan  Awal’, Jurnal Hikmah, No. 4.

Al-Suyuthi, Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an (Mesir: Al-Azhar, t.th.).

Badruddin al-Zarkasyi, Al-Burhan fi ‘Ulum al-Qur’an (Mesir: Al-Halaby, 1957).

D.A. de Vaus, Surveys in Social Research (Sydney: Allen & Unwin, 1990).

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-194  (Jakarta: LP3ESl, 1962).

Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Jakarta, 1964).

Didin Syafruddin, “The Principles of Ibn Taimiyya’s Quranic Interpretation”, Thesis (Canada: Institut of Islamic Studies, Mc Gill University, 1994).

F. Schoun, Memahami Islam, Alih Bahasa oleh Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka, 1983).

Fazlul Rahman, Islam, Terjemah Anas Wahyudin (Bandung: Pustaka, 1984).

Fazlur Rahman, Islam, Second Edition (Chicago: The University of Chicago Press, 1979).

Fritjof Schuon. Memaham Islam, Terjemah Anas Wahyudin (Bandung: Pustaka, 1983).

G.C. Anawati, “Peninggalan Islam: Filsafat, Teologi dan Tasawuf,” dalam H. L. Beck dan NJS. Kaptein (eds.), Pandangan Barat terhadap Literatur, Hukum, Filosofi, Teologi dan Mistik Tradisi Islam (Jakarta: INIS, 1989).

H.A.R. Gibb, Modern Trends in Islam (New York: Octagon Books, 1978); Mohammedanism (London: Oxford University Press, 1969).

H.L. Beck dan n.j.s. Kapein (ed.). Pandangan Barat terhadap Literature, Hukum Filosofi, Teologi dan Mistik Tradisi Islam (Jakarta: INIS, 1989).

Jalaludin Abdurrahman ibn Abi Bakr al-Suyuthi, Al-Jami’ as-Shaghir fil Haditsil Basyir wan Nadzir  (Bandung: Syirkah al-Ma’arif, t. th.).

Joachim Wach, The Comparative Study of Religions (New York: Columbia University Press, 1958).

John J. Domohue dan John l. Esposito, Islam dan Pembaharuan: Ensiklopedi Masalah-masalah, Terjemah Machnun Husein (Jakarta: Rajawali, 1984).

Juhaya S. Paraja, “Epistemologi Ibn Taimiyah”, Jurnal ‘Ulumul Qur’an, No. 7. Th. II, 1990.

Kenneth D. Bailey, Methods of Social Research. Third Edition (New York: The Free Press, 1987).

M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan, 1992).

M. Quraish Shihab, Studi Kritis Tafsir al-Manar (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994).

Mahmud Mahdi al-Istanbuli, Ibnu Taimiyyah Bathalul Ishlah al-Diniy (Damaskus: Darul Ma’rifah, t. th.).

Mahmud Syaltut, Tafsir al-Qur’an al-Karim, Terjemah Hossein Bahreisj dan Heri Noer Ali (Bandung: CV. Dipenogoro, 1989).

Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy (New York: Columbia University Press, 1983).

Mar`i Ibn Yusuf al-Karmi al-Hanbali, Al-Syahadah al-Zakiyyah fi Tsana’I al-A`immah ‘ala Ibn Taimiyyah (Beirut: Dar al-Furqan, 1963).

Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur’an al-Hakim (Beirut: Darul Fikr, t. th.).

Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar, Juz 1 (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.).

Muhammad Abu Zahrah, Ibn Taimiyyah: Hayatuhu wa ‘Asruhu, Ara`uhu wa Fiqhuhu (Beirut: Dar al-Fikr, t.th).

Muhammad al-Bahy, Alam Pemikiran Islam dan Perkembangannya, Alih Bahasa Al-Yasa’ Abu Bakar (Jakarta: Bulan Bintang, 1987).

Muhammad Ali ash-Shabuni, Ijazul Bayan fi Suwaril Qur’a. (Maktabah al-Ghazali, t. th.).

­Muhammad Ali ash-Shabuni, Al-Tibyan fi Ulum al-Quran (T. k: tth.).

Muhammad al-Sayyid al-Julainid (ed.), Daqaiq al-Tafsir al-Jami’ la Tafsir al-Imam bn Taimiyyah (Damaskus: Mu`assasah ‘Ulum al-Qur’an, 1966).

Muhammad al-Sayyid al-Julainid, Al-Imam Ibn Taimiyyah wa Mauqifuhu min Qadhiyyat al-Ta`wil (Kairo: Al-Hai`ah al-‘Ammah lisyu`un al-Mathabi’ al-Amirah, 1974).

Muhammad Amin, Ijtihad Ibn Taimiyyah dalam Bidang Fiqh (Jakarta: INIS, 1991).

Muhammad Farid Wajdi, Dairah al-Ma’arif al-Islamiyyah, Juz 1 (t.t.., Dar al-Ma’rifahli al-Tiba’ah, t.th.).

Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al-Mu’ajamul Mufahras li Alfazh al-Qur’an (Kairo: Darul Fikr, 1981).

Muhammad Husain al-Dzahabi, Al-Tafsir wa al-Mufassirun (t.t.: t.p., 1980).

Muhammad Khalil Haras, Ba’itsun Nahdhah al-Islamiyyah Ibn Taimiyyah (Tanta: Maktabah al-Shahabah, 1405 H.).

Muhammad Mahdi al-Istanbuli, Ibn Taimiyyah, Bathal al-Ishlah al-Diniy (Damaskus: Dar al-Ma’rifah, 1977).

Muhammad Quraisy Shihab, Membumikan al-Qur’an (Bandung: Mizan, 1992).

Nurcholish Madjid (ed.), Khazanah Intelektual Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1984).

Qamaruddin Khan, Pemikiran Politik Ibn Taimiyah, Alih Bahasa Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka, 1983).

S.H. Nasr, Islam dalam Cita dan Fakta, Terjemah Abdurrahman Wahid dan Hashim Wahid (Jakarta: Leppenas).

Saeful Anwar, “Tauhid menurut Ibn Taimiyyah”, Tesis (Yogyakarta: Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga, 1992).

Subhi al-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu al-Qur’an, Alih Bahasa Tim Pustaka Firdaus (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1990).

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1998).


[1] Ibnu Taimiyyah, “Majmu fatawa, Ibnu Taimiyyah”, juz 14-17 (Madinah al-Rriyadh, 1382 H).

[2] Ibnu Taimiyyah, “Muqaddimah Fiushuli Tafsir” (Quait: Dasrul-Quran al-Karim,t.th.), hlm.  11.

[3] Ibnu Taimiyyah, “Majmu”, Op. Cit., hlm.   14: 1-2.

[4] Ibid., hlm.   14: 7-8.

[5] Ibid., hlm.  14: 40.

[6] Ibid., , hlm.   14:5-40

[7] Ibnu Taimiyyah, “Tafsir surh al-Ikhlas” (Kairo: Darut-Tiba’ah al-Muhammadiyyah, t.thlm.),hlm.   28-29

[8] Ibnu Taimiyyah, “Majmu”, op,cit hlm.  14:12-13

[9] Ibid.,  hlm.   17; 214-504

[10] Ibnu Taimiyyah, “Daqaiqu al-Tafsir” (Beirut: Masasaulamil Quran 1986), hlm.   218-219

[11] Ibnu Taimiyyah “Majmu”, Op. Cit., hlm.   14: 37-39.

[12] Ibnu Taimiyyah “Daqaiqu”, Op. Cit., hlm.  240.

[13] Ibid.

[14] Ibid.

[15] Ibid.

[16] Ibid., hlm. 181-182.

[17] Ibnu Taimiyyah, “Tafsir”, Op. Cit., hlm.  186 dan 17.

[18] Ibnu Taimiyah, “Daqaiqu”, Op. Cit., hlm. 272.

[19] Ibid., hlm.   162.

[20] Ibnu Taimiyah, “Tafsir”, Op. Cit., hlm.   13-15.

[21] Ibnu Taimiyah, “Majmu”’, Op. Cit., hlm.   14: 56-58.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s