PELOPOR ISLAMISASI DI TATAR PASUNDAN ABAD XV

PELOPOR ISLAMISASI DI TATAR PASUNDAN ABAD XV

(Studi Naskah Sejarah atas Tiga Tokoh Penyebar Islam di Tatar Sunda:

Pangeran Cakra Buana, Prabu Kean Santang dan Syarif Hidayatullah)

EXECUTIVE SUMMARY

A.       Abstraksi

Berbicara proses Islamisasi di Tatar Pasundan, mestilah berbicara tokoh penyebarnya. Menurut sumber sejarah lokal baik lisan maupun tulisan, pelopor utama penyebar Islam awal di Tatar Pasundan adalah tiga orang keturunan raja Pajajaran atau Prabu Siliwangi, yaitu Pangeran Cakrabuana, Prabu Kean Santang dan Syarif Hidayatullah, akan tetapi masih terdapat sebagian penulis sejarah yang meragukan keberadaan dan peran ketiga tokoh tersebut karena banyaknya nama yang ditujukan kepada mereka. Faktor lainnya adalah kesalahan pengambilan sumber yang hanya mengambil sumber asing seperti catatan orang Portugis atau Belanda; atau disebabkan juga seringnya banyak mitos yang dijumpai para penulis sejarah dalam beberapa sumber lokal. Kondisi  seperti ini sangat membingungkan dan meragukan setiap orang yang ingin mencoba merekonstruksi ketiga tokoh penyebar Islam di Tatar Pasundan tersebut. Berdasarkan pada realitas historis semacam itu, penelitian ini akan mencoba mengungkap kehidupan sosial budaya dan keagamaan masyarakat Pasundan sebelum Islam datang dan mengungkap misteri atau ketidakjelasan kedudukan, fungsi, dan peran ketiga tokoh itu dalam proses Islamisasi di Tatar Pasundan.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis dengan menggunakan naskah-naskah sebagai sumber informasinya. Adapun sumber naskah-naskah klasik yang digunakan adalah Naskah Negara Kretabhumi, Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cerbon, Sajarah Cerbon, Sajarah Babad Nagari Cerbon, Babad Sunan Gunung Djati, Wawacan Sunan Gunung Djati, Babad Walangsungsang, Sajarah Lampahing Para Wali Kabeh, Wawacan Prabu Kean Santang dan Babad Limbangan.

Hasil penelitian membuktikan bahwa pelopor  pertama penyebar Islam di daerah pesisir utara Cirebon adalah Pangeran Cakrabuana yang mendirikan kerajaan Islam Pakungwati. Peranannya dalam syiar Islam ialah didirikannya mushola/ Langgar/ Tajug Jalagrahan, menerapkan syariat-syariat Islam di lingkungan masyarakat dengan cara dakwah yang sederhana dan mudah diterima. Naskah Negara Kretabhumi mencatat 110 santri yang belajar padanya yaitu, 106 orang Jawa, 2 orang dari Bharata (India) dan 2 orang dari Iran.

Kedua, Kean Santang mulai menyebarkan agama Islam di Godog, Garut tahun 1445. Ia penyebar Islam pertama di pedalaman Tatar Pasundan. Ia aktif mengembangkan Islam ke pedalaman Priangan Timur sampai ke Galuh. Kemudian dengan Cakrabuana merintis pembangunan kota Cirebon yang berlandaskan Islam. Pada masa akhir hidupnya ia mengembangkan Islam di daerah Priangan Selatan. Ia mula-mula mengislamkan raja-raja lokal, seperti Raja Galuh Pakuwon di Limbangan, bernama Sunan Pancer atau Prabu Wijayakusumah (1525-1575), Santowan Suci Mareja, Sunan Sirapuji dan Sunan Batuwangi. Melalui raja-raja lokal selanjutnya Islam menyebar ke seluruh tanah Priangan.

Ketiga, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati selain sebagai seorang sultan ia juga seorang ulama-da’i.Pengendali kekuasaan politik kesultanan Islam Cirebon dan terus menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Tatar Pasundan. Daerah-daerah yang dijelajahinya adalah Ukur Cibaliung (Bandung), Timbanganten (Garut), Pasir Luhur, Batu Layang, Pengadingan (Sumedang Larang), Nagari Talaga, Raja Galuh, Dermayu, Trusmi, Cangkuang dan Kuningan. Jika diperkirakan, gerakan Islamisasinya saat itu telah mencapai  2/3 wilayah Tatar Pasundan.

 

  1. B.       Pendahuluan

Berbicara tentang proses masuknya Islam (Islamisasi) di seluruh Tatar Pasundan atau tatar Sunda yang sekarang masuk ke dalam wilayah Provinsi Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat, maka mesti berbicara tentang tokoh penyebar dari agama mayoritas yang dianut suku Sunda tersebut. Menurut sumber sejarah lokal (baik lisan maupun tulisan) bahwa tokoh utama penyebar Islam awal di Tatar Pasundan adalah tiga orang keturunan raja Pajajaran, yaitu Pangeran Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Prabu Kean Santang.

Sebenarnya banyak sumber sejarah yang belum tergali mengenai bagaimana proses penyebaran Islam (Islamisasi) di Tatar Pasundan. Sumber-sumber tersebut berkisar pada sumber lisan, tulisan, dan artefak (bentuk fisik). Sumber lisan yang terdapat di Tatar Pasundan tersebar dalam cerita rakyat yang berlangsung secara turun temurun, misalnya tentang cerita “Kean Santang bertemu dengan Sayidina Ali” atau cerita tentang “Ngahiang-nya Prabu Siliwangi jadi Maung Bodas” dan lainnya. Begitu pula sumber lisan (naskah), sampai saat ini masih banyak yang belum disentuh oleh para ahli sejarah atau filolog. Naskah-naskah tersebut berada di Museum Nasional, di Keraton Cirebon Kasepuhan dan Kanoman, Museum Geusan Ulun, dan di daerah-daerah tertentu di wilayah Jawa Barat dan Banten, seperti di daerah Garut dan Ciamis. Di antara naskah yang terpenting yang dapat dijadikan rujukan awal adalah naskah Babad Cirebon, naskah Wangsakerta, Babad Sumedang, Wawacan Prabu Kean Santang dan Babad Limbangan.

Sumber lainnya yang dapat dijadikan alat bantu untuk mengetahui proses perkembangan Islam di Tatar Pasundan ialah artefak (fisik) seperti keraton, benda-benda pusaka, maqam-maqam para wali, dan pondok pesantren. Khusus mengenai maqam para wali dan penyebar Islam di Tatar Pasundan adalah termasuk cukup banyak seperti Syeikh Abdul Muhyi (Tasikmalaya), Sunan Rahmat(Garut), Eyang Papak (Garut), Syeikh Jafar Sidik (Garut), Sunan Mansyur (Pandeglang), dan Syeikh Qura (Kerawang). Lazimnya di sekitar area maqam-maqam itu sering ditemukan naskah-naskah yang memiliki hubungan langsung dengan penyebaran Islam atau dakwah yang telah dilakukan para wali tersebut, baik berupa ajaran fiqh, tasawuf, ilmu kalam, atau kitab al-Qur’an yang tulisannya merupakan tulisan tangan.

 

  1. C.      Kajian Teori
  2. 1.    Naskah-naskah Sejarah

Naskah-naskah lama dan buku-buku terbitan baru yang bahan penulisannya berdasarkan naskah-naskah lama yang disusun masyarakat umum[1] biasanya merupakan sebuah karya sastra[2] atau karya tulis sejarah yang disusun secara tradisional. Pada umumnya karya-karya tulis itu tidak terikat oleh fakta-fakta sejarah dalam susunan karangannya, tetapi terkesan bebas, seirama dengan lingkungan sosial budaya penyusunnya dan merupakan produk kebudayaan lokal di Indonesia.[3]

Unsur-unsur dongeng, legenda, dan mitos, misalnya seringkali tumbuh subur sehingga diperlukan keahlian khusus untuk dapat menyianginya jika akan dijadikan sumber sejarah. Naskah karya sastra sejarah seperti ini selain mengandung unsur estetik dan rekaan seperti halnya karya sastra pada umumnya, juga mengandung unsur sejarah sebagai ciri pembeda khusus dengan jenis karya sastra lainnya. Dalam sastra Sunda, banyak dijumpai karya sastra sejarah dalam berbagai judul, antara lain, Carita Parahiyangan, Babad Sumedang, Wawacan Sajarah Galuh, Sajarah Lampahing Para Wali Kabeh, Babad Cirebon, Naskah Wangsakerta dan Babad Limbangan.

Karya sastra sejarah yang menceritakan Syarif Hidayatullah, Cakra Buana dan Kean Santang ditemukan di Cirebon dan Priangan, antara lain berjudul Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cerbon, Sajarah Cerbon, Sajarah Babad Nagari Cerbon, Babad Sunan Gunung Djati, Wawacan Sunan Gunung Djati, Babad Walangsungsang, Sajarah Lampahing Para Wali Kabeh, Wawacan Prabu Kean Santang dan Babad Limbangan yang sebagian besar ditulis dalam huruf Arab Pegon dan huruf Jawa-Cirebon, Sunda dan Melayu—baik dalam bentuk puisi maupun prosa.

Banyaknya naskah lama yang membicarakan tokoh Syarif Hidayatullah, Cakra Buana dan Kean Santang dalam bentuk carita, sajarah dan babad menunjukkan bahwa cerita tentang tokoh-tokoh tersebut merupakan karya sastra sejarah yang pernah digemari oleh masyarakat dan pernah populer di kalangan masyarakat Cirebon dan Priangan. Bahkan teks dan naskah-naskah yang berisi sejarah, silsilah, serta riwayat zaman dulu, apalagi teks tersebut berkaitan erat dengan tokoh suci (wali), yakni Sunan Gunung Djati. Naskah ini dianggap oleh sebagian masyarakat, kalangan pesantren, bahkan kalangan Keraton Cirebon dewasa ini sebagai karya sejarah yang benar yang dipandang berisi uraian tentang fakta dan data yang sungguh-sungguh telah terjadi.

             

  1. 2.         Islamisasi dan Tahapan-tahapannya

Kata Islamisasi menurut Edi S. Ekajati, berasal dari bahasa Inggris Islamization yang berarti peng-Islam-an, upaya agar seseorang menjadi penganut agama Islam (muslim). Jelas, di dalam kata-kata Islamisasi dan peng-Islam-an itu terkandung makna kata kerja (kegiatan atau proses), dinamis, aktif; bukan kata benda, kemandegan dan pasif. Upaya dimaksud berwujud seorang muslim menyampaikan ajaran agama Islam kepada orang lain. Upaya tersebut dapat dilakukan secara individual dan dapat pula dilakukan secara massal. Hasil kegiatan itu dapat berwujud secara kuantitas (berupa jumlah orang yang menganut agama Islam) dan dapat pula berwujud secara kualitas (berupa tingkat keIslaman seorang muslim, baik yang menyangkut tingkat keimanan, tingkat penguasan ilmu agama, maupun tingkat pengamalannya).

Karena itu, Islamisasi bukanlah suatu peristiwa, melainkan suatu proses. Proses tersebut dapat dijabarkan berupa rangkaian peristiwa yang dapat diklasifikasikan secara vertikal dan juga secara horisontal. Pelaku Islamisasi adalah muslim, sedangkan sasarannya adalah non muslim sebagai sasaran utama yang hasilnya menyangkut soal kuantitas dan juga muslim yang hasilnya menyangkut soal kualitas. Dengan demikian, kegiatan Islamisasi dapat diklasifikasikan atas (1) mengIslamkan orang yang belum muslim (kafir), dalam rangka menambah jumlah muslim (kuantitas); dan (2) mengIslamkan orang yang sudah muslim, dalam rangka meningkatkan kualitas muslim.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka secara garis besar proses Islamisasi di Tatar Sunda/Jawa Barat dapat dibedakan atas empat tahap. Keempat tahap dimaksud adalah:

  1. Tahap memperkenalkan agama Islam kepada orang-orang yang belum menganut agama Islam (non muslim atau kafir).
  2. Tahap memberikan pelajaran tentang ajaran Islam dan memperkuat eksistensi umat Islam.
  3. Tahap memperdalam ilmu agama Islam dan menerapkan konsep Islam dalam kehidupan masyarakat, serta menantang penguasa kafir.
  4. Tahap memperbaharui pemikiran dan kehidupan Islam di dalam masyarakat

 

  1. D.      Metodologi Penelitian

Sesuai dengan permasalahan penelitian yang akan dilakukan, metode yang akan digunakan adalah metode historis, yaitu suatu kumpulan yang sistematis dari prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang dimaksudkan untuk membantu secara efektif dalam pengumpulan bahan-bahan sumber dari sejarah dalam menilai atau menguji sumber-sumber itu secara kritis dan menyajikan suatu hasil shintese (pada umumnya dalam bentuk tertulis) dari hasil-hasil yang dicapai.

Gottschalk dalam buku Dudung Abdurrahman mensistematisasikan langkah-langkah itu sebagai berikut:

  1. Pengumpulan objek yang berasal dari suatu zaman dan pengumpulan bahan-bahan tertulis dan lisan yang relevan (heuristik).
  2. Menyingkirkan bahan-bahan (atau bagian-bagian daripadanya yang tidak otentik (kritik sumber/ verifikasi).
  3. Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya berdasarkan bahan-bahan yang otentik (interpretasi).
  4. Penyusunan kesaksian dan bukti-bukti yang dapat dipercaya menjadi suatu kisah atau penyajian tulisan sejarah yang berarti (historiografi).

 

  1. E.       Hasil Penelitian dan Pembahasan
    1. 1.    Awal Masuknya Islam di Tatar Pasundan

Proses penyebaran Islam di Tatar Sunda (Jawa Barat) banyak dikisahkan melalui dua gerbang penyebaran, yaitu Cirebon dan Banten. Namun awal masuknya Islam ke Tatar Sunda sampai kini belum diketahui pasti. Hal ini karena belum ditemukan bukti-bukti yang sangat kuat tentang hal itu. Namun demikian dari sisi geografis dapat ditelusuri bahwa Tatar Sunda berada pada lintasan pelayaran niaga internasional pada kurun waktu abad ke-15 sampai abad ke-17. Atas dasar letak geografis ini, boleh jadi pantai utara Tatar Sunda adalah daerah yang lebih dahulu mendapatkan sentuhan agama Islam daripada Jawa Tengah dan Jawa Timur serta wilayah Indonesia bagian timur lainnya. Dengan demikian, dapat dipahami pula bahwa dalam tahap awal pembawa dan penyebar agama Islam di Nusantara adalah kaum pedagang yang pada awalnya menjadikan faktor ekonomi perdagangan sebagai pendorong utama untuk berkunjung ke Nusantara[4].

Dalam naskah Carita Parahiyangan diceritakan bahwa seorang pemeluk agama Islam yang pertama kali di Tatar Sunda adalah Baratalegawa, putera kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata, Penguasa Kerajaan Galuh. Ia memilih hidupnya sebagai saudagar besar, biasanya berlayar ke Sumatera, Cina, India, Srilangka, Iran, sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang Muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad. Melalui pernikahan dengan seorang Muslimah inilah, Bratalegawa memeluk Islam, kemudian menunaikan ibadah haji dan mendapat julukan Haji Baharudin dan dikenal dengan sebutan Haji Purwa sebutan yang menunjukkan bahwa ia merupakan orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaannya[5].

Jika Carita Parahiyangan itu dijadikan titik tolak masuknya agama Islam ke Tatar Sunda pada pertengahan abad ke-14 M, maka mengandung arti: Pertama, agama Islam yang pertama kali masuk ke Tatar Sunda berasal dari Makkah yang dibawa oleh Baratalegawa (Haji Purwa) seorang pedagang; kedua, pada tahap awal kedatangannya, agama Islam tidak hanya menyentuh daerah pesisir utara Jawa Barat, namun diperkenalkan juga di daerah pedalaman. Akan tetapi agama ini tidak segera menyebar secara luas ke masyarakat. Hal ini disebabkan tokoh penyebarnya belum banyak, dan pengaruh Hindu dari Kerajaan Galuh dan Pajajaran terhadap masyarakat setempat semakin kuat.

 

  1. 2.        Peran Tiga Tokoh Pelopor Islamisasi di Tatar Pasundan

Berdasarkan sumber sejarah lokal (seperti Babad Cirebon) bahwa Cakrabuana, Syarif Hidayatullah, dan Kean Santang merupakan tiga tokoh utama penyebar Islam di seluruh tanah Pasundan. Ketiganya merupakan keturunan Prabu Siliwangi (Prabu Jaya Dewata atau Sribaduga Maha Raja) raja terakhir Pajajaran (Gabungan antara Galuh dan Sunda). Hubungan keluarga ketiga tokoh tersebut sangatlah dekat. Cakrabuana dan Kean Santang merupakan adik-kakak. Sedangkan, Syarif Hidayatullah merupakan keponakan dari Cakrabuana dan Kean Santang. Syarif Hidayatullah sendiri merupakan anak Nyai Ratu Mas Lara Santang, sang adik Cakrabuana dan kakak perempuan Kean Santang.

 

  1. a.    Cakrabuana/ Walangsungsang

Cakrabuana (atau nama lain Walangsungsang), Lara Santang, dan Kean Santang merupakan anak Prabu Siliwangi dari hasil perkawinannya dengan Nyai Subang Larang, seorang puteri Ki Gedeng Tapa, penguasa Syah Bandar Karawang. Peristiwa pernikahannya terjadi ketika Prabu Siliwangi belum menjadi raja Pajajaran; ia masih bergelar Prabu Jaya Dewata atau Manahrasa dan hanya menjadi raja bawahan di wilayah Sindangkasih (Majalengka), yaitu salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Galuh Surawisesa (Kawali-Ciamis) yang diperintah oleh ayahnya Prabu Dewa Niskala. Sedangkan kerajaan Sunda-Surawisesa (Pakuan/Bogor) masih dipegang oleh kakak ayahnya (ua: Sunda) Prabu Susuk Tunggal.

Selain berguru agama Islam, Walangsungsang bersama Ki Gedeng Alang Alang membuka pemukinan baru bagi orang-orang yang beragama Islam di daerah pesisir. Pemukiman baru itu dimulai tanggal 14 Kresna Paksa bukan Caitra tahun 1367 Saka atau bertepatan dengan tanggal 1 Muharam 849 Hijrah (8 April 1445 M). Kemudian daerah pemukiman baru itu diberi nama Cirebon[6]. Penamaan ini diambil dari kata atau bahasa Sunda, dari kata “cai” (air) dan “rebon” (anak udang, udang kecil, hurang). Memang pada waktu itu salah satu mata pencaharian penduduk pemukiman baru itu adalah menangkap udang kecil untuk dijadikan bahan terasi. Sebagai kepala (kuwu; Sunda) pemukiman baru itu adalah Ki Gedeng Alang Alang, sedangkan wakilnya dipegang oleh Walangsungsang dengan gelar Pangeran Cakrabuana atau Cakrabumi.

Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam, pangeran Cakrabuana (Walangsungsang atau Cakrabumi, atau Ki Samadullah) kemudian ia mendirikan sebuah masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (Jala artinya air; graha artinya rumah), Mesjid ini merupakan mesjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. Mesjid ini sampai saat ini masih terpelihara dengan nama dialek Cirebon menjadi mesjid Pejalagrahan. Sudah tentu perubahan nama ini, pada dasarnya berpengaruh pada reduksitas makna historisnya. Setelah mendirikan pemukiman (padukuhan; Sunda) baru di pesisir Cirebon, pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara Santang pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Ketika di Mekah, Pangeran Cakrabuana dan Nyai Mas Lara Santang bertemu dengan Syarif Abdullah, seorang penguasa (sultan) kota Mesir pada waktu itu. Syarif Abdullah sendiri, secara geneologis, merupakan keturunan Nabi Muhammad Saw, generasi ke-17.

Dalam naskah Negara Kertha Bumi, jilid kedua pangeran Wangsakerta menjelaskan bahwa pangeran Walangsungsang menimba ilmu agama Islam selama tiga tahun lamanya bersama adik dan istrinya, yaitu Nyi Mas Indang Geulis dan Nyi Mas Rara Santang. Dari Syekh Nurjati, pangeran Walangsungsang dapat mempelajari syariat Islam mazhab Syafi’i. Sebagai catatan, mazhab Syafi’i adalah faham tentang hukum Islam yang difatwakan oleh imam Syafi’i atau Muhammad bin Idris.

Dalam babad Tanah Sunda Babad Cirebon diilustrasikan cara dakwah pangeran Walangsungsang dalam menyiarkan Islam sebagai berikut “Pada saat Ki Gedeng Alang-alang meninggal dunia, pangeran Walangsungsang memanggil kumpul semua tetangga berniat mensucikan jenazah Ki Gedeng Alang-alang sebagai mana cara Islam. Adapun para tetangga seorang pun tidak ada yang mau mendekati karena memakai cara syariat bangsa Islam. Pangeran Walangsungsang mengumumkan, barang siapa yang mau turut mengurusi dan menggali kuburan diganjar tiap orang uang sebaru (35 sen) dan nasi sebungkus dengan lauk pauk sepepes ikan.

Segera para tetangga mau turut mengurus dan mematuhi perintahnya pangeran Walangsungsang karena ada ganjarannya atau imbalan. Terlaksana sudah jenazah Ki Gedeng Alang-alang di shalatkan serta dikuburkan. Akan tetapi jenazah Ki Gedeng Alang-alang itu lenyap tanpa bekas hanya tinggal kain Mori putih pembungkus saja (lawon) dan berbau harum sekali. Para tetangga sangat heran sekali melihat kejadian tersebut. Pangeran Walangsungsang mengumumkan “barang siapa orang yang mati Islam niscaya seperti demikian itu lebih sempurna patinya pula, yang turut membantu niscaya mendapat berkah orang yang Islam”. Lalu para tetangga yang masih belum Islam pada tertarik masuk Islam turut sarengat kanjeng Nabi Muhammad SAW[7].

Disamping sebagai pemimpin pemerintahan, pangeran Walangsungsang tetap aktif mengajarkan agama Islam kepada masyarakatnya. Dalam naskah Negara Kretabhumi tercatat 110 santri pangeran Walangsungsang dengan rincian, 106 orang Jawa, 2 orang dari Bharata (India) dan 2 orang dari Iran. Maka pangeran Walangsungsang mendirikan Tajug Jalagrahan, yang sekarang terletak disebelah timur kompleks keraton Kasepuhan, tepatnya di kampung Siti Mulya, kecamatan Lemah Wungkuk, kota madya Cirebon[8].

 

  1. b.   Tokoh Kean Santang

Sebagaimana halnya dengan prabu Siliwangi, Kean Santang merupakan salah satu tokoh yang dianggap misterius. Akan tetapi tokoh ini, dalam cerita lisan dan dunia persilatan (kependekaran) di wilayah Sunda, terutama di daerah Priangan, sangatlah akrab dan legendaris dengan pikiran-pikiran orang Sunda. Sampai saat ini terdapat empat sumber sejarah (lisan dan tulisan) yang menceritakan tentang sepak terjang tokoh Kean Santang yang sangat legendaris itu. Keempat sumber itu, ialah (1) cerita rakyat, (2) sejarah Godog yang diceritakan secara turun menurun; (3) P. de Roo de la Faille; dan 4) Babad Cirebon karya P.S. Sulendraningrat.

Dalam sejarah Godog, Kean Santang disebut sebagai orang suci dari Cirebon yang pergi ke Preanger (Priangan) dan dari pantai utara. Ia membawa sejumlah pengikut agama Islam. Adapun yang menjadi sahabat Kean Santang setelah mereka masuk Islam dan bersama-sama menyebarkan Islam, menurut P. de Roo de la Faille, berjumlah 11 orang, yaitu 1) Saharepen Nagele, 2) Sembah Dora, 3) Sembu Kuwu Kandang Sakti (Sapi), 4) Penghulu Gusti, 5) Raden Halipah Kandang Haur, 6) Prabu Kasiringanwati atau Raden Sinom atau Dalem Lebaksiuh, 7) Saharepen Agung, 8 ) Panengah, 9) Santuwan Suci, 10) Santuwan Suci Maraja, dan 11) Dalem Pangerjaya[9].

Selain ke wilayah utara Kean Santang pun menyebarkan Islam ke daerah barat. Menurut Babad Pajajaran, proses awal masuknya Islam di Banten dimulai ketika Prabu Siliwangi, salah seorang raja Pajajaran, sering melihat cahaya yang menyala-nyala di langit. Untuk mencari keterangan tentang cahaya itu, ia mengutus Prabu Kean Santang, sampai ke Mekah. Di sana ia memperoleh berita, cahaya yang dimaksud adalah nur Islam dan cahaya kenabian. Ia kemudian memeluk agama Islam dan kembali ke Pajajaran untuk mengislamkan masyarakat. Upaya yang dilakukan Kean Santang hanya berhasil mengislamkan sebagian masyarakat, sedangkan yang lainnya menyingkirkan diri. Akibatnya, Pajajaran menjadi berantakan. Legenda yang dituturkan dalam Babad Pajajaran ini merupakan sebuah refleksi adanya pergeseran kekuasaan dari raja pra-Islam kepada penguasa baru Islam.

Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, Kean Santang pada masa akhir hidupnya mengembangkan Islam di daerah Priangan Selatan. Menurut sumber tradisi di Garut, Kean Santang sebagai putera raja Pajajaran (Prabu Siliwangi) yang berselisih paham dengan ayahnya, tetapi akhirnya di sepakati Kean Santang diberi keleluasaan menyebarkan Islam di seluruh Kerajaan Sunda. Petilasan Kean Santang ada di Godog berupa makam dan di Gunung Nagara berupa bekas pertahanan, Ciburuy/ Bayongbong, Hutan Sancang, Cilauteureun dan Depok.

Mula-mula Kean Santang mengislamkan raja-raja lokal, seperti Raja Galuh Pakuwon Limbangan, bernama Sunan Panceratau Prabu Wijayakusumah (1525-1575). Para petinggi dan raja-raja lokal lainnya yang secara langsung diIslamkan oleh Kean Santang di antaranya, Santowan Suci Mareja, Sunan Sirapuji dan Sunan Batuwangi.

Melalui raja-raja lokal inilah selanjutnya Islam menyebar ke seluruh tanah Priangan. Kemudian setelah itu Islam disebarkan oleh para penyebar Islam generasi berikutnya, yaitu para sufi seperti Syekh Jafar Sidiq (Penganut Syatariah) di Limbangan, Eyang Papak, Syekh Fatah Rahmatullah (Tanjung Singguru, Samarang, Garut), Syekh Abdul Muhyi (penganut Syatariyah; Pamijahan, Tasikmalaya), dan para menak dan ulama dari Cirebon dan Mataram seperti Pangeran Santri di Sumedang dan Arif Muhammad di Cangkuang (Garut).

 

  1. c.    Tokoh Syarif Hidayatullah

Syarif Hidayatullah muda berguru agama kepada beberapa ulama terkenal saat itu. Di antaranya ia berguru kepada Syekh Tajuddin al-Kubri di Mekkah dan Syekh Athaillah, seorang penganut terekat Sadziliyyah dan pengarang kitab tasawuf, al-Hikam, masing-masing selama dua tahun.

Setelah merasa cukup pengetahuan agamanya, ia memohon kepada kedua orang tuanya untuk berkunjung kepada kakak ibunya (Pangeran Cakrabuana) di Cirebon yang pada waktu itu menduduki tahta kerajaan Islam Pakungwati.

Selama di perjalanan menuju kerajaan Islam Pakungwati di Cirebon, Syarif Hidayatullah menyempatkan diri untuk singgah di beberapa tempat yang dilaluinya. Di Gujarat India, ia singgah selama tiga bulan dan sempat menyebarkan Islam di tempat itu. Di Gujarat ia mempunyai murid, yaitu Dipati Keling beserta 98 anak buahnya. Bersama Dipati Keling dan pengikutnya, ia meneruskan perjalanannya menuju tanah Jawa. Ia pun sempat singgah di Samudera Pasai dan Banten. Di Pasai ia tinggal selama dua tahun untuk menyebarkan Islam bersama saudaranya Syekh Sayyid Ishak. Di Banten ia sempat berjumpa dengan Sayyid Rakhmatullah (Ali Rakhmatullah atau Syekh Rahmat, atau Sunan Ampel) yang sedang giatnya menyebarkan Islam di sana.

Sesampainya di Cirebon, Syarif Hidayatullah giat menyebarkan agama Islam bersama Syekh Nurjati dan Pangeran Cakrabuana. Ketika itu, Pakungwati masih merupakan wilayah kerajaan Galuh dengan rajanya adalah Prabu Jaya Dewata, yang tiada lain adalah kakek dari Syarif Hidayatullah dan ayah dari Nyi Mas Larasantang. Oleh karena itu, Prabu Jaya Dewata tidak merasa khawatir dengan perkembangan Islam di Cirebon. Syarif Hidayatullah bahkan diangkat menjadi guru agama Islam di Cirebon, dan tidak lama kemudian ia pun diangkat semacam “kepala” di Cirebon. Syarif Hidayatullah giat mengadakan dakwah dan menyebarkan Islam ke arah selatan menuju dayeuh (puseur/pusat kota) Galuh. Prabu Jaya Dewata mulai gelisah, kemudian ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Pakuan Pajajaran yang terletak di wilayah kerajaan Sunda dengan rajanya Prabu Susuktunggal, yang masih merupakan paman (ua; Sunda) dari Jaya Dewata. Tetapi karena Pabu Jaya Dewata menikah dengan Mayang Sunda, puteri Susuk Tunggal, maka perpindahan bobot kerajaan dari Galuh (Kawali Ciamis) ke Pakuan Pajajaran (Bogor) bahkan mempersatukan kembali Galuh-Sunda yang pecah pada masa tahta Prabu Dewa Niskala, ayah Prabu Jaya Dewata. Di Pajajaran, Prabu Jaya Dewata mengganti namanya menjadi Sri Baduga Maharaja[10].

Di Cirebon, aktivitas Syarif Hidayatullah yang tampil sebagai kepala negara sekaligus sebagai salah seorang Walisanga lebih memprioritaskan pada pengembangan agama Islam melalui dakwah, salah satunya adalah menyediakan sarana ibadat keagamaan dengan mempelopori pembangunan mesjid agung dan mesjid-mesjid jami di wilayah bawahan Cirebon. Metode dan cara dakwah Syarif Hidayatullah dapat dibaca dalam naskah-naskah tradisi Cirebon baik metode dakwah konvensional melalui ceramah keagamaan maupun metode dakwah yang—tidak dijamin kebenarannya dan aneh-aneh—diliputi oleh unsur-unsur legendaris dan a-historis.

Dalam tahun-tahun pertama memulai tugas dakwahnya di Cirebon, Syarif Hidayatullah berperan sebagai guru agama menggantikan kedudukan Syekh Datuk Kahfi dengan mengambil tempat di gunung Sembung Pasambangan yang agak jauh dari istana atau pusat negeri Cirebon. Setelah beberapa lama bergaul dengan masyarakat ia mendapat sebutan atau gelar Syekh Maulana Djati yang sehari-harinya disebut Syekh Djati. Selain di dukuh Sembung-Pasambangan, ia mengajar pula di dukuh Babadan, sekitar tiga kilometer dari dukuh sembung. Setelah beberapa lama tinggal di dukuh Sembung, ia memperluas medan dakwahnya hingga ke Banten.

Beberapa waktu lamanya Syarif Hidayatullah tinggal di Banten mengajarkan dan mengembangkan syi’ar Islam. Sepulangnya dari Banten pada 1479, Syarif Hidayatullah dinobatkan menjadi Tumenggung oleh Pangeran Cakrabuwana dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah yang disambut oleh para wali tanah Jawa dengan memberikan gelar Panetep Panatagama Rasul di Tanah Sunda[11] atau  Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Djati Purba Panetep Panatagama Awliya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah[12]. Panetep berarti yang menetapkan, panata artinya yang menata, gama singkatan dari agama, dan rasul yang berarti utusan (untuk menyebarkan agama) yang bertempat di tanah Sunda. Sulendraningrat[13] menyebutkan Panetep Panatagama Rasul Soerat Sunda yang berkuasa di seluruh jazirah Sunda yang bersemayam di negeri Caruban untuk menggantikan Syekh Nurul Djati yang telah wafat.

Menurut Carita Purwaka Caruban Nagari, Selain mengendalikan kekuasaan politik sebagai penguasa kesultanan Islam Cirebon, Sunan Gunung Djati terus menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok tatar Sunda dengan ditemani oleh para pembantunya. Menurut  Nina Lubis[14] daerah-daerah yang dijelajahi oleh Sunan Gunung  Djati  adalah Ukur Cibaliung (Kabupaten Bandung), Timbanganten (Kabupaten Garut ), Pasir Luhur, Batu Layang, dan Pengadingan (wilayah Barat dan Selatan Sumedang Larang). Daerah-daerah lain yang berhasil diIslamkan sebagaiman diceritakan dalam sumber-sumber tradisional adalah Nagari Talaga, Raja Galuh, Dermayu, Trusmi, Cangkuang dan Kuningan. Jika diperkirakan, maka gerakan Islamisasi Sunan Gunung Djati saat itu telah mencapai  2/3 wilayah Jawa Barat.

 

  1. F.       Kesimpulan

Demikianlah uraian historis tentang peran Pangeran Cakrabuana, Kean Santang, dan Syarif Hidayatullah dalam proses penyebaran Islam di Tatar Pasundan. Hasil penelitian membuktikan bahwa pelopor  pertama penyebar Islam di daerah pesisir utara Cirebon adalah Pangeran Cakrabuana yang mendirikan kerajaan Islam Pakungwati. Peranannya dalam syiar Islam ialah didirikannya mushola/ Langgar/ Tajug Jalagrahan, menerapkan syariat-syariat Islam di lingkungan masyarakat dengan cara dakwah yang sederhana dan mudah diterima. Naskah Negara Kretabhumi mencatat 110 santri yang belajar padanya yaitu, 106 orang Jawa, 2 orang dari Bharata (India) dan 2 orang dari Iran.

Kedua, Kean Santang mulai menyebarkan agama Islam di Godog, Garut tahun 1445. Ia penyebar Islam pertama di pedalaman Tatar Pasundan. Ia aktif mengembangkan Islam ke pedalaman Priangan Timur sampai ke Galuh. Kemudian dengan Cakrabuana merintis pembangunan kota Cirebon yang berlandaskan Islam. Pada masa akhir hidupnya ia mengembangkan Islam di daerah Priangan Selatan. Ia mula-mula mengislamkan raja-raja lokal, seperti Raja Galuh Pakuwon di Limbangan, bernama Sunan Pancer atau Prabu Wijayakusumah (1525-1575), Santowan Suci Mareja, Sunan Sirapuji dan Sunan Batuwangi. Melalui raja-raja lokal selanjutnya Islam menyebar ke seluruh tanah Priangan.

Ketiga, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati selain sebagai seorang sultan ia juga seorang ulama-da’i.Pengendali kekuasaan politik kesultanan Islam Cirebon dan terus menyebarkan Islam ke seluruh pelosok Tatar Pasundan. Daerah-daerah yang dijelajahinya adalah Ukur Cibaliung (Bandung), Timbanganten (Garut), Pasir Luhur, Batu Layang, Pengadingan (Sumedang Larang), Nagari Talaga, Raja Galuh, Dermayu, Trusmi, Cangkuang dan Kuningan. Jika diperkirakan, gerakan Islamisasinya saat itu telah mencapai  2/3 wilayah Tatar Pasundan.

 

  1. G.      Daftar Pustaka

Armando Cortesao. 1944. The Suma Oriental of Tome Pires. London: The Hakluyt Society.

Atja. 1972 & 1986.Carita Purwaka Caruban Nagari. Bandung: Proyek   Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.

Atja. 1986. Carita Purwaka Caruban Nagari; Karya Sastra Sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah, , Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.

Abdurrahman, Dudung.1999. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: Wacana Ilmu.

Boechari Sanggupri,  dan Wiwi Kuswiah. 2001. Sejarah KerajaanTradisional Cirebon. Jakarta: Depdiknas.

Djadjadiningrat, Hosein. 1995. “Tradisi Lokal dan Studi Sejarah Indonesia” dalam Soedjatmoko, ed. “Historiografi Indonesia Sebuah Pengantar”. Jakarta; Gramedia.

Dadan Wildan. 2003. Sunan Gunung Djati (Antara Fiksi dan Fakta). Bandung: Humaniora.

Edi S. Ekadjati. 1975. “Penyebaran Agama Islam di Jawa Barat”, dalam : Edi S. Ekadjati. 1975. Sejarah Jawa Barat; Dari Masa Prasejarah hingga Masa Penyebaran Agama Islam. Bandung: Proyek Penunjang Peningkatan Kebudayaan Nasional Propinsi Jawa Barat.

Edi S. Ekadjati. 1998. Naskah Sunda; Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Kerjasama Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran dengan The Toyota Foundation.

Edi S. Ekajati. 1992. Sejarah Lokal Jawa Barat. Jakarta: Interumas Sejahtera

Edi S. Ekajati. 1995. Kebudayaan Sunda (Suatu Pendekatan Sejarahi). Jakarta: Pustaka Jaya.

Emuch Hermansoemantri. 1984/ 1985. Babad Cirebon: Sebuah Garapan Filologis. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara.

Frederick De Haan. 1912. Priangan; De Preanger Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811, Batavia: Kolff.

Gilbert J. Garraghan. 1946. A Guide to Historical Method. New York: Fordham University Press.

Hasan Muarif Ambary. 1998. Menemukan Peradaban Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Jakarta: Logos.

H.J. De Graff. 1976. Islamic State in Java 1500-1700. The Hague-Martinus Nijhoff: Verhandelingen van Het Koninklijk Instituut Voor Taal Land en Volkenkunde.

H.J. De Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud. 1974. Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa (terj.). Jakarta: Grafitipers.

Hoesein Djajadiningrat. 1913 & 1983. Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten. Haarlem: Joh.

James Danandjaja. 1984. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-lain. Jakarta: Grafiti Pers.

J.L.A. Brandes en D. A. Rinkes. 1911. Babad Tjerbon, VBG, LIX, Batavia.

Khasan Effendy. 1994. Petatah-Petitih Sunan Gunung Djati Ditinjau dari Aspek Nilai dan Pendidikan. Bandung: Indra Prahasta.

KS. Sutardji. 2003. Caruban Nagari, Rakean Walangsungsang danSyarif Hidayat Pendiri Kerajaan Islam Cirebon abad ke-XV. Jakarta: PNRI.

Louis Gottschalk. 1986. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press

Marwati Djoened Poesponegoro, dkk. 1984. Sejarah Nasional Indonesia II. Jakarta: Balai Pustaka.

Museum  Nasional. 1982. Wawacan Keyan Santang. Jakarta: Depdikbud Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Nina H. Lubis. 1998. Kehidupan Kaum Menak Priangan (1800-1942). Disertasi, Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.

Nina H. Lubis. 2000. Sejarah Kota-Kota Lama di Jawa Barat. Jatinangor- Bandung. Alqaprint.

Nina H. Lubis, dkk. 2011. Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat. Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia.

Pangeran Sulaeman Sulendraningrat. 1968. Nukilan Sedjarah Tjirebon Asli, Tjirebon: Pustaka Tjirebon.

P. De Roo La Faille. 1921. Bij de terreinschets van heilige begraafplaats Goenoeng Djati.  Batavia: NBG LVIII.              

Pitono. 1972. “Indonesian Traditional Literature as A Source on Historical Evidence”, dalam Manusia Indonesia; Majalah Penggali Budaya. No. 3 Tahun VI.

RH. Unang Sunardjo. 1983. Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan KerajaanCirebon 1479-1809. Bandung : Tarsito.

Sharon Siddique. 1977. Relics of the Fast? A Sociological Study of the Sultanates of Cirebon, West Java. Disertasi Universitas Bilefeld.

S. Sulendraningrat. 1972. Purwaka Caruban Nagari. Jakarta: Bharata

S. Sulendraningrat. 1984. Babad Tanah Sunda Babad Cirebon.Cirebon: Tanpa Penerbit.

Sulaemen Anggadiparaja. T.T. Sejarah Garut Dari Masa Ke Masa. Diktat.

Sulastin Sutrisno. 1982/ 1983. “Sastra dan Historiografi Tradisional”. Dalam Panel Historiografi Tradisional. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Depdikbud.Yoseph Iskandar,, dkk. 2000. Negara Gheng Islam Pakungwati Cirebon. Bandung : Padepokan Sapta Rangga.

Th. Stevens. 1978. “Cirebon at the Beginning of the Nineteenth Century; an Analysis of Reactions from a Javanese Sulatanate to the Economic and Political Penetration of the Colonial Regime Between 1797 and 1816” Paper of the Dutch-Indonesian Historical Conference, Leiden/Jakarta.

Yoseph Iskandar, dkk. 2000. Negara Gheng Islam Pakungwati Cirebon. Bandung: Padepokan Sapta Rangga.

Yuyus Suherman. 1995. Sejarah Perintisan Penyebaran Islam di Tatar Sunda. Bandung: Pustaka.

Widji Saksono. 1995.  Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo.Bandung: Mizan.


[1] Bukan sejarawan akademis dan sejenisnya.

[2] Yakni karya sastra yang menceritakan sejarah (asal usul) suku bangsa, negeri, leluhur, serta adat istiadat suatu daerah. Karya sastra sejarah seperti ini disebut historiografi tradisional, yakni penulisan sejarah suatu negeri berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat secara turun temurun. Lihat, Kartodirdjo, 1968.

[3] Lihat Pitono, “Indonesian Traditional Literature as A Source on Historical Evidence”, dalam Manusia Indonesia; Majalah Penggali Budaya. No. 3 Tahun VI. 1972, h.100, dan Ekadjati, 1982/1983: 1, 27.

[4] Dadan Wildan, Sunan Gunung Djati (Antara Fiksi dan Fakta), Humaniora, Bandung, 2003, h. 36.

[5] Ibid, Dadan Wildan, h. 36.

[6] Ibid, Yuyus Hermawan, h. 14.

[7] Op. Cit., S. Sulendraningrat, h. 15.

[8] Ibid, Naskah Krethabumi, Tritya Sarga bagian 6.

[9] Faille, P. De Roo La., Bij de terreinschets van heiligebegraafplaats Goenoeng Djati, NBG LVIII, Batavia, 1921.

[10] Didi Suryadi, Babad Limbangan, 1977, h. 46.

[11] Lihat, Ibid, RH. Unang Sunardjo, h. 55-57.

[12] Pangeran Sulaeman Sulendraningrat, Nukilan Sedjarah Tjirebon Asli, Pustaka Tjirebon, Tjirebon, 1968, h. 16.

[13] Op. Cit., Sulendraningrat, h. 20.

[14] Op. Cit., Nina Herlina Lubis, h. 34.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s