MODEL PEMIKIRAN SEMANTIK JALALUDDIN AL-SUYUTI DALAM TAFSIR JALALAIN

MODEL PEMIKIRAN SEMANTIK

JALALUDDIN AL-SUYUTI DALAM TAFSIR JALALAIN

A.    Latar Belakang Masalah

Al-Quran dalam satu sudut pandang adalah sebuah teks bahasa. Sebagai teks bahasa, al-Quran dapat disebut sebagai teks sentral dalam sejarah peradaban Arab. Hal ini tidak dalam maksud bahwa peradaban Arab-Islam adalah “peradaban teks”. Tetapi yang dimaksud adalah bahwa dasar-dasar ilmu dan budaya Arab-Islam tumbuh dan berdiri tegak di atas landasan dimana “teks” sebagai pusatnya tidak dapat diabaikan. Peradaban dan kebudayaan dibangun oleh dialektika manusia dengan realitas di satu pihak, dan dialog dengan “teks” di pihak yang lain.                                 

Apabila peradaban Arab-Islam ini berpusat disekitar “teks” sebagai salah satu poros utamanya, maka interpretasi terhadap teks adalah sesuatu yang mesti dilakukan sebagai salah satu mekanisme kebudayaan dan peradaban yang penting dalam memproduksi pengetahuan. Sebuah interpretasi bisa saja bersifat langsung, dalam arti muncul dari interaksi langsung dengan teks, dan bisa jadi dari sebuah upaya yang intensif untuk menghasilkan signifikasi dan makna teks.

Kajian tentang konsep teks adalah kajian tentang hakikat dan sifat al-Quran sebagai teks. Hal ini memberikan pengertian bahwa kajian ini memperlakukan al-Quran sebagai kitab agung berbahasa Arab. Al-Quran merupakan kitab stilistika Arab yang paling sakral, apakah didalam agama memang dipandang demikian atau tidak, ini hal lain.

Sebagai upaya intensif untuk menghasilkan pengatahuan dari (teks) al-Quran adalah tafsir dan ta’wil . Menurut Nasr Hamid Abu Zaid (2002:281), akar kata tafsir ada dua kemungkinan; pertama, dari fasara, kedua dari safara . jika kata al-fasr sepertiu yang dimaknai dalam kamus lisan al-‘Arab adalah pengamatan dokter terhadap air”, dan kata al-tafsirah adalah “urine yang dipergunakan untuk menunjukkan adanya penyakit. ” Dalam hal ini, makna tafsir adalah menemukan penyakit. Yang melakukan pengamatan terhadap urin tadi sehingga ditemukan penyakit dalam urin tadi adalah dokter yang dalam hal ini bisa disebut sebagai mufassir.Seorang mufassir harus bertindak seperti seorang dokter.

Setelah melakukan penelurusan secara makna bahasa terhadap kata al-fasru dan al-safru untuk merujuk makna kata tafsir, bisa berarti sama, yaitu sebuah upaya mengungkapkan sesuatu yang tersembunyi melalui medium yang dianggap sebagai tanda bagi seorang mufassir. Melalui tanda itu, seorang  mufassir dapat sampai kepada sesuatu yang tersembunyi dan samar itu

Mengutip pendapat Abdul Rohman al-Suyuti dalam bukunya al-Tahbir Fi Ilm al-Tafsir, ia yang mengatakan bahwa tafsir adalah:

 

التفسير كشف معاني القران وبيان المراد منه سواء كانت معاني لغوية أوشرعية بالوضع أو بقراءن الأحوال ومعونة المقام.

 

Artinya; tafsir adalah upaya mengungkapkan makna-makna Alquran serta menjelaskan maksud-maksud yang terkandung didalamnya, baik itu makna bahasa,  atau makna syariat yang relefan dengan situasi dan kondisi (al-Suyuti ;1996).

 

Tafsir Jalalen adalah sebuah tafsir al-Quran yang merupakan suatu upaya intensif untuk menemukan makna-makna yang tersembunyi dan samar dalam al-Quran. Tafsir Jajalen adalah sebuah karya tulis berbahasa Arab yang cukup terkenal dimasyarakat Islam pada khususnya, dan lebih khusus lagi dikalangan ulama, santri dan pesantren. Tafsir Jalalen adalah sebuah kitab tafsir yang didalamnya memuat penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat al-Quran. Biasanya, dipesantren, kitab Tafsir Jalalen ini sebagai kitab tafsir yang pertama kali diperkenalkan kepada para santri ketika sudah saatnya mengenal ilmu tafsir dan tafsir al-Quran.

Kitab Tafsir Jalalen dikarang oleh dua orang mufassir, yaitu; Jalaluddin al-Suyuti dan Jalaluddin al-Mahally. Tidak ada penjelasan, dalam betuk seperti apa kebersamaan dua mufassir ini dalam mengarang kitab Tafsir Jalalen ini. Kitab Tafsir Jalalen ini hanya satu jilid yang memuat lengkap tafsir seluruh ayat al-Quran dari mulai surat al-Fatihah sampai surat al-Nas.

Tafsir Jalalen merupakan hasil karya pemikiran mufassir dalam menafsirkan al-Quran, yang dalam pembagian Muhammad Ali al-Sobuny masuk kepada kategori tafsir bi-al-Diroyah. Muhammad Ali al-Sobuny (1985 ; 67) membagi tafsir dalam konteks istilah keilmuan kepada tiga macam, yaitu;

  1. Tafsir bi al-Riwayah
  2. Tafsir bi al-Diroyah
  3. Tafsir bi al-Isyarah

 Tafsir Jalalen mempunyai ciri yang unik yang membedakan dengan tafsir yang lainnya, ciri unik tersebut adalah;

  1. Sebuah kitaf tafsir yang cukup simpel, tidak terlalu banyak pembahasan.
  2. Tidak panjang lebar dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran.
  3. Sering menggunakan kata-kata lain dalam menafsirkan kata-kata dari ayat-ayat al-Quran.

Sebagai contoh; kata “roiba” ( ريب ) dalam ayat ke-2 pada surat al-Baqarah ditafsirkan dengan kata “Syakka” ( شك ). Kemudian kata “ghisyawatun” ( غشاوة ) ditafsirkan dengan kata “ghithoun” ( غطاء )  dan banyak lagi kata-kata yang lainnya. (Jalaluddin al-suyuti dan Jalaluddin al-Mahalli ; 3).

   Yang menjadi perhatian disini adalah kenapa kata “roiba” ditafsirkan dengan kata “syakka”, dan juga kata “ghisyawatun” ditafsirkan dengan kata “ghithoun”?, apa hubungan makna diantara kata-kata itu?, apakah kata “syakka” sudah mencakup makna “roiba”, bagaimana kata-kata itu bisa digunakan sebagai penafsiran ?.

 Upaya untuk bisa menjawab beberapa pertanyaan diatas adalah dengan menggunakan Semantik, karena Semantik adalah suatu disiplin ilmu cabang dari ilmu bahasa (linguistik) yang memfokuskan diri pada kajian makna. Wilayah kajian semantik hanya pada bahasa dengan segala unsur dan macamnya, walaupan pada tingkatan tertentu, ada yang membedakan antara makna yang menjadi kajian semantik, dan makna yang menjadi kajian pragmatik. Unsur-unsur yang akan menimbulkan makna yang dibahas dalam semantik adalah; 1). Tanda dan lambang, 2). Makna leksikal dan hubungan referensial, 3). Penamaan (naming). (Fatimah Djajasudarma, 1999; 21-33 ) Dalam istilah lain, semantik adalah “studi tentang makna” (Aminuddin, 2003; 15). Dengan demikian, semantik adalah suatu ilmu yang membahas tentang  bagaimana memaknai suatu bahasa, termasuk bahasa (teks) Alquran.

Pada kesempatan ini, peneliti tidaak bermaksud untuk menggunakan Semantik untuk mencari makna-makna dari kata-kata yang ada dalam al-Quran. Tetapi, menggunakan Semantik untuk menganalisis macam makna, ketercakupan makna dan logika semantiknya terhadap makna yang telah ditentukan oleh mufassir Jalaluddin al-Suyuti dan Jalaluddin al-Mahalli dalam kitab tafsirnya Tafsir Jalalen.

Hal ini akan bisa dilakukan, mengingat Semantik telah mempunyai teori tentang macam makna, ketercakupan makna (merdan makna) dan logika semantiknya itu sendiri (teori-teori tentang makna). Dengan demikian, dalam hal ini Semantik bisa digunakan sebagai suatu bagian untuk menganilisis teks tafsir Alquran, dalam pengertian untuk menemukan macam makna, ketercakupan makna dan pemikiran semantiknya dalam bahasa teks tafsir Alquran.

  Dengan demikian, melihat kenyataan-kenyataan yang sebagaimana telah disebutkan diatas, inilah yang melatarbelakangi adanya keinginan peneliti untuk mengetahui macam makna, ketercakupan makna dan pemikiran Semantik dalam Tafsir Jalalen.

 B.     Rumusan Masalah

Sebagai batasan rumusan masalah yang hendak diketahui dalam hal ini adalah :

  1. Macam makna apa yang digunakan sebagai tafsir dalam Tafsir Jalalen?
  2. Bagaimana hubungan makna antara kata dalam al-Quran dengan kata tafsiran dalam Tafsir Jalalen?

 C.    Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak di capai dari penelitian ini adalah:

  1. Mengetahui macam makna yang digunakan sebagai tafsir dalam Tafsir Jalalen.
  2. Mengetahui hubungan makna dengan kata-kata yang digunakan sebagai tafsir dalam Tafsir Jalalen.

 D.    Manfaat Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk dua manfaat, yaitu:

  1. Manfaat praktis adalah sebagai pengetahuan ilmiah yang dapat membantu untuk lebiha menjelaskan macam makna dan alasan pemilihannya dalam Tafsir Jalalen yang merupakan kitab tafsir yang banyak dipakai dikalangan umat Islam sebagai rujukan tafsir al-Quran yang cukup sederhana.
  2. Manfaat akademis adalah adanya hasil penelitian dalam penerapan ilmu semantic dalam tafsir al-Quran yang diharapkan dapat memotivasi munculnya penelitian lanjutan dalam pengembangan Semantik, terutama yang berkaitan dengan al-Quran dan tafsirnya.

  

  1. E.     Kerangka Pemikiran

Semantik adalah cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti (di dalam linguistik kedua istilah ini lazimnya tidak dibedakan. ( J.W.M. Verhar, 1991 : 9). Semantik  semula berasal dari bahasa Yunani, mengandung makna to signify atau memaknai. Sebazgai istilah teknis, semanti mengandung pengertian “studi tentang makna” . dengan anggapan  bahwa makna menjadi bagian dari bahasa, maka semantik   menjadi bagian dari linguistik. Seperti halnya bunyi dan tata bahasa, komponen makna dalam hal ini juga menduduki tingkatan tertentu. Apabila dalam bahasa komponen bunyi menepati tingkatan pertama, tata bahasa pada tingkata kedua, maka komponern makna menempati tingkatan paling akhir. Hubungan ketiga komponen itu sesuai dengan kenyataan bahwa; a). Bahasa pada awalnya merupakan bunyi-bunyi abstrak yang mengacu kepada adanya lambang-lambang tertentu, b). Lambang-lambang itu merupakanseperangkat sistem  yang memiliki tatanan dan hubungan tertentu, dan c). Seperangkat lambang yang memiliki bentuk dan hubungan itu mengasosiasikan adanya makna tertentu. (Aminudin, 1985 : 15)

   Semantik merupakan ilmu yang sudah cukup tua, pemikiran tentang semanti sudah dimulai sejak filosop Aristoteles (384 – 322) SM  yang telah memulai menggunakan istilah “makna” lewat batasan pengertian kata yang menurut Aristoteles adalah “satua terkecil yang mengandung makna”. Dalam hal ini Aristoteles juga telah mengungkapkan bahwa makna kata itu dapat dibedakan antara makna yang hadir dari dari kata itu sendiri secara otonom, serta makna yang hadir akibat terjadinya hubungan gramatikal (Ullman dalam Aminudin, 1985 : 15).

Pada tahun 1825, seorang berkebangsaan Jerman, C. Chr. Reisig, mengemukakan konsep baru tentang grammer yang menurutnya, grammer mempunyai tiga unsur utama, yaitu; 1). Semasiologi, ilmu tentang tanda, 2). Sitaksis , studi tentang kalimat, serta 3). Etimologi, studi tentang asal-usul kata sehubungan dengan perubahan bentuk  maupun makna. Pada masa ini istilah semantik belum digunakan, meskipun studi tentang makna sudah mulai dilakukan. Karenanya, dalam sejarah semantik, periode ini oleh Ullman dikategorikan sebagai periode underground. (Aminudin, 1985 : 16)

Perkembangan semantik terus berkembang dengan ditandai oleh munculnya karya Michel Breal berkebangsaan Prancis pada tahun 1883 yang menulis sebuah artikel yang berjudul Les Lois Intellectualles du Langage. Breal telah menyebutkan bahwa semantik sebagai bidang baru dalam keilmuan, tetapi masih belum bisa dilepaskan dari ilmu-ilmu yang lainnya. Di masa abad ke – 19 ini, pertumbuhan semantik dikuatkan adanya karya Breal yang berjudul Essai de Semantique. (Aminudin, 1985 : 16) 

Selanjutnya semantik semakin hangat dibicarakan sehingga memunculkan tokoh-tokoh terkenal dalampengembangan semantik, diantaranya; Ferdinan de Saussure dengan karyanya Cours de Linguistique Generale (1916) yang memberikan konsep baru dalam bidang kebahasaan, yaitu; 1). Linguistik pada dasarnya merupakan studi kebahasaan yang berfokus pada keberadaan bahasa itu pada waktu tertentu sehingga studi yang dilaksanakan haruslah menggunakan pendekatan sinkronis atau studi yang bersifat deskriptif, 2). Bahasa merupakan gestalt atau suatu totalitas yang didukun oleh berbagai elemen, yang elemen yang satu dengan yang lainnya mengelami saling ketergantungan dalam rangkan membangun keseluruhan. Pandangan kedua ini merupakan akar pemahaman linguistik struktural. (Aminudin, 1985 : 17)

Sebagaimana telah disebutkan bahwa semantik adalah ilmu yang mempalajari makna, pengertian makna dalam semantik ini dipengaruhi oleh tiga pendekatan teori tentang makna. Tiga teori ini adalah; 1). Referensial, 2) Ideasional dan 3). Behavioral.  Dalam pendekatan referensial, makna diartikan sebagai label yang berada dalam kesadaran manusia untuk menunjuk dunia luar.  Dalam pendekatan ideasional, makna adalah gambaran gagasan dari suatu bentuk kebahasaan yang bersifat sewenang-wenang, tetapi meiliki konvensi sehingga dapat saling dimengerti. Dan menurut behavioral, makna mesti dipahami dalam peristiwa ujaran (speech event). Satuan terkecil  yang mengandung makna penuh dari keseluruhan speech event yang berlangsung dalam speech situation. (Aminudin, 1985 : 17).

Pada prakteknya, untuk mengetahui makna dalam semantik struktural, ada beberapa teori yang digunakan, yaitu:

  1. Teori medan makna dan kolokasi.
  2. Hiponimi dan sinonimi
  3. Kontras, oposisi, dan antonimi
  4. Polisemi dan homonimi
  5. Analisis komponen, dan
  6. Perkembangan dan pergeseran makna.   

Teori-teori inilah yang akan diginakan untuk menganalisis penggunakan kata-kata yang dipakai oleh jalaluddin al-Suyuti dan jalaluddin al-Mahalli dalam kitab Tafsir jajalen.

Tafsir Jalalen adalah sebuah kitab tafsir al-Quran yang didalamnya memuat berbagai kata yang sati pihak berposisi sebagai kata-kata al-Quran, dan pihak lain berposisi sebagai kata-kata tafsiran dari kata-kata al-Quran tadi. Yang akan dianalisis dengan teori-teori semantik, adalah setiap kata atau kalimat yang berposisi tafsiran dengan kata atau kalimat yang ditafsirkan.

Sebagai alat bantu untuk mengetahui makna setiap kata secara leksikal, akan dipergunakan buku lisan al-Arab yang merupakan buku kamus bahasa Arab yang cukup memadi untuk dapat menemukan makna-makna kata bbahasa Arab.

 

  1. F.     Metode Penelitian

Menurut Moch. Ainin (2006 : 10-14), jenis-jenis penelitian dibedakan atas beberapa tinjaun, yatiu:

 

  1. Berdasarkan fungsi dan tujuan penggunaan hasil

Berdasarkan fungsi dan tujuan penggunaan hasil, jenis penelitian dibedakam menjadi penelitian dasar (basic research) dan penelitian terapan (applied research). Penelitian dasar adalah penelitian yang diarahkan untuk mengembangkan ilmu, dan penelitian ini lazim bersifat teoritis, karena dimaksudkan untuk memverifikasi teori (Huda, 1988) atau untuk menguji teori (Sukmadinata, 2005). Hasil dari penelitian ini adalah untuk pengembangan pengetahuan atau untuk teknologi dasar. Adapun, penelitian terapan adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui praktik atau penerapan suatu program dilapangan (Huda, 1988). Hasil penelitian ini dipergunakan untuk keperluan praktis, seperti untuk membuat kebijakan, perencanaan, dan perbaikan-perbaikan program pembangunan.

  1. Berdasarkan pengukuran dan analisis data

Berdasarkan pengukuran dan analisis data dapat digolongkan menjadi penelitian kuantitatif dan kualitatif (Ibnu, et all., 2003). Dalam penelitian kuantitatif , data dinyatakan dalam bentuk angka dan dianalisis dengan teknik statistic. Sementara, dalam penelitian kualitatif, data-data dinyatakan dalam bentuk verbal dan dianalisis tanpa menggunakan teknik statistik (Ibnu, et all., 2003). Apabila dalam penelitian kualitatif ini dihasilkan angka-angka, maka angka-angka ini bukan sebagai data utama, melainkan sebagai data penunjang.

 

  1. Berdasarkan tingkat kedalaman analisis data penelitian

Berdasarkan tingkat kedalaman analisis datanya, penelitian dapat dikelompokkan menjadi penelitian deskriptif dan eksplanatori. Penelitian deskriptif adalah suatu penelitian yang anlisis datanya hanya sampai kepada deskripsi variable satu demi satu (Ibnu, et all., 2003). Misalnya penelitian tentang “Analisis Kesalahan Bahasa Arab Tulis Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa.”  Penelitian ini lebih memusatkan kajiannya pada deskripsi (perian) kesalahan bahasa Arab tulis yang dibuat oleh mahasiswa.

Penelitian ekspalanatori adalah suatu penelitian yang anlisis datanya sampai pada menentukan hubungan suatu veriabel dengan variable lainnya. Misalnya, “Hubungan Penguasaan Kaidah (Qowai’d) Bahasa Arab dengan Kemampuan Berbahasa Arab. Variabel yang harus dihubungkan dalam penelitian ini tidak hanya variable penguasaan kaidah dengan kemampuan Berbahasa Arab (membaca, menulis dan berbicara), juga dapat dihubungkan (hubungan antara kemampuan membaca dengan kemampuan menulis dan berbicara dan hubungan kemampuan menulis dengan kemampuan berbicara).

  

  1. Berdasarkan penggunaan sampel dan populasi

Berdasarkan penggunaan sample dan populasi, penelitian dapat dikelompokkan menjadi penelitian sensus dan penelitian sampel (inferensial) (Ibnu, et all., 2003). Penelitian sensus adalah penelitian yang datanya berasal dari semua subyek dalam populasi, tidak hanya dari sample. Sementara penelitian sample (inferensi) adalah penelitian yang datanya berasal dari sampel dan kesimpulannya diberlakukan dagi seluruh populasi yang diwakili oleh sampel penelitian.

 

  1. Berdasarkan rancangan (desain) penelitian

Di lihat dari rancangan (desain) penelitian, penelitian dapat dikelompokkan menjadi penelitian eksperimental dan non eksperimental. Penelitian eksperimental adalah penelitian yang subyeknya diberi perlakuan atau treatmen, kemudian diukur akibat dari perlakuan itu pada subyek (Ubaidat, et all., 1987 dan Ibnu, et all., 2003). Dan penelitian non eksperimental adalah penelitian yang subyeknya tidak diberi perlakuan (treatment), tetapi diukur sifat-sifatnya (variable) tertentu. 

Berdasarkan kepada jenis-jenis penelitian yang telah disebutkan diatas, metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah; penelitan dasar, kualitatif, deskriptif, populasi, dan non eksperimental.

Penelitian kualitatif mempunyai karakteristik sebagai berikut;

  1. Natural setting sebagai sumber data
  2. Manusia sebagai instrument
  3. Responsif; manusia dapat merasakan respon
  4. Bersifat deskriptif
  5. Lebih memperhatikan proses dari pada hasil
  6. Mudah diterapkan ketika manusia ditempatkan sebagain instrument
  7. Analisis data secara induktif
  8. Meaning adalah esensial
  9. Desain bersifat sementara

(M. Zaini Hasan, dalam Aminudin (editor) ; 1990 : 11-18)

 

  1. G.    Langkah-Langkah Penelitian

Menurut Sukmadinata (2005) sebagaimana dikutip  Moch. Ainin (2006 : 17), langkah-langkah penelitian adalah sebagai berikut:

 

  1. Mengidentifikasi masalah

Dalam hal ini yang menjadi sumber masalah adalah adanya penggunakan kata atau kalimat sebagai tafsir dari kata atau kalimat yang terdapat dalam ayat-ayat al-Quran  yang terdapat dalam kitab Tafsir Jalalen.

 

  1. Merumuskan dan membatasi masalah

Untuk memastikan ketuntasan pembahasan, masalah yang sudah diidentifikasi dibatasi dalam hal macam makna, ketercakupan dan macam pemikiran semantisnya.

 

  1. Melakukan studi kepustakaan

Untuk memastikan keutuhan dan kemurnian penelitian, dilakukan studi pustaka  dengan kenyataan bahwa belum ada sebuah penelitian yang memfokuskan pada semantic al-Quran.

 

  1. Merumuskan hipotesis dan pertanyaan penelitian

Penelitian ini berawal dari sebuah hipotesis bahwa setiap kata yang digunakan dalam sebuah bahasa tulis dalam konteks komunikasi memastikan mempunyai makna. Makna yang maksud dalam hal ini adalah sebuah tafsir al-Quran. Makna yang dimaksud dengan tafsir al-Quran ini diwujudkan dalam sebuah kata atau kalimat, maka antara kata yang ada dalam tafsir dengan kata yang ditafsirkan memastikan mempunyai hubungan makna.

   

  1. Menentukan desain dan metode penelitian

Penelitian ini di desain dalam wujud deskripsi yang memuat analisis tentang hubungan semantic antara kata yang menjadi tafsir dengan kata yang titafsirkan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif.

 

  1. Menyusun instrument dan mengumpulkan data

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan langsung terhadap data yang telah ditetapkan. Yang telah ditetapkan menjadi sumber data dalam dalam penelitian ini adalah kitab Tafsir Jalalen dengan sampel surat al-Baqarah. Surat al-Baqarah ini dipilih dengan alasan bahwa surat al-Baqarah sebagai surat yang termasuk kepada tujuh surat yang panjang dan terletak pada bagian depan dalam al-Quran.

  

  1. Menganalisis data dan menyajikan hasil

Data yang diamati, kemudian diklasifikasi dalam bentuk tafsir kata dengan kata, kata dengan kalimat, kalimat dengan kalimat dan kalimat dengan kata. Hasil klasifikasi ini dianalisis dengan menggunakan ilmu semantic, yang kemudian disajikan dalam sebuah deskripsi hasil penelitian.

 

  1. Menginterpretasikan temuan, membuat kesimpulan dan rekomendasi

Setelah analisis dilakukan, pada bagian akhir adalah mengiterpretasikan hasil temuan dari macam makna yang digunakan, ketercakupan makna, dan bentuk pemikiran semantiknya. Kemudian dituangkan dalam sebuah kesimpulan, kemudian membuatb rekomendasi kepada pihak-pihak terkait dengan hasil penelitian ini. 

 H.    Sistematika Penulisan

Deskripsi penelitian ini akan dituangkan dalam lima bab dengan rincian sebagai berikut:

Bab I merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka pemikiran, metode penelitian, langkah-langkah penelitian dan sistematika penulisan

Bab II merupakan landasan teori tentang semantik dan tafsir al-Quran yang memuat tentang pengertian semantik, objek kajian semantik, semantik dengan ilmu yang lainnya, pengertian tafsri al-Quran, macam tafsri al-Quran

Bab III merupakan deskripsi analisis semantik terhadap Tafsir Jalalen yang memuat tentang macam makna yang digunakan dalam Tafsir Jalalen, ketercakupan makna, dan pemikiran semantik dalam Tafsir Jalalen.

 

Bab IV merupakan penutup yang berisikan kesimpulan dan rekomendasi.  

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aminuddin, Drs. M.Pd., Semantik Pengantar Studi Tentang Makna, Sinar Bari al-Gesindo, Bandung 2003

 

————-, Pengembangan Penelitian Kualitatif dalam Bidang Bahasa dan Sastra, Yayasan Asih Asah Asuh, Malang, 1990.

  

Goldziher, Ignaz, Madzhab Tafsir, elSaq Press, Yogyakarta, 2003

  

Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti, Tafsir Jalalen, Sirkah al-Ma’arif, Bandung, tt.

 

 Moch. Ainin, Drs, M.Pd, Metodoligi Penelitian Bahasa Arab, Hilal, Malang 2006.

 

Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas al-Quran , LkiS, Yogyakarta, 2002

 

Verhar, J.W.M, Pengantar Linguistik, Gajah Mada Universiti Press, Yogyakarta, 1991

 

Karim Zaki Hisamudiin, Ushul Turatsiyah fi Ilm al-Lughah, maktabah al-unjlu al-Misriyah, tt.

 

Hamdan Husen Muhammad, al-Tafkir al-lughawi al-dilaly, kulliyyatu al-Da’wah alIslamiyah al-Jamahiraiyah al- Udma, Trablus, 2002.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s