GERAKAN TANDINGAN FEMINISME Tinjauan Terhadap Respon Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung

ABSTRAKSI

GERAKAN TANDINGAN FEMINISME

Tinjauan Terhadap Respon Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI)

Kota Bandung

 Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pengetahuan faktual berupa penjelasan tentang Respon Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung  Terhadap Feminisme. Namun demikian, diungkapkan pula  secara selintas gambaran umum sejak Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) didirikan dan tentunya keberadaan HTI secara keseluruhan, dengan maksud untuk mengetahui benang merah sejarah dan keberadaannya saat ini. Penelitian ini merupakan kajian perempuan Islam dengan konsentrasi pada pendekatan sosiologi. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan sampel diambil secara purposif. Data dikumpulkan melalui observasi terlibat, wawancara mendalam, dan kepustakaan. Analisis data dilakukan secara induktif melalui interpretasi informasi dihubungkan dengan konteks sosial.

 

Hasil penelitian  menunjukkan, sejak masa awal berdirinya, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI), telah banyak melakukan kegiatan yang pada dasarnya merupakan respons terhadap berbagai keberadaan gerakan yang dalam perspektif HTI bertentangan dengan ajaran Islam. Meskipun pada dasarnya, Muslimah HTI dalam perspektif warganya bukan-lah sebuah gerakan perempuan melainkan sebuah partai politik, namun ketika kepiawian peran HTI dan HT dalam berbagai kegiatan responsnya telah sejak awal dibuktikan di pentas nasional maupun dunia internasional. Dapat dipahami bila kiprah Muslimah HTI banyak memfokuskan pada berbagai kegiatan responnya terhadap berbagai gerakan di luar HTI. Pada saat ini, ketika warga HTI kembali melakukan gerakan respons terhadap berbagai hal yang bertentangan dengan keberadaan misi HTI, maka Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) sebagai wadah bagi warga muslimah HTI kembali melakukan gerakan responsnya, dan Feminisme sebagai sebuah gerakan dijadikan sebagai salah satu fokus respons-nya saat ini.

 Demikian pula yang terjadi pada Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung. Dalam kenyataannya,responsyangdilakukanMuslimahHizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung kepada Feminisme lebih disebabakan dalam pemahaman Muslimah HTI kota Bandung semua produk feminisme adalah Barat, dan Barat adalah musuh Islam terbesardisebabkan Barat telah memusuhi dan memporakporandakan peradaban Islam secara terarah dan terus menerus. Selain itu, dalam Islam perspektif Muslimah  HTI kota Bandung, Islam tidak pernah mengenal kata feminisme,  terlebih dengan mainstream gender-nya lebih khususnya Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) sebagai salah satu “produk” feminisme, yang dianggap oleh Muslimah HTI Kota Bandung memiliki“landasan”,“implementasi”, dan “hakikat”, yang bertentangan dengan Islam.Dan,yang lebih pasti semua produk Feminisme menurut Muslimah HTI kota Bandung akan menghancurkan tatanan keluarga yang oleh Islam telah sangat dimuliakan.Gerakan tandingan Feminisme,dalam hal ini telah dilakukan oleh Muslimah HTI Kota Bandung, melalui berbagai respon gerakannya, seperti demontrasi damai, training-training bagi intern maupun ekstern, diskusi-diskusi terbuka di tempat-tempat umum, seperti mesjid, gedung pertemuan, maupun kampus-kampus diperguruan tinggi di Indonesia.Gerakan respon ini telah berhasil dimainkan” oleh Muslimah HTI Kota Bandung dengan segala dinamika pro dan kontra di dalamnya.

B.Pendahuluan

            Sepanjang  perjalanan sejarah kehidupan manusia, membicarakan issu-issu seputar perempuan baik dikalangan agamawan, cendekiawan yang notabene kebenyakannya adalah kaum laki-laki, atau-pun dikalangan kaum perempuan itu sendiri, rasanya, belum mampu untuk berhenti dalam satu titik kesimpulan. Tidak bisa dipungkiri, bahwa, selama ini, perbincangan seputar perempuan belum beranjak dari apa itu yang dimaksud dengan konsep peran di ranah publik maupun domestik, partisipasi dalam politik, ekonomi, sosial, maupun pendidikan, Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG), Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), maupun profil perempuan. Yang pada akhirnya telah berhasil melahirkan ide-ide dan teori-teori yang berbeda dalam setiap periodenya, baik itu Islam, abad pertengahan, maupun era modern.

            Mencermati perkembangan issu-issu perempuan pada era modern saat ini, sudah dianggap sebagai suatu keniscayaan apabila diwakili oleh yang menamakan kehendaknya dengan feminisme. Yang menurut Saied Reza Ameli (2005; 25-26), dipandang sebagian besar orang sebagai sebuah gerakan pembebasan dan perlindungan hak-hak perempuan dalam masyarakat, selain itu, masih menurut Ameli (2005) terdapat banyak variasi teori dan gerakan dalam feminisme yang menempilkan keberagaman ide, nilai, dan perspektif. Gerakan seperti ini telah mengalami diversivikasi berkaitan dengan  perbedaan-perbedaan konteks budaya dan ideologi. Itulah mengapa feminisme Islam, feminisme sosial, dan feminisme Barat dan feminisme-feminisme lainnya nampak begitu berarti sekarang.

            Namun dibalik begitu besarnya perhatian feminisme dengan berbagai variasi dan keragaman ide, nilai, dan perspektifnya terhadap hak-hak perempuan di masyarakat tidak pernah berkurang, ternyata ada gerakan lain yang menganggap bahwa gerakan feminisme hadir dari perjalanan panjang perjuangan kaum perempuan Barat dalam menuntut kebebasannya. Ide pembebasan perempuan muncul sebagai respon dari ketidakberhasilan sistem kapitalisme (liberalisme) dan sosialisme dalam mengayomi masyarakatnya.  Ketimpangan-ketimpangan yang terjadi akibat ke dua sistem tersebut memicu dan menumbuhsuburkan issu penindasan dan pelecehan hak-hak perempuan.

            Ketika, keragaman ide, nilai, dan perspektif feminisme merambah negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Tidak sedikit perempuan Islam mulai mengadopsi ide, nilai, ideologi dan perspektif berbagai feminisme, tanpa disadari, semua ini memicu perasaan sekaligus pemikiran bahkan tindakan perempuan Islam, bahwa prempuan Islam harus bangkit memperjuangkan hak-haknya sebagaimana perempuan-perempuan Barat. Namun, langkah perempuan-perempuan Islam yang mulai terwarnai oleh nilai, ide, dan ideologi berbagai feminisme seolah dihadang oleh nilai-nilai dan hukum agama yang masih membudaya dikalangan masyarakat. Bagi para perempuan Islam pejuang pembebasan, bagaimanapun nama Islam tidak boleh ditanggalkan dan ditinggalkan, karena Islam sebagai fitrah yang telah melekat semenjak dilahirkan. Akhirnya, menurut Lathifah Musa (2003; 26-27) timbul gagasan untuk mengemas ajaran dan hukum Islam dalam perspektif perjuangannya. Salah satu-nya adalah dengan mentakwilkan teks-teks al-Quran dan as-Sunnah agar mendukung gagasan perjuangan pembebasan hak-hak perempuan yang diusungnya.

            Hadirnya feminisme di belahan dunia Islam setidaknya telah melahirkan dua kubu kelompok perempuan yang berseberangan, meskipun sebenarnya yang terjadi ternyata lebih dari sekedar dua kubu tersebut. Kelompok pertama adalah perempuan Islam yang menerima keseluruhan nilai dan ideologi berbagai varian dan perspektif  feminisme, yang kemudian menamakan dirinya dengan feminis muslim atau muslimah yang feminis. Kelompok pertama ini-lah yang secara terang-terangan mengusung jargon memperjuangkan hak-hak perempuan dan membebaskan perempuan  dari ketertindasan. Adanya gerakan perempuan yang pro feminisme tidak dihindarkan telah memunculkan respon dari gerakan yang menolak keseluruhan nilai dan ideologi feminisme apapun variannya, salah satunya adalah Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) atau lebih khususnya  Muslimah HTI Kota Bandung.

            Meskipun Muslimah HTI tidak pernah menamakan dirinya sebagai gerakan perempuan, karena semenjak kelahirannya Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang berideologi Islam. Politik merupakan kegiatannya, dan Islam adalah ideologinya. Hizbut Tahrir bergerak di tengah-tengah umat, dan bersama-sama berjuang untuk menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya serta memberikan bimbingan untuk mendirikan kembali sistem khilafah dan mengakkan hukum yang diturunkan Allah dalam realitas kehidupan. Selain itu, Hizbut Tahrir merupakan organisasi politik, bukan organisasi kerohanian (seperti tarekat), bukan lembaga ilmiah (seperti lembaga studi agama atau badan penelitian), bukan lembaga pendidikan (akademis), dan bukan pula lembaga sosial (yang bergerak di bidang sosial keagamaan), bagi Hizbut tahrir ide-ide Islam menjadi jiwa, inti, dan sekaligus rahasia kelangsungan kelompoknya.

            Apa-pun bentuk dari organisasi yang menamakan dirinya dengan Hizbut Tahrir, namun ketika Hizbut Tahrir “melabelkan” dirinya sebagai sebuah organisasi politik, yang kemudian mengejewantah menjadi partai politik maka ia adalah bagian dari dinamika organisasi massa dimana ia hidup dan berkembang. Kemudian, meskipun Muslimah Hizbut Tahrir tidak mau menamakan dirinya sebagai sebuah gerakan perempuan, namun ketika melakukan tindakan baik melalui pemikiran yang kemudian melahirkan berbagai karya tulisan dalam bentuk majalah ataupun koran yang kemudian disebarluaskan kepada masyarakat, maka, Muslimah HT khususnya Muslimah HTI Kota Bandung layak disebut sebagai gerakan perempuan, terlebih lagi ketika Muslimah HTI melakukan tindakan dengan memobilisasi massa khususnya massa yang berasal dari anggota ataupun simpatisan HTI untuk melakukan tindakan demonstrasi, tidak dapat dihindarkan lagi Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) khususnya Muslimah HTI Kota Bandung  adalah sebuah gerakan perempuan Islam yang merupakan sayap dari organisasi yang menamakan dirinya dengan Hizbut Tahrir Indonesia, hal tersebut berdasarkan tinjauan dari Sosiologi sebagai sebuh kajian ilmu pengetahuan.

            Sehingga ketika Muslimah Hizbut Tahrir melancarkan reaksi yang sangat keras terhadap keberadaan feminisme sebagai sebuah gerakan, Muslimah HTI kota Bandung turut pula melakukan berbagai reaksi melalui berbagai tindakan selain demonstrasi tentunya, seperti diskusi-diskusi terbuka dengan mengundang tokoh-tokoh perempuan yang memiliki kecenderungan ideologi yang berbeda, bahkan dengan tokoh feminis muslimah maupun non muslimah yang ada di Indonesia. Reaksi lainnya adalah dengan membuat jurnal dan menulis buku-buku yang merupakan “counter culture” terhadap sepak terjang gerakan feminisme di Indonesia.

            Muslimah HTI khsususnya Muslimah HTI Kota Bandung menganggap bahwa feminisme sangat bertentangan dengan ajaran dan hukum Islam karena ia lahir diusung oleh budaya yang telah menghacurkan peradaban umat Islam di dunia. Selain itu, sasaran utama dari gerakan feminisme adalah penghancuran nilai-nilai sakralitas sebuah keluarga, yang dalam ajaran Islam keluarga adalah pilar utama dalam pembentukan generasi sebagai pewaris penerus perjuangan umat menuju ke keridloan Allah SWT, yang salah satunya adalah pembentukan kembali khilafah Islamiyyah. Selain itu, feminis sebagai sebuah gerakan telah melahirkan berbagai produk yang pada intinya melanggengkan kebudayaan yang membebaskan semua tatanan kehidupan sosial masyarakat, seperti sex bebas, lesbianisme, ataupun gay dan homosexual.

            Produk-produk gerakan feminisme ini, menurut Muslimah HTI Kota Bandung muncul dalam berbagai bentuk tindakan seperi kampanye KKG atau Keadilan dan Kesetaraan Gender, Gender Mainstreaming, Gender and Development (GAD) dan yang lainnya. Yang dengan lemah lembut masuk ke dalam semua lini kehidupan bermasyarakat dan bernegara, bahkan Indonesia setelah keikutsertaannya dalam konperensi perempuan se-Dunia pertama pada tahun 1975 di Mexico City, menjadi momentum awal bagi pemerintah Indonesia untuk lebih memperhatikan keberadaan perempuan dengan berbagai perannya, salah satunya adalah dengan memasukkan isu-isu perempuan dalam GBHN untuk pertama kalinya, serta membentuk Kantor Menetri Muda Urusan Peranan Wanita.

            Keberadaan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) khususnya Muslimah HTI kota Bandung, di Indonesia dan tentunya di kota Bandung telah mampu memberikan warna lain yang sangat berbeda dengan gerakan perempuan lainnya yang telah ada sebelumnya. Keberaniannya untuk melakukan gerakan reaksi yang sangat keras terhadap keberadaan feminisme telah memberikan ide dasar bagi gerakan perempuan Islam lainnya untuk melakukan gerakan yang sama demi mempertahankan eksistensi sebagai perempuan Islam yang amanah. Namun di sisi lain, gerakan reaksi yang dilancarkan oleh Muslimah HTI kota Bandung yang terkesan tanpa kompromi dan terlihat “garang”, sesungguhnya tanpa bisa dihindari telah melahirkan “pelebelan” sebagai gerakan perempuan Islam radikal dan asumsi sebagai gerakan yang melahirkan kader “teroris” dari sebagian masyarakat yang tidak merespon dengan baik akan kehadiran Muslimah HTI Kota Bandung..

            Di samping itu, belum terlihat cukup jelas tentang profil Muslimah HTI kota Bandung dengan  segala dinamika gerakan dan aktivitasnya di luar gerakan reaksinya yang senantiasa dilakukan dalam setiap melihat tindakan dan aktivitas yang menurut pemahaman Muslimah HTI kota Bandung bertentangan dengan misi keberadaannya. Sehingga belum mampu memberikan gambaran yang kongkrit apakah sistem pembinaan di lingkungan HTI yang turut memberikan corak pada gerakan respon yang dilakukan oleh Muslimah HTI Kota Bandung. Apabila demikian, maka gerakan respon yang dilakukan oleh Muslimah HTI khususnya Muslimah HTI Kota Bandung hanya sebatas gerakan respon sementara.

            Uraian latar belakang masalah di atas mengilustrasikan adanya respon yang dilakukan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung dalam bentuk berbagai gerakan, salah satunya adalah demonstrasi damai yang merupakan penyampaian aspirasi ketidaksetujuannya  terhadap keberadaan feminisme dengan berbagai bentuk kegiatan atau-pun produk-produknya karena dianggap bertentangan dengan Islam dalam perspektif Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)  Kota Bandung. Sepanjang dekade 2000 an, misalnya, gerakan respon yang dilakukan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung telah muncul sebagai pengkritik feminisme yang paling berani, paling tidak bila dibanding dengan kelompok Islam lainnya, baik itu yang menamakan dirinya organisasi masyarakat maupun partai politik.

Berkenaan dengan responnya yang luas terhadap strategi penyebaran paham-paham feminisme, baik itu pemikiran maupun gerakan. Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung telah muncul sebagai salah satu kelompok  Islam yang diangga fenomenal karena keberaniannya menyampaikan respon-responnya dalam bentuk gerakan maupun pemikiran terhadap gerakan yang telah lebih dulu “mapan” di “ranah” nasional maupun dunia internasional. Bahkan, bila dibandingkan dengan masa di awal kelahirannya di Indonesia yang cenderung pasif dan belum terlalu dikenal, fundamentalisasi Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung  pada periode ini seolah-olah menunjukkan suatu kontras yang tajam. Akan tetapi pada saat yang sama, harus pula dicatat secara pendekatan agama dalam perspektif sosiologi, gerakan respon yang dilakukan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung  terhadap gerakan Feminisme dengan segala bentuk produknya tergolong dalam gerakan tradisionalisme, disebabkan tetap memegang utuh kaidah-kaidah, simbol-simbol, dan jargon-jargon untuk kembali menghidupkan tradisi kehidupan manusia kepada 15 (lima belas) abad yang telah lalu.

Dalam perspektif ilmu sosial khususnya sosiologi, respon dapat diartikan dengan berbagai pengertian yang beraneka ragam dan melahirkan pula berbagai pemahaman tergantung dari dimensi mana respon itu dipandang, misalnya, psikologi, antropologi, ataupun dipandang dari teori-teori klasik, modern, atau bahkan kontemporer.

 Namun, dalam persepsi penelitian ini, respon dipahami dalam pengertian reaksi dari individu atau kelompok yang timbul diakibatkan adanya aksi dari individu atau kelompok lain. Kemudian, bentuk tindak lanjut dari respon adalah bisa berupa pemikiran ataupun gerakan,  meskipun penelitian ini akan membatasi respon dalam bentuk gerakan namun tidak menutup kemungkinan respon dalam bentuk pemikiran turut pula mewarnai deskripsi yang dihasilkan oleh penelitian ini, hal ini tentunya tidak dapat dihindiri karena respon dalam gerakan tentunya terlebih dahulu diawali dari respon dalam bentuk pemikiran, dan tentunya akan menjadikan penilitian ini lebih berwarna.

Respon dalam bentuk gerakan ini dilakukan oleh individu-individu dalam kelompok yang memiliki kesamaan dalam sentimen. Reaksi dapat dipandang sebagai respon sosial yang dapat dipengaruhi oleh lingkungan fisikal, ekonomi, sosial, dan budaya, serta proses interaksi yang berulang-ulang dalam lingkungan kelompok yang melakukan reaksi terhadap kelompok lain. Kelompok yang melakukan reaksi adalah Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung, yang memandang Feminisme adalah gerakan yang telah melakukan aksi yang dalam perspektif Muslimah HTI Kota Bandung bertentangan dengan misi keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) khususnya Muslimah HTI Kota Bandung.

Selain itu dilihat pula bagaimana sistem pembinaan terhadap Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung, sehingga mampu memberikan warna terhadap keberadaan gerakan perempu yang ada di Indonesia. Ditambah dengan bagaimana sesungguhnya profil Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung serta fakta aktivitasnya di lapangan yang turut memberikan andil yang tidak kecil bagi memperkokoh eksistensi gerakan perempuan Islam di Indonesia yang memiliki persamaan ideologi dengan Muslimah Hizbut Tahrir (MHTI) Kota Bandung.

Selanjutnya, dalam kaitan tersebut dapat diajukan beberapa pertanyaan penelitian yang menjadi masalah pkok dalam penelitian ini, yaitu :

  1. Bagaimana realitas aksi gerakan Feminisme yang dipahami oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung sangat bertentangan dengan Islam,
  2. Bagaimana realitas reaksi yang dilakukan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung terhadap keberadaan Feminisme,
  3. Bagaimana realitas pembinaan dilingkungan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung,
  4. Bagaimana realitas profil Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung yang turut memberikan warna terhadap keberadaan gerakan perempuan Islam Indonesia lainnya.

            Penelitian ini bermaksud menemukan dan mengungkap fakta-fakta ilmiah (scientific finding) secara deskrispi eksplanatoris berkenaan dengan Gerakan Tandingan Feminisme, dan berkaitan dengan berbagai aspek yang berkaitan dengan Respon Muslimah Hizbut tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung.Di samping itu, penelitian ini bermaksud mengungkap realitas aksi feminisme, dan realitas reaksi Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung, dan juga realitas pembinaan yang diberikan dilingkungan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung, serta realitas profil Muslimah Hizbut tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung yang turut memberikan andil terhadap keberadaan gerakan perempuan Islam Indonesia lainnya secara menyeluruh, yang mampu memberikan respon gerakan tandingan feminisme yang “dimainkan” oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung ditambah dengan berbagai aspek yang dapat dikaji.

            Mengacu pada maksud penelitian di atas, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan sekaligus menganalisis tentang bukti-bukti mengenai :

  1. Realitas aksi gerakan Feminisme yang dipahami oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung bertentangan dengan Islam.
  2. Realitas reaksi gerakan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung terhadap keberadaan Feminisme.
  3. Realitas pembianaan yang diberikan dilingkungan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung.
  4. Realitas profil Muslimah Hizbut tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung yang turut memberikan warna terhadap keberadaan gerakan perempuan Islam Indonesia lainnya.

            Tertarik dengan masalah di atas, penulis dalah hal ini ingin mencari jawaban melalui suatu penelitian. Dengan studi ini hasilnya diharapkan memiliki dua manfaat, yaitu :

1. Manfaat secara akademis; penelitian ini sangat berarti terhadap pengembangan ilmu-ilmu yang berada dalam lingkungan perguruan tianggi agama Islam di Indonsia, khususnya di lingkungan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, lebih khususnya mengenai pengembangan studi perempuan yang berhubungan dengan semua cabang ilmu yang ada di perguruan tinggi agama Islam di Indonesia

2. Manfaat secara praksis; penelitian ini kiranya dapat pula memiliki practical necessity, sehingga hasil penelitian ini diharapakan dapat berguna bagi kepentingan pembangunan masyrakat berkenaan dengan pembangunan bidang sosial, politik, dan keagamaan. Sedangkan dari segi pembangunan perempuan Islam di Indonesia dalam wilayah sosial, politik dan keagamaan, lebih khususnya yang dilakukan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Bandung.

            Sesungguhnya, tatapan yang cukup lengkap tentang peta keberadaan Muslimah Hizbut tahrir Indonesia (MHTI) tentunya dimiliki oleh kalangan intern Muslimah HTI itu sendiri. Menurut Hizbut Tahrir, Hizbut Tahrir didirikan dalam rangka memenuhi seruan Allah SWT dalam al-Quran surat Ali Imran ayat 104. Hizbut Tahrir bermaksud membangkitkan kembali umat islam dari kemerosotan yang amat parah, membebaskan umat dari ide-ide, sistem perundang-undangan, dan hukum-hukum kufur, serta membebaskan manusia dari cengkeraman dominasi dan pengaruh negara-negara kafir. Hizbut Tahrir bermaksud juga membangun kembali Daulah Khilafah Islamiyah di muka bumi, sehingga hukum yang diturunkan Allah SWT dapat diberlakukan kembali.

            Penulisan sejarah HI (Hizbut Tahrir) yang mendunia, dan berkedudukan di Palestina ditulis dan dibuat oleh sebuah tim Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan satu dari lebih 50 (lima puluh) negara di dunia yang merupakan anggota Hizbut Tahrir (HT).  Tulisan sejarah yang berbentuk suplemen tersebut diberi judul :

“Dari Masjid al-Aqsha Menuju Khilafah : Sejarah Awal Perjuanagan Hizbut Tahrir ”.  Sedangkan untuk Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), di luar organisasi tersebut belum banyak yang membedah ataupun melakukan penelitian, sepengetahuan penulis ada satu orang yang tengah mengadakan penelitian berkenaan dengan keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Indonesia, yaitu sdr. Dedi Supriyadi dosen UIN sunan Gunung Djati Bandung yang melakukan penelitian untuk kepentingan disertasi S3 nya. Penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh sdr, Dedi Supriyadi tersebut tidak membahas seluruh aspek yang berkenaan dengan HTI, namun hamya membahas aspek yang berkaitan dengan masalah syariat atau hukum, tentunya hal tersebut disesuaikan dengan latar belakang keilmuan yang dipilih dalam studi S3 nya yaitu Ilmu Hukum.

            Melihat fenomena keberadaan HTI di Indonesia, dan lahirnya organisasi sayap HTI yaitu Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) akhir tahun 2000-an sebagai wadah kader perempuan Hizbut Tahrir Indonesia HTI) berkiprah menandakan keseriusan kader-kader Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) untuk memperjuangkan ideologi dan idealisme keislamannya. Keberadaan MHTI khususnya Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota bandung yang menarik ini belum diketahui lebih mendalam oleh para insan akademisi padahal sepengetahuan penulis Muslimah Hizbut tahrir Indonesia (MHTI) ini telah banyak melakukan berbagai aktivitas programnya baik intern maupun ekstern. Hal ini-lah yang mengantarkan penulis untuk berusaha dan berjuang melakukan eksplorasi penelitian terhadap keberadaan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI).

            Satu penelitian tentang keberadaan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) khususnya Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung berusaha digambarkan oleh “orang luar” MHTI khususnya MHTI kota Bandung. Penulis sangat tertantang untuk melakukan penelitian terhadap keberadaan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) khususnya MHTI kota Bandung. Meskipun tidak semua aspek yang berkenaan dengan keberadaan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung diteliti. Namun, penelitian ini berusaha meninjau salah satu aspek yang berkenaan dengan aktivitas MHTI kota Bandung dalam bidang dakwah, yaitu menyampaikan kebenaran yang diyakini berkenaan dengan kemulyaan perempuan Islam menjalankan berbagai peran dalam kehidupan baik domestik maupun publik, pribadi maupun sosial, yang diyakini oleh Musliamah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) khususnya kota Bandung telah “digoyang”, “diporakporandakan”, bahkan “dinodai” oleh kehadiran gerakan perempuan sekuler dengan nama Feminisme atau gerakan feminisme yang merupakan produk Barat yang dianggap oleh MHTI khususnya MHTI kota Bandung sebagai “musuh terbesar di dunia”.

            Sisi ini-lah yang tengah diperjuangkan oleh penulis untuk diungkap, penulis berkeyakinan belum ada yang membahasnya. Setidaknya, dalam penelitian ini penulis berusaha untuk menggambarkan dari keseluruhan respon Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) khususnya kota Bandung terhadap keberadaan gerakan Feminisme dengan keseluruhan “produknya”. Penggambaran respon Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung tersebut berusaha mengungkap melalui berbagai peran baik domestik maupun publik, program-program kegiatannya, profil, dan tentunya pembinaan dikalangan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) khususnya kota Bandung. Sebagai organisasi yang merupakan bagian dari keluarga Hizbut Tahrir Indonesia bahkan masuk dalm keluarga Hizbut Tahrir Dunia yang berpusat di Palestina, dapat dipahami apabila Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) khususnya kota Bandung banyak memfokuskan pada peran-peran politik karena Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) khususnya dan tentunya Hizbut Tahrir (HT) dalam pemahaman dan ideologinya adalah bukan organisasi massa biasa atau pada umumnya. Hizbut Tahrir (HT) adalah sebuah Partai Politik Islam yang mendunia yang memiliki cita-cita mewujudkan kembali kejayaan ke Khalifah-an Islam di Dunia !

            Gambaran ini-lah yang akan berusaha diungkap dalam penelitian ini, oleh sebab itu berbagai keunggulan instrumen penelitian dalam pengumpulan data sangat-lah diperlukan, khususnya kehati-hatian dalam menentukan berbagai teori yang digunakan. Karena sangat-lah diyakini oleh penulis, bahwa penelitian ini bukan-lah sekedar penelitian sosial biasa, hal ini disebabkan harus melibatkan berbagai teknik penelitian termasuk “RUH” penelitian itu sendiri. Dengan berharap kepada hadirnya keajaiban “KaromahNya”. Penulis berusaha menghadirkan: “GERAKAN TANDINGAN FEMISME : Tinjauan Terhadap Respon Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung “, sebagai sebuah spirit sekaligus spiritualitas yang mendunia sesuai dengan cita-cita MHTI, HTI dan HT tentunya yaitu mewujudkan kembali kejayaan Khalifah fil Ardl.

Sehingga pemilihan terhadap perspektif-perspektif tertentu gambaran dan penjelasan tentang masalah yang diteliti dicoba didekati dengan memanfaatkan perspektif ilmu-ilmu sosial[1]). Pemilihan terhadap perspektif-perspektif tertentu yang lebih baik tidak dapat dihindarkan. Selain alasan subjektif, pemilihan perspektif seperti itu semakin urgen karena perubahan yang terjadi saat ini sangat pesat dan mencakup berbagai bidang kehidupan, baik sosial maupun politik.

             Saat ini, masyarakat tidak hanya berhadapan dengan perubahan-perubahan besar, tetapi juga pertentangan-pertentangan tajam. Mereka memasuki era informasi yang berbeda dengan masa-masa sebelumnya, baik ketika era industri maupun era agrikultur. Bahkan, kedua periode yang disebut terakhir tidak sama, dan dampak pertentangan masih belum pulih. Dengan kata lain, sebagaimana dikatakan Sherman dan Kolker dalam Charon (1979 : 13) saat ini ditandai oleh fakta bahwa the old conceptions of reality to langer apply. Akan tetapi, dalam ilmu sosial, “relativisme konsep” merupakan hal yang tidak terelakkan, konsep hanya dapat diterapkan pada ruang, waktu, dan komunitas tertentu. Oleh karena itu, persoalan bukan pada pergantian konsep, melainkan pemilihan konsep.

            Dieters-Ever (1989 : xix-xv) menjelaskan faktor-faktor sosial yang menuntut pemilihan teori masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) peristiwa politik yang terjadi menunjukkan bahwa masyarakat tidak sepenuhnya terintegrasi atau bebas dari konflik; (2) seluruh dunia terintegrasi dalam tatanan global, dan (3) tatanan dunia sebelumnya telah berubah secara drastis.

            Situasi dan perubahan politik dunia yang spektakuler akibat berakhirnya “perang dingin” dan runtuhnya komunisme tersebut digambarkan Hefner dan Horvatich (2001: 3) sebagai situasi transisi, dalam arti era sebelumnya telah ditinggalkan, namun era baru belum jelas. Secara khusus, Hefner dan Horvatich menjelaskan dampak situasi dan perubahan tersebut terhadap negara-negara muslim di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

             Dalam kenyataannya, harapan dan kecemasan berkenaan dengan tata pergaulan dunia bercampur baur, terutama di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam yang sedang berkembang. Di Indonesia, keinginan untuk melakukan perubahan terhadap berbagai hal yang sedang berlangsung yang diakibatkan berbagai macam kontak dalam dunia global saat ini mengejewantah dalam berbagai bentuk gerakan, gerakan tersebut bisa gerakan yang setuju terhadap pergaulan dunia global ataupun yang tidak setuju terhadap model pergaulan tersebut.

             Berkenaan dengan hal tersebut, teori tentang kehidupan sosial umat Islam di Indonesia perlu dikaji ulang, salah satunya disebabkan adanya suatu dinamika yang tidak pernah berhenti dalam kehidupan umat Islam di Indonesia, khususnya dikalangan perempuan Islam Indonesia yang bergiat di dalam gerakan organisasi perempuan Islam, dan mencoba untuk turut memberikan respon terhadap keberadaan gerakan lain yang lahir yang diakibatkan oleh tata pergaulan dunia global tersebut.   
             Sehingga teori yang digunakan adalah teoriyang berhubungan dengan respon sosial yang dilakukan oleh individu maupun kelompok, sebagaimana yang dikemukakan oleh , yaitu George Caspar Homans dalam Ritzer (2004; 358-363). Hal ini dirasakan sangat menarik karena Homans mengatakan bahwa interaksi terjadi disebabkan adanya aksi yang menyebabkan reaksi yang berulang-ulang. Koentowijoyo  (1996) juga memberikan sumbangan yang tidak kalah besarnya terhadap pemahaman respon, dengan menggaris bawahi akar histories sebagai sebagai pijakan konseptualnya, yaitu adanya interpretasi untuk aksi.              Perspektif-perspektif ilmu sosial yang digunakan untuk menggambarkan dan menjelaskan konsep yang terkait dalam masalah ini adalah teori-teori  sosiologis dan sekaligus pmenggunakan paradigma sosiologis. Dengan berbagai pertimbangan yang berkenaan dengan masalah yang diteliti, paradgima sosilogis yang digunakan dalam penelitian ini adalah fakta sosial yang diusung oleh E. Durkheim, yang berbicara mengenai norma sosial dan norma kelompok hal ini diambil mengingat realitas penelitian adalah gerakan perempuan Islam yang senantiasa melihat dari apa yang telah mapan dan menjadi pegangan tanpa adanya manifes individu. Kemudian ditambah dengan definisi sosial yang “dikemas” oleh Weber hal ini digunakan mengingat ada sisi lain dari penelitian ini yaitu gerakan perempuan yang menganggap segala yang berhubungan dengan kehidupan sosial manusia harus terus menerus di reinterpretasi termasuk didalamnya kehidupan beragama individu maupun kelompok. Sedangkanteori-teori sosiologi yang menjadi landasan penelitian ini adalah, dengan menggunakan teori, yaitu teori sistem yang bersuber dari teori struktural fungsional dan dikembangkan oleh Talcott parsons sebagai alat analisa sistem-sistem sosial, yang kemudian dihubungkan dengan respon sosial sebagai bagian dari sistem sosial. Ditambah dengan teori interaksi sosial karena adanya respon tentunya setelah terjadinya sebuah interaksi.

            Selain itu, pengambilan teori-teori femisme sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dengan penggambaran teori-teori sosial yang telah disebutkan, hal ini sangat-lah penting karena keberadaan Feminisme sebagai fokus tujuan penelitian selain tentunya respon itu sendiri.  Pemilihan terhadap teori feminisme tidak-lah mudah selain dari konsep dan latar yang berbeda, teori feminisme masih dianggap sebagai teori yang belum “ajeg” karena “hanya” digunakan sebagai alat analisis dari berbagai masalah yang dikedepankan dalam ranah sosial. 

             Akan tetapi sejak munculnya beragam teori feminis modern, seperti  feminisme liberal, Marxis, Sosialis, dan radikal, yang mewarnai gerakan feminisme modern sejak awal abad ke-20 sampai akhir 1970-an di Barat dan juga di Indonesia akhir dekade 90-an. Teori-teori feminisme modern menurut Megawangi (1996; 214-215) yang berasumsi bahwa individu adalah makhluk otonom yang lepas dari pengaruh lingkungannya dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri. Teori-teori femenisme modern ini mulai mengukuhkan “dirinya” sebagai teori “mapan” sejajar dengan teori-teori sosial lainnya     

Dalam konteks inilah, Gerakan Tandingan Feminisme ; Respon Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Bandung dapat dideskripsikan. Gerakan respon yang senantiasa disikapi radikal oleh gerakan perempuan yang berseberangan ideologi dan disikapi sebagai gerakan perempuan yang mengemban amanah untuk mempertahankan eksistensi warna keislaman oleh gerakan perempuan Islam yang memiliki kesamaan identitas dan ideologi, hal ini karena adanya pertimbangan-pertimbangan tuntutan sebagai kewajiban perempuan atau Muslimah penerus estafeta perjuangan perempuan Islam “generasi awal” untuk mewujudkan cita-cita politik Islam yang dianutnya di satu pihak, dan di pihak lain, juga dipengaruhi oleh rumusan tradisi-tradisi yang senantiasa disosialisasikannya sebagai salah satu representasi dari keberadaan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kota Bandung sebagai bagian dari HTI secara nasional dan HT secara internasional yang senantiasa berusaha melakukan berbagai perubahan yang secara signifikan sangat mempengaruhinya.

Berdasarkan kerangka teoritis diatas, maka dapat dibuat alur pemikiran sebagai berikut:

Dengan melihat karakteristik masalah penelitian seperti disebutkan sebelumnya, maka penelitian ini menggunakan metode kualitatif (qualitative method), karena secara sosiologis dan antropologis fokus kajian terhadap peristiwa itu berangkat dari kesadaran dan pengalaman yang sangat pribadi dan berusaha untuk menolak asumsi-asumsi, prejudice dan dogma dengan filosofis tertentu. Sekaligus lebih menekankan pada segala sesuatu yang dapat ditangkap melalui alat indria dalam mencari jawab terhadap bagaimana sebuah peristiwa terjadi (lihat Wallace & Wolf, 1986 : 233), khususnya peristiwa respon gerakan tandingan Feminisme yang dilakukan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung.

Sumber data dalam penelitian ini terbagi daalam dua bagian, yaitu (1) sumber data primer, dan (2) sumber data sekunder. Karena titik berat pengumpulan data adalah observasi terlibat dan wawancara mendalam (indepth interview), maka sumber diambil secara purposif dengan pertimbangan-pertimbangan efisiensi kekayaan dan keakuratan data. Oleh sebab itu informasi yang diperlukan untuk kepentingan penelitian akan diperoleh melalui sekurang-kurangnya dua sumber, yaitu sumber-sumber dokumenter, termasuk bahan kepustakaan dan sumber lapangan. Sumber dokumenter dan bahan kepustakaan terutama diperlukan untuk mengungkap fakta-fakta terdahulu (historis), sedangkan lapangan merupakan sumber informasi mengenai fakta-fakta yang lalu hingga penelitian dilakukan masih berlangsung.

Meskipun demikian, kedua sumber itu bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, tetapi satu sama lain saling melengkapi. Disamping itu, sejumlah hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan obyek pokok yang sedang diteliti, juga menjadi bagian dari sumber informasi penting dan tidak terpisahkan.  

Adapun wawancara mendalam (indepth interview) dilakukan dengan sumber data yang diperoleh dari lapangan, yaitu :

– 20 orang pengurus Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) Kota Bandung

– 10 orang tokoh dan ulama HTI Kota Bandung.

5.4. Prosedur Pengumpulan Data                          

Sebagaimana dikemukakan di atas, bahwa penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam metode ini amat menitikberatkan pada teknik-teknik sebagai berikut :

Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi terlibat (partisipant observation) dan wawancara mendalam (indepht interview).

  Feminisme Gerakan Tanpa Batasan WilayahC. KAJIAN TEORI

Bisa jadi, saat ini, tidak ada istilah yang begitu used and abused di banyak masyarakat dunia, khususnya masyarakat di Indonesia, seperti feminisme. Seperti yang dikemukakan oleh Hafidz(1994), tanpa harus memahami terlalu baik apa maksud kata tersebut semua orang dapat dengan mudah mencapkan stigma atasnya, demikian pula yang membelanya. Tidak jarang pula terdengar pencampur-adukan pengertian antar feminin dan feminis, yang memang berdekatan bunyi karena yang berbeda hanya satu suara walaupun jelas fonomik.

            Feminisme yang dimaksud di sini, menurut Andriyani dan Aquarini P. Prabasmoro (2000; 141-147) dapat berarti gerakan maupun keseluruhan pemikiran feminis (body of thought). Reaksi penolakan yang selalu muncul ketika membahas feminisme, adalah bahwa femnisme itu datang dari Barat, anti laki-laki, pendukung seks bebas dan lesbianisme. Alergi dan perlawanan seperti itu tidak hanya menyerang laki-laki, tetapi juga perempuan, orang-orang yang “berpengetahuan”  dan tidak. Ketidaktahuan secara lebih utuh memperparah alergi feminisme ini, dan akhirnya banyak menimbulkan reaksi dan reaksinya kemudian juga menjadi tidak lengkap.

            Berbicara mengenai feminisme berarti berbicara soal paham yang tidak berdiri sendiri. Masih menurut Andriyani dan Aquarini P. Prabasmoro (2000), istilah tersebut diwarnai latar belakang, budaya, etnis, ras, ekonomi, pendidikan, agama (atau lebih tepatnya penafsiran agama). Feminisme bukan hanya ada dalam budaya Barat, feminisme ada dalam budaya  Timur dan Barat. Penelusuran pergerakan dan pemikiran perempuan dapat ditemui baik di Barat maupun di Timur. Yang penting sebenarnya adalah bukan namanya melainkan esensi yang ingin diperjuangkannya, yang ingin menghilangkan ketidakseimbangan relasi perempuan dan laki-laki.

             Menurut Moi(1991; 117), dalam esainya feminist, female, and feminine, feminin adalah suatu set sifat-sifat yang dikonstruksikan oleh masyarakat, feminis adalah posisi politis perempuan dalam wacana untuk menentang budaya patriarki, sedangkan female berkenaan dengan realitas biologis. Dalam kerangka tersebut, jangan dilupakan bahwa seks dan gender adalah dua hal berbeda, seks adalah realitas biologis. Femaleness dan seks adalah kodrati, sesuatu yang ditentukan Tuhan, bersifat tetap dan tidak dapat diubah. Sedangkan gender dan feminitas adalah buatan manusia, buatan manusia adalah berbeda bergantung pada siapa manusianya, di mana lokasinya, dan apa yang memengaruhi hidupnya, Karena itu, menurut Andriyani (2000), feminitas dan gender bersifat fluid, subjektivitas dan identitas menjadi sesuatu yang tidak dapat dipatok. Karena sifatnya itu pula, konstruksi gender dan feminitas dapat berubah atau diubah, dan paham yang ingin mengubah konstruksi gender yang tidak adil disebut feminisme. Pemikiran-pemikiran feminisme membentang dari yang mendasari dirinya dengan teori-teori yang “membumi”, sampai yang bergerak di dalam alam bawah sadar.

            Selanjutnya menurut Myra Diarsi (1996; 32-41), posisi feminisme dalam hal ini, ingin membantu melihat adanya ketimpangan perilaku baik secara struktural, fungsional maupun kultural melalui suatu sistem pemikiran yang menyeluruh. Sehingga feminsme dapat dianggap sebagai “kacamata” atau cara pandang yang berusaha memahami dan membedah permasalahan sosial. Sedangkan pemikiran yang biasanya dijadikan sebagai landasan gerakan feminisme khususnya di Indonesia (maksudnya bahasa Indonesia), biasanya hanya menyebutkan tiga pemikiran feminisme; feminisme liberal, feminisme radikal, dan feminisme marxis sosialis. Ketiga teori ini lebih dikenal karena dianggap lebih “membumi”. Sedangkan pemikiran feminisme yang lain biasanya dibahas dengan sangat sedikit atau bahkan tidak sama sekali; misalnya feminisme psikoanalisis dan gender, feminisme eksistensialisme, feminisme postmodernis, feminisme multikultural dan global, serta ekofeminisme.

            Sedangkan menurut Ritzer dan Goodman (2004 ; 9-10),  feminis awal dapat dilacak kembali ke 1630-an, aktivitas dan tulisan feminis mencapai puncaknya pada gerakan liberalis di dalam sejarah Barat Modern. Gelombang pertama produktivitas ini muncul terjadi pada 1780-an dan 1790-an dengan munculnya perdebatan di seputar revolusi Perancis dan Amerika. Usaha yang lebih terfokus dan teroganisir muncul pada 1850-an sebagai bagian dari mobilisasi menentang perbudakan dan mendukung hak-hak politik untuk kelas menengah , dan mobilisasi massif untuk hak pilih perempuan dan reformasi undang-undang kewargaan dan industrial di awal abad 20, khususnya di era progresif di Amerika. Tanpa disadari semuanya ini sangat memengaruhi perkembangan sosiologi.

Interaksi antara teori feminisme dan agama menurut Megawangi (1996; 216-218) telah ada sejalan dengan berkembangannnya paham teologi pembebasan yang memakai paradigma Marxisme. Teologi feminis adalah gerakan reformis dan revolusioner untuk mendekontruksi ideologi atau pemahaman yang bias laki-laki. Dekonstruksi ini bertujuan untuk menghapsu patriarki, dan mencari landasan teologis akan persamaan laki-laki dan perempuan. Teologi feminis pada intinya sama dengan feminisme sosialis, radikal, dan liberal. Yang menurut Megawangi (1996), yaitu ingin menghilangkan segala stereotip gender sehingga perempuan dapat menyamai laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan. Sedangkan perbedaannya, masih menurut Megawangi (1996), teologi feminis memakai agama untuk mencapai tujuannya. Gejala semacam ini sejak awal 90-an telah merebak dikalangan feminis muslim di Indonesia, dengan melakukan gerakan menggugat beberapa penafsiran fiqh perempuan (fiqh al-mar’ah), dan merubahnya seperti, perempuan boleh menjadi imam shalat, menjadi khatib, menjadi muadzin, dan melakukan akad nikah meskipun tanpa wali.

Sedangakan di akhir tahun 2000-an interaksi antara feminisme dan agama yang juga telah melahirkan penafsiran baru terhadap teks-teks kitab suci umat Islam, yaitu al-Quran, telah mendapat respon yang beragam dari kalangan aktivis perempuan Islam, salah satunya dari Lathifah Musa (2003; 26-29), munculnya tafsir feminis tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang perjuangan kaum perempuan Barat dalam menuntut kebebasannya. Ide pembebasan perempuan muncul sebagai respon dari ketidakberhasilan sistem kapitalisme dan sosialisme dalam mengayomi masayrakatnya. Ketimpangan-ketimpangan yang terjadi akibat kedua sistem tersebut memicu dan menumbuhsuburkan isu menindasan dan pelecehan hak-hak perempuan. Akhirnya, masih menurut Musa (2003) pemikiran dan sistem hukum kapitalisme dan sosialisme yang tumbuh di Barat mulai diadopsi oleh perempuan Islam di negeri-negeri Islam salah satunya, Indonesia. Tanpa disadari, semua ini memicu perasaan bahwa perempuan Islam Indonesia harus bangkit memperjuangkan haknya sebagaimana perempuan-perempuan Barat. Akan tetapi gerakan ini seolah dihadang oleh nilai-nilai dan hukum agama yang membudaya di masyarakat.

Bagi pejuang pembebasan perempuan Islam, menurut Musa (2003), bagaimanapun nama Islam tidak boleh ditanggalkan. Sehingga, memunculkan gagasan untuk mengemas hukum Islam dalam perspektif perjuangannya. Teks-teks al-Quran dan as-Sunnah menjadi sasaran utama. Keduanya ditakwilkan agar mendukung gagasan yang telah menjadi landasan perjuangan. “Gaya” mentakwilan ini setidaknya terbagi dalam 2 (dua) kelompok; Pertama, para feminis yang bergaya “tegas”, yang menyatakan bahwa nash-nash keagamaan (al-Quran dan as-Sunnah) sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan dan kemajuan zaman, sehingga patut untuk ditolak. Kedua, para feminis yang lebih “santun”, dengan pernyataannya, “apakah penafsiran tersebut masih relevan bagi persoalan masyarakat saat ini”. Salah satu feminis Muslim yang masuk ke dalam kategori ini, adalah Amina Wadud Muhsin, feminis Muslim dari Malaysia, dalam bukunya “Wanita dalam al-Quran”, menyatakan tafsiran yang berkenaan dengan kata qawwamun, bahwa ia tidak menyalahkan penafsiran yang mengemukakan  bahwa suami adalah pemimpin bagi isterinya. Namun, ia membuka keraguan, apakah penafsiran ini sesuai dengan keluarga dalam sistem masyarakat kapitalistik, ketika pendapatan tunggal sang ayah tidak mencukupi bagi kelangsungan kehidupan keluarga yang nyaman ?

Kritik Musa (2003) terhadap tafsir feminis, menyatakan bahwa feminis Muslim di Indonesia setidaknya telah menggunakan beberapa metode, seperti; Pertama, Metode akal sebagai azas. Kedua, Historis soiologis sebagai kaidah. Ketga, Sejarah sebagai sumber rujukan.  Dengan menggunakan ke tiga metode ini masih menurut Musa (2003) semakin menyakinkan bahwa tafsir feminis hanya mendekatkan umat Islam khususnya perempuan Islam di Indonesia kepada hukum-hukum Barat.

            Gerakan perempuan pada umumnya mempersoalkan issu moralitas, contohnya seperti yang dikemukakan oleh Saptari !1989), yaitu kekerasan dalam sexual dan dalam keadilan terhadap perempuan dalam hiukum, seperti hak warisan, hak pilih, hak menandatangani pinjaman dari bank. Selain itu setiap organisasi yang digerakkan oleh perempuan memiliki identitas dan strategi berbeda-beda, hal ini dapat dilihat dalam bentuk-bentuk organisasi perempuan.

            Di antara banyak organisasi perempuan di Indonesia, salah satu yang cukup berkembang adalah organisasi perempuan yang terkait pada agama. Diantaranya adalah organisasi perempuan Islam Indonesia, menurut Hafidz (1993; 135), pada umumnya organisasi perempuan Islam merupakan bagian dari organisasi massa yang sifatnya nasional, seperti Aisyiyah yang merupakan bagian perempuan dari Muhammadiyyah yang awalnya menurut Rahman  (1996; 332) bernama Sapa Tresna (siapa sayang), didirikan pada tahun 1917 Persistri (Persatuan Islam Isteri) yang didirikan pada tahun 1836 adalah bagian dari organissai massa Islam yang bernama Persis (Persatuan islam), kemudian Muslimat NU yang didirikan pada tahun 1946 merupakan bagian dari organisasi massa terbesar di Indonesia NU (nahdlatul Ulama).

            Pada umumnya kesadaran perempuan Islam untuk mendirikan organisasi perempuan ini, adalah perempuan-perempuan islam yang sudah menjadi anggota atau yang orang tuanya telah menjadi anggota organisasi massa yang dikelola oleh kaum laki-laki Islam, atau paling tidak telah menjadi simpatisan bagi organisasi massa Islam tersebut. Kelahiran dari organisasi perempuan Islam tersebut, kebanyakannya disebabkan oleh keinginan perempuan-perempuan anggota dan simpatisan organisasi massa tersebut untuk mempunyai wadah sendiri sehingga memiliki kebebasan untuk mengekspresikan kegiatan-kegiatannya. Meskipun ada sebagian dari organisasi induk yang memang menginginkan untuk membentuk wadah khusus bagi anggota dan simpatisan perempuan disebabkan banyak persoalan-persoalan perempuan yang hanya bisa dibahas dikalangan perempuan.

            Menurut Marcoes (1999; 34-96), sifat dari organisasi perempuan Islam ini pada umumnya menjadi otonom dalam organisasi massa atau organisasi induknya. Sehingga ketika berbicara Aisyiyah maka sekaligus akan berbicara Muhammadiyyah, begitu pula ketika berbicara tentang Muslimat dan Persisteri maka pada dasarnya adalah membicarakan tentang NU dan Persis.

            Untuk pengembangan organisasinya, perlu diingat dalam sifat organisasinya yang insklusif, organisasi-organisasi perempuan Islam Indonesia adalah organisasi perempuan, oleh karena itu selain tujuan utamanya mampu memberi manfaat kepada seluruh lapisan perempuan yang ada di Indonesia, namun, kenyataannya program-program utama yang dibuatnya tetap mendahulukan seluruh anggota dan simpatisaanya masing-masing. Selain itui, semua organisasi semua organisasi perempuan Islam ini memiliki program-program keperempuanan, perspektif keperempuanan ini tidak mungkin lepas dari berlandaskan kepada kitab suci al-Quran dan tentunya dengan bunyi firman yang sama.

            Selanjutnya, seperti yang dikemukakan oleh Kuntowijoyo (1993; 134), umumnya setiap organisasi yang dikelola oleh perempuan Islam ini, juga mengalami perkembangan bukan hanya dalam perjalanan sejarah berdirinya sampai menjadi badan otonom, namun dalam hal eksistensi keberadaaannya sebagai organisasi perempuan Islam yang “mandiri”, yaitu;

            “Umumnya perkembangan tersebut dimulai dari dalam ke luar, mula-mula dengan menegaskan jati diri perempuan dalam dunia tanpa hierarki antara laki-laki dan perempuan. Kemudian berturut-turut penegasan tentang ruang gerak perempuan, penegasan “ideologi keluarga”, dan akhirnya perempuan ke luar dari rumah untuk mengurus pembangunan”.

 

Perkembangan yang terpenting dari keberadaan organisasi perempuan Islam Indonesia, adalah organisasi perempuan islam kelak telah benar-benar mandiri, organisasin perempuan Islam tersebut tidak mungkin melepaskan dari organisasi induknya. Karena misi dan visi organisasi perempuan Islam yang ada di Indonesia, sesungguhnya adalah misi dan visi yang dibuat dan dimiliki oleh organisasi induknya yang dikelola oleh laki-laki jauh sebelum organisasi perempuan-organisasi perempuan tersebut resmi menjadi otonomnya.

             Menurut Santoso (1991; 155-156) secara bahasa respon berasal dari bahasa Perancis kuno, yaitu responde, kemudian menjadi responre. Sedangkan dari bahasa latin berasal dari kata respondeo artinya to make answere, to answere by action. Dari pengertian secara bahasa tersebut respon tidak hanya mencakup jawaban yang disampaikan secara lisan, akan tetapi lebih ditekankan kepada beberapa jauh manusia dapat melakukan respon yang disampaikan.Sedangkan menurut Onong (2005; 15), respon adalah tanggapan , seperangkat reaksi pada komunikasi setelah menerima atau melihat aksi dari lawan. Respon merupakan unsur penting dalam proses komunikasi, respon dapat bersifat positif maupun negatif tergantung dari bagaimana bentuk komunikasi tersebut terjalin.  

            Respon dapat dikatakan sebagai tanggapan. Respon atau umpan balik dapat dilakukan  dengan cara respon verbal. Respon secara verbal adalah respon yang disampaikan dengan kata-kata, baik secara singkat maupun panjang lebar. Respon dapat pula dikatakan sebagai reaksi terhadap apa yang dilihat, reaksi ini bisa dikatakan negatif maupun positif tergantung kepada yang memberikan reaksi tersebut.

D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI)

Menurut catatan sejarah, setiap kelahiran sebuah gerakan organisasi terlebih organisasi Islam senantiasa memililiki faktor yang melatarbelakangi kelahirannya. Seperti timbulnya kesadaran yang dimiliki oleh para pendirinya sebagai akibat dari adanya kesadaran akan berharganya sebuah jati diri dan identitas sebagai umat Islam dan terlebih lagi bagi para pejuang Islam yang merasa telah terbelenggu oleh kebodohan, seperti para pembaharu yang berada di Timur Tengah dan Turki yang telah lebih dahulu menyadari akan pentingnya sebuah kebangkitan Islam.

 Selain itu, dengan adanya kebijakan baru pemerintah colonial untuk memberikan kemudahan dalam bidang transportasi dan komunikasi mengakibatkan naiknya volume masyarakat Muslim Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji, salah satu dampaknya mengakibatkan munculnya revivalisme agama. Setelah itu mulai-lah muncul gerakan-gerakan lokal yang bercirikan religius, tentunya kepemimpinannya-pun dipegang oleh elite religius pula atau dikenal dengan sebutan kyai. Selain dari model gerakan yang bercirikan religius, lahir pula ide-ide pembaharuan yang dimotori oleh para pembaharu elite kreatif Timur Tengah yang mendapat respon cukup baik dikalangan para pemuka Islam di Nusantara khususnya Indonesia yang memang sudah lama menghendaki reformasi dan reaktualisasi nilai-nilai Islam yang sinkritik.

Menurut Deliar Noer (1987), lahirnya gerakan pembaharuan modern di Indonesia, khusunya di jawa Timur, mengakibatkan terbaginya corak pembaharuan menjadi berbeda, dan secara keseluruhan bias dikategorikan dalam corak kekuatan pembaharuan. Pertama, kelompok reformis moderat, dan Kedua, adalah kelompok tradisional bertahan. Berbeda dengan lahirnya organissai massa Islam lainnya di Indonesia, seperti Nahdlatul Ulama (NU) yang bercirikan khas kemazhaban dan memegang erat ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, kemudian Muhammadiyyah yang bersifat modernis, dan Persis (Persatuan Islam) yang ? .

Hizbut Tahrir Indonesia yang merupakan bagian dan kepanjangan Hizbut Tahrir yang memiliki ciri khas sebagai organisasi yang mendunia dan berpusat di Palestina dan juga lebih dikenal sebagai partai politik dibanding dengan organisasi massa, ini-lah yang membedakannya dengan organisasi massa Islam Indonesia yang bersifat lokal, dan yang memiliki cita-cita mendirikan Negara Islam dunia atau lebih dikenal dengan sebutan Khilafah.

Bagi anggota Hizbut Tahrir di seluruh dunia umumnya dan di Indonesia khususnya, Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang berideologi Islam. Politik merupakan kegiatannya, dan Islam adalah ideologinya. Hizbut Tahrir bergerak di tengah-tengah umat, dan bersama-sama mereka berjuang untuk emnjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya, serta membimbing umat untuk mendirikan kembali system Khilafah dan menegakkan hokum yang diturunkan Allah dalam realitas kehidupan. Hizbut tahrir merupakan organisasi politik, bukan organissai kerohanian seperti tarekat, bukan lembaga ilmiah seperti lembaga studi agama atau badan penelitian, bukan pula lembaga pendidikan, dan bukan pula lembaga sosial yang bergerak di bidang social kemasyarakatan, ide-ide Islam menjadi jiwa, inti, dan sekaligus rahasia kelangsungan kelompoknya.  

            Hizbut Tahrir didirikan dalam rangka memenuhi seruan Allah SWT ;

            “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (jamaah) yang menyeru kepada kebaikan (mengajak memilih kebaikan, yaitu memeluk Islam), memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran; 104

Hizbut Tahrir bermaksud membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang sangat parah, membebaskan umat dari ide-ide, system perundang-undangan, dan hokum-hukum kufur, serta membebaskan umat islam dari cengkeraman dominasi dan pengaruh Negara-negara kafir. Hizbut Tahrir bermaksud juga membangun kembali Daulah Khilafah Islamiyyah di muka bumi, sehingga hukum yang diturunkan Allah SWT dapat diberlakukan kembali. Dari tangan al-‘Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, jamaah ini lahir. Jamaah yang kemudian diberi nama Hizbut Tahrir, yang berarti Partai Pembebasan.

            As-Syaikh Fathi Muhammad Salim, penulis buku al-Isthidlal bi ad-Dzan fi al-‘Aqidah, menuturkan sejarah singkat al-‘Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, rahimahuLlah. Dalam penuturannya beliau menyatakan, bahwa an-Nabhani lahir dari gudang ilmu (bait al-Ilm). Kakeknya, as-Syaikh Husein an-Nabhani, adalah ulama besar di era Khilafah ‘Usmaniyyah. Beliau al-‘Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahuLlah mendapatkan pendidikan agama Islam dalam keluarga yang islami. Kemudian berpindah ke al-Azhar, dan belajar di Universitas tersebut hingga menyelesaikannnya.  

            Setelah melalui berbagai kajian yang panjang, beliau terispirasi dengan gagasannya yang pertama, yaitu tentang kebangkitan. Karene itu Islam harus dikembalikan dalam kehidupan, dan Khilafah Islam yang dinyatakan oleh Rasul Muhammad SAW, sebagai kabar gembira yang akan kembali berdasarkan tuntunan kenabian yang harus ditegakkan. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sekembalinya ke Palestina merasakan kemorosotan dikalangan umat Islam, kemudian beliau hijrah ke Beirut  namun di Beirut-pun Syaikh Taqiyuddin merasakan pula kemorosotan dikalangan umat Islam. Kemorosotan dikalangan umat Islam dan krisis yang terjadi di Palestina sangat memengaruhi pemikiran Syaikh Taqiyuddin. Dari situ-lah memicu munculnya berbagai pertanyaan salah satunya, adalah apa sesungguhnya tugas kaum Muslim di seluruh dunia ? Syaikh melihat, bahwa realitas hanya bisa diselesaikan dengan Islam.

            Setelah mengkaji berbagai hal, termasuk fakta gerakan perjuangan yang telah dilakukan oleh umat Islam, intinya Syaikh telah mneghasilkan satu pemikiran bahwa harus ada perjuangan dikalangan umat Islam, tapi bukan sekedar berjuang, melainkan perjuangan yang terukur. Perjuangan itu untuk membangun pemikiran, dengan tujuan yang jelas, sebagaimana gagasan yang menginspirasi pikiran Syaikh Taqiyuddin sebelumnya, yaitu KEBANGKITAN ! 

            Peristiwa tersebut merupakan pembahasan dan pembicaraan pertama tentang penegakkan khalifah serta seruan untuk menegakkannya. Kisah Syaikh Taqiyuddin menceritakan peristiwa pengangkatan Abb Bakar ra tersebut terjadi tepat pada tahun 1950. Kemudian Syaikh mengontak para pemuda al-Quds yang memiliki pandangan yang sama dengannya. Pada periode tersebut, as-Syaikh Taqiyuddin berusaha intuk membangun Kutlah (organisasi), yaitu oraganisasi yang berbentuk partai, dan bagaimana aktivitas organisasi tersebut. Peristiwa pada periode ini sekaligus menandakan dan merupakan pertama kali terbitnya kitab yang ditulis oleh Syaikh Taqiyuddin, yaitu at-Takattul al-Hizbi (pembentukan partai politik), tepatnya tahun 1950 atau 1952.

            Dari berbagai peristiwa ujian tersebut muncullah kader-kader yang handal, seperti As-Syaikh Ibrahim Ahmad Hind Abu Mundzir, As-Syaikh ‘Abbas bin al-Haj, as-Syaikh Ahmad Da’ur, rahimahu-Llah, mereka berjuang atas nama Allah dan RasulNya. Sehingga mereka bertahan terhadap berbagai cobaan dan siksaan yang dilakukan oleh para penguasa munafik pada saat itu. Semua orang tahu pada saat itu, akan hakikat Hizbut Tahrir yang sesungguhnya, bahwa Hizb tidak mencari dunia. Hizb hanya menyampaikan kebenaran yang diyakininya. Hizb teguh memegang sikap, pandangan dan apayang disampaikannya. Ini-lah yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan umat kepada Hizbut Tahrir dan pemirannya.

            Setelah wafatnya pendiri sekaligus Amir Hizbut Tahrir pertama , yaitu al-Imam al-‘Allamah as-Syaikh Taqiyuddin an –Nabhani wafat, pada tahun 1978 Syaikh al-Azhar yaitu as-Syaikh Abdul Qadim Zallum, memimpin Hizbut Tahrir sebagai Amir kedua untuk jangka waktu kurang lebih 25 (dua puluh lima) tahun. Hizbut Tahrir mengalami transmisi secara kuantitatif dan kualitatif, di mana Hizb berhasil berjuang di lima benua. . Sel-selnya-pun mulai berkembang, para kder dan pendukungnya-pun bertambah dengan pesat hingga mencapai jutaan orang. Pemikiran pokok Hizb –pun tersebar semakin luas, yaitu pemikiran mengakkan Khilafah Islam menjadi bahan perbincangan yang tidak pernah berhenti. Pemikiran tersebut berkembang di seluruh dunia Islam dengan sangat cepat dan mengalami transmisi dari asatu tempat ke tempat yang lain. Pemikiran Hizb-pun mengakar kuat dan kokoh di setiap negeri Muslim, seiring dengan itu mengakar pula aktivitas politik Islam, salah satunya di negeri yang memiliki mayoritas pemeluk Islam, yaitu Indonesia di awal tahun 80-an setelah sebelumnya dilarang.

            Ketika pada tahun 2003 Pemimpin Hizbut Tahrir sekaligus Amir ke dua yaitu as-Syaikh Abdul Qadim Zallum wafat, kemudian kepemimpinan Hizbut Tahrir diterima oleh al-‘Alim ‘Atha’ Abu Rusytah hingga saat ini. Beliau telah mengikuti langkah perjuangan dan tetap memegang kendali Hizb yang tinggi ini yang bertekad untuk mendirikan Negara Khalifah, dan bertekad mengenyahkan semua rintangan yang menghalangi tercapainya tujuan yang sangat berharga dan mulia. Melalui kepemimpinan al-‘Alim ‘Atha’ Abu Rusytah, Hizb telah melakukan berbagai aktivitas politik dan intelektual yang luar biasa. Menunjukkan adanya kegairahan dan kecepatan. Yang terpenting, dua tahun sebelumnya, Syabab Hizb telah menyebarkan serua kepada umat Islam serentak di 25 (dua puluh lima) negara di dunia. Akhirnya, al-Istadz ‘Usman Abu Khalil menyatakan, bahwa Negara Khilafah, bagi Hizb bukan-lah sesuatu yang Utopia, namun sebagai keyakinan. Bagi Umat Hizb adalah partainya, yang melindungi umat dari konspirasi jahat para musuh Islam, dan Hizb menjadi pengurus umat dan rahasia umat.

            Hizbut tahrir bertujuan melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini berarti mengajak kaum Musliminkembali hidup secara Islami dalam Darul Islam dan masyarakat Islam. Di mana seluruh kegiatan kehidupannya diatur sesuai dengan hokum-hukum syara’. Pandangan hidup yang akan menjadi pedoman adalah halal dan haram, di bawah naungan Daulah Islam, yaitu Daulah Khilafah, dipimpin oleh seorang Khalifah yang diangkat dan dibai’at oleh kaum muslimin untuk didengar dan ditaati agar menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya, dan mengemban risalah islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad.

            Kegiatan Hizbut Tahrir adalah mengemban dakwah Islam untuk mengubah situasi masyarakat yang rusak menjadi masyarakat Islam. Hal ini dilakukan dengan mengubahide-ide rusak yang ada menjadi ide-ide Islam, sehingga ide-ide ini menjadi opini umum di tengah masyarakat serta menjadi persepsi bagi umat. Selanjutnya persepsi ini akan mendorong umat untuk merealisasikan dan menerapkannya sesuai denga tuntutan Islam. Dan juga dengan mengubah perasaan yang dimiliki anggota masyarakat menjadi perasaan Islam yakni ridla terhadap apa yang diridlai Allah, marah dan benci terhadap apa yang dimurkai dan dibenci oleh Allah serta mengubah hubungan / interaksiyang ada dalam masyarakat menjadi hubungan / interaksi yang islami, yang berjalan sesuai dengan hokum-hukum Islam dan pemecahan-pemecahannya

.           Metode yang ditempuh Hizbut Tahrir dalam mengemban dakwah adalah hukum-hukum syara’, yang diambil dari thariqah (metode) dakwah Rasulullah SAW, sebab thariqah itu wajib diikuti sebagimana firman Allah SWT;

            “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah (dengan membaca dzikir dan mengingat Allah)”. (Q.S. Al-Ahzab; 21)

“Katakanlah; “Jika kalian (benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian”. (Q.S. Ali Imran; 31)

“Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian, maka ambilah, dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah”. (Q.S. Al-Hasyr; 7)

Dan banyak lagi ayat lain yang menunjukkan wajibanya mengikuti perjalanan dakwah Rasulullah SAW, menjadikan beliau suri teladan, dan mengambil ketentuan hukum dari beliau.

Berhubung kaum muslimin saat ini hidup di Darul Kufur karena diterapkan atas mereka hukum-hukum kufur yang tidak diturunkan Allah SWT maka keadaan negeri mereka serupa dengan Makkah ketika Rasulullah SAW diutus menyampaikan risalah Islam. Untuk itu fase Makkah wajib dijadikan sebagai tempat berpijak dalam mengemban dakwah dan mensuriteladani Rasulullah SAW.

Berdasarkan sirah Rasulullah SAW tersebut Hizbut Tahrir menerapkan metode perjalanan dakwahnya dalam 3 (tiga) tahapan berikut :

Pertama, Tahapan pembinaan dan pengkaderan (Marhalah At Tasqif), yang dilaksanakan untuk membentuk kader-kader yang memercayai pemikiran dan metode Hizbut Tahrir , dalam rangka pembentukan kerangka tubuh partai.

Kedua, tahapan berinteraksi dengan Umat (Marhalah Tafa’ut Ma’a al Ummah), yang dilaksanakan agar umat turut memikul kewajiban dakwah Islam, hingga umat menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya, agar umat berjuang untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan.

Ketiga. Tahapan pengambilalihan kekuasaan (Marhalah Istilaam al Hukum), yang dilaksanakan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

            Hizbut Tahrir menenrima keanggotaan setiap orang Islam, baik perempuan maupun laki-laki, tanpa memperhatikan lagi apakah mereka keturunan Arab atau bukan, berkulit putih ataupun hitam. Hizbut Tahrir adalah sebuah partai untuk seluruh kaum muslimin dan menyeru mereka untuk mengemban dakwah Islam serta mengambil dan menetapkan seluruh aturan-aturan Islam, tanpa memandang lagi kebangsaan, warna kulit, maupun madzhab. Hizbut Tahrir melihat semuanya dari pandangan Islam.

            Cara mengikat individu-individu ke dalam Hizbut Tahrir adalah dengan memeluk Aqidah Islamiyah, matang dalam Tsaqafah Hizbut Tahrir, serta mengambil dan menetapkan ide-ide dan pendapat-pendapat Hizbut Tahrir. Umat sendiri yang mengharuskan dirinya menjadi anggota Hizbut tahrir, setelah sebelumnya melibatkan dirinya dengan Hizbut Tahrir. Ketika dakwah telah berinteraksi dengan “umat” dan ketika “umat” telah mengambil dan menetapkan ide-ide serta persepsi-persepsi Hizbut Tahrir. Jadi ikatan yang dapat mengikat anggota Hizbut Tahrir adalah Aqidah Isdlamiyah dan Tsaqafah Hizbut Tahrir yang terlahir dari Aqidah Islamiyah. Halaqoh-halaqoh (pembinaan) perempuan dalam Hizbut Tahrir terpisah dengan halaqoh laki-laki. Yang memimpin halaqoh-halaqoh perempuan adalah para suami, maharamnya atau para perempuan lagi yang lebih senior.

.Stuktur Organisasi Hizbut Tahrir Indonesia

            Hizbut Tahrir Indonesia memiliki struktur organisasi sebagai berikut :

Ketua DPP (Dewan Pimpinan Pusat) ; terdiri dari 10 (sepuluh) orang, diantaranya adalah; KH. Muhammad al-khaththah, KH. Hafidz Abdurrahman, Muhammad Anwar Iman, dan Farid Wadjdi.

Departemen-departemen dalam organisasi Hizbut Tahrir disebut dengan Lajnah, terdiri dari :

  1. Lajnah Shakofiyyah (Pengkajian Islam)  
  2. Lajnah Siyasiyyah (Politik)
  3. Lajnah I’lamiyyah (media)
  4. Lajnah Maslahiyyah (Pengkajian Kebutuhan-kebutuhan Publik)
  5. Lajnah Fa’aliyyah (Suatu departemen yang akan bekerja ketika diberikan tugas)

Dan seorang juru bicara organisasi yang bernama; H. Muhammad Ismail Yusanto.

            Transformasi kesadaran dikalangan laki-laki umat Islam Indonesia akan pentingnya jati diri umat Islam dan membebaskannya dari serbuan pemikiran Barat yang senantiasa memusuhi Islam dan mampu meweujudkan cita-cita untuk mendirikan negara Khilafah seperti yang senantiasa didengungkan oleh Hizbut Tahrir khususnya Hizbut tahrir Indonesia, turut pula mewarnai pemikiran kaum perempuan Islam Indonesia dan memicu perempuan Islam untuk turut aktif berjuang bersama kaum laki-laki Islam. Pada umumnya, kesadaran seperti itu lahir dari kalangan perempuan Islam yang sudah menjadi simpatisan, anggota dan kader gerakan organisasi massa Islam, namun menginginkan untuk membentuk wadah sendiri, dimana wadah tersebut hanya “dihuni” oleh komunitasnya agar lebih leluasa dalam mengaktualisasikan peranannya, inisiatif tersebut mendapat respon yang baik dari para pemimpin organisasi.

Getaran dari berbagai irama yang bergolak dikalangan perempuan pasti dirasakan pula oleh perempuan Islam Indonesia umumnya, dan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) khususnya. Banyaknya tantangan di luar organisasi khususnya dalam berdakwah bagi kalangan perempuan Islam, setidaknya MHTI membutuhkan ruang yang lebih leluasa untuk menjalankan aktivitasnya. Sulit menggambarkan dan membayangkan bagaimana gigihnya para Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia dalam menjalankan aktivitas dakwahnya kepada kaum perempuan di Indonesia untuk menyampaikan kebenaran Islam akan perlunya untuk mendidirikan Negara Khilafah.

Setelah melalui berbagai perjuangan, termasuk perjuangan berat di dalam intern organisasi Hizbut Tahrir Indonesia agar pimimpin HTI melihat kesungguhan dan sepak terjang para kader Muslimahnya dalam medan dakwah, akhirnya pada akhir tahun 2000-an “haluan” Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia sampai kepada muara terbentuknya badan otonom HTI yang bernama Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia dengan sebutan sinonim MHTI, yang Insya Allah diberkahi Allah. Struktur organisasi MHTI ini tidak ada bedanya dengan stuktur organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yaitu dari pusat ke daerah. Meskipun pertanggungjawaban tetap harus disampaikan ke Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia.

Sebagai wadah perjuangan dan pengabdian perempuan Islam Hizbut Tahrir Indonesia, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia bertujuan melaksanakan tujuan Hizbut Tahrir dikalanngan perempuan untuk melaksanakan syariat Islam menurut haluan Hizbut Tahrir, dan berjuang mewujudkan negara khilafah sebagai tujuan dibentuknya Hizbut Tahrir. Selain itu, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia juga bertujuan membawa perempuan Indonesia ke arah kesadaran beragama, berbangsa, dan bernegara, serta menyadarkan perempuan perempuan Indonesia umumnya dan perempuan Islam Indonesia khususnya akan hak dan kewajibannya sesuai dengan syariat Islam, baik sebagai pribadi maupun anggota masyarakat.

Sejak awal berdirinya, komitmen Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia terhadap berbagai masalah yang berhubungan dengan misi dan visi berdirinya Hizbut Tahrir, yaitu tegaknya negara Khilafah senantiasa menjadi prioritas utama. Karena apabila negara Khilafah telah tegak, maka semua urusan kemanusian  yaitu sosial dan politik akan berjalan dengan benar dan baik, sehingga seluruh manusia akan merasakan kesejahteraan baik lahir maupun bathin.

            Kebanyakannya, organisasi perempuan Islam Indonesia selama ini masih bergiat dalam wilayah yang berciri khas “keperempuanan” seperti sosial dan pendidikan. Namun, tidak demikian dengan yang terjadi di “tubuh” Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, sebagai organisasi perempuan Islam Indonesia otonom Hizbut Tahrir Indonesia memiliki ciri khas, sifat, dan tujuan didirikannya Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia.

            Sebagaimana organisasi induknya, HTI, maka ciri khas Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia adalah keterikatannya pada syariat Islam dan tradisi keagamaan yang spesifik yaitu Islam Kaafah, yang menurut pemahaman anggota Hizbut Tahrir yang mendunia adalah Islam yang sesungguhnya, yaitu Islam yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah Rasulullah Muhammad saw. Paham inilah yang kemudian menyatukan seluruh komponen organisasi, baik pengurus, kader, anggota, pendukung, simpatisan, maupun masyarakat yang dilayani. Tradisi keagamaan ini kemudian menjadi identitas komunitas dengan jamaahnya. Salah satu ciri khas yang menonjol dari aspek ini adalah apa yang kemudian disebut dengan “bahasa agama”. Banyak contoh kesenjangan masyarakat dengan percepatan modernisasi (pembangunan) gaya Barat yang mengakibatkan dampak yang sangat besar, yaitu kemiskinan dan kebodohan yang semakin menjauhkan masyarakat dari keterikatannya kepada agama dan Allah SWT Allah Tuhan Maha Pencipta. Karena masyarakat yang terlindas kemiskinan hanya mencari kehdupan dan penghidupan ekonomi sementara semata, dan kemudian memerlukan penyesuaian cara pandang mengenai suatu persoalan, justru dapat dikomunikasikan dengan baik dikalangan jama’ah melalui “bahasa agama” ini. Sehingga jamaah Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia memiliki kesadaran tertentu mengenai issu-issu tertentu menuju proses penyadaran masyarakat. Bagi para pengurusnya paham Islam Kaafah ini menjadi spirit perjuangan untuk mencapai cita-cita organisasi.

            Spirit yang berlandaskan pada paham keagamaan seolah-olah menyediakan ruh yang tidak habis-habisnya, untuk memperjuangkan terwujudnya negara Khilafah sehingga umat yang ada didalamnya merasakan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian yang diridlai Allah SWT. Spirit ini-lah yang juga membangkitkan kaum Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia di semua jajaran, keluar dari “keterbatasan budayanya” untuk turut beramal demi umat yang “dipandunya”, baik itu kaum perempuan, ibu, anak-anak, dan kaum dhuafa (orang-orang tidak mampu). Jadi, dibalik seluruh aktifitas organisasi, hal itu adalah ibadah yang mengaktualisasikan sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai Islam Kaafah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah Rasulullah Muhammad saw. Ciri khas lainya, adalah ketersediaan jaringan keagamaan baik intern yang berbentuk sel-sel, dan ekstern bagi masyarakat yang berbentuk majelis taklim bagi semua golongan, yang menyajikan materi bukan hanya bercirikan keperempuanan semata seperti masak-memasak. Namun, masyarakat diajak untuk memahami kondisi kekinian baik masalah sosial, ekonomi, politik, budaya, bahkan sampai masalah pertahanan dan keamanan negara, secara tradisi pemikiran keislaman yang diyakini oleh MHTI menjadi basis kekuatan MHTI. Majelis Taklim ini menjadi salah satu pintu masuk gerakan perjuangan terwujudnya negara Khilafah yang mendunia.  

            Setiap organisasi perempuan Islam ini memiliki ciri khas masing-masing, seperti Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia adalah organisasi perempuan yang beridentitaskan dan mengusung nilai-nilai Islam Kaafah. Sehingga ciri khas ini sangat mewarnai seluruh aktivitas yang dilakukan oleh para aktivisnya. Kepatahun terhadap pimpinan juga ciri khas lain yang tidak akan pernah untuk dilepaskan, disebabkan kepatuhan kepada pimpinan bagi MHTI adalah bagian dari keyakinan. Bahkan dikarenakan kepatuhan tersebut meskipun Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia sudah mampu dan dibebaskan dalam membuat program-programnya sendiri akan tetapi secara formalitas para pengurus MHTI tetap harus meminta izin kepada para pimpinan di Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

            Dalam kerangka sejarah perjalanan keberadaan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, MHTI tidak pernah terpisahkan dari HTI, bukan hanya disebabkan MHTI adalah bagian atau organisasi perempuan otonom HTI. Namun, yang terpenting MHTI memiliki sejarah tradisi keyakinan yang melekat kuat sehingga mampu membumikan keyakinannya dalam bentuk-bentuk aplikasi kehidupan sosial.

            Sesungguhnya alur konseptual perubahan dimulai dari ruang dalam dari sebuah bangunan kultural di mana nilai menjadi sentral. Pada setiap fenomena budaya, terdapat sejumlah kerangka berpikir yang mendasari perilaku budaya tertentu. Adapun konfirmasi legitimasi atas kerangka berpikir tersebut adalah apa yang dikenal sebagai nilai budaya. Dari sini pula dilahirkan seperangkat nilai dan norma, prinsip atu doktrin yang disarikan dari ajaran yang diyakini.

            Dengan cara bedah kebudayaan model integritas ini-lah, HTI dipetakan. Ada doktrin yang dipandang menjadi konfirmasi legitimasi bagi setiap pandangan, orientasi, dan perilaku HTI. Semuanya itu bersifat “ajeg” tetapi mengejewantah dalam sejumlah perilaku yang tidak bisa tidak dipengaruhi oleh lingkungan. Namun, realitas sejarah tetaplah sebuah kompleksitas. Ada sejumlah dimensi yang membentuknya. Dan, seperti halnya sebuah penjelajahan dunia empiris, maka titik berdiri harus ditentukan.

            HTI, adalah sebuah titik dalam arus sejarah, yang kemudian terlibat, melibatkan diri, dan bahkan dilibatkan dalam serangkaian proses yang membuatnya tidak bisa tidak harus terus melahirkan respon-respon zaman. Waktu adalah manifestasi historis yang melahirkan sekian aksi dan reaksi, dimensi subjektif dan dimensi objektif, challenge dan response, atau tantangan dan jawaban. Keduanya terus tarik menarik dan melahirkan sejumlah sintesa yang kemudian terurai kembali membentuk sebuah kontinum perkembangan. Dari dasar pemikiran ini-lah, tradisi, nilai-nilai, dan budaya politik HTI dibentuk dan yang selama ini menjadi landasan berpijak para insan Khalifah fil Ardl dalam berpartisipasi politik.

            Sehingga ketika menyatakan bahwa setting Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia adalah HIT, demikian pula dengan tradisi politik Muslimah HTI tentu saja tradisi yang senantiasa dilakukan oleh HTI, partisipasi politik MHTI tentunya akan bergulir mengikuti arus yang dimainkan HTI. Meneropong tradisi politik MHTI sama saja dengan meneropong tradisi politik HTI. Dalam sejarah perjalanannya, HT umumnya dan HTI khususnya memiliki begitu banyak warna semenjak dilahirkan sampai akhir periode runtuhnya rezim orde baru yang diwarnai hiruk pikuk “euforia” dalam aktivitas politik warga negara yang berhasil melahirkan ratusan partai termasuk HTI yang secara legal negara termasuk dalam organisasi massa namun secara terang-terangan ‘mengaku’ sebuah partai politik.

            Sedangkan untuk kepentingan operasionalisasi prinsip-prinsip keyakinan secara tradisi keagamaan yang dipegang oleh HTI dirumuskan melalui norma-norma organisasi yang sekaligus menjadi ciri khas HTI dalam menjalankan kiprahnya di tengah-tengah masyarakat, bangsa, dan negara, bahkan dunia, yaitu; amar ma’ruf nahi munkar, dan juga seperti yang tertera dala al-Quran Surat Ali-Imran ; 104 ; “Dan hendaklah ada diantara kalian segolongan umat (jamaah) yang menyeru kepada kebaikan, yaitu memeluk Islam, dan memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar. Mereka-lah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali-Imran; 104) Norma-norma ini-lah yang melandasi semua aktivitas warga Hizbut Tahrir di seluruh dunia dan khususnya Hizbut Tahrir Indonesia di Indonesia di masyarakat, ditambah pula dengan firman Allah sebagai landasan dan metode untuk berdakwah, yaitu; “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari kiamat, dan dia banyak menyebut Allah (dengan membaca dzikir dan mengingat Allah)”. (QS. Al-Ahzab; 21)

“katakanlah; “jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian”. (QS. Ali-Imran; 31)

“Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian, maka ambillah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah”. (QS. Al-Hasyr; 7). Tradisi politik dan ruh keagamaan ini-lah yang kemudian menjadi identitas komunitas dengan jamaahnya.

            Misi dan visi Hizbut Tahrir, yaitu mewujudkan negara khilafah yang mengesankan sikap dan sifat sebagai organisasi massa Islam yang fundamentalis secara tersirat telah memberikan legitimasi kepada negara dimana HT itu hadir dan beraktivitas, bahwa negara diwajibkan untuk merubah haluan seperti yang dicita-citakan oleh Hizbut Tahrir khususnya Hizbut Tahrir Indonesia, setidakanya memperlihatkan bagaimana sesungguhnya Hizbut Tahrir dimana-pun ‘ia’ berada telah memiliki inters kekuasaan. Oleh sebab itu Hizbut Tahrir khususnya Hizbut Tahrir Indonesia memiliki alasan kuat untuk menentang pemerintahan meskipun itu terpilih berdasarkan pilihan mayoritas umat, apabila belum berjalan dalam rel syariah Islam yang HTI yakini kebenarannya. Tradisi keberagamaan seperti ini melahirkan pandangan kemasyarakatan (kebangsaan / kenegaraan) yang sangat hitam – putih.

            Untuk melacak akar tradisi politik Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia yang notabene adalah tradisi politik HTI, latar belakang keagamaan seperti disebutkan  perlu mendapat catatan tersendiri, karena justru disinilah pemikiran serta perilaku politik yang diperankannya bersumber. Pola perilaku reaktif terhadap pembaruan Islam yang dikembangkan kelompok Islam moderat, umpamanya, ternyata menjadi ciri penting yang mewarnai perjalanan aktivitas politik HTI sebagai organisasi massa Islam dengan setting partai politik selanjutnya yang tentunya didalamnya termasuk Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia sebagai organisasi perempuan otonom HTI. Pertentangan pemikiran yang awalnya bernuansa keagamaan, pada akhirnya memang tidak bisa dipisahkan dari nuansa politik yang tidak bisa dianggap kecil.

            Tradisi politik Hizbut Tahrir khususnya Hizbut Tahrir Indonesia yang senantiasa mengejawantah dalam setiap gerak anggota, kader, dan jamaahnya setidaknya telah mampu melahirkan dimensi baru dalam peta pemahaman ilmiah dan empiris dalam aktivitas politik perempuan Islam sebagai bagian dari jamaah yang memiliki kesamaan dalam visi dan misi. Yaitu dimensi budaya politik subjektif yang secara dialektis telah melahirkan pilihan model dalam aktivitas politik dengan simbol keagamaan yang terbentuk dikarenakan latar keagamaan yang ‘kental’ dimana HT menyebutnya dengan “Islam Kaafah” yang sampai saat ini melekat kuat dalam jiwa-jiwa jamaah Hizbut Tahrir yang mendunia.

            Program-program yang dimiliki oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia khusunya MHTI kota Bandung fokusnya tidak berbeda dengan MHTI diseluruh kota di Indonesia. Keseragaman ini dikhawatirkan akan memunculkan dampak bahwa sebenarnya Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia hanya-lah organisasi perempuan Islam yang besar karena nama bukan karena peran-nya yang besar di masyarakat. Sekali lagi program dan kegiatan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia kota Bandung tidak berbeda dengan bidang garapan (di HTI disebut dengan Lajnah) yang telah ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia, yaitu tetap berkonsentrasi pada dakwah untuk menyampaikan misi dan visi Hizbut Tahrir yaitu menegakkan negara Khilafah. Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia kota Bandung telah berusaha dengan sungguh-sungguh dan kontinyu untuk melaksanakan dengan benar dan baik setiap program-programnya. Kegiatan ini senantiasa melibatkan seluruh komponen seperti jajaran pengurus MHTI di wilayah, cabang, bahkan sampai ke anggota dan kader MHTI yang dibagi dalam kelompok-kelompok yang berbentuk sel-sel serta seluruh lapisan masyarakat yang bukan hanya berasal dari jamaah Hizbut Tahrir. Adapun model kegiatan yang telah dilaksanakan, adalah :

  1. Kegiatan pengajian rutin yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat baik jamaah MHTI maupun simpatisan, pengajian yang diadakan ini ada yang mingguan, bulanan, dan pengajian yang diadakan untuk memperingati hari besar Islam, misalnya Isra Mi’raj, terkadang bekerjasama dengan organisasi perempuan Islam yang lain atau majelis taklim ibu-ibu dan remaja perempuan.
  2. Workshop bagi seluruh organisasi perempuan Islam yang ada di kota Bandung khususnya dan bahkan bagi seluruh Jawa Barat, seperti yang pernah diadakan pada Ahad, 28 juni 2009 dengan nama : Workshop Tokoh Muslimah Jawa Barat untuk Syari’ah dan Khilafah, dengan Tema; “Tokoh Muslimah Jawa Barat Bersatu Melawan Arus Liberalisasi Keluarga Menuju Tegaknya Syari’ah dan Khilafah”.
  3. Muslimah National Conference, yang diselenggarakan pada Kamis 18 Desember 2008 di kota Bogor Jawa Barat, dengan tema; “Menuju Indonesia Besar, Kuat dan Terdepan dalam Naungan Khilafah” dan sub tema; “Selamatkan Indonesia dari Kemiskinan menuju Kesejahteraan dengan Khilafah”.
  4. Halqah Islam dan Peradaban; Menuju Rahmat untuk Semua. Yang bekerjasama dengan Hizbut Tahrir Jawa Barat diselenggarakan pada Ahad, 25 Januari 2009. Dengan judul; “Israel Membantai Kaum Muslim di Palestina; Dimana Tentara Kaum Muslim ?
  5. Seminar sekaligus bedah buku yang berjudul; “MANIFESTO HIZBUT TAHRIR UNTUK INDONESIA; Indonesia, Khilafah, dan Penyatuan Kembali Dunia Islam”   

            Sesungguhnya model pembinaan (halaqoh) dalam MHTI bagi anggota awalnya adalah dirinya sendiri-lah yang mengharuskan menjadi anggota Hizbut Tahrir, setelah sebelumnya ia melibatkan dirinya dengan Hizbut Tahrir, dan telah mengambil serta menetapkan ide-ide dan persepsi-persepsi Hizbut tahrir. Jadi ikatan yang dapat mengikat anggota Hizbut Tahrir adalah Aqidah Islamiyah dan Tsaqafah Hizbut Tahrir yang terlahir dari aqidah. Halaqoh-halaqoh (pembinaan) perempuan dalam Hizbut Tahrir terpisah dengan halaqoh laki-laki. Yang memimpin halaqoh-halaqoh pertempuan adalah para suami, mahramnya, atau para perempuan yang lebih senior secara keanggotaan dan tentunya keilmuan.

            Model pembinaan dalam MHTI adalah metode dakwah Hizbut Tahrir itu sendiri, karena berdasarkan sirah Rasulullah Muhammad saw, Hizbut Tahrir, dan tentunya MHTI menetapkannya dalam 3 (tiga) tahapan ; Pertama, Tahapan pembinaan dan pengkaderan (Marhalah At-Tatsqif), yang dilaksanakan untuk membentuk kader-kader yang memepercayai pemikiran dan metode Hizbut Tahrir, dalam rangka pembentukan kerangka tubuh partai. Kedua, Tahapan berinteraksi dengan umat (Marhalah Tafa’ul Ma’a Al-Ummah), yang dilaksanakan agar umat turut memikul kewajiban dakwah Islam, hingga umat menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya dan agar umat berjuang untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan. Ke tiga, Tahapan pengambilalihan kekuasaan  (Marhalah Istilaam Al Hukum), yang dilaksanakan untuk menerapkan Islam secara menyeleruh dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

 Gerakan Tandingan Feminisme; Respon Muslimah Hizbut Tahrir

 Kota Bandung

            Ciri khas dan karakteristik Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia khususnya kota Bandung tidak ada bedanya dengan ciri khas MHTI yang ada di daerah lain bahkan Muslimah Hizbut Tahrir (MHT) di seluruh dunia. Kepatahun terhadap pimpinan atau Amir HT menyebutnya merupakan cerminan tertinggi dari seluruh komunitas Muslimah Hizbut Tahrir. Meskipun mereka telah mengenyam pendidikan sampai strata tertinggi dan mendapat ilmu dari para cendekiawan Muslim yang berbeda, dan tentunya bergiat di wilayah publik, namun ciri khas sebagai Muslimah Hizbut tahrir yang beraliran keislaman yang “khas” yang kental tetap mewarnai dalam setiap aktivitasnya.

            Misi dan visi Hizbut Tahrir telah mengantarkan MHTI khususnya kota Bandung berpartisipasi di wilayah politik karena politik adalah bagian dari aktivitas Dakwah yang harus terus menerus senantiasa diperjuangjkan. Terlebih semua program dan kegiatan HT dan tentunya Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia khususnya kota Bandung secara keseluruhan adalah kegiatan yang bersifat politik, baik sebelum maupun sesudah mengambilalih pemerintahan (melalui umat), dan tentunya memiliki landasan yang sama yang berasal dari al-Qur’an, yaitu;

            “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Aku berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Aku beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (QS. An-Nahl; 97)

            Menelusuri benang merah perjalanan sebuah organisasi terlebih “ia” adalah organisasi perempuan Islam yang menyebut diri-nya sebagai partai politik yang bersifat “mendunia” bukan-lah pekerjaan yang mudah. Namun, kenyataan harus tetap digambarkan dengan sejelas-jelasnya. Sebagai organisasi perempuan Islam yang sangat kuat memegang nilai-nilai Islam yang menyebutnya dengan “Kaafah”, tentunya akan berusaha mengaplikasikan semua pemahaman tersebut dalam kehidupan sosial-nya. Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia memang organisasi perempuan Islam dan sekaligus partai politik namun benang merah sejarah perjalanan Hizbut Tahrir umumnya dan Hizbut Tahrir Indonesia khususnya sebagai organisasi induk MHTI khususnya kota Bandung tentu sangat sarat dengan warna politik bahkan politik adalah tujuan organisasinya. Sehingga bukan suatu hal yang mustahil apabila Hizbut Tahrir umumnya dan Hizbut Tahrir Indonesia khususnya termasuk didalamnya Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia kota Bandung memiliki pandangan tersendiri dalam wilayah keagamaannya yang berhubungan dengan aktivitas perempuan Islam di wilayah publik dan pandangannya terhadap gerakan feminis sebagai gerakan yang harus mendapat perlawanan.

            Disini-lah peran Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia Khususnya kota Bandung sebagai organisasi perempuan Islam yang memiliki ciri khas sebagai partai politik harus dapat dibuktikan, bahwa Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia khususnya kota Bandung mampu memegang berbagai peran baik di wilayah domestik sebagai seorang anak perempuan yang shaleh, seorang ibu dan tentunya seorang isteri, maupun di wilayah publik yang memiliki tanggung jawab sosial untuk bisa mengeksploitasi kemampuannya bukan hanya sebagai seorang da’iyah Hizbut Tahrir namun yang lebih penting Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia khususnya kota Bandung mampu membuktikan kepiawiannya di semua wilayah publik.

            Akhirnya respon Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia khususnya kota Bandung terhadap sepak terjang feminisme sebagai gerakan, aliran, sekaligus pemikiran yang saat ini sangat “diminati” oleh perempuan Islam Indonesia modern, yang dianggap oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia kota Bandung sebagai produk Barat yang menyesatkan  harus-lah dapat dibuktikan, karena kedua-nya adalah gerakan perempuan yang sama-sama memperjuangkan perempuan untuk menuju ke arah yang lebih baik !!!       

Realitas Gerakan Feminisme 

            Feminisme yang dimaksud di sini, menurut Andriyani dan Aquarini P. Prabasmoro (2000; 141-147) dapat berarti gerakan maupun keseluruhan pemikiran feminis  (body of thought). Reaksi penolakan yang selalu muncul ketika membahas feminisme, adalah bahwa feminisme datang dari Barat, anti laki-laki, pendukung seks bebas, dan lesbianisme. Alergi dan perlawanan seperti itu tidak hanya menyerang laki-laki, tetapi juga perermpuan, orang-orang yang “berpengetahuan” dan tidak. Termasuk didalamnya adalah reaksi dan perlawanan yang sangat hebat yang “dilancarakan” oleh kader Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia khusunya kota Bandung, salah satunya seperti yang disampaikan oleh Latifah Musa (2003; 26-27), hadirnya feminisme dengan ragam tafsirnya tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang perjuangan kaum perempuan Barat dalam menuntut kebebasannya. Ide pembebasan ini muncul sebagai respon dari ketidakberhasilan sistem kapitalisme dan sosialisme dalam mengayomi masyarakatnya, terlebih kaum perempuan. Ketimpangan-ketimpangan yang terjadi akibat kedua sistem tersebut memicu dan menumbuhsuburkan isu penindasan dan pelecehan hak-hak perempuan.

            Di sisi lain para pemikir Muslim, yang aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia khususnya kota Bandung menyebutnya sebagai pemikir Muslim Liberal memberikan argumennya yang tentunya berlawanan dengan apa yang disampaikan oleh aktivis MHTI Latifah Musa. Budhy Munawar-Rachman (1996; 201-204) menyampaikan pendapatnya, istilah “feminisme” atau tepatnya gerakan yang sekarang disebut dengan feminisme – di dunia Islam boleh jadi sudah dikenal sejak awal abad ini. Misalnya lewat pemikiran-pemikiran Aisyah Taymuriyah, penulis dan penyair Mesir; Zaynab Fawwaz, esais Libanon; Rokeya Sakhawat Hossain dan Nazar Sajjad Haydar. Termasuk RA. Kartini, Emilie Ruete dari Zanzibar, Taj al-Salthanah dari Iran, Huda Sya’rawi, malak Hifni Nasir – yang dikenalBahithat al-Badiyah – dan nabawiyah Musa dari Mesir, Fatme Aliye dari Turki. Semuanya adalah perintiperinyis besar dalam menumbuhkan kesadaran atas persoalan sensitif gender, termasuk dalam melawan kebudayaan dan ideologi masyarakat yang hendak mengurung kebebasan perempuan.

            Sebagai sebuah istilah yang telah mapan secara keilmuan, di Indonesia khususnya feminisme sudah dikenal sejak awal 1970-an. Terutama sejak tulisan-tulisan ilmiah tentang feminisme muncul di jurnal maupun surat kabar. Tapi, masih menurut Rachman (1996) sampai akhir 1980-an, masyarakat di Indonesia khususnya masih takut bahkan hanya mendengar istilah feminisme. Baru di dekade 1990-an istilah feminisme – dan selanjutnya Islam dan feminisme – bisa sedikit diterima di beberapa organisasi perempuan dengan sangat hati-hati tidak termasuk MHTI tentunya. Penerimaan ini khususnya sejak diterbitkannya beberpa buku terjemahan dari Riffat Hassan, fatima Mernissi, Amina Wadud dan Asghar Ali Engineer. Bersamaan dengan itu beberapa kalangan cendekiawan Muslim Indonesia mulai merintis usaha-usaha ijtihad baru, untuk mendapatkan penafsiran yang lebih adil dan sejajar dalam soal-soal issu-issu perempuan, seperti yang dilakukan Dr. Quraish Shihab, Dr. Nurcholis Madjid (alm), Djohan Effendi dan Jalaluddin Rakhmat.

            Sebenarnya, menurut Rachman (1996) feminisme Islam seperti halnya feminisme pada umumnya tidak muncul dari satu pemikiran teoritis dan gerakan yang tunggal yang berlaku bagi seluruh perempuan di seluruh negeri Islam. Secara umum feminisme Islam adalah alat analisis maupun gerakan yang selalu bersifat historis dan kontekstual sesuai dengan kesadaran baru yang berkembang dalam menjawab masalah-masalah perempuan yang aktual menyangkut ketidakadilan dan ketidaksedejatan. Apa yang khas dari feminisme Islam ini adalah dialog yang intensif antara prinsip-prinsip keadilan dan kesederajatan yang ada dalam teks-teks keagamaan Qur’an, Hadist, dan tradisi keagamaan, dengan realitas perlakuan terhadap terhadap perempuan yang ada atau hidup dalam masyarakat Muslim.

            Masih menurut Rachman (1996), feminisme sebagai alat analisis dapat menghadirkan kesadaran akan adanya penindasan dan pemerasan terhadap kaum perempuan di masayarakat, di tempat kerja dan di keluarga, yang seringkali disahkan dengan argumen-argumen yang diklaim bersifat keagamaan Dengan analisis feminisme yang disebut analisis gender diharapkan bisa muncul tindakan sadar oleh perempuan maupun laki-laki untuk mengubah kondisi tersebut, melalui empowerment atas diri kaum perempuan sendiri.

            Salah satu persoalan paling besar yang dibicarakan dalam feminisme Islam adalah soal “patriarkhi” yang oleh kaum feminis Islam sering dianggap sebagai asal-usul dari keseluruhan kecenderungan misoginis yaitu kebencian terhadap perempuan.. yang mendasari penulisan teks-teks keagamaan  yang bias kepentingan laki-laki., contohnya banyak ditemui dalam kitab-kitab fiqh perempuan yang boleh dfikatakan tidak pernah ditulis berdasarkan pengalaman dan penghayatan keagamaan perempuan sendiri.

E. KESIMPULAN DAN SARAN

 

Kesimpulan

            Pada keadaan yang sebenarnya, hasil dari penelitian ini, apabila diamati melalui berbagai dimensi dalam kerangka sebuah organisasi pertempuan Islam yang merupakan bagian dari organisasi massa yang dikelola oleh laki-laki, nampaknya masih terlihat dalam keadaan terus mencari bentuk, posisi, dan peran yang akan dimainkan di masyarakat. Profil utama yang dikedepankan oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) yang notabene adalah organisasi perempuan Islam otonom (meskipun MHTI tidak mau dimasukkan ke dalam kategori ormas, karena “ia” adalah partai politik), dari sebuah organisasi massa dunia yang bernama Hizbut Tahrir (HT) dan di Indonesia bernama Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

            Tidak mustahil dalam proses menuju tercapainya misi dan visi Hizbut Tahrir yaitu tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung. Setidaknya harus mampu mengkaji ulang apa yang telah dikerjakannya selama ini. Meskipun semenjak keberadaannya di Indonesia khususnya di kota Bandung Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung telah mampu merekrut masyarakat untuk menjadi kader, anggota, dan simpatisannya, kenyataannya, ternyata jumlah kader, anggota, dan simpatisannya yang apabila dibandingkan dengan organisasi perempuan Islam lainnya yang ada di kota Bandung bukan-lah yang terbanyak. Hal tersebut setidaknya harus mendapat perhatian lebih dari para pembina Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung dan para tokoh HTI.

            Selain itu, berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang telah ditemukan pada bab-bab terdahulu, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Feminisme, adalah sebuah gerakan tanpa batasan wilayah. Feminisme ada di barat dan juga Timur. Feminisme juga bukan hanya ada dalam budaya Barat, Feminisme ada dalam budaya Barat dan Timur. Feminisme yang dianggap sebagian orang “sangat menakutkan “, pada dasarnya yang terpenting adalah bukan namanya melainkan essensi yang ingin diperjuangkannya. Salah satunya adalah menghilangkan ketidakseimbangan relasi perempuan dan laki-laki.

Selama keberadaannya, Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung, memandang gerakan yang bertentangan dengan syariat Islam dan hukum Allah SWT adalah bathil dan haram hukumnya untuk diikuti, salah satunya adalah Feminisme. Dalam pandangan HTI dan tentunya pandangan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung memiliki kesamaan, bahwa dalam pemahaman MHTI semua produk Feminisme adalah haram diikuti karena Feminisme adalah produk dari peradaban dan kebudayaan Barat dan Barat adalah “musuh” Islam terbesar disebabkan Barat telah menghancurkan peradaban Islam secara terarah dan terus menerus sampai saat ini. Dalam Islam perspektif Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung, Islam tidak pernah “mengenal” Feminisme, terlebih dengan “mainstream” gendernya, lebih khususnya Keadilan dan Kesetaraan Gender (KKG) sebagai salah satu “produk” feminisme, yang dianggap oleh Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (MHTI) kota Bandung memiliki landasan, hakikat dan implementasi, yang bertentangan dengan Islam. Dan yang lebih pasti semua “produk” Feminisme akan menghancurkan tatanan keluarga Muslim yang oleh Islam telah sangat dimuliakan.

Saran          

            Feminisme dan keseluruhan aksinya, akan tetap ada dalam budaya Timur dan Barat, karena feminisme merupakan sebuah gerakan yang memiliki berbagi varian dan berbagai ragam pemikiran serta berbeda dalam latar belakang kehadirannya. Selain itu, feminisme memiliki pengikut yang sangat melimpah karena “ia” hadir di seluruh wilayah, dan seluruh negara di dunia. Feminisme juga memiliki misi dan visi setidaknya berusaha untuk membebaskan dan sekaligus memberikan perlindungan kepada kaum perempuan dan hak-haknya di masyarakat. Karenanya, memusuhi feminisme berarti “ia” berhadapan dengan seluruh komunitas pengikut feminisme di seluruh dunia. Yang terpenting, bagi gerakan organisasi perempuan yang berseberangan idealisme dan ideologi dengan feminisme adalah mampu memberikan pencerahan dan warna lain kepada gerakan perempuan tanpa batasan wilayah ini, sehingga feminisme akan hadir dengan “atribut” yang lebih dominan nuansa spitualitasnya.

            Dalam lingkup menjalankan akyivitas programnya, salah satunya adalah menlancarkan reaksi terhadap keberadaan feminisme, yang disebut sebagai jihad memeerangi musuh-musuh Allah karena feminisme adalah produk Barat yang dianggap MHTI kota Bandung mempunyai misi dan visi untuk menghancurkan akhlaq perempuan Islam ,merusak tatanan keluarga yang islami yang didalamnya mengandung nilai-nilai spiritualitas. Karenanya, MHTI kota Bandung sebagai salah satu gerakan organisasi perempuan sekaligus menamakan dirinya dengan partai politik Islamyang mengemban tugas sebagai da’iyyah sebaiknya memberikan reaksi dengan contoh yang lebih elegan, tanpa perlu memberikan tudingan secara kasar terhadap keberadaan feminisme sebagai gerakan yang diakuinya tanpa batasan wilayah. Masyarakat akan melihat sekaligus menilai hasil kerja nyata dari apa yang diperjuangkan oleh setiap gerakan perempuan di dunia khususnya di Indonesia.   

  DAFTAR PUSTAKA

 Ameli, Saied Reza, (2005); “Harapan-harapan Feminis dan Respon Perempuan Muslim”, dalam “Membela Perempuan ; Menakar Feminisme dengan Nalar Agama”, Jakarta, Al-Huda. Hal. 26-38 

 

Andriyani, Nori & Aquarini Priyatna Prabasmoro, (2000); “Refleksi Pemikiran Feminis”, dalam “Perempuan Indonesia Dalam Masyarakat yang Tengah Berubah”, Jakarta; Program Studi Kajian Wanita, Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Hal. 141-168

 

Bailey, Kenneth D. (1982); “Methods of Social Research”. New York; The Free Press

 

Bandura, Albert (ed), (1977); “Social Learning Theory”. N.J. Engleewoods Cliffs; Prentice Hill Inc.

 

Berger, Peter L. (1976);  “The Social Reality of Religion”. New York; Penguin Books.

 

Bogdan, Robert C. and Sari Knopp Biklen, 1992; “Qualitative Research for Education”. Boston; Allyn and Bacon

 

Soetjipto, Ani, (2000); “Pengaruh Konperensi Internasional PBB Tentang Perempuan Pada Kebijakan Pemerintah untuk Pemajuan Perempuan di Indonesia”, dalam “Perempuan Indonesia Dalam Masyarakat yang Tengah Berubah”, Jakarta; Program Studi Kajian Wanita, Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Hal. 59-80

 

Diarsi, Myra, (1994); “Feminisme Tidak Anti Terhadap Peran Ibu Rumah Tangga”, dalam “Ulumul Quran”, Jurnal Ilmu dan Kebudayaan, No. 5 dan 6, Vol. V; Jakarta; LSAF dan ICMI, hal. 32-40

 

Hafidz, Wardah, (1994); “Feminisme Seabagai Counter-Culture”, dalam “Ulumul Quran”, Jurnal Ilmu dan Kebudayaan, No. 5 dan 6, Vol.V; Jakarta; LSAF dan ICMI, hal. 3-4

 

Merton, Robert K. (1968); “Social Theory and Social Structure”. N.J. Englewood Cliffs; Prentice Hall Inc.

 

Moi, Toril, (1991) “Feminist, Female, and Feminine”, dalam Balsey, Catherine dan Jane Moore. “The Feminist Reader-Essays in Gender and the Politics of Literary Criticism”. Cambridge; Blackwell Publisher.

 

Moi, Toril, (1993). Feminist Theory and Simone de Beaufoir. Cambridge; Blackwell Publisher

 

Musa, Latifah, (2003). “Menggugat Metodologi Tafsir Feminis”, dalam Jurnal al-Wa’ie

No. 32 Tahun III, 1-30 April 2003. Jakarta. Hal. 26-30

 

Nazir, (1988), Metodologi Penelitian. Surabaya; Ghalia.

 

Parsons, Talcott, (1951), The Social System. New York; A Free Press Paperback. P.51

 

Rahman, Budhy Munawar, (1996), “Islam dan Feminisme; Dari Sentralisme kepada Kesetaraan”. Dalam Membincang Feminisme; Diskursus Gender Perspektif Islam. Surabaya; Risalah Gusti, hal.181-208

 

Ritzer, George & Douglas J. Goodman, (2004), “Teori Sosiologi Modern”, Jakarta, Prenada Media

 

Suryochondo, Sukanti, (1984), Potret Gerakan Wanita di Indonesia Jakarta; Rajawali Press.

 

Wallace, Rush A & Allison Wollf, (1986), Sociological Theory; Continuining the Classical Tradition. NJ. Englewoods; Pretice Hall Inc.

 

2)       Perspektif bukan hanya persepsi, tetapi juga pedoman yang mengarahkan persepsi. Dengan demikian, ia mempengaruhi gambaran  dan penjelasan mengenai masalah  yang sedang dikaji. Pada dasarnya, ia merupakan mengalih (bias) yang berisi asumsi, gagasan, nilai, atau tatanan dunia yang dipakai dengan cara tertentu dan menentukan tindakan pemakainya. Secara skematis, ia dapat digambarkan sebagai berikut :

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s