DAKHÎL AL-NAQLI DALAM ALQURAN DAN TAFSIRNYA DEPARTEMEN AGAMA RI EDISI 2004

DAKHÎL AL-NAQLI DALAM ALQURAN DAN TAFSIRNYA

DEPARTEMEN AGAMA RI EDISI 2004

 A.    ABSTRAKSI

Pengertian al-dakhîl dalam tafsir adalah; Penafsiran Alquran dengan al-ma’tsûr yang tidak sahih, penafsiran Alquran dengan al-ma’tsûr yang sahih tetapi tidak memenuhi syarat-syarat penerimaan atau penafsiran Alquran dengan pendapat yang salah.

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini ialah; kemungkinan keberadaan al-dakhîl al-naqli dalam sepuluh juz pertama Alquran dan Tafsirnya Departemen Agama RI Edisi 2004, bentuk dan faktornya. Kemungkinan itu dijaring dengan sembilan bentuk al-dakhîl naqli. Contoh cara kerja penelitian ini sebagai berikut; bila Alquran dan Tafsirnya merujuk hadis dalam menafsirkan ayat, maka diteliti kualitas kesahihannya. Bila data-data yang ditemukan menunjukkan bahwa hadis tersebut daif yang tidak layak dijadikan hujjah, maka tafsir dikategorikan sebagai dakhîl al-naqli pertama.

Setelah dilakukan penelitian dan pembahasan terhadap pokok permasalahan, ternyata dalam sepuluh juz pertama Alquran dan Tafsirnya Departemen Agama RI Edisi 2004 terdapat 16 (enam belas) tafsir dakhîl al-naqli.

 

  1. B.    PENDAHULUAN

 

Alquran adalah kitab suci yang agung, karena ia seperti disebut di dalamnya memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan paling akurat.

Karena keagungan Alquran inilah kaum muslimin sejak priode awal Islam hingga dewasa ini mencurahkan tenaga dan pikiran dalam rangka memahami dan menafsirkannya. Mereka telah menulis kitab tafsir dalam jumlah yang sangat besar. Setiap kitab tafsir mencerminkan pandangan penulisnya, dan dipengaruhi oleh mazhab yang dianutnya dan wawasan keilmuannya.

Alquran dan Tafsirnya Departemen Agama RItelah berulang kali dicetak dan diterbitkan oleh pemerintah maupun oleh kalangan penerbit swasta. Ini merupakan indikasi bahwa ia mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Dalam upaya menyediakan kebutuhan masyarakat di bidang pemahaman kitab suci Alquran, Departemen Agama telah melakukan upaya penyempurnaan tafsir Alquran yang bersifat menyeluruh.

Sekalipun para penyusun Alquran dan Tafsirnya dan tim penyempurnaannya adalah para pakar yang memiliki otoritas dalam bidang tafsir namun tidak tertutup kemungkinan bahwa di dalamnya terdapat kekeliruan (dakhîl).    

Landasan teoretis dalam penelitian ini adalah al-dakhîl, seperti yang ditulis oleh Prof. Dr. Ibrâhîm Khalîfah dalam karyanya al-Dakhîl fî al-Tafsîr. Diterbitkan oleh Dâr al-Bayân di Kairo Mesir tahun 1404 H. Teori al-dakhîl tersebut penulis beri beberapa penjelasan dengan merujuk beberapa buku keislaman.

Masalah yang dibahas dalam tulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut; Apakah dalam Alquran dan Tafsirnya  Departemen Agama RI Edisi 2004 ada al-dakhîl al-naqli?

Objek kajian penelitian ini dibatasi pada sepuluh juz pertama Alquran dan Tafsirnya  Departemen Agama RI Edisi 2004.

Tujuan penelitian ini adalah; Pertama, mengumpulkan data yang berkenaan dengan rumusan masalah. Kedua, mensosialisasikan salah satu disiplin ilmu yang relatif baru kepada umat Islam Indonesia, khususnya mahasiswa UIN, IAIN, STAIN dan PTAIS di Indonesia. Ketiga, menguji tesis yang menyatakan bahwa tafsir tidak lepas dari subjektivitas penafsirnya.

Berdasar data yang tersedia di Perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, ditemukan bahwa belum ada skripsi, tesis, dan disertasi di lembaga tersebut yang membahas al-dakhîl dalam Tafsir Departemen Agama RI. Bahkan belum ada skripsi, tesis, maupun disertasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang mengangkat al-dakhîl sebagai ilmu yang akan dibangun.

 

 

  1. C.    AL-DAKHÎL

 

Kata kerja yang terdiri dari huruf al-dâl, al-khâ dan al-lâm dengan penglafalan dakhila bermakna: bagian dalamnya rusak, dan ditimpa oleh kerusakan dan mengandung cacat.

Sedang al-dakhîl bermakna antara lain; a. orang yang berafîliasi kepada yang bukan komunitasnya, b. tamu, c. kata serapan, dan d. orang asing yang datang untuk tujuan eksploitasi. 

Pengertian al-dakhîl dalam tafsir adalah; Penafsiran Alquran dengan al-ma’tsûr yang tidak sahih, penafsiran Alquran dengan al-ma’tsûr yang sahih tetapi tidak memenuhi syarat-syarat penerimaan atau penafsiran Alquran dengan pendapat yang salah.

Unsur al-dakhîl dalam tafsir ada tiga, yaitu; Pertama, penafsiran Alquran dengan al-ma´tsûr (riwayat) yang tidak sahih.

Faktor dakhîl pada unsur ini adalah sanad al-ma´tsûrKedua, penafsiran Alquran dengan al-ma´tsûr yang sahih tetapi tidak memenuhi syarat-syarat penerimaan. Faktor dakhîl pada unsur ini bukan sanad al-ma´tsûr, tetapi matannya. Ketiga, penafsiran Alquran dengan pendapat yang salah. Faktor dakhîl pada unsur ini bukan sanad al-ma´tsûr, bukan pula matannya, tetapi pendapat yang salah.

Bentuk ashîl al-naqli ada 7 (tujuh), yaitu sebagai berikut;

  1. Menafsirkan Alquran dengan Alquran.
  2. Menafsirkan Alquran dengan hadis yang layak dijadikan hujah.
  3. Menafsirkan Alquran dengan pendapat sahabat yang setara dengan hadis marfû`.
  4. Menafsirkan Alquran dengan hasil ijmak para sahabat atau tabii.
  5. Keempat bentuk ashîl al-naqli ini wajib diterima sebagai penafsir Alquran sesuai dengan urutannya, dengan syarat bentuk ashîl al-naqli yang manapun dari keempat bentuk ashîl al-naqli itu tidak kontradiktif dalam bentuk kontradiksi yang kontras dan tidak dapat dikompromikan dengan logika positif. Bila kontradiksi seperti ini terjadi maka ashîl al-naqli tersebut wajib ditakwil.
  6. Menafsirkan Alquran dengan pendapat sahabat yang kontradiktif dengan pendapat sahabat lain, tetapi kontradiksinya tidak kontras dan dapat dikompromikan dan ditarjih.
  7. Menafsirkan Alquran dengan pendapat sahabat yang tidak merupakan hasil ijmak sahabat dan tidak pula kontradiktif dengan pendapat sahabat lain.
  8. Menafsirkan Alquran dengan hadis mursal yang setara dengan hadis marfû´ dan yang mengutarakannya adalah termasuk salah seorang tokoh tafsir yang belajar kepada sahabat atau hadis mursal tersebut diperkuat oleh hadis mursal lain.

Tiga bentuk ashîl al-naqli yang terakhir ini tidak wajib diterima sebagai penafsir Alquran, tetapi hanya sekedar berada pada posisi layak dan rajih untuk diterima sebagai penafsir Alquran. Kelayakannya itu sepanjang tidak kontradiktif dalam bentuk kontradiksi yang kontras dan tidak dapat dikompromikan dengan logika, sekalipun hanya dengan logika asumtif dan bukan dengan logika positif. Bila kontradiksi seperti ini terjadi maka tiga bentuk ashîl al-naqli ini menjadi dakhîl al-naqli.

 

Bentuk dakhîl al-naqli ada 9 (sembilan), yaitu;

  1. Menafsirkan Alquran dengan hadis yang tidak layak dijadikan hujah. Seperti menafsirkan Alquran dengan hadis palsu dan daif.
  2. Menafsirkan Alquran dengan pendapat sahabat yang tidak valid, seperti menafsirkan Alquran dengan hadis mauqûf yang palsu atau sanad hadis mauqûf itu daif.
  3. Menafsirkan Alquran dengan pendapat sahabat yang matannya mengenai masalah-masalah yang berada di luar ruang lingkup nalar (suprarasional), sedang sahabat yang mengutarakannya adalah sahabat yang dikenal sebagai sahabat yang menjadikan Bani Israil sebagai sumber informasi dan pendapatnya itu berhubungan dengan Israiliyat. Pendapat sahabat ini dikelompokkan ke dakhîl al-naqli dengan sebuah syarat, yaitu; tidak adanya ayat Alquran atau hadis sahih yang sesuai dan senada dengannya. Sebaliknya, bila ada ayat Alquran atau hadis sahih yang sesuai dan senada dengan pendapat sahabat itu, maka pendapat sahabat itu tidak masuk ke dalam kelompok dakhîl al-naqli, tetapi masuk ke dalam kelompok ashîl al-naqli. Termasuk ke dalam bentuk dakhîl al-naqli yang ketiga ini; Israiliyat yang kontradiktif dengan Alquran dan hadis sahih, dan Israiliyat yang tidak sesuai dan senada dengan Alquran dan hadis sahih dan tidak pula kontradiktif dengannya, seperti Israiliyat yang matannya mengenai suatu masalah yang tidak diutarakan dan dijelaskan sedikitpun di dalam Alquran dan hadis sahih.
  4. Menafsirkan Alquran dengan pendapat sahabat yang kontradiktif dengan pendapat sahabat lain, sedang kontradiksinya sangat kontras yang tidak dapat dikompromikan dan ditarjih.
  5. Menafsirkan Alquran dengan pendapat tabii yang tidak valid, seperti menafsirkan Alquran dengan hadis mursal yang palsu atau sanad hadis mursal itu daif.
  6. Menafsirkan Alquran dengan hadis mursal yang matannya mengenai Israiliyat, sekalipun hadis mursal itu sesuai dan senada dengan Alquran dan hadis sahih, selama hadis mursal itu tidak diperkuat oleh sesuatu yang dapat mengangkat statusnya ke posisi hadis hasan li ghairih.
  7. Menafsirkan Alquran dengan salah satu bentuk ashîl al-naqli dari empat bentuk ashîl al-naqli pertama yang kontradiktif yang kontradiksinya sangat kontras dan tidak dapat dikompromikan dengan logika positif.
  8. Menafsirkan Alquran dengan salah satu bentuk ashîl al-naqli dari tiga bentuk ashîl al-naqli yang terakhir yang kontradiktif yang kontradiksinya sangat kontras dan tidak dapat dikompromikan dengan logika, sekalipun logika itu asumtif.
  9. Menafsirkan Alquran dengan salah satu bentuk ashîl al-naqli dari tujuh bentuk ashîl al-naqli yang kontradiktif yang kontradiksinya sangat kontras dan tidak dapat dikompromikan dengan bentuk ashîl al-naqli yang lebih kuat darinya.

 

Bila dalam menafsirkan suatu ayat tidak ditemukan salah satu dari empat bentuk tafsir bî al-ma´tsûr yang dapat dijadikan sebagai penafsirnya yaitu; Alquran, hadis sahih, pendapat sahabat dan tabiin yang valid, maka penafsirannya dilakukan dengan ijtihad (tafsir bî al-ra´yi). Ijtihad dilakukan setelah syarat-syaratnya terpenuhi. Kosakata dan susunan ayat ditafsirkan sesuai dengan makna literal yang mudah dipahami, selama tidak ada indikator yang mengindikasikan makna lain. Pengandaian adanya kata yang dibuang tidak dilakukan selama teks masih logis. Karena mengganggap kalimat sebagai kalimat yang utuh adalah lebih utama daripada pengandaian adanya bagiannya yang dibuang. Juga tidak memaknainya dengan makna majazi selama makna hakiki masih mungkin. Karena mengabaikan makna hakiki yang masih mungkin digunakan berarti mengabaikan dalil itu sendiri dengan tanpa dasar. Di samping itu klaim adanya bagian kalimat yang dibuang sedang makna kalimat sudah benar dan logis, atau memaknai kosakata dengan makna majazi sedang makna hakikinya masih mungkin digunakan adalah suatu bentuk pengingkaran total terhadap fungsi dan makna bahasa.

Sebaliknya bila ada indikator yang mengindikasikan ke arah itu, maka pengandaian adanya kata yang dibuang dan penggunaan makna metaforis dapat diterima dan dibenarkan. Dalam menafsirkan ayat (Dan datanglah Tuhanmu, sedang malaikat berbaris-baris) (al-Fajr, 22), ditafsirkan bahwa yang datang adalah kekuasaan dan perintah-Nya. Dalam menafsirkan ayat (Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada) (al-Hadîd, 4), ditafsirkan dengan makna metaforisnya yaitu ilmu dan kekuasaan-Nya senantiasa meliputi manusia.

 

Bentuk–bentuk dakhîl al-ra´yi ada 7 (tujuh), yaitu;

  1. Dakhîl karena faktor kesalahpahaman akibat kurang terpenuhinya (defisien) syarat-syarat ijtihad, tetapi penafsirannya didasari oleh niat yang baik.
  2. Dakhîl karena faktor pemutarbalikan logika dan pengabaian makna literal. Dakhîl karena faktor ini sering dilakukan oleh kelompok Mu’tazilah dan sebagian filosof muslim.
  3. Dakhîl karena faktor kekakuan dalam penggunaan makna literal dan pengabaian logika. Dakhîl karena faktor ini sering dilakukan oleh kelompok Musyabbihah dan Mujassimah.
  4. Dakhîl karena faktor pemaksaan dan ekstremitas dalam pengungkapan makna-makna filosofis yang mendalam. Dakhîl karena faktor ini sering dilakukan oleh kelompok sufi falsafi.
  5. Dakhîl karena faktor pemaksaan dalam menonjolkan kemampuan bahasa dan deklinasi. Dakhîl karena faktor ini sering dilakukan oleh sebagian ahli bahasa.
  6. Dakhîl faktor pengungkapan aspek-aspek mukjizat Alquran yang diada-adakan dan aneh, khususnya aspek ilmiahnya. Dakhîl karena faktor ini sering dilakukan oleh sebagian ilmuan yang menguasai ilmu-ilmu kontemporer.
  7. Dakhîl karena faktor pengingkaran terhadap ayat-ayat Alquran dan merusak Islam.

 

 

  1. D.    DAKHÎL AL-NAQLI DALAM ALQURAN DAN TAFSIRNYA DEPARTEMEN AGAMA RI EDISI 2004

 

  1. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-Baqarah ayat 73 adalah menggunakan hadis daif.
  2. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-Baqarah ayat 115 ialah; Pertama, menggunakan hadis daif. Kedua, menafsirkan tidak sesuai konteksnya.
  3. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-Baqarah ayat 186 adalah menggunakan hadis daif.
  4. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-Baqarah ayat 188 adalah menggunakan hadis daif.
  5. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-Baqarah ayat 221 ialah menjadikan kisah Martsad al-Ghanawi sebagai sebab turunnya ayat 221 surah al-Baqarah.
  6. Kekeliruannya yang lain pada ayat yang sama ialah menggunakan hadis daif.
  7. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-Baqarah ayat 231 ialah menggunakan hadis daif.
  8. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-Baqarah ayat 271 adalah manafsirkannya dengan hadis daif.
  9. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan Âli `Imrân ayat 185 adalah menggunakan hadis daif.
  10. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-Nisâ´ ayat 11 adalah menggunakan hadis daif.
  11. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-Nisâ´ ayat 54 adalah menggunakan hadis daif.
  12. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-An`âm Ayat 159  adalah menggunakan hadis daif.
  13. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-A`râf ayat 126 adalah menggunakan hadis daif.
  14. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-A`râf ayat 206 adalah menggunakan hadis daif.
  15. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya adalah manafsirkan al-Anfâl ayat 25 ialah menggunakan hadis hadis daif.
  16. Kekeliruan Alquran dan Tafsirnya dalam menafsirkan al-Taubah ayat 18 adalah manafsirkannya dengan hadis palsu.

  

  1. E.    KESIMPULAN DAN SARAN

 Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam sepuluh juz pertama Alquran dan Tafsirnya Departemen Agama RI Edisi 2004 terdapat enam belas dakhîl al-naqli. Perinciannya sebagai berikut;

  1. 14 (empat belas) tafsir karena menggunakan hadis daif, yaitu pada al-Bagarah ayat 73, 115, 186, 188, 221, 231, 271,  Âli `Imrân ayat 185, al-Nisâ´ ayat 11, 54, al-An`âm ayat 159, al-A`râf  ayat 126, 206, dan al-Anfâl ayat 25.
  2. 1 (satu) tafsir karena menggunakan hadis palsu, yaitu pada al-Taubah ayat 18.
  3. 1 (satu) tafsir karena menggunakan pendapat sahabat yang kontradiksi dengan hadis sahih, yaitu pada al-Baqarah ayat 221.

 

  1. Saran

Dari penjelasan di atas, penulis menyarankan sebagai berikut:

  1. Agar Alquran dan Tafsirnya Departemen Agama RI Edisi 2004 dapat diedit ulang dengan memperhatikan teori-teori al-dakhil sehingga terhindar dari kekeliruan.
  2. Mensosialisasikan dan mengajarkan al-dakhîl sebagai salah satu disiplin ilmu yang relatif baru kepada mahasiswa UIN, IAIN, STAIN dan PTAIS di Indonesia. Karena al-dakhîl dalam pengertian suatu disiplin ilmu yang mandiri dalam rumpun Ulûm al-Qurân baru disusun secara sistematis dan diajarkan di Al-Azhar Kairo Mesir pada sekitar tahun delapan puluhan. Pelopornya adalah Prof. Dr. Ibrahim Abdurrahman Khalifah, dengan karyanya al-Dakhîl Fî al-Tafsîr. Sampai saat ini –sepanjang pengetahuan penulis- al-dakhîl belum diajarkan di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dua lembaga perguruan tinggi Islam negeri tertua di Indonesia.

  

  1. F.     DAFTAR PUSTAKA

 Âbâdî, Muhammad Syams al-Haq al-`Azhîm, `Aun al-Ma´bûd, Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1415 H

`Abdul Baqî, Muhammad Fuad, al-Lu´lu´ wa al-Marjân, Riyad: Maktabah Dâr al-Salâm, 1994

`Abdul Wahhâb, `Abdullâh ibn Muhammad ibn, Mukhtashar Sîrah al-Rasûl, Riyad: Maktabah Dâr al-Salâm, 2000

Abu Syahbah, Muhammad ibn Muhammad, al-Isrâiliyât wa al-Maudhû`ât fî Kutub al-Tafsîr, Kairo: Maktabah al-Sunnah, 1408 H

Abu Zahrah, Muhammad, Ushûl al-Fiqh, Kairo: Dâr al-Fikr al-`Arabi, tth.

Abu Zahw, Muhammad ibn Muhammad, al-Hadîts wa al-Muhaddîtsûn, tt., al-Maktabah al-Taufiqiyah, tth.

Al-Albânî, Muhammad Nâshir al-Dîn, Silsilah al-Ahâdîts al-Dha`ifah wa al-Maudhû`ah wa Atsaruha al-Sayyi´ fî al-Ummah, Riyadh; Maktabah al-Ma`ârif, 1988

————-, Dha`if Sunan Ibnu Majah,  Riyadh; Maktabah al-Ma`ârif, 1987

————-, Dha`if Sunan al-Turmuzi, Riyadh; Maktabah al-Ma`ârif, 1987

————-, Shahîh Sunan Abî Dâwud, Riyadh; Maktabah al-Ma`ârif, 1988

al-Alûsi, Mahmûd Abu al-Fadhl, h al-Ma`âni, Beirut: Dâr Ihyâ al-Turâts al-`Arabi, tth.

Amîn, Ahmad, Fajr al-Islâm, Kairo: Mathba`ah Lajnah al-Ta`lîf wa al-Tarjamah wa al-Nasyr, 1933

Amin, Muhammad, Kualitas Asbâb al-Nuzûl Dalam Tafsir Al-Azhar, (manuskrip yang belum diterbitkan) Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 2007

Anîs, Ibrâhîm, Dr, Dilâlah  al-Alfâzh, Kairo: Maktabah al-Anjlo al-Mashriyah, 1980

al-Ashfahâni, al-Râghib, al-Mufradât Fî Gharîb Alqurân, Libanon: Dâr al-Ma’rifah, tth.

al-`Asqalâni, Ibnu Hajar, Ahmad ibn `Ali, Fath al-Bârî bi Syarh Shahîh al-Bukhâri, Beirut: Dâr al-Ma`rifah, 1379 H

————-, Kitâb Tahdzîb al-Tahdzîb,  Beirut: Dâr al-Fikr, 1995

————-, al-Ishâbah fî Tamyîz al-Shahâbah, Beirut: Dâr al-Jail, 1992

————-, Lisân al-Mîzân, Beirut; Dâr al-Fikr, 1993

al-`Awâri, `Abdullâh al-Syamandi `Abdullâh, Dirasât fî al-Tanbîh `ala mâ  fî al-Tafsîr min al-Dakhîl wa al-Isrâiliyât, Kairo: tp., 1997

al-Baidhâwi, `Abdullâh ibn `Umar, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta´wîl, Beirut: Dâr al-Fikr, 1996

al-Baihaqi, Ahmad ibn Husein ibn `Ali ibn Musa, Sunan al-Baihaqi al-Kubrâ, Makkah: Maktabah Dâr al-Bâz, 1994

Bukan Konflik Suni-Syiah, Tabloid Republika Dialog Jumat, Jakarta, 13 April 2007

al-Bukhâri, Abi `Abdillâh Muhammad ibn Isma`îl, Shahîh Bukhâri, Singapura: Sulaiman Marâ`i, tth.

al-Dârimi, `Abdullah ibn `Abdurrahmân Abu Muhammad, Sunan al-Dârimi, Beirut: Dâr al-Kitâb al-`Arabi, 1987

al-Dâyah, Fâyez, Dr., `Ilm al-Dilâlah al-`Arabi, Damaskus: Dâr al-Fikr, tth.

Departemen Agama RI, Alquran dan Tafsirnya (Edisi yang Disempurnakan), Jakarta: Departemen Agama RI, 2004

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1997

al-Dzahabi, Muhammad Husein, al-Isrâ´iliyât fî al-Tafsîr wa al-Hadîts, Kairo: Maktabah Wahbah, 1990

————, al-Tafsîr wa al-Mufassirûn, Kairo: Maktabah Wahbah, 1992

Al-Dzahabî, Abî `Abdullâh Muhammad ibn Ahmad ibn `Utsmân, Mizân al-I`tidâl fî Naqd al-Rijâl, ttp, Dâr al-Fikr, tt.

————, Siyar A`lâm al-Nubalâ, Beirut: Mu´assasah al-Risâlah, 1413 H

Fâyed, `Abdul Wahhâb `Abdul Wahhâb, al-Ahâdîts al-Maudhû`ah fî al-Tafsîr, Kairo, tp, 1980

al-Ghalâyaini, Mushthafâ, al-Syeikh, Jâmi` al-Durûs al-`Arabiyah, Beirut: al-Maktabah al-`Ashriyah, 1987

Ghalwâs, Mushthafâ, DR, al-Bu`d al-Râbi` fî Nazhariyah al-Ma`rifah, Kairo: Maktabah al-Azhar, 1985

al-Ghazâli, Abu Hamîd, al-Mustashfâ fî `Ilm  al-Ushûl, Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1997

————-,  al-Munqidz min al-Dhalâl, Damaskus, tpn., 1352 H

————-, al-Iqtishâd fî al-I`tiqâd, Kairo: tpn., 1327 H

al-Haitsami, `Ali ibn Abî Bakr, Majma` al-Zawâ´id, Kairo; Dâr al-Rayyân, 1407H

al-Hajjâj, Muslim ibn, al-Imâm, Shahîh Muslim, Kairo: al-Amîriyah, 1325 H

al-Hâkim, Muhammad ibn `Abdullâh, al-Naisâburi, al-Mustadrak `alâ al-Shahihain, Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1990

———–, Kitâb Ma`rifah `Ulûm al-Hadîts, al-Madinah al-Munawwarah; al-Maktabah al-`Ilmiyah, 1977

Harun Yahya, Keajaiban Alquran, Pemisahan Langit dan Bumi, Tabloid Republika, Dialog Jumat, (Jakarta), Jumat, 5 Januari 2007

—————, Keajaiban Alquran, Lapisan-Lapisan Atmosfer, Tabloid Republika, Dialog Jumat, (Jakarta), Jumat, 19 Januari 2007

Hasan,  Hasan Ibrâhîm, Târîkh al-Islâm, Kairo: Mathba`ah Lajnah al-Ta´lîf, 1958

Huwaidi, Fahmi, Azamah al-Wa`yi  al-Dîni, Yaman; Dâr al-Hikmah al-Yamâniyah, 1988

Ibnu `Adî, `Abd Allâh, al-Kâmil fî Dhu`afâ´ al-Rijâl, Beirut; Dâr al-Fikr, 1984

Ibnu al-`Arabi, Ibnu Bakr Muhammad ibn ´Abdillah, Ahkâm al-Qur´ân, Beirut: Dâr al-Fikr, Cetakan I, 1988

Ibnu Hanbal, Ahmad, Musnad al-Imâm Ahmad, Kairo:Dâr al-Ma`ârif, 1980

Ibnu Hazm, `Ali ibn Ahmad ibn Sa`îd al-Zhâhiri, al-Muhhalla, Beirut: Dâr al-Afâq al-Jadîdah, tth.

Ibnu Katsîr, Abu al-Fidâ Isma`îl, Tafsîr al-Qurân al-`Azhîm, Kairo: Dâr al-Hadîts, 1988

Ibnu Majah, Abi `Abdillâh ibn Yazîd, Sunan Ibn Mâjah, Beirut; Dâr Ihyâ al-Kutub al-`Arabiyah, 1987

al-Ifrîqi, Ibnu Manzhûr, Lisân al-`Arab, Beirut: Dâr Shâdir, 1956

Jârullâh, Zuhdi Hasan, al-Mu`tazilah, Kairo: Syirkah Musâhamah Mishriyah, 1947

al-Jauzi, Ibnu, `Abdurrahmân ibn `Ali ibn Muhammad, Zâd al-Masîr fî `Ilm al-Tafsîr, Beirut: al-Maktab al-Islâmi, 1404 H

Jibrîl, Muhammad Sayyid, Dr., al-Mafhûm al-Islâmi fî al-Harb wa al-Salâm, Kairo; Dâr al-Bayân, 1983

Khalîfah, Ibrâhîm, al-Dakhîl fî al-Tafsîr, Kairo; Dâr al-Bayân, 1404 H

—————, Dirasât fî Manâhij al-Mufassirîn, tt, tpn, tth.

Khallâf, `Abdul Wahhâb, `Ilm Ushûl al-Fiqh, Kairo: Maktabah al-Da´wah al-Islamiyah, tth.

al-Khawâruzmi, Abu Bakr, Rasâ´il al-Khawâruzmi,  Kairo: tp., 1894

al-Khurbuthâly, `Ali Husni, al-Rasûl fî  al-Madînah, Kairo: al-Majlis al-A`lâ, 1973

Lubis, Ismail, MA, Dr, Falsifikasi Terjemahan  Alquran Departemen Agama Edisi 1990, Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 2001

Malik ibn Anas, al-Imam, al-Muwaththa´, Beirut : Dâr Ihyâ´ al-`Ulûm, 1988

al-Manshûri, Al-Syeikh Mushthafâ al-Khairi al-Hishni al-Manshûri, al-Muqtathaf Min ´Uyûn al-Tafâsîr, Diedit oleh al-Syeikh Muhammad `Ali al-Shâbûni, Kairo: Dâr al-Salâm, Cetakan I, 1996

Mansyur, Moh., Studi Kritis Terhadap   al-Quran dan Terjemahnya Departeman Agama Republik Indonesia, Fakultas Pasca Sarjana Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 1998

al-Maqdisi, Syamsuddîn, Ahsan al-Taqâsim fî Ma`rifah al-Aqâlim, Leiden, tp., 1906

al-Mâwardi, Abu al-Hasan `Ali al-Bashri, Adab al-Dunyâ wa al-Dîn, Beirut: Maktabah al-Hayât, 1987

Menjadi ‘Hired Gun’ di Irak, Republika, (Jakarta), 8 Oktober 2006

Al-Mubârakfûrî, Muhammad ibn `Abdurrahmân ibn `Abdurrahîm, Tuhfah al-Ahwadzî, Beirut; Dâr al-Kutub al-´Ilmiyah, tth.

Mushthafâ, Ibrâhîm, et al., al-Mu`jam al-Wasîth, Istanbul, Turki: Dâr al-Da´wah, 1990

al-Nasafi, `Abdullâh ibn Ahmad ibn Mahmûd, Madârik al-Tanzîl wa Haqâiq al-Ta´wîl, Beirut: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyah, 1995

Al-Nasâi, Ahmad ibn Syu´aib Abu `Abdurrahmân, Sunan al-Nasâi, Halb; Maktab al-Mathbû`ât al-Islâmiyah, 1986

Nasution, Harun, Dr. Prof. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jakarta; UI Press, 1985

al-Nawâwî, Yahyâ ibn Syaraf, Abu Zakariâ, Muhyi al-Dîn, Syarh al-Nawâwî `alâ Shahîh Muslim, Beirut; Dâr Ihyâ al-Turâts al-`Arabi, 1392 H

Nota Kesepahaman Pemerintah RI dan GAM, Kompas, (Jakarta),  Selasa, 16 Agustus 2005

Pluto Bukan Lagi Planet, dan ‘Pluto Telah Mati’, Republika, (Jakarta), Sabtu, 26 Agustus 2006

Al-Qâsimi, Muhammad Jamâl a-Dîn, Mahâsin al-Ta´wîl, Beirut: Dâr al-Fikr, Cetakan III, 1978

Al-Qi`iy, Muhammad `Abdul Mun`îm, Dr., Qânûn al-Fikr  al-Islâmiy, Kairo: Maktabah al-Kulliyât al-Azhariyah al-`Ilmiyah, 1981

Qutb, Sayyid, Fî Zhilâl al-Qurân, Beirut: Dâr al-`Arabiyah, 1992

al-Qurthubi, Muhammad ibn Ahmad ibn Abi Bakr, al-Jâmi` li Ahkâm al-Qurân, Kairo: Dâr al-Sya`b, 1372 H

al-Qurthubi, Ibnu Rusyd, Bidâyah al-Mujtahid wa Nihâyah al-Muqtashid, tt., Dâr al-Fikr, tth.

al-Râzi, Fakhru al-Dîn, Muhammad ibn `Umar ibn al-Husain, Mafâtîh al-Ghaib, Kairo: Dâr al-Ghad al-`Arabi, 1991

Ridhâ, Muhammad, Muhammad Rasûlullâh, Kairo: Dâr al-Ihyâ, 1973

al-Sa`di, `Abdurrahmân ibn Nâshir, Taisîr al-Karîm al-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannân, Riyadh: Dâr al-Salâm, 2002

Salomo Simanungkalit, Bahasa dan Tantowi, Kompas, (Jakarta), Sabtu, 14 Agustus 2004

Syâkir, Ahmad Muhammad, al-Bâ`its al-Hatsîts Syarh Ikhtishâr `Ulûm al-Hadîts li al-Hâfidz Ibn Katsîr, Riyadh, Dâr al-Salâm, 2000

al-Sayûthi, Jalâl al-Dîn `Abdurrahmân, al-Itqân fî `Ulûm  al-Qurân, Kairo: Dâr al-Fikr, tth.

————-, Tadrîb al-Râwi, Riyadh: Maktabah al-Riyâdh al-Hadîtsah, tth.

————-, Lubâb al-Nuqûl fî Asbâb al-Nuzûl, Beirut: Dâr Ihyâ´ al-`Ulûm, tt.

Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Mishbâh, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur´an, Jakarta: Penerbit Lentera Hati, Cetakan VII, 2006

al-Sibâ`î, Mushthafâ, al-Sunnah wa Makânatuha fî al-Tasyrî` al-Islâmi,  Kairo; Dâr al-Salâm, 1998

al-Sijistâni, Abu Dâud, Sulaimân ibn al-Asy`ats, Sunan Abi Dâud, Beirut: al-Maktabah al-`Ashriyah,  tth.

al-Subki, `Abdul Wahhâb ibn Taqiy al-Dîn, Thabaqât al-Syâfî`iyyah al-Kubrâ, Kairo: tpn., 1906

Sudjiman, Panuti, dkk., Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah, Jakarta; tp., Cetakan VIII, 1998

al-Syahrastâni, Muhammad ibn `Abdul Karîm, al-Milal wa al-Nihal, Beirut: Dâr Sha`b, 1986

al-Sya`râwi, Al-Syeikh Mutawalli, Tafsir al-Sya`râwi (Khawâthir Haul al-Qur´an al-Karîm), Kairo: Dâr Akhbâr al-Yaum, 1991

al-Syâthibi, Abu Ishâq, al-Muwâfaqât fî Ushûl al-Syarî`ah, Beirut: Dâr al-Ma`rifah, tth.

al-Syaukâni, Muhammad ibn `Ali ibn Muhammad, Fath al-Qadîr, Beirut: Dâr al-Fikr, tth.

al-Thabari, Abu Ja`far Muhammad, Jâmi` al-Bayân fî Tafsîr al-Qurân, Kairo: Mushthafâ al-Bâbi al- Halâbi, 1954

Tim IAIN Syarif Hidayatullah, Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Jakarta; PT. Hikmat Syahid Indah, Cetakan Ketiga, 1994

al-Turmuzi, Muhammad ibn `Isa Abu `Isa al-Turmuzi al-Salmi, Sunan al-Turmuzi, Beirut: Dâr Ihyâ al-Turâts al-`Arabi, tth.

Al-Wâhidî, Abi al-Hasan `Ali ibn Ahmad, Asbâb al-Nuzûl, Beirut; Dâr al-Fikr, 2005

Wehr, Hans, A Dictionary of Modern Written Aarabic, Beirut: Maktabah Lubnan, 1974

al-Zarkâsyi, Muhammad ibn Abdillâh, al-Burhân fî `Ulûm  al-Qurân, Beirut: Dâr al-Ma`rifah, 1391 H

al-Zarqâni, Muhammad `Abdul `Azhîm,  Manâhil al-`Irfân fî `Ulûm  al-Qurân, Kairo: Mathba`ah Dâr Ihyâ al-Kutub al-`Arabiyah, 1980

al-Zuhaili, Wahbah, al-Tafsîr al-Munîr fi al-`Aqîdah wa al-Syarî`ah wa al-Manhaj, Damaskus: Dâr al-Fikr, 1991

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s