CORAK PEMIKIRAN TEOLOGI K.H. ABDUL HALIM: Ikhtiar Melacak Akar-Akar Pemikiran Teologi Organisasi Massa Islam Persatuan Ummat Islam

ABSTRAK

CORAK PEMIKIRAN TEOLOGI K.H. ABDUL HALIM:

Ikhtiar Melacak Akar-Akar Pemikiran Teologi

Organisasi Massa Islam Persatuan Ummat Islam

 

Terdapat dua visi dalam memandang K.H. Abdul Halim, seorang tokoh dan pendiri organisasi keagamaan Persyari­katan Ulama. Di satu pihak ia dipandang sebagai seorang tokoh pembaharu Islam di Indonesia yang memiliki hasrat besar dalam mengantarkan bangsanya dari corak kehidupan statis-pasif menjadi bangsa dinamis-revolusioner. Melalui hasrat besarnya itu ia dipandang sebagai seorang modernis­rasional. Sementara di pihak lain, ia diklaim sebagai seo­rang tradsionalis yang oleh sementara pengikutnya disebut-sebut sebagai seorang Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah, pengikut setia teologi Asy’ari.

 

Tujuan penelitian ini, ingin mengetahui pemikiran kalam yang cukup utuh dari K.H. Abdul Halim, sekaligus me­nentukan kecenderungan coraknya dalam bidang kalam. Pene­litian dilakukan dengan metode komparatif.Data dikumpulkan melalui telaah ke­pustakaan (library research). Untuk selanjutnya dianalisis dan diklasifikasi berdasarkan tema kajian.

 

Hasil penelitian menunjukkan, dari delapan persoalan kalam yang diteliti, yakni, kekuatan akal, free will dan predestination, konsep iman, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, keadilan Tuhan, perbuatan-perbuatan Tuhan, dan si­fat-sifat Tuhan, kesamaan pandangan Abdul Halim dengan ke­lompok Maturidiyah Bukhara hanya dalam dua hal, yaitu, da­lam penerimaannya terhadap adanya sifat-sifat Tuhan secara umum dan persoalan baik dan buruk dikaitkannya dengan masyi’ah danrida Tuhan. Sedangkan kesamaan dengan kelompok Asy’ariyah terdapat dalam persoalan sifat-sifat Tuhan, baik mengenai sifat-sifat Tuhan secara umum, antropomor­fisme, ru’yatullah dan firman (sabda) Tuhan. Sementara, dalam sejumlah persoalan lainnya, Abdul Halim memiliki pandangan yang sama dengan kelompok Mu’tazilah dan Matu­ridiyah Samarkand.

 

Dari kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh, bahwa corak kalam Abdul Halim dapat dimasukkan ke dalam corak pemikiran kalam rasional dengan ciri-ciri: menempatkan akal pada po­sisi yang tinggi dengan tanpa mengabaikan peranan wahyu, kebebasan manusia dalam melakukan kemauan dan perbuatan, percaya kepada sunnatullah dan kausalitas, dan menempatkan kedinamisan manusia dalam bersikap dan berpikir.

 

 

 

 
 

1

 

 

 

A. Identifikasi Masalah

Dalam sejarah perkembangan pemikiran Islam, paling tidak, terdapat dua pola pemikiran dalam ilmu kalam, yaitu pemikiran kalam yang berpola rasional dan pemikiran kalam yang berpola tradisional. Pola pemikiran kalam rasional adalah pemikiran kalam yang memiliki ciri-ciri kedudukan akal tinggi; kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuat­an; kebebasan berpikir hanya dibatasi ajaran-ajaran dasar dalam al-Qur’an dan hadis yang sedikit sekali jumlahnya; percaya kepada sunnatullah atau kausalitas; mengambil arti metaforis dari teks wahyu; dan dinamis dalam bersikap dan berpikir. Faham ini dijumpai dalam aliran Mu’tazilah dan Maturidiyah Samarkand.

Sebaliknya, pemikiran kalam yang berpola tradisional adalah pemikiran kalam yang memberikan kedudukan akal ren­dah; ketidakbebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan; kebebasan berpikir yang diikat banyak dogma; ketidakperca­yaan terhadap sunnatullah atau kausalitas; terikat kepada makna harfiah dalam memberi interpretasi ayat-ayat al-Qur’an dan hadis; serta statis dalam bersikap dan berpikir yang membawa manusia kepada sikap fatalistis. Faham ini mendapat lahan subur dalam sistem teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah Bukhara.

K.H. Abdul Halim adalah seorang ulama yang lahir dari lingkungan keluarga yang taat beragama. Ia tidak disekolahkan ala Barat, tetapi sejak kecil mendapat pendi­dikan dari pesantren ke pesantren. Memang sejak kecil su­dah ada bakat bergaul yang tidak saja dengan kaum pribumi, tetapi juga dengan orang-orang Cina. Bahkan ia pandai me­nulis huruf Latin dan bahasa Belanda dengan belajar kepada seorang paderi Kristen di Cideres, Van Hoeven. Gerak kre­ativitas K.H. Abdul Halim dimulai setelah ia kembali dari Mekkah pada tahun 1911 dengan mendirikan organisasi Hayatul Qulub dan hingga akhir hayatnya tahun 1962, ia di­anggap “embahnya” PUI (Persatuan Umat Islam).

Masalah yang akan dijawab melalui penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan pokok sebagai berikut: corak pemikiran apa yang mendasari pemikiran kalam Abdul Halim? Apakah ia seorang rasionalis seperti halnya Mu’ta­zilah dan Haturidiyah Samarkand atau seorang tradisionalis dengan sistem teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah Bukhara? Atau merupakan gabungan dari kedua pola tersebut? Atau, bahkan merupakan sistem teologi tersendiri yang merupakan ciri khas teologi Indonesia?

 

B. Metodologi

Penelitian ini bercorak kepustakaan (library re­search)dengan menggunakan metode komparatif (perbanding­an). Sesuai dengan masalah pokok yang akan dibahas, maka penelitian diawali dengan upaya menemukan sejumlah karya Abdul Halim dan buku-buku sumber yang berkaitan dengan Il­mu Kalam yang mewakili empat aliran kalam, masing-masing, kelompok Mu’tazilah, kelompok Maturidiyah Samarkand, ke­lompok Maturidiyah Bukhara, dan kelompok Asy’ariyah. Untuk keperluan tersebut, sumber kepustakaan diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu, sumber primer dan sumber sekunder.

Sejumlah karya Abdul Halim, baik yang berupa buku, artikel, brosur, dan catatan pribadi, dijadikan sebagai sumber primer, dan tulisan atau informasi lain yang berha­sil dihimpun dari para muridnya maupun peneliti sebelum­nya, dijadikan sebagai sumber sekunder.

Sementara, yang dijadikan sumber primer dari kelom­pok Mu’tazilah adalah Syarh al-Usul al-Khamsah karya Qadi Abd. al-Jabbar, dari kelompok Maturidiyah Samarkand adalah Kitab Tauhid karya Abu Mansur al-Maturidi, dari kelompok Maturidiyah Bukhara adalah Kitab Usul al-Din karya Abu al-Yusr Muhammad al-Bazdawi, dan dari kelompok Asy’ariyah a­dalah Kitab al-Luma’ fi al-Radd ‘ala Ahl al-Zaigh wa alBida’, Al-Ibanat ‘an Usul al-Diyanab, dan Maqalat alIslamiyyin wa Ikhtilaf al-Musallin karya Abu al-Hasan al-Asy’ari. Adapun sebagai sumber sekunder adalah Akal dan Wahyu Dalam Islam, Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah, Teologi Islam Aliran-Aliran Analisa dan Per­bandingan karya Harun Nasution, Corak Pemikiran Kalam Taf­sir al-Azhar karya Yunan Yusuf, Tafsir Tematik Ayat-ayat Kalam Tafsir al-Maraghi karya Hasan Zaini, Kitab Usul alDin karya al-Baghdadi, Al-Milal wa al-Nibal karya al-Syahrastani, Al-Iqtisad fi al-I’tiqad karya Abu Hamid al-Ghazali, dan, ‘Ilm al-Kalam karya al-Taftazani.

Penelitian dilanjutkan dengan mengemukakan pemikir­an-pemikiran Abdul Halim tentang persoalan-persoalan kalam yang dijadikan objek kajian, sekaligus melakukan komparasi langsung dengan keempat aliran kalam yang ada. Dengan me­tode seperti ini –metode komparatif– dapat diketahui ke mana kecenderungan arah pemikiran kalam Abdul Halim.

 

C.  Pembahasan Hasil Penelitian

c.1. Kekuatan Akal

Dalam salah satu tulisannya, Abdul Halim mengemuka­kan, akal adalah satu di antara tiga karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia. Sebagai karunia, akal menjadi dasar yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain dengan posisi (derajat) yang lebih tinggi. Dengan karunia akal, manusia juga memiliki kemampuan untuk berpikir, mengingat, merenungkan hakikat penciptaan, serta mengambil pelajaran darinya. Bahkan, demikian Abdul Halim, perbedaan dari sudut akal, tersebut menjadikan manusia memiliki ke­mampuan untuk mengemudikan dan mengatur isi alam. Penda­pat Abdul Halim ini, didasarkan pada firman Tuhan:

إن الإنسان على نفسه لبصيرة

Artinya: “Sesungguhnya manusia itu atas dirinya lebih me­ngetahui”.

Selain dilengkapi karunia akal, lanjut Abdul Halim, di dalam diri manusia juga terdapat dua potensi dasar yang memiliki prinsip kerja bertentangan. Potensi pertama, adalah semangat suci. Potensi ini memiliki fungsi sebagai pendorong manusia ke arah kebaikan. Sedang potensi kedua, adalah nafsu hayawan yang mendorong manusia ke arah keburukan. Untuk mengendalikan potensi kedua–agar manusia selalu berada dalam arah yang baik–diperlukan perbaikan melalui tuntunan wahyu. Untuk itu, Abdul Halim berkesim­pulan, dalam batas-batas tertentu manusia sebagai makhluk Tuhan memiliki potensi untuk dikembangkan dan dalam batas-batas tertentu ia memerlukan wahyu.

Sehubungan dengan perlunya pengembangan potensi yang tersimpan pada manusia tadi, Abdul Halim juga menulis, bergantinya faham dan pandangan hidup dalam upaya meraih perbaikan dan kemajuan erat hubungannya dengan pemberda­yaan akal dan kemajuan pola pikir manusia. Untuk mening­katkan daya akal, lanjut Abdul Halim, manusia perlu dididik terutama dalam disiplin-disiplin: etis (pembukaan pi­kiran), verstandelijk (pengetahuan), zedelijk (budi peker­ti), dan lichamelijk (kesehatan). Dengan memiliki wawasan pemahaman tentang keempat genuin ilmudi atas diharapkan, pertama, memberi pengertian dan keinsafan atas hak-hak ke­islaman, kemanusiaan, dan menunjukkan kedudukan hidup yang lebih baik dan layak menurut Islam. Kedua, menunjukkan ja­lan untuk mencapai kemuliaan, bahwa hidup manusia dalam dunia ini sebagai makhluk Tuhan yang memiliki kelengkapan paling sempurna, dengan predikat sebaik-baik makhluk.

Agaknya, tema pendidikan dengan tujuan untuk mening­katkan daya akal dalam rangka pengembangan potensi manusi­awi dalam pemikiran Abdul Halim, diduga, merupakan peng­akuan jujurnya terhadap pentingnya akal bagi manusia seka­ligus menegasikan kesebandingan manusia atas makhluk-makhluk Tuhan yang lain. Dengan menegaskan ketidakseban­dingan manusia dengan makhluk lain, memungkinkan adanya keinginan dari Abdul Halim, bahwa akal sebagai karunia Tu­han merupakan kelebihan manusia dibanding makhluk-makhluk lainnya. Sehingga tidak terlalu keliru jika Abdul Halim memiliki pemikiran, akal manusia jika ditingkatkan kemam­puannya akan dapat mengungkap rahasia semesta, mengemudi, dan mengaturnya.

Selain itu, akal, dalam pandangan Abdul Halim, di samping mampu mengungkap rahasia semesta juga memiliki ke­mampuan untuk mengetahui kewajiban-kewajiban makhluk terha­dap Sang Pencipta, Tuhan. Mengenai persoalan ini Abdul Halim mengatakan, manusia senantiasa terikat pada hukum alam.          Hukum alam –yang dalam bahasa teologi Islam, sunnatullah–tidak dapat diubah. Melalui teori sunnatullah inilah ia mendeskripsikan tata hubungan manusia dengan Tuhan (khalik dan makhluk) lewat kewajiban beribadah. Dikatakannya, ber­ibadat kepada Tuhan merupakan kewajiban hakiki manusia sesuai fitrah kejadiannya. Tugas ibadah itu, adalah keten­tuan (sunnatullah) yang tidak dapat diubah.

Permasalahan selanjutnya, dapatkah akal mengetahui baik dan buruk, dan kewajiban berbuat baik serta menghin­dari yang buruk? Mencermati tema ini, Abdul Halim pernah menyatakan, tidaklah dibolehkan kepada manusia melanggar dan menginjak hak-hak orang laindan atas sunnatullah ma­nusia wajib berdaya upaya mencari keselamatan bersama dalam dunia. Melengkapi pemikirannya Abdul Halim menyertakan kasus hasil ilmu pengetahuan dan lembaran sejarah manusia. Dikatakannya, ilmu pengetahuan (watenschap)pada era seka­rang memang sudah menjadi kebutuhan pokok manusia. Jika betul mempergunakannya dapat menjadikan kesejahteraan, se­baliknya jika salah mempergunakannya akan membawa kerusakan dan kebinasaan. Sedang dari aspek sejarah, tradisi menjajah dan perlawanan dari penduduk daerah jajahan yang berakibat peperangan, nyaris dijumpai di setiap kurun ke­hidupan. Pada peristiwa itu, manusia berada di dalam kebi­ngungan dan ketakutan, jika mereka itu bukan golongan yang insaf. Sementara, orang yang mampu menghilangkan rasa ta­kut dan bingung adalah orang yang insaf, yaitu, orang yang menggunakan akalnya dengan menyadari sunnatullah pencipta­an manusia. Secara sunnatullah, dikatakannya pula, pencip­taan manusia terbagi ke dalam tiga golongan, yaitu: golongan pan­dai, golongan kuat, dan golongan kaya.

Pada dasarnya semua manusia memiliki potensi dan ci­ta-cita hidup ke arah itu. Hanya saja dalam pencapaian tangga sunnatullahnya tidak sama, ada yang memberdayakan akal secara maksimal dan ada yang tidak. Hal demikian, ujungnya menciptakan kondisi sebaliknya. Sehingga ada golongan bodoh, golongan lemah, dan golongan miskin. Untuk menyela­raskan kondisi tersebut, demikian Abdul Halim, golong­an pandai harus memberi pengertian kepada golongan yang bodoh bukan memutar (menambah kebingungan) si bodoh, go­longan yang kuat harus melindungi golongan yang lemah bu­kan menjajah dan menindas, serta golongan kaya (konglomerat) harus membantu yang miskin bukan memeras dan menyengsarakannya. Upaya keselarasan ini pada gilirannya menjadi ciri khas pemikiran Abdul Halim dikenal dengan konsep al-salam yang dituangkannya dalam al-islah al-samaniyah (delapan macam perbaikan).

 

c.2. Fungsi Wahyu

Sebagai seorang yang cenderung lebih mendahulu­kan akal (rasionalis), Abdul Halim mengakui, sekalipun ma­nusia memiliki kelengkapan akal dan dengan akalnya mampu mengungkap rahasia semesta, mengemudi dan mengaturnya, ke­mampuan akal manusia terbatas hanya pada kesanggupan menghitung, tidak untuk menjadikan. Kebebasan manusia terba­tas dalam kebebasan sesama makhluk yang karena sunnatul­lah-nya senantiasa menuntut perbaikan, kesempurnaan dan ke­majuan. Oleh karena itu, demikian Abdul Halim, dalam batas-batas tertentu manusia dapat memecahkan permasalahan hidupnya melalui kemampuan akalnya dan dalam batas-batas tertentu memerlukan tuntunan wahyu.

Sehubungan dengan wahyu, yang dalam istilah Abdul Halim, agama, ia memberikan definisi sebagai petunjuk tentang hak yang diberikan Tuhan kepada para Nabi. Petunjuk hak dimaksud adalah nasehat-nasehat untuk meninggikan Tuhan, para nabi, kitab-kitab-Nya, dan membantu sekalian pemuka-pemuka Islam serta umatnya. Para nabi mampu memperoleh petunjuk hak, karena ia lain dari manusia pada umumnya, suci, utama, terpilih, dan mampu menembus batas realitas ketuhanan. Para nabi dianggap sebagai perantara antara realitas ketuhanan dan realitas kemanusiaan.

Dari paparan Abdul Halim di atas, dapat dipahami bahwa fungsi wahyu yang pertama adalah sebagai sumber informasi tentang apa-apa yang tidak dapat dijangkau akal manusia. Melalui informasi wahyu, Tuhan dinyatakan sebagai realitas Mahatinggi yang telah mengutus para utusan-Nya dengan petunjuk dan agama yang hak. Hingga di sini, tampaknya, Abdul Halim konsisten dengan pendapat sebelumnya mengenai dua potensi dasar manusia, terutama dalam mengarahkan potensi nafs hayawan, wahyu menjadi sumber penuntun agar manusia selalu berada dalam arah yang baik dan menyadari kedudukannya sebagai makhluk Tuhan yang memiliki derajat lebih tinggi dibanding makhluk-makhluk lainnya.

Selanjutnya tentang kewajiban-kewajiban manusia kepada Tuhan yang secara sunnatullah akal manusia telah mengetahuinya. Agaknya dapat dipahami, dengan turunnya wahyu, manusia semakin menyadari akan fitrah dan hakikat penciptaannya, yaitu, sebagai pengabdi penciptanya. Dengan adanya informasi wahyu yang menyatakan kewajiban manusia untuk beribadat kepada Tuhan, berarti apa-apa yang telah ditetapkan akal sebelumnya (termasuk adanya kewajiban beribadat kepada Tuhan) mendapat konfirmasi dari Tuhan. Dalam hubungan ini, akal manusia, demikian Abdul Halim, terbatas tidak sampai mengetahui tata cara beribadat yang benar, maka wahyu datang membawa perincian mengenai waktu, gerakan, syarat, rukun, dan hal-hal yang harus dipersiapkan untuk itu. Dengan demikian, dapat dipahami pula, wahyu di samping sebagai sumber informasi juga memiliki fungsi kedua, yaitu, sebagai konfirmasi terhadap apa-apa yang telah dicapai akal manusia.

Begitu pula dalam menjelaskan persoalan kebaikan dan keburukan, serta melakukan perbuatan baik dan menghindari yang buruk, Abdul Halim mengatakan, akal manusia memiliki kesanggupan untuk mengetahui baik dan buruk, dan berdasarkan pengalamannya cenderung melakukan yang baik dan menghindari yang buruk, maka wahyu datang dengan berita tentang kewajiban melaksanakan amar ma’ruf nahyi al-munkar (melakukan yang baik dan menghindari yang buruk). Datangnya kewajiban amar ma’ruf nahyi al-munkar, dalam pandangan Abdul Halim, merupakan konfirmasi terhadap hasil penetapan akal, juga memberikan informasi bahwa melakukan perbuatan yang baik dan menghindari yang buruk merupakan kewajiban yang harus dilakukan manusia.

 

C.3. Free Will Dan Predestination

Abdul Halim, sekalipun ia memberikan daya yang besar kepada akal, sebagai telah disebutkan sebelumnya, keduduk­an manusia selaku makhluk ciptaan Tuhan memiliki kebebas­an terbatas pada menghitung tidak untuk menjadikan, mem­bagi perbuatan ke dalam dua bagian. Kedua perbuatan dimaksud adalah perbuatan Tuhan dan perbuatan manusia. Perbuat­an Tuhan, dikatakannya, terbagi dua bagian pula. Pertama, perbuatan Tuhan sebagai ketentuan Tuhan yang tidak dapat diubah, karena telah ditetapkan-Nya.

Kedua, perbuatan Tuhan yang dapat diubah, bahkan wajib diusahakan. Perbuatan manusia adalah ikhtiar, yakni, manusia dalam keterbatasannya wajib berikhtiar. Dalam hu­bungan ini, Abdul Halim mengembangkan pemikirannya berda­sarkan adanya perbuatan Tuhan yang dapat diperbaharui ma­nusia. Hingga di sini, tampaknya Abdul Halim tidak meneri­ma konsep praedestinatie yang menyatakan, bahwa segala kejadian manusia telah ditentukan sejak azali oleh Allah SWT., dan manusia harus menerima ketentuan itu secara mut­lak. Sebaliknya, ia lebih menekankan pentingnya ikhtiar. Abdul Halim sendiri mengatakan, kudrat iradat Allah Ta’ala, di samping ada yang tentu dan tetap ada juga yang dapat diubah oleh manusia sepanjang manusia dapat melakukannya.

Dari pandangan Abdul Halim demikian, dapat dipahami, ia lebih cenderung menempatkan manusia sebagai makhluk yang aktif, kreatif, dinamis dalam melakukan perbuatan. Dalam hal ini, ia berpaham qadariyah dan menolak jabariyah (pasif, statis, fatalis). Selain itu, tampaknya Abdul Halim ingin mengatakan, untuk terciptanya suatu perbuatan diperlukan dua daya, yaitu, daya manusia dan daya Tuhan. Hal demikian didasarkan, manusia tidak akan dapat berikhtiar (melakukan perbuatan), jika ia sendiri tidak memiliki daya. Dengan demikian, dalam pemahaman Abdul Halim, untuk terciptanya suatu perbuatan harus ada daya manusia sebagai pewujud perbuatan dan Tuhan sebagai pencipta daya.

Sejalan dengan itu, Abdul Halim berpendapat bahwa kebebasan manusia hanya dalam al-hayat alijtima’iyyah. Manusia sebenarnya hanya me­miliki kebebasan dalam memilih hukum alam mana yang akan ditempuh dan dilakukan dalam menjalani kelangsungan hidup­nya. Untuk itulah dalam beberapa tulisannya Abdul Halim sering mengingatkan akan pentingnya ikhtiar. Sehingga de­ngan ikhtiar itu, umat Islam dapat menguasai hukum alam seluas-luasnya dan menjadi bangsa yang besar, kuat, dan disegani bangsa lain.

 

c.4. Konsep Iman

Iman menurut Abdul Halim adalah satu zat dalam jiwa manusia yang hidup dan sangat mempengaruhi kehidupannya. Zat itu besar dan kuat menguasai segenap perasaan manusia yang tiada ubahnya bagaikan kekuatan elechtrisch di dalam kawat. Demikian kuat zat itu menyebabkan segala kekuatan panca indera–bahkan bila perlu harta dan nyawa– dipergu­nakan habis-habisan untuk pelayanan iman. Iman, lanjut Abdul Halim, adalah “perasaan” dan “kebiasaan”. Perasaan dan kebiasaan inilah yang menegakkan keyakinan dalam hati sehingga menimbulkan kekuatan unik dan mempengaruhi kehi­dupan seseorang. Penggambaran tentang perjalanan manusia dalam pelayanan iman sebagai disebut di atas, diakui Abdul Halim berlaku bagi semua orang beragama.

Dalam kesempatan lain, sebagai ditulis muridnya Moh. Akim, Abdul Halim mengemukakan definisi iman adalah tasdiq bi al-jinan iqrar bi al-lisan wa ‘amal bi al-arkan (hati membenarkan, lisan mengucapkan dan anggota tubuh mengerja­kan). Iman tersebut, lanjut Abdul Halim sebagai dalam lan­jutan keterangan Moh. Akim, hanya dapat dibuktikan jika hati sudah bulat dan ikhlas. Rasa ikhlas (keikhlasan) baru akan tumbuh jika mendapatkan indoktrinasi yang melekat. Untuk itu, demikian Abdul Halim, telah menjadi keyakinan asasi bagi umat Islam, bahwa segala usaha memperbaiki ke­adaan manusia (termasuk di dalamnya memperbaiki pandangan hidupnya), mestilah dimulai dengan islah al-‘aqidah (memperbaiki aqidah, tata keyakinan). Sesudah itu baru berangsur ke dalam perbaikan lainnya. Di sinilah tampaknya, Abdul Halim memulai al-islah al-samaniyah dengan islah alaqidah menempati posisi pertama dan utama.

Hingga di sini, belum dijumpai pendapat Abdul Halim mengenai ukuran iman seseorang. Apakah esensi iman dapat berlebih atau berkurang, atau dapat bertambah dan dapat pula berkurang. Sekalipun dikatakan, dapat saja seorang yang telah beriman melakukan dosa besar, atau terdapat va­riasi amal, ia tidak tegas dalam hal ini. Hal yang diketa­hui dalam mengakhiri pemikirannya tentang konsep iman, Abdul Halim mengingatkan, “buanglah kita berlaga akan memperbaiki masyarakat, sedang kita sendiri dengan kerabat tetangga kita masih tidak patut disebut orang Islam yang beradab.

c.5. Kekuasaan Dan Kehendak Mutlak Tuhan

Ia berpandangan, bahwa kekuasaan dan kehendak Tuhan tidak berlaku sepenuhnya la­gi. Dikatakannya, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan su­dah dibatasi oleh kebebasan ikhtiar yang diberikan Tuhan kepada manusia. Pendapat ini menunjukkan sikap konsistensi Abdul Halim sebagai telah dikemukakan dalam pemahamannya tentang free will dan predestination (kebebasan manusia dan fatalism). Ia lebih lanjut berpandangan, bahwa manusia memiliki kebebas­an dalam melakukan kemauan dan perbuatannya (free will and free act).

Contoh lain, misalnya, Tuhan dapat saja menciptakan manusia dalam keadaan kaya, kuat, dan pandai. Akan teta­pi, Tuhan meletakkan hal tersebut dalam kerangka sunnatul­lah dan kebebasan pilihan manusia (ikhtiar). Alhasil kata Abdul Halim, jika terdapat yang miskin, lemah, dan bodoh, yang salah bu­kan lagi Tuhan, tetapi manusia yang setengah-setengah atau bahkan tidak menggunakan sunnatullah-Nya melalui ikh­tiar. Dari pendapat Abdul Halim demikian, sebenarnya ia ingin mengatakan, manusia dan seisi alam lainnya berjalan menu­rut sunnatullah (naturnya masing-masing). Air senantiasa mengalir dari dataran tinggi menuju lembah dan muara, ber­jalan menurut sunnatullahnya. Mentari memancarkan cahaya di waktu siang, berjalan menurut sunnatullahnya. Rembulan menyejukkan jiwa sepanjang malam, berjalan menurut sunna­tullahnya. Demikian pun manusia, memiliki watak yang se­nantiasa ingin mengadakan perbaikan dalam hidupnya, berja­lan berdasar sunnatullahnya. Oleh sebab itu, dalam pan­dangan Abdul Halim, manusia dan seisi alam menjadi tidak bermakna, seandainya tidak ada inisiatif Tuhan untuk membatasi kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya dengan sunnatul­lah (hukum alam yang telah ditetapkan-Nya).

Masih terkait dengan pembahasan tentang sunnatullah, Abdul Halim juga mengetengahkan masalah do’a dan pelaksa­naan ritual do’a. Dikatakannya, do’a adalah satu senjata bagi tiap-tiap muslim, maka hendaklah do’a itu digunakan sebagai perisai bagi diri dan masyarakat. Lebih lanjut dikatakannya, marilah kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan bersatu padu, seia-sekata di dalam tiap-tiap usaha ki­ta sehingga merupakan suatu pagar benteng yang maha kuat. Di dalam itu, kita bermohon dan berdo’a ke hadirat Allah SWT moga-moga Allah kiranya memberikan taufiq dan hida­yah-Nya serta menentukan apa yang akan menjadi baik dan manfaat bagi kita sekalian.

Penjelasan Abdul Halim tentang do’a tersebut menun­jukkan, bahwa do’a dapat dilakukan ketika manusia telah mengerahkan segala tenaga dan pikiran dalam melakukan ke­mauan dan perbuatan, atau do’a dapat dipanjatkan untuk menolong sesama manusia jika upaya lain sangat sulit dilakukan, dan do’a dapat dimohonkan untuk mengetahui sebab-se­bab dan meminta taufiq dan hidayah tentang hukum-hukum alam (sunnatullah) yang belum diketahui, agar manusia dapat memperbanyak amal kebaikan. Sebaliknya, terlarang ber­do’a sebelum melakukan perbuatan secara maksimal, atau terlarang berdo’a untuk meminta sesuatu yang diharamkan agama, dan terlarang pula berdo’a yang didalamnya meminta sesuatu yang menyalahi sunnatullah. Hingga di sini, dike­tahui bahwa dalam pandangan Abdul Halim, manusia tidak bo­leh memohon dan melaksanakan ritus do’a yang bertentangan dengan sunnatullah, tapi diwajibkan berdo’a yang selaras dengan sunnatullah. Pandangan demikian semakin mempertegas, sun­natullah berlaku tentu dan tetap serta kekuasaan dan ke­hendak mutlak Tuhan pun telah dibatasi oleh sunnatullah.

Selanjutnya, persoalan kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, di­katakannya, selain dibatasi oleh kebebasan manusia dalam melakukan ikhtiar dan sunnatullah yang tentu dan tetap, juga dibatasi oleh janji-janji Tuhan yang mesti ditepati-Nya. Janji-janji Tuhan itu, misalnya, Tuhan akan memberi hukuman baik di dunia maupun di akhirat kepada orang-orang yang berlaku zalim atau janji-janji Tuhan kepada orang-orang beriman yang melakukan amal saleh. Pada gilirannya, diskusi tentang janji-janji Tuhan ini erat kaitannya de­ngan konsep keadilan Tuhan. Namun tema keadilan Tuhan ti­dak akan diuraikan di sini, ia akan dibahas secara khusus kemudian. Untuk itu, sehubungan dengan janji Tuhan akan menghukum orang yang berlaku zalim, Abdul Halim mengatakan: ” …orang yang tidak menetapi agamanya itu akan dapat hu­kuman di akhirat, orang yang melanggar kebenaran perasaan dapat menyesal dan orang yang melanggar kepatutan akan di­cela oleh teman-temannya hidup …”. Sedang mengenai janji Tuhan kepada orang mukmin yang beramal saleh, Abdul Halim mendasarkan argumennya kepada al-Qur’an surat al-Nahl, ayat 97.

 

c.6. Keadilan Tuhan

Abdul Halim memulai pemikiran tentang konsep keadilan dengan menetapkan manusia berdasar natur yang telah ditetapkan Tuhan. Dikatakannya, manusia berdasarkan naturnya memiliki kemampuan untuk menentukan sekaligus menetapkan sesuatu bersifat ‘adil atau zalim. Se­suatu dikatakan adil, jika diletakkan pada tempat semestinya, atau memberikan sesuatu yang menimbulkan rasa senang kepada semua pihak, dan tidak membuat aturan (undang-undang) yang tidak dapat dilakukan oleh umat manusia. Sementara, kebalikan dari semua itu adalah zalim. Dengan de­mikian, secara tidak langsung Abdul Halim mempertentangkan perbuatan ‘adil dengan zalim.

Manusia dalam pendapat Abdul Halim, betapapun adil dan jujurnya, yang tidak dapat dibohongkan, bahwa di dalam rasa keadilan manusia itu, ia tidak dapat membebaskan diri dari pengaruh kepentingan diri sendiri, atau kepentingan golongannya, atau kepentingan bangsa dan kaumnya. Pendapat Abdul Halim ini memberi kesan, manusia tidak dapat berbuat adil dengan seadil-adilnya, karena keadilan yang diciptakan manusia tidak lepas dari kepentingan kemanusia­an (manusiawi). Jika demikian, bagaimanakah dengan keadil­an Tuhan?

Sebagai telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya, Abdul Halim memiliki pendirian, manusia memiliki kebebasan dalam melakukan kemauan dan perbuatannya, keadilan Tuhan dipahami dari sudut kepentingan manusia, bukan sebaliknya, dari sudut Tuhan selaku pemilik alam semesta (teologi dari bawah). Kesan ini diperoleh dari penjelasan yang ia kedepankan:

“Allah SWT. dengan keluasan ilmu-Nya yang tiada terbatas dengan sifat rahman dan rahim-Nya kepada segenap manusia, menunjukkan jalan yang lurus yang dapat menyampaikan manu­sia kepada kebahagiaan dan keselamatan hidup, jalan yang benar tanpa kesesatan, dan tiadalah barang sedikit juga kepentingan Tuhan yang terselip di dalam hukum dan ajaran-Nya itu.

Sejalan dengan itu Abdul Halim juga menambahkan, da­ri sudut keluasan ilmu Tuhan, keadilan Tuhan meliputi se­gala awal dan akhir, lahir dan batin, serta hubungan sega­la sesuatu dengan tempat, waktu, dan lingkungan yang melingkupinya. Oleh karena itu, pada hakikatnya hanya Tuhanlah Yang Maha Mengetahui segala macam kebutuhan manu­sia, dan manusia hanya mampu memahami sebagiannya. Semen­tara, dari sudut rahman dan rahim Tuhan, keadilan Tuhan meliputi kebaikan-kebaikan Tuhan yang diberikan kepada manusia berupa penurunan wahyu untuk dijadikan pedoman agar manusia berada pada keseimbangan hidup dan kelurusan i’ti­kad. Dengan demikian, dipahami, hakikat wahyu adalah kum­pulan kepentingan manusia berupa pokok-pokok kebahagiaan dan keselamatan.

Selain itu, keadilan Tuhan melalui sifat rahman dan rahim Tuhan, erat hubungannya dengan janji-janji Tuhan yang mesti ditepati-Nya. Untuk itu, agar mendapat hidayat Tuhan, kata Abdul Halim, hendaklah manusia menjadikan Tuhan sebagai awal dan akhir dalam setiap ‘amal usahanya. Dengan ketetapan hati demikian, diharapkan segala amal usaha manusia terpelihara dari kesia-siaan dan kesalahan i’tikad awal yang mengaki­batkan kesesatan akhir. Tuhan dikatakan adil menurut kete­tapan teks ayat di atas adalah memberikan kesia-siaan ‘amal usaha dengan kesesatan akhir bagi orang yang berlaku za­lim. Sebaliknya, pahala hidayat Tuhan bagi orang yang ber­laku ‘adil (menempatkan Tuhan sebagai awal dan akhir dalam setiap ‘amal usaha). Itulah janji Tuhan untuk manusia yang mesti dihormati-Nya, sebagai wujud welas asih Tuhan kepada segenap makhluk-Nya.

Mencermati pemikiran Abdul Halim yang memberi pene­kanan kepada pola pikir dan pola laku manusia agar senan­tiasa menjadikan Tuhan sebagai awal dan akhir dalam setiap ‘amal (usaha), menunjukkan daya aktif manusia dalam menentukan pilihan­nya. Kondisi memilih yang diberikan Tuhan kepada manusia untuk berbuat ‘adil atau zalim yang kemudian diganjar de­ngan pahala dan siksa, menambah ketegasan bahwa faham ke­adilan Tuhan yang dianut Abdul Halim adalah faham keadilan bagi kepentingan manusia.

 

 

c.7. Perbuatan-Perbuatan Tuhan

 Berkenaan dengan perbuatan Tuhan yang bersifat abso­lute prae-destinatie (tidak dapat diubah karena telah di­tetapkan-Nya), Tuhan dalam melakukan perbuatan-Nya tidak bertanggung jawab kepada siapa pun, tidak seorang pun yang mempengaruhi keputusan-Nya, dan tidak seorang pun yang da­pat menolak-Nya, karena Dia-lah penguasa dan pemilik selu­ruh isi alam semesta, ciptaan-Nya. Abdul Halim mengatakan, perbuatan Tuhan (taqdir)selalu terpegang oleh-Nya, apabi­la sudah sampai ajalnya sesuatu datang, tidak boleh dima­jukan selangkah dan tidak pula dapat dimundurkan semenit­ pun. Sedangkan, perbuatan Tuhan yang dapat diubah manu­sia, meliputi masalah-masalah kemanusiaan, yaitu, kewajib­an berbakti (‘ubudiyah) dan hal-hal menuju kebaikan, ke­sempurnaan, dan kelangsungan hidupnya (al-hayat alijtima’iyyah), meskipun di dalam hakikatnya tergantung kepada perbuatan Tuhan (absolute Prae-destinatie).

Menengahi dilematis antara keinginan semua perbuatan Tuhan mesti bersifat mutlak dengan kemestian adanya kebe­basan manusia dalam melakukan kemauan dan perbuatan guna terciptanya kebaikan, keseimbangan, dan kesempurnaan alam, dikatakan Abdul Halim, semua perbuatan Tuhan berlangsung atas prinsip al-‘adl (keadilan). Sebagai seorang ulama, tampaknya Abdul Halim ingin mengatakan, meskipun Tuhan di­akui sebagai yang Mahakuasa dan berkuasa mutlak untuk me­lakukan kehendak dan perbuatan-Nya, namun perbuatan Tuhan berdasarkan prinsip al-‘adl (keadilan-Nya). Pendapatnya ini secara tidak langsung menolak kesan bahwa Tuhan dapat berbuat sewe­nang-wenang terhadap makhluk-Nya, bagaikan penguasa abso­lut, melainkan laksana penguasa konstitusional yang tunduk di bawah konsititusi, serta hukum-hukum yang telah dibuat dan ditetapkan-Nya sendiri.

Dengan mengajukan prinsip al-‘adl dalam segala per­buatan Tuhan, tampaknya, Abdul Halim ingin menempatkan se­mua perbuatan Tuhan adalah baik. Argumen-argumen yang di­kemukakan Abdul Halim dalam kaitan ini, misalnya, Tuhan menciptakan manusia dalam kelengkapan paling sempurna sesuai dengan janji-Nya dalam surat al-Tin ayat 4. Atau dalam rangka perbaikan, kemajuan, dan kesempurnaan alam, Tuhan membuat tanda-tanda kesemestaan sebagai dituangkan dalam firman-Nya, surat al-Rum ayat 22 dan surat Yunus ayat 6, serta mengutus para rasul dengan tugas pemberita­an dan penetapan terhadap hasil kerja penjelajahan akal manusia.

Kaitan pendapat Abdul Halim di atas dengan tema per­buatan Tuhan, agaknya ia ingin mengatakan, perbuatan Tuhan adalah menciptakan kebaikan dan keburukan. Namun dalam aktualisasinya, Tuhan menyerahkan sepenuhnya kepada manusia dalam arti, manusia bebas dalam melakukan kemauan dan perbuatannya. Pendapat tersebut bisa jadi yang paling aman untuk menempatkan perbuatan Tuhan terbatas kepada hal-hal yang baik. Sedang perbuatan manusia adalah yang sebenar­nya, bukan kiasan. Dengan demikian, ketika manusia melaku­kan perbuatan buruk, Tuhan terbebas dari perbuatan itu ka­rena perbuatan buruk bagi Tuhan menyalahi prinsip al-‘adl yang telah ditetapkan-Nya. Hingga di sini, dengan memahami apa yang diungkapkan dalam tulisan-tulisan Abdul Halim, sekalipun ia tidak dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan ju­ga memiliki kewajiban-kewajiban yang mesti dilakukan ter­hadap hamba-Nya, sebagai dipahami dalam pandangan kelompok Mu’tazilah dan Maturidiyah Samarkand. Namun dengan mengata­kan, perbuatan-perbuatan Tuhan didasarkan atas prinsip ke­adilan, kebaikan dan kesempurnaan, dapat difahami, bahwa Abdul Halim sebenarnya memiliki pemahaman yang sama dengan kelompok Mu’tazilah dan Maturidiyah Samarkand.

Memang, sejauh pelacakan penulis, keengganan Abdul Halim untuk mengatakan adanya kewajiban-kewajiban Tuhan yang mesti dilakukan terhadap hamba-Nya, paling tidak, me­miliki dua alasan. Pertama, pemahaman keagamaan masyarakat pada zamannya yang kurang mendukung. Kedua, kata kewajiban bagi Tuhan sulit dibahasakan, karena mengandung konota­si ada sesuatu di luar diri Tuhan yang memaksa-Nya untuk melakukan perbuatan tersebut. Akan tetapi, jika kata “Tu­han Wajib” itu dihubungkan dengan pemahaman Abdul Halim mengenai kebebasan manusia dalam melakukan kemauan dan perbuatannya, janji-janji Tuhan yang mesti ditepati-Nya, dan adanya sunnatullah yang tentu dan tetap, memaksa rasa bahasa untuk dikatakan, Tuhan juga memiliki kewajiban-kewajiban. Agaknya, yang perlu didudukkan dalam konteks ini adalah pemaknaan kewajiban itu sendiri bukanlah seba­gai kewajiban yang datang dari luar diri Tuhan, tetapi ke­wajiban yang diletakkan Tuhan atas diri-Nya, Zat-Nya. Jadi, bukan difahami ada zat lain yang memberi kewajiban kepada Tuhan, karena pemikiran semacam itu akan “membubarkan” Ke­mahasempurnaan Tuhan dan menyalahi akal (logika rasional).

Berkenaan dengan penerimaan adanya kewajiban-kewa­jiban Tuhan terhadap hamba-Nya –sekalipun dalam ungkapan yang tidak langsung– dapat dilihat dari pendapat-pendapat Abdul Halim. Sebagai contoh, misalnya, mengenai persoalan beban di luar kemampuan manusia (taklif ma 1a yuthaq).

Abdul Halim, tampaknya sefaham dengan kelompok Mu’tazilah dan Maturidiyah Samarkand dalam penolakannya terhadap ke­lompok Asy’ariyah dan Maturidiyah Bukhara yang mengatakan, Tuhan dapat memberikan beban di luar kemampuan manusia un­tuk memikulnya (taklif ma la yuthaq). Kesan demikian diperoleh ketika Abdul Halim mengatakan:

“Setiap golongan yang telah bernama mukallaf menurut ajaran agama Islam, dapatlah turut serta di dalam menunaikan amal kewajiban di dalam jama’ah kita. Tua dan muda, laki-laki dan perempuan, menurut taraf te­naga dan kesanggupan masing-masing. Dan masing-masingnya akan berguna dan berfaedah bila menempati maqam beramal yang sesuai dengan tenaga dan kemampu­annya berjuang. Maka kepada yang ditentukan Allah berkelebihan dalam soal harta benda, akan terletak­lah tugas mendahulukan hartanya di dalam perjuangan; dan yang berkelebihan di dalam ilmu pengetahuan, hendaklah mempergunakan ilmu dan kepadaiannya. Be­gitu pula yang ada tenaga badan dengan mempergunakan kekuatan badan tubuhnya. Maka hendaklah masing-masing berbuat dan bekerja menurut peluang dan ke­sanggupan yang telah disediakan Allah baginya.”

 

Mencermati apa yang tersaji di atas, amr (perintah) Tuhan yang dibebankan kepada manusia hanyalah beban yang terpikul olehnya. Pendapat demikian, menunjukkan kewajiban Tuhan untuk membatasi kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya dengan tidak memberikan beban yang tidak terpikul oleh ma­nusia.

Selanjutnya, dikemukakan pendapat Abdul Halim menge­nai wa’ad wa al-wa’id (janji dan ancaman). Pembicaraan me­ngenai hal ini telah disinggung dalam dua bahasan sebelum­nya, yaitu, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan dan keadilan Tuhan. Dikatakan Abdul Halim, bahwa kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan berlaku atas prinsip al-‘adl (ke­adilan) dan perbuatan-perbuatan Tuhan pun berlaku atas prinsip al-‘adl (keadilan). Maka sebagai implikasi dari pernyataan tersebut, bagi orang yang menggunakan nalarnya akan mengatakan, Tuhan tidak sesekali melakukan perbuatan zalim terhadap hamba-Nya, serta tidak akan memungkiri jan­ji-janji yang telah dibuat-Nya.

Pernyataan Abdul Halim ketika mengatakan, bahwa Tuhan tidak akan memungkiri janji-janji-Nya, dapat dipahami, se­benarnya ia ingin mengatakan, di samping Tuhan memiliki kewajiban untuk menepati janji-janji-Nya, juga memiliki kewajiban untuk melaksanakan amanat-Nya, karena telah dijanjikan-Nya dalam al-Qur’an.

Pelaksanaan terhadap janji-janji dan ancaman juga menegaskan, bahwa semua perbuatan Tuhan tidak berlaku atas sewenang-wenang, dan ia berlangsung menurut sunnatullah yang telah ditetapkan-Nya. Melalui pendapatnya ini, agaknya, sekaligus merupakan penolakan Abdul Halim terhadap pandangan ke­lompok Asy’ariyah yang mengatakan, Tuhan tidak wajib mene­pati janji-janji-Nya dan dapat berbuat atas kehendak-Nya secara mutlak.

Adapun mengenai bi’ats al-rusul (pengiriman rasul-rasul), dapat dicermati dalam tulisan bersambung, al-Adab (keso­panan). Persoalan ini juga telah disinggung sebelumnya dalam pembahasan kekuatan akal dan fungsi wahyu. Dalam tulisannya, al-Adab, disebutkan:

“Agama itu bukannya bikinan manusia segala peperen­tahan dan larangan dan nasehat-nasehat dan beberapa aturan dan lain-lain sebagainya ialah semata-mata yang dikirim daripada Allah Subhanahu wa Ta’ala via Nabi kita Muhammad Saw. supaya disampaikan kepada segenap umatnya”.

Selanjutnya dikatakan, adapun adab dan cinta kepada rasul tidak lain hanya wajib beriman dengan sepenuh hati bahwa Muhammad SAW., adalah benar sebagai  seorang pesuruh Allah kepada segenap manusia di muka bumi.

Pendapat Abdul Halim demikian, berdasar firman Allah suratal-Anbiya’ ayat 28. Lebih lanjut Abdul Halim juga mengatakan:

“… Karena dikira-kirakan Allah tidak akan mengutus beberapa rasul-Nya niscayalah manusia ini ada di dalam kekelamkabutan, yakni tidak mengetahui antara halal dan haram, maka karena itu wajib bagi kita manusia menyintai rasul”.

 

c.8. Sifat-Sifat Tuhan

 Dalam membicarakan sifat-sifat Tuhan, tampaknya ia tidak sepen­dapat dengan faham nafy al-shifat dari kelompok Mu’tazilah. Sebaliknya, menerima faham musbit al-shifat kelompok Asy­ariyah. Hal demikian sebagai dikatakannya, kita harus percaya kepada Allah, wujud atau ada, dan memiliki sifat-sifat tertentu yang mulia dan utama, dan terangkum dalam sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz.

Dari penjelasan Abdul Halim di atas, dapat dipahami, bahwa ia meyakini adanya sifat-sifat Tuhan secara umum. Namun ketika diteliti, apakah sifat-sifat Tuhan itu berada dalam zat-Nya atau di luar zat-Nya, ia tampak menghindari polemik tersebut. Di samping itu, ia pun tidak menegaskan, apakah sifat-sifat Tuhan itu qadim dan baqa’, seperti zat-Nya atau tidak, atau firman Tuhan itu sebagai sifat Tuhan atau bukan yang kemudian dapat ditetapkan, bahwa firman Tuhan itu qadim atau tidak. Lebih jauh, ia pun lupa menjelaskan, apakah Tuhan mengetahui dengan zat-Nya atau melalui ‘ilm-Nya, atau Tuhan melihat melalui bishr-Nya atau dengan zat-Nya.

Hal yang sama juga ditemui ketika melacak pemikiran­nya tentang penggambaran sifat-sifat jasmani Tuhan (ayat-ayat anthropomorpisme) dan tentang ru’yatullah (melihat Tuhan di akhirat). Sekalipun Abdul Halim mengatakan, ada hari akhirat dengan menyebut Tuhan sebagai awal segala se­suatu dan Tuhan menjadi kesudahan tempat kembali segala urusan. Namun ia tidak menjelaskan bagaimana keadaan ma­nusia di akhirat, atau tentang perjumpaan Tuhan dengan hamba-Nya di akhirat secara jasmani atau rohani sesuai janji-Nya dalam al-Qur’an. Barangkali, yang dapat diambil dari penjelasan Abdul Halim mengenai sifat-sifat Tuhan, adalah Mahaesa, Mahaagung, Mahasempurna, serta Mahasuci dari sifat-sifat kekurangan.

Dari serba kekurangjelasan pendapat Abdul Halim di atas, diperoleh informasi dari O. Taofiqullah, bahwa Abdul Halim pernah mengajarkan sebagai berikut: Pertama, Tuhan memiliki sifat jamal (keindahan), jalal (keagungan), dan sifat kamal (kesempurnaan) yang diakumulasikan dalam 20 sifat yang wajib, 20 sifat mustahil dan 1 sifat yang harus jaiz. Kedua, sifat-sifat Tuhan terdiri dari sifat-sifat positif dan ma’ani,seperti qudrat, iradat, dan se­bagainya, yang kesemuanya merupakan sifat-sifat lain dari zat Tuhan. Ketiga, firman Tuhan yang menggambarkan sifat-sifat jasmani Tuhan, mesti dipahami apa adanya tanpa harus di-ta’wil-kan, dan jika terdapat kesamaan-kesamaan, hendak­lah dibedakan antara keduanya, dalam arti, sifat-sifat Tuhan mutlak berbeda dengan sifat-sifat hamba-Nya. Keem­pat, Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat. Kelima, al-Qur’an sebagai perwujudan dari kalamullah yang ‘azim adalah gadim. Sedangkan al-Qur’an yang berupa huruf dan suara adalah baru (hadis).

Jika pendapat O. Taofiqullah sebagai tersaji di atas, sesuai dengan apa yang disampaikan Abdul Halim keti­ka mentransmisikan ilmunya, dapat difahami, bahwa pemikir­an Abdul Halim mengenai sifat-sifat Tuhan dipengaruhi oleh ajaran al-Sanusiah, sebuah kelompok keagamaan yang berge­rak dalam bidang Tarekat, yang dalam perkembangannya di Indonesia sulit dibedakan dengan ajaran Asy’ariyah dalam bidang teologi. Pemikiran Abdul Halim demikian, boleh jadi banyak dilatari oleh pemikiran teologi yang ditransmisikan para gurunya ketika belajar di pesantren-pesantren Jawa.

 

D. Kesimpulan

Dari delapan persoalan teologi yang diteliti, yakni, kekuatan akal, fungsi wahyu, free will dan predestination, konsep iman, kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, keadilan Tuhan, perbuatan-perbuatan Tuhan, dan sifat-sifat Tuhan. Kesamaan pandangan Abdul Halim dengan kelompok Maturidiyah Bukhara terdapat dalam dua hal, yaitu, dalam persoalan sifat-sifat Tuhan dan perbuatan buruk manusia dikaitkan dengan masyi’ah dan rida Tuhan. Sedangkan kesamaan dengan kelompok Asy’ariyah terdapat dalam persoalan sifat-sifat Tuhan. Sementara itu, dalam sejumlah persoalan lainnya sepaham dengan kelompok Mu’tazilah dan Matutidiyah Samarkand.

Pemikiran rasional yang dikembangkan Abdul Halim de­mikian, paling tidak dilatari oleh dua alasan. Pertama, kepasrahan diri atas taqdir sebagai pengaruh dari pemikir­an teologi yang didoktrinkan para ulama di daerahnya, tidak mampu membawa perubahan dalam kehidupan. Bahkan semakin hari bangsanya semakin diinjak-injak oleh keserakahan ko­lanialisme (Belanda). Selain itu, sebagai pengaruh kesem­pitan pengetahuan dan iman, muncul dekadensi moral yang ditandai perilaku bid’ah, khurafat, dan berbagai tindakan amoral serta asusila. Kedua, selama bermukim di Makkah, ia adalah salah seorang murid Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi dan Syekh Ahmad Khayyat, yang terkenal longgar kepada mu­rid-muridnya untuk menela’ah buku-buku tentang pembaharuan yang disoundingkan oleh Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh, dua tokoh pemikir Islam rasional.

Pemikiran teologi Abdul Halim yang menempatkan akal pada posisi sentral dengan tanpa mengabaikan peranan wahyu, atau pandangannya tentang kebebasan manusia dalam me­lakukan kemauan dan perbuatannya, dapat dipahami, tumbuh atas keprihatinannya terhadap situasi dan kondisi di atas. Dalam kaitan itulah, corak pemikiran teologi Abdul Halim yang mengedepankan dinamika manusia yang tetap secara ko­koh memegang dasar-dasar agama, memerlukan pemahaman baru agar dinamika dan kemerdekaan yang ditawarkannya memberikan manfaat yang lebih besar.

 

Daftar Pustaka

Abd al-Jabbar, al-Qadi Ibn Ahmad al-Hamazani, Syarh al-Ushul al-Khamsah, Maktabah Nahdlah, Kairo, 1965.

 

———- Al-Majmu’ fi al-Muhit bi al-Taklif, Institut des Letters Orientales, Beirut, 1965.

 

Abduh, Muhammad, Risalat al-Tauhid, Dar al-Manar, Kairo, 1366 H.

 

Abd. al-Bagi, Muhammad Fu’ad, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Quran al-Karim, Dar el-Fikr, Beirut, 1981.

 

Asy’ari al, Abu al-Hasan Ibn Ismail, al-Ibanat ‘an Ushul alDiyanah, (Ed.) Syekh Muhammad al-Ansari, Maktabi al-Jami’at al-Islamiyah, Madinah, 1411 H.

 

———, Kitab al-Luma’ fi al-Radd ‘ala Ahl al-Zaigh wa al-Bida’, Syarikat Musahammat al-Misriyah, Kairo, 1955.

 

———, Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Musallin, (Ed.) Maktabah el Nahdah el Misriyah, Mesir, 1954.

 

Halim, K.H. Abdul, Risalah Penundjuk Bagi Sekalian Manusia, Galunggung Drukkerij, Tasikmalaya, 2048/1938.

 

———, Jalan Sempurna ke Arah Kebahagiaan Dunia Akhirat, Catatan Harian/Manuskrip, t.t.

 

———, Economie & Cooperatie Dalam Islam, Santi Asromo, Majalengka, 1936.

 

———, Ketetapan Pengajaran di Sekolah Ibtidaivah (Rendah) POI-POMP, Berbahasa Arab, Majalengka, 1934.

 

——— , Oelama Pembawa Amanat Allah, dalam SMI, Vo.16 th.II. 1363/2604.

 

———, Agama Pelita Masyarakat, Majalah Mingguan Islam “Hikmah”, No.19, th. X, 25 Mei 1957/25 Syawal 1376.

———, Masjarakat Hidup dan Semangat Bekerdja, dalam SMI, Majalah, No. 3, th II, 1363/2604.

 

——— , Menudju ke Arah Perbaikan Peri Pergaulan Hidup Manusia Bersama Dalam Dunia Allah, dalam SMI, Majalah, No.4, th II, 1363/2604.

 

———-, Tangga Kebahagiaan Oemoem, dalam Soeara MIAI, No. 2, th I, 1934.

 

———, Ruangan Hadis Tentang Penutup Para Nabi, dalam Soeara MIAI, Majalah, No. 2, th I, 1362/2603.

 

——— , Azas dan Tujuan Pendidikan/Pengajaran Santi Asromo, 1932.

 

Wanta, S., Intisab PUI Lahir Penjelasan dan Peneranganya, PB-PUI Majlis Pendidikan Penerangan dan Da’wah, Majalengka, 1990.

 

——— Al-Mawaizh: Metoda Hidup dan Kendalanya, Buku I s.d. XXVII, Sekretariat Dewan Pembina PB-PUI, Majalengka.

 

——— Seri Ke-PUI-an, Jilid I s.d. IX, PB-PUI Majelis Penyiaran Penerangan dan Da’wah, Majalangka, 1991.

Rujukan Dalam Bentuk Majalah

Soeara Persjarikatan Oelama, No. 1-2, th. III, 1931.

———, No. 3, Th. III, 1931.

———, No. 4-5, Th. III, 1931.

———, No. 6-7-8, Th. III, 1931.

———, No. 9, Th. III, 1931.

———, No. 10, Th. III, 1931.

———, No. 11-12, Th. III, 1931.

Soeara Persjarikatan Oelama, No. 1, Th. IV, 1932.

———, No. 2, Th. IV, 1932.

———, No. 3-4, Th. IV, 1932.

———, No. 5-6-7, Th. IV, 1932.

———, No. 8-9, Th. IV, 1932.

———, No. 10-11-12, Th. IV, 1932.

Pemimpin Pemuda P.O.I., No. 1, 1936,

As-Sjoero, No. 1, Th. VI, 1935.

———, No. 2, Th. VI, 1935.

———, No. 3-4, Th. VI, 1935.

———, No. 5, Th. VI, 1935.

———, No. 1, Th. VII, 1936.

———, No. 2, Th. VII, 1936.

———, No. 1, Th. VIII, 1937.

———, No. 3, Th. IX, 1938.

Soeara Moeslimin Indonesia (SMI), No. 23, Th. II, 1363/2604.

Soeara Madjlis Islam ‘Ala Indonesia (Soeara MIAI), No. III, Th. I, 1363/2604.

Pandji Islam, No. 31, Th. VII, 1940.

Kiblat, No. 13/XXXIII/1986.

Dialog: Jurnal Studi Dan Informasi Keagamaan, No. 23, Th. XII, 1987.

Pelita Kehidupan Amanah, No. 92, Th. 1990.

Studia Islamika, No. 2 Th. 1993.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s