AHMADIYAH DI PERSIMPANGAN JALAN

AHMADIYAH DI PERSIMPANGAN JALAN:

(Perbedaan Antara Jemaat Ahmadiyah Indonesia [JAI] dengan

 Gerakan Ahmadiyah Indonesia [GAI] )

B A B  I

Pendahuluan

A.Latar belakang Masalah

Gibb,[1] menyebutkan Gerakan Ahmadiyah adalah nama gerakan yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad (1839-1908) di Qadian, Punjab, India. Tiga ajarannya yang berbeda dengan kelompok Muslim lainnya adalah mengenai penyaliban Isa as., mengenai al-Mahdi dan mengenai jihad.

 Menurut pendapatnya Isa tidak meninggal di kayu salib, melainkan setelah kematian dan kebangkitannya kembali dia berhijrah ke Kasymir untuk mengajarkan Injil di negeri itu. Disitulah dia meninggal pada usia 120 tahun dan makamnya hingga sekarang masih ada di Srinagar.

Mengenai al-Mahdi, dia memproklamasikan diri sebagai Al-Mahdi yang dijanjikan itu dan sekaligus sebagai inkarnasi Isa dan Muhammad serta sebagai avatar (inkarnasi) Krishna. Menurut ajarannya, kepercayaan terhadap dirinya sebagai al-Mahdi (Messiah, Al-Masih) yang ke 2 atau yang dijanjikan termasuk salah-satu rukun iman, karena (1) kedatangannya di awal abad ke -14 H diramalkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri dan (2) dia membuktikan dirinya menerima wahyu.

Sedangkan mengenai jihad dikatakannya bahwa ayat-ayat tentang jihad sudah dihapuskan (mansukh) dan dia datang untuk membawa perdamaian, bukan perang. Gerakan ini terbagi menjadi dua kelompok; (1) Kelompok Qadiani, yang menganggap Mirza sebagai nabi, dan (2) kelompok Lahore, yang menganggap Mirza sebagai pembaharu (mujaddid).[2]

Di Indonesia, organisasi  Ahmadiyah yang me-representasikan ajaran Ahamdiyah Qadian adalah Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) bermarkas di Parung Bogor, sedangkan organisasi yang me-representasikan ajaran Ahmadiyah Lahore adalah Gerakan Ahmadiyah Indonesia bermarkas di Jln. Baciro, Yogyakarta.[3]

Kedua kelompok ini, pada kenyataannya sulit bagi kita untuk membedakannya. Mana yang beranggapan Mirza sebagai pembaharu, dan mana yang berkeyakinan Mirza sebagai nabi. Karena itu, sebagian besar masyarakat Indonesia selalu menyamaratakan terhadap ajaran Ahmadiyah di Indonesia.

Keyakinan diatas, di Indonesia membentuk dua mazhab. Pertama mazhab atau kelompok jogyakarta dan kedua kelompok Parung Bogor. Kedua kelompok ini tersebar keseluruh pelosok tanah air. Masyarakat awam akan sulit untuk membedakan, mana kelompok Bogor dan mana kelompok Jogyakarta.

Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah bagian dari Jamaah Muslim Ahmadiyah Internasional. Di Indonesia, organisasi ini telah berbadan hukum dari Menteri Kehakiman Republik Indinesia sejak 1953 (SK Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 Tgl. 13-3-1953).[4]

Walaupun memiliki badan hukum, ajaran Ahmadiyah  ini terjadi pro dan kontra, apakah penganut ajaran Ahmadiyah termasuk bagian dari umat Islam atau sebagai agama tersendiri. Atas dasar paham yang dikemukakan diatas terjadi perselisihan paham yang berujung kepada tindakan kekerasan diantara kedua belah pihak, bahkan yang tidak berkepentingan masuk kewilayah perbedaan ini, sehingga memunculkan bentrokan fisik. Dengan dalih, atas nama kebebasan beragama, sementara yang lain atas nama penodaan terhadap agama.

Atas paparan diatas, maka munculah SKB (3 Menteri) tentang Ahmadiyah,  memuat 7 Butir SKB 3 Menteri, yaitu:

1.Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No 1 PNPS 1965 tentang pencegahan penodaan agama.

2.Memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya. Seperti pengakuaan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

3.Memberi peringatan dan memerintahkan kepada anggota atau pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan tersebut dapat dikenani saksi sesuai peraturan perundangan.

4.Memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI.

5.Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga yang tidak mengindahkan peringatan dnan perintah dapat dikenakan sanksi sesuai perundangan yang berlaku.

6.Memerintahkan setiap pemerintah daerah agar melakukan pembinaan terhadap keputusan ini.

7.Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, 09 Juni 2008.

“Ini (SKB 3 Menteri) intinya memerintahkan menghentikan seluruh kegiatan JAI,” kata Jaksa Agung Hendarman Supandji kepada wartawan seusai pengumuman SKB 3 Menteri Tentang Perintah Terhadap Penganut Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di kantor Departemen Agama (Depag), Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.[5]

MUI pernah mengeluarkan fatwa secara umum, dan tidak dikhususkan hanya kepada Ahmadiyah saja. Fatwa tersebut terkenal dengan istilah  “sepulu criteria aliran sesat”,[6] yaitu:

1)                             Mengingkari Rukun Iman dan Rukun Islam;

2)                  Meyakini/mengakui aqidah yang tidak sesuai dalil syar’i [al-Qur’an dan hadist];

3)                  Meyakini turunnya Wahyu setelah al-Qur’an;

4)                  Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi al-Qur’an;

5)                  Melakukan penafsiran al-Qur’an yang tidak sesuai berdasarkan kaidah tafsir;

6)                  Mengingkari kedudukan hadist nabi sebagai sumber ajaran Islam;

7)                  Melecehkan dan atau merendahkan para Nabi dan Rasul;

8)                  Mengingkari Nabi Muhammad saw sebagai Nabi dan Rasul terakhir;

9)                  mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syar’iah dan;

10)              Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i.

MUI menilai SKB langkah maju, Majelis Ulama Indonesia merasa tak puas dengan isi SKB. Meski begitu SKB 3 Menteri itu dipandang sebagai langkah maju pemerintah menyikapi polemik keberadaan Ahmadiyah di tanah air.

Ketua Ulama Indonesia, Ma’ruf Amin menyatakan kendati Surat Keputusan Bersama yang dikeluarkan pemerintah tidak punya kewenangan untuk membubarkan Ahmadiyah di Indonesia, tapi langkah yang diambil pemerintah Indonesia dengan mengeluarkan SKB mengenai pelarangan aktivitas Ahmadiyah di Indonesia merupakan langkah maju dalam mengatasi ketidakpastian mengenai keberadaan Ahmadiyah di Indonesia selama ini. Pendapat senada disampaikan Mahendra Datta, anggota Tim Pembela Muslim.

Sementara itu Din Syamsudin, Ketua Umum PP Muhammadiyah menyatakan, sebagai warga negara Indonesia setiap orang berhak untuk mendapatkan kebebasan dalam berkeyakinan, namun tidak untuk disebarkan. Karena itu umat Islam di Indonesia harus menghormati keputusan yang telah dikeluarkan oleh Jaksa Agung, Menteri Agama serta Menteri Dalam Negeri ini.[7] Sebelum keluar SKB 3 (Menteri), MUI pernah mengeluarkan fatwa pada tahun 2005 yang menyatakan Ahmadiyah sesat.[8] Fatwa MUI tersebut segera disanggah, dengan mengeluarkan Maklumat, [9] oleh Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) atau yang dikenal dengan Ahmadiyah aliran Lahore yang berpusat di Jogyakarta.

Salah satu fatwan MUI yang telah dikeluarkan pada tanggal 29 Juli 2005 adalah statement bawa Ahmadiyah keluar dari Islam, sesat dan menyesatkan. Keputusan MUI yang menyebutkan bahwa Ahmadiyah keluar dari Islam, sesat dan menyesatkan, ternyata akan dapat berakibat menimbulkan ketegangan  dalam kehidupan beragama di masyarakat. Sebab arti yang terkandung dalam statemen fatwa MUI tersebut, adalah bahwa semua pengikut paham Islam Ahmadiyah kelompok manapun adalah murtad dan juga dapat berarti kafir. Pendapat bahwa pengikut paham Islam Ahmadiyah murtad atau kafir adalah sangat berbahaya. Kami yakin MUI telah khilaf dalam mengumumkan statement mengenai Ahmadiyah.[10]

B.Perumusan Masalah

Atas dasar paparan diatas, maka dalam penelitian ini akan disusun identifikasi masalah sebagai berikut dibawah ini:

1.Bagaimana proses terjadinya sebagai wali dan pembaharu Mirza Gulam Ahmad ?

2.Bagaimana proses terjadinya sebagai Imam Mahdi Mau’ud dan Messiah Mirza Ghulam Ahmad ?

3.Bagaimana tahapan pengakuan Kenabian Mirza Ghulam Ahmad ?

4.Bagaimana faktor yang mempengaruhi ajaran Ahmadiyah ?

C.Tujuan  dan Kegunaan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.Untuk mengetahui  proses terjadinya sebagai wali dan pembaharu Mirza Gulam Ahmad

2.Untuk mengetahui proses terjadinya sebagai Imam Mahdi Mau’ud dan Messiah Mirza Ghulam Ahmad

3.Untuk mengetahui tahapan pengakuan Kenabian Mirza Ghulam Ahmad

4.Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi ajaran Ahmadiyah

Adapun kegunaan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Penelitian ini diharapkan dapat menawarkan format baru dalam penyelesaian kasus Ahmadiyah di Indonesia.
  2.  Penelitian ini diharapkan memberikan masukan bagi semua Pihak,  baik pemerintah, umat Islam dan penganut ajaran Ahmadiyah

D.Tinjauan Pustaka dan Kerangka Berpikir

Seperti telah disinggung diatas, bahwa penelitian ini bertujuan untuk mempelajari “Ahmadiyah dipersimpangan Jalan: Perbedaan antara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dengan Gerakan Ahamdiyah Indonesia (GAI)”. Dengan kata lain, apakah kedua aliran Ahmadiyah yang ada di Indonesia, terdapat perbedaan yang sangat fundamental dari sisi aqidah Islam, sehingga memberikan corak pula dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan  ajaran Islam.  Dalam kerangka theory ini, diajukan; definisi istilah, Grand Theory, midle theory dan aplicative.

  1. 1.                        Definisi Istilah

Pertama, mengenai istilah Ahmadiyah,  adalah nama gerakan yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad (1839-1908) di Qadian, Punjab, India. Tiga ajarannya yang berbeda dengan kelompok Muslim lainnya adalah mengenai penyaliban Isa as., mengenai al-Mahdi dan mengenai jihad.[11]Akan tetapi, perbedaan yang sangat mencolok dengan Muslim lainnya adalah mengenai Kenabian Mirza Ghulam Ahmad.

Kedua, mengenai persimpangan jalan. Dimaksudkan, ajaran Ahmadiyah sampai hari ini menjadi kontroversi yang berkepanjangan, tak kunjung selesai. Bahkan, memicu terjadinya kekerasan akibat dari kerancuan ajaran Ahmadiyah. Amadiyah menganggap kafir diluar Ahmadiyah, sementara Muslim yang lain demikian juga mengangap sesat terhadap ajaran Ahmadiyah.

Ketiga, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Dimaksudkan sebagai aliran Ahmadiyah yang  menganggap bahwa Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Aliran ini bagian dari aliran Ahmadiyah Qadiyaniyah, di Indonesia berpusat di Bogor, yang ke khalifahannya berpusat di London. Sedangkan, Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) yang berpusat di Jogyakarta, aliran ini bagian dari aliran Lahore, aliran ini tidak memposisikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, akan tetapi diposisikan sebagai pembaharu saja.

  1. 2.                          Kerangka berpikir

Dalam penelitian ”Ahmadiyah dipersimpangan jalan: Perbedaan antara Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI), menunjukan terdapat kerancuan dalam ajaran Ahmadiyah itu sendiri. Karena itu sebagai tolok ukur dalam penelitian ini adalah berkaitan dengan kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Maka untuk mendekati masalah tersebut teori yang digunakan adalah berkenaan dengan teori Kenabian, yang merupakan pendekatan kewahyuan. Karena itu, nabi didefinisikan melalui dua pendekatan, secara bahasa dan istilah. 

Nabi secara bahasa, pertama; ”al-naba” artinya kabar, berita atau keterangan. Kedua; ”al-nabiy’u” artinya tempat yang tinggi, jalan yang terang,  Ketiga; ”al-nubuwatu ”artinya kenabian, keempat; ”al-mutanabbi’u” mengaku menjadi nabi.[12]

Nabi dalam artian yang pertama dimaksudkan adalah orang yang membawa kabar atau berita dengan keterangan-keterangan yang jelas. Sedangkan Nabi, jika dilahat dari kedudukan arti yang kedua adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi, mulia terhormat dengan membawa atau menunjukan jalan yang terang.

Sedangkan nabi dilihat dari sudut gelar arti yang ketiga, adalah orang yang memiliki gelar kenabian, yang diberikan Allah SWT kepada hamba pilihan-Nya. Sedangkan arti yang keempat, ialah orang yang mengaku sebagai nabi, dengan mencakup tiga unsur yang pertama diatas, yaitu; membawa  kabar gembira, berita, atau keterangan. Ia termasuk orang yang dimuliakan karena kehormatannya, dengan menunjukan jalan yang terang kepada orang lain. Adanya pengakuan sebagai nabi, baik oleh dirinya atau oleh orang lain.

Arti nabi diatas, jika disebutkan “al-nabi” tanpa hamjah terambil dari nabaa, yanbuu artinya tinggi. Atau bisa juga terambil dari al-nabiy dengan mengandung arti jalan. Karena itu, nabi secara bahasa adalah sebagai washilah (perantara) dan thariq (jalan) menuju kebenaran. Terdapat hubungan yang erat antara makna bahasa dengan kalimat nabi, karena arti asal dari kalimat nabi secara bahasa adalah mulia, kedudukan terhormat, dan tinggi. Jadi, nabi adalah orang yang memiliki kehormatan dari manusia lainnya, karena kesempurnaan jasmani dan kesucian ruhani.[13]

Adapun makna nabi dengan memakai hamjah “al-nabii’u” terambil dari fi’il “naba’a” mengandung makna hobar “anbaa’a” artinya berita. Karena itu, manbaa’ –isim maf’ul- yaitu berita dari Allah SWT. Dan munabi’u –isim fa’il- yaitu berita untuk manusia.[14]

Pengertian Ini, adalah nabi dalam artian bahasa. Jika dilihat dari sudut pandang bahasa saja, maka pengertian nabi tidak terputus sampai hari ini. Atas dasar arti nabi secara bahasa yang dikemukakan diatas, maka nabi bisa juga didefinisikan sebagai “otak umat pada zamannya.”[15]

Sedangkan secara istilah, nabi  adalah; manusia, merdeka, yang memiliki kekhususan dari Allah SWT dengan menerima wahyu yang membawa hukum syar’i taklify.[16] Sedangkan makna Rasul dan Nabi, adalah setiap Rasul adalah nabi, dan tidak setiap nabi adalah Rasul.

Perbedaannya adalah Rasul diperintahkan untuk menyampaikan wahyu sedangkan nabi tidak diperintahkan menyampaikan wahyu. Karena itu, Rasul dibarengi dengan membawa atau diberi Kitab dan syari’at yang baru dan sebagai penyempurna dari syari’at sebelumnya. Disamping itu, berfungsi menghapuskan sebagian syari’at sebelumnya. Berbeda dengan nabi, ia berperan hanya melaksanakan dan mengajak dengan kitab dan syari’at sebelumnya. Seperti, nabi-nabi Bani Israel antara Musa sampai Isa.[17]

Sedangkan Muhammad saw sebagai penutup para Nabi: ”Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”[18]  

DAFTAR PUSTAKA

 

Buku:

Ahmadi Djajasugita, F. Benarkah Ahmadiyah Sesat?, (Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah, 2007), hal. iv.

Depag RI. Al-qur’an dan Terjemahnya

Furqon. Statistk Terapan Untuk Penelitian, (Bandung: Al Fabeta, 1997)

Gibb, H  A. R.Aliran-aliran Modern Dalam Islam (ter), (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995).

Iskandar, Nanang, RI. Fatwa Majlis Ulama Indonesia dan Gerakan   Ahmadiyah, (Jakarta: Darul Qutubul Islamiyah, 2005).

Sarwono, Sarlito Wirawan. Teori-teori Psikologi Sosial,(Jakarata: Raja Wali, 2000)

Soehartono, Irawan. Metode Penelitian Sosial, (Bandung: Rosda karya, 1998).

Media Cetak:

Republika, 4 Juni 2008).

Kompas, 6 Juni 2008.

Republika, 7 November 2007.

Media elektronik:

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

Detikcom,  Senin (9/6/2008

Iindosiar.com, 11-Jun-2008. 

[1] H.A.R. Gibb. Aliran-aliran Modern Dalam Islam (ter), (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hal.18-19.

[2] Bandingkan dengan, F. Ahmadi Djajasugita, Benarkah Ahmadiyah Sesat?, (Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah, 2007), hal. iv.

[3] Ibid., hal. v.

[4]Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

[5] Senin (9/6/2008/detikcom ).

[6] Republika, 7 November 2007.

[7] Iwan Munandar/Surnata/Sup, indosiar.com, 11-Jun-2008.

[8] Fatwa MUI 29 Juli 2005. Lengkapnya lihat dalam lampiran

[9] Maklumat dari Gerakan Ahmadiyah Indonesia, lihat dalam lampiran

[10]Nanang RI Iskandar. Fatwa Majlis Ulama Indonesia dan Gerakan   Ahmadiyah Indonesia, (Jakarta: Darul Qutubul Islamiyah, 2005).

[11] H.A.R. Gibb. Aliran-aliran Modern Dalam Islam (ter),  hal.18-19.

[12] Ahmad Warson Munawwir. Kamus Arab-Indnesia, (Jogyakarta: Pustaka Progressif, 1997). Hal. 1375.

[13]Muhammmad Anwar Haamid isya. Qadhaayaa a’qaaidiyat, al-Qahiraah: Alshofaa, 1988), hal.70.

[14]Ibid., hal. 70.

[15]Demikian pendapat Prof. DR. H. Abdul Razak, Guru Besar pada Facultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Ia mengemukakan pada penulis, pada tanggal 30 Desember 2008).

[16]Muhammmad Anwar Haamid isya. Qadhaayaa a’qaaidiyat, hal.73.

[17]Ibid., hal. 73.

[18]QS.Al-Ahzab, [33]: 40.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s