UJIAN DAN KESABARAN

Image

UJIAN DAN KESABARAN

Oleh : Wawan Kurniawan, M.Ag

 “Sesungguhnya Kami uji manusia itu dengan bermacam-macam ujian, adakalanya dengan ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, kematian dan kekurangan buah-buahan, berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar atas cobaan itu. yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah (malapetaka) mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami ini kepunyaan Allah dan akan kembali kepada-Nya. (Al-Baqarah ayat 155-156)”

Dari teks ayat Al-Qur’an diatas kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa Tuhan akan dan pasti akan menguji manusia dengan berbagai ujian dan cobaan di dunia ini. Dengan ungkapan kepastian tersebut tentulah manusia mesti memahami dan memakluminya. Artinya, manusia mesti siap dengan berbagai ujian, cobaan dan musibah yang mungkin akan terjadi menimpa dirinya kelak di kemudian hari. Kesiapan manusia untuk menerima cobaan dan musibah ini, semestinya sudah tidak usah diperbincangkan lagi sebab kedatangan musibah itu sudah mutlak adanya, sudah pasti datangnya selama manusia hidup di dunia ini. Yang penting untuk dibicarakan dan dipahami selanjutnya adalah, bagaimana manusia agar bisa mampu menerima segala cobaan yang akan datang menimpa dirinya tersebut. Sebab hal ini penting agar apapun musibah yang datang, seseorang sudah tidak kaget lagi dan tidak prustasi menerimanya.

Kesiapan seseorang untuk menerma ujian dan cobaan adalah termasuk aspek psykologis dan aspek akademis. Artinya, tingkat pemahaman orang terhadap sesuatu musibah dan cobaan dapat dikendalikan apabila aspek psykologis dan aspek akademis orang tersebut diperkirakan mampu memahami, mengantisipasi, mengkalkulasi dan akhirnya mampu mengendalikan bentuk-bentuk cobaan dan musibah itu. bila seseorang dari sejak awal sudah meyakini bahwa kehidupan dirinya suatu saat akan terkena musibah, maka dia pun yakin bahwa dirinya harus mengantisipasi, memahami dan mengendalikannya bila hal itu terjadi. Kesiapan seseorang terhadap situasi seperti ini, inilah yang dimaksud termasuk aspek psykologis. Bila kesiapan psykologis sudah yakin tertanam di dalam dirinya dan siap secara manusiawi menerima ujian dan cobaan dari Allah, maka seseorang akan berusaha secara metodologis untuk menemukan solusinya secara akademis, bahkan mungkin secara spiritual dalam arti religius. Aspek psykologis—akademis seseorang adalah sesuatu yang utama dalam memahami dan menjalani kehidupan di dunia ini. Kekuatan seseorang secara psykologis, dia akan tegar dalam menjalani kehidupannya, tahan banting dengan berbagai cuaca kehidupan. Begitu pula kekuatan akademis seseorang akan mampu mengkalkulasi dan menemukan varian cara untuk keluar dari berbagai kesulitan yang terjadi dalam dirinya. Dua kekuatan ini sangat diperlukan oleh seseorang dalam mengarungi kehidupannya, apalagi seseorang yang mengklaim dirinya sebagai manusia beragama, hal itu sudah menjadi suatu keharusan untk ia miliki.

Kekuatan psykologis berawal dari tingkat kesadaran seseorang, artinya dia sadar sebagai seorang manusia—yang suatu saat akan tertimpa ujian, cobaan dan musibah. Maka dengan benturan, kendala, rintangan bahkan musibah apapun bentuk kesadaran ini sudah melekat dalam dirinya sebagai pondasi benteng pertahanan. Kesadaran penuh adalah keyakinan dalam ilmu agama. Jadi kesadaran penuh ataupun keyakinan adalah keyword (kata kunci) bagi manusia untuk naik peringkat menjadi manusia utama insan kamil. Kondisi ini penting dipahami dan dimiliki oleh setiap manusia sebagai bekal diri dalam mengarungi dinamika kehidupan yang semakin hari semakin atraktif.

Dan penting untuk dipahami, bahwa Allah akan menguji seseorang seimbang dengan kesiapan dan kekuatan psykologis-akademis orang tersebut. Laa Yukallifu nafsan (Allah tidak akan membebani seseorang) artinya adalah seimbang, setimpal dan sepadan—apapun keadaannya—tidak akan kurang ataupun lebih. Illa wus’aha—identik dengan kekuatan akademis seseorang untuk menemukan sebuah solusi dari sebuah ujian dan cobaan.

Tingkat kesadaran penuh (keyakinan) dan kesiapan psykologis-akademis seseorang suatu saat Allah uji dengan aneka ragam cobaan, antara lain:

Ketakutan (Fear)

Ketakutan adalah bentuk abstrak dari sebuah kenyataan. Ia tidak realistik tapi terasa adanya. Seperti takut terhadap sesuatu, takut kehilangan yang berharga dalam diri. Ketakutan-ketakutan ini sangat psikis adanya. Maka kondisi psykologis seseorang penting kekuatan dan kesiapannya. Setiap orang dapat dipastikan pernah mengalami dengan perasaan ketakutan. Banyak faktor sehingga seseorang mengalami perasaan takut, takut miskin, takut kehilangan cinta dari orang-orang yang sangat dicintainya. Takut kehilangan pekerjaan (PHK), takut tidak lulus sekolah dan banyak lagi ketakutan-ketakutan itu muncul tergantung kondisi dan ketangguhan seseorang secara psykologis. Ketakutan dan kekhawatiran sangatlah manusiawi. Maka apabila ketakutan menjadi sumber prustasi, maka orang tersebut tidak layak lagi disebut sebagai manusia. Ketakutan adalah cobaan, ketakutan adalah ujian, ketakutan dalah dinamika kehidupan semua orang. Hal itu lumrah adanya, wajar kedatangannya dan mesti sederhana menyikapinya. Kesadaran penuh dan yakin akan datangnya perasaan takut disuatu saat, haruslah tegar dan wajar memahami dan menyikapinya. Bila sudah disadari bahwa ketakutan adalah perasaan khawatir sebagai sebuah cobaan yang datang dari Allah, maka perasaan takut itu akan kembali pula kepada Allah dengan kesabaran dan ketawakalan. Kesabaran dan ketawakalan tidaklah berarti diam, tapi bermetodologi dan berusahan mencari solusi. Setiap orang berbeda dalam memahami, merumuskan dan mencari solusi pada setiap masalah-masalahnya.

Kelaparan

Kelaparan adalah aspek mekanik-pisik. Artinya tidak adanya asupan sesuatu makanan kedalam tubuh sehingga perut terasa lapar dan badan terasa lemah. Kelaparan adalah suatu kondisi tragis yang bisa menimpa kepada seseorang secara individual ataupun komunal bahkan mungkin universal. Kelaparan dapat terjadi kepada seseorang karena terdapat suatu kesulitan untuk mendapatkan sesuatu secara eksternal. Secara eksternal artinya bahwa dimensi kelaparan terdiri dari dua hal yang berbeda secara dipersifikasi. Ada tubuh manusia disatu pihak, dan makanan di pihak lain. Keduanya diciptakan Allah berdiri secara sendiri-sendiri. Untuk mengantisipasi agar manusia tidak merasa lapar, maka manusia harus bisa mendapatkan suatu makanan. Sebagai manusia yan berakal, bahkan manusia dimungkinkan dapat meramu dan membuat berbagai makanan dari bahan-bahan tertentu.

Namun berbeda halnya bila kelaparan tersebut dikondisikan dan sengaja diciptakan. Bila kondisi kelaparan ini sengaja diciptakan sebagai ujian dan cobaan Allah kepada manusia, maka tentu bisa dipahami bahwa Allah akan menutup pintu-pintu keluarnya suatu makanan. Kelaparan identik dengan kemiskinan. Kelaparan menutup potensi-potensi diri manusia untuk mendapatkan suatu makanan. Kelaparan identik dengan kegersangan, ketandusan alam. Kelaparan sangat sulit mendapatkan makanan, apalagi kondisi itu sengaja Allah yang menciptakannya dapat dibayangkan bagaimana keadaannya. Manusia sulit menemukan makananan, untuk membeli tidak ada yang menjual, untuk bercocok tanam tidak ada kesuburan lahan. Semuanya mati dan tidak tumbuh sebagai bahan makanan. Bila manusia sadar dengan penuh keyakinan, bahwa pada saat kondisi ini menimpa dirinya dan semuanya itu bersumber dari ujian Allah bagi dirinya, maka tentu ia akan sabar, tawakal dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah Sang Pemberi Cobaan. Bila ia sadar bahwa dirinya saja secara pisik dan psykis dari Allah, apalagi masalah-masalahnya yang menyelimuti dirinya tentu pula berbarengan datang pula dari Allah. Dan solusinya adalah kembalikan kepada-Nya dengan perasaan sabar, tawekal, penuh keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan keluarnya bagaimanapun caranya. Dan perlu diyakini pula bahwa cara Allah berbeda dengan cara manusia. Allah al-malikul kulli hal. Segala sesuatu kun baginya dan fayakun bagi-Nya pula. Mudah segala sesuatu bagi-Nya.

Kekurangan Harta

Ujian Allah kepada manusia bisa berupa mengurangi harta bendanya. Sebagian dari pernah mengalami situasi seperti ini. Kita merasa susah, gelisah, sementara kebutuhan-kebutuhan terus mendesak. Kebutuhan akan rumah tangga yang terus meninggi. Kebutuhan biaya pendidikan anak-anak kita yang kian hari kian melambung. Kebutuhan-kebutuhan inilah faktor penggerak hingga kita merasa serba kekurangan. Sebab bila tidak ada kebutuhan, maka diri kita terasa cukup. Dengan demikian, Allah akan terus menguji kita untuk selalu butuh dengan segala sesuatu yang kemudian akhirnya berharap akan datangnya sesuatu yang dapat memenuhi segala kebutuhan itu. namun apabila semuanya terasa sulit untuk dicari, disaat itulah perasaan serba kekurangan muncul. Dan bila keadaannya makin hari makin terus merasa kurang dan kebutuhan terus mendesaknya, maka kegelisahan, kesengsaraan terus merana dalam diri kita. Untuk itu Allah telah memberikan cara mengantisipasinya yaitu kembalikan semuanya kepada-Nya dengan penuh keyakinan, kesabaran dan terus tetap tawekal menghadapinya dengan penuh kepasrahan kepada-Nya dengan do’a dan harapan agar semua ujian ini segera selesai dan berlalu dengan penuh keridlaan-Nya.

Kematian

Semua makhluk didunia ini akan punah. Semua ciptaan Allah tidak kekal adanya. Termasuk manusia akan mati pada saat waktunya telah tiba, tidak ada sesuatupun yang bisa menghalangi ketentuan-Nya. Kematian adalah takdir. Kematian adalah ketentuan Allah bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Namun bagi manusia akan terasa sedih bila ditingal mati oleh keluarganya. Oleh ayah dan Ibunya, oleh adik dan kakaknya, oleh bibi, paman dan saudara-saudara terdekatnya. Kesedihan ini muncul karena rasa sayang, rasa rindu yang mendalam karena selamanya akan ditinggal mati dan entah kapan dapat bertemu kembali. Hubungan komunikasi verbal putus, sayang menyayangi, belai membelasi tak akan pernah terjadi lagi. Bayangan keterpisahan akan muncul disetiap benak orang yang ditinggal mati saudara-saudaranya.

kematian akan pasti kedatangannya, dan itulah sebuah ujian yang Allah berikan kepada setiap manusia. Tak ada satu orangpun yang kebal dengan kematian. Bila Allah telah menetapkan waktunya kepada seseorang untuk mati, maka dicabutlah nyawa orang tersebut melalui malaikat ijrail (pencabut nyawa) dan wafatlah ia dari alam nyata itu dan menuju ia kealam akhirat—melalui sebuah penghisaban terlebih dahulu. Pertanggung jawaban sebuah amal di dunia akan dimintai pertanggung jawabannya. Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, dan kejahatan akan menerima balasannya yang setimpal. Ada surga dan neraka bagi setiap orang yang berhak menerimanya. Kesedihan akibat kematian adalah ujian Allah yang nyata. Namun tidak akan merasa bersedih berkepanjangan bagi manusia yang sadar akan datangnya kematian. Ia malah semakin yakin kepada Allah atas segala kuasa-Nya. Karena tidak pernah ada manusia super yang dapat menangkal kematian. Tidak ada orang hebat yang mampu menolak kematian. Semuanya akan dan pasti mati. Maka bagi orang yang beriman, kematian bukanlah sebab dari sebuah kesedihan. Akan tetapi kematian adalah sumber kesadaran dan keyakinan terhadap kuasa dan ketentuan Allah yang harus diimani tanpa kecuali.

Kekurangan Buah-buahan

Seperti halnya kelaparan dan kekurangan harta benda. Kekurangan buah-buahan adalah akibat dari gersang dan tandusnya tanah-tanah perkebunan, kekeringan yang memanjang. Kemarau berkepanjangan tanpa pernah turun hujan untuk menyirami lahan-lahan sawah dan ladang. Berbagai hama pepohonan semakin hari semakin banyak hingga tak ada buah-buahan yang bisa untuk dipetik dan dipanen. Para petani dan pengebun kalang kabut kebingungan.

Semua ini adalah tanda-tanda ujian Allah telah ditimpakan kepada suatu umat. Bila umat manusia tidak segera menyadari dan menyakininya sebagai bagian dari kekuasaan Allah, maka mereka akan prustasi dan menyalahkan keadaan. Seorang suami akan uring-uringan dan marah kepada isteri dan anak-anaknya padahal mereka tidak layak untuk dipersalahkan. Keadaan seperti ini bisa melemahkan keimanan bila sejak dini tidak memahami dan meyakini kebenaran agama. Hanya dengan keimanan semua masalah bisa dikendalikan. Orang-orang beriman akan sadar penuh bahwa berbagai ujian dan cobaan yang diberikan Allah kepada umat manusia adalah janji-Nya dalam surat Al-Baqarah di atas.

Dari semuanya itu berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar—orang yang sadar penuh dan yakin bahwa semua manusia tanpa kecuali  suatu saat akan ditimpa musibah. Orang kaya diberikan ujian dengan kekayaannya. Orang miskin akan diuji dengan kekurangan harta bendanya. Orang berilmu akan dicoba dengan kepandaian dan kepintarannya. Dan semuanya akan merasakan keadaan-keadaan menderita di dalam kehidupannya. Hanya orang-orang yang sabarlah yang akan lulus dari ujian Allah. Orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang apabila datang kepadanya suatu musibah dia mengembalikannya kembali ujian dan musibah itu kepada Allah. Karena ia sadar bahwa dirinya, harta bendanya, kehidupannya bahkan masalah-masalahnya adalah dari Allah dan akan kembali pula kepada-Nya.  Hanya dengan kesadaran dan kesabaran—usaha, doa dan tawekal kepada Allah—adalah solusinya. Wallahu ‘alam bisshawwab.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s