TIGA MACAM YANG MENGANTAR KE LIANG KUBUR

TIGA MACAM YANG MENGANTAR KE LIANG KUBUR

Oleh : Wawan Kurniawan, M.Ag

 

 “Yang mengantarkan manusia ke kubur ada tiga macam, maka kembalilah yang dua, dan tinggal menyertai yang satu. Kembali keluarga dan hartanya, dan yang tetap amalannya.” (HR. SYAIKHANI)

Tak seorangpun manusia di dunia ini yang kebal dengan kematian, semuanya akan mati bila Allah telah menentukan waktunya. Malaikat Ijra’il akan menghampiri dengan kuasanya kepada siapa saja yang sudah tiba ajalnya menjemput. Tak seorangpun yang mampu sembunyi walau di dalam benteng beton yang bermeter-meter dibuatnya ataupun dalam peti besi yang telah dilas dengan sangat kuatnya. Namun apalah artinya semua itu bila saat kematiannya telah tiba, maka akan matilah ia dijemput malaikat ijara’il. Semua manusia akan masuk keliang kubur. Dihadapan kekuasaan Allah, tak ada seorangpun yang mampu mengelak dan menolaknya. Semuanya mati! Kullu nafsin dzaaikutul maut.

Menurut syaikhani—Bukhari Muslm—ada tiga hal yang hendak mengantar jenazah keliang kubur dua diantaranya akan kembali meninggalkannya kecuali yang satu yang akan menemaninya di dalam kubur. Keduanya adalah keluarga dan hartanya sementara yang satu lagi adalah amalannya ketika ia hidup di dunia.

Betapapun berat hati ditinggalkan si mayit, keluarga tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak mampu mengembaikan jenazah untuk hidup kembali seperti sebelumnya. Keluarga hanya tinggal pasrah menerima takdir Ilahi. Merenung meratapi kebiasaan dan kesenangan si mayit sejak hidup di dunia. Terbayang dan selalu terkenang. Hanya tinggal lamunan karena telah ditinggal pergi oleh seseorang yang sangat dicintainya yang tak akan pernah kembali lagi. Tidak akan pernah berjumpa lagi untuk selama-lamanya.

Si mayit terbujur kaku dalam sebuah pusara yang sepi sendiri. Tidak ada siapa-siapa dan tidak ada apa-apa yang ikut menemani. Kekayaan dan kehormatannya selama hidup di dunia putus sampai di balik pusara. Kekuatan, keangkuhan sikap manusia tidak lantas bisa menolong dan menyelamatkannya dari kekakuan kematian. Ia tetap tidak akan mampu bergerak—terbujur kaku. Ketika itu, siapa yang berani melawan kuasa Allah. Masih belum jelaskah tanda-tanda kekuasaan Allah di hadapan manusia. Dari kehidupan menuju kematian adalah proses kuasa Tuhan. Tidak ada ketangguhan, kegagah-perkasaan dan kesombongan di hadapan Allah, semuanya lemah tak berdaya. Kematian adalah jawaban dari semuanya.

Harta yang melimpah, rumah bertingkat-tingkat dengan pekarangan dan taman yang luas. Mobil mewah berjejal memenuhi garasinya. Tabungan rupiah dan dollar hampir tersimpan di setiap bank swasta dan pemerintah. Perhiasan intan permata tertata rapi di bagian tubuh sang isteri dan sebagian tertumpuk di dalam lemari.  Kegagahan anak-anak berhiaskan pakaian-pakaian mewah, lencana dan berbaris bodyguard setia mendampinginya kemana ia pergi. Sikap hormat para tetangga dan kerabat yang silau kemewahan selalu tampak dalam suasana kesehariannya. Sikap tegap dan Senyum simpul keangkuhan terasa layak untuk diekspresikan kepada siapa saja yang melihatnya. Serasa terbersit dalam diri “akulah yang telah sampai kepada semua puncak kehidupan”. Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raajiuna—manusia yang telah terperosok kedalam manisnya dunia. Keangkuhan dan kesombongan sudah melekat dalam dirinya, lupa akan kebesaran Allah yang telah memberi segala keinginannya, naudzubillah.

Setelah ajal menjemput, keluarga yang setia dan harta yang berlimpah tidak pernah mau menemaninya sampai ke liang kubur. Ia sepi sendiri dalam raungan tangisan dan kesedihan. Keluarga dan hartanya terasa tak mampu memberi manfaat apa-apa pada dirinya. Hanya penyesalan yang menggelora. Harta kekayaan yang ia miliki tak sempat berguna bagi tetangga fakir dan miskin. Harta kekayaan hanya hiasan sumber keangkuhan. Setelah kematian tiba, apa yang bisa dilakukan oleh seluruh keluarga dan hartanya. Menangis merintih-rintih ia dalam matinya. Keluarga dan hartanya hanya mengantarkannya ke pintu liang kubur saja dan akan kembali meninggalkannya. Hanya satu yang akan setia menemaninya sampai ia ke liang kubur yaitu amal perbuatannya ia selama hidup di dunia.

Allah akan memintai pertanggung jawaban kepada manusia setelah ia mati. Apa yang tela manusia lakukan selama di dunia. Allah melalui Rasulnya telah mengajarkan segala kebaikan untuk dirinya. Telah menunjukkan mana kebaikan dan mana kejahatan. Tidak ada lagi kesempatan kedua setelah manusia di cabut nyawanya. Keburukan yang ia lakukan selama di dunia, akan ditemani dengan kegelapan alam kuburnya. Dan kebaikan serta keshalehan selama hidupnya di dunia, ia akan ditemani dengan cahaya terang dan doa anak shaleh yang selalu terpanjatkan untuk dirinya. Semua perbuatannya akan tampak sebagai balasan dirinya dan Allah akan mengganjarnya setimpal amalnya. Kebaikan dengan kebahagiaan yang lebih, dan keburukan serta kejahatan diganjar dengan kepahitan yang sangat nista. Untuk itu, selagi kesempatan masih ada dan terbuka selebar-lebarnya, silahkan tentukan sikap kita sebagai hamba yang beragama. Petunjuk Tuhan sudah jelas dihadapan kita. Kebaikan dan keburukan ada konsekuensinya kelak. Mudah-mudahan kita tidak salah mengambil keputusan, amien.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s