SHALAT DAN KEPASRAHAN DIRI

Image

SHALAT DAN KEPASRAHAN DIRI

Oleh : Wawan Kurniawan, M.Ag

Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku, aku serahkan kepada Tuhan sekalian Alam. Dia tidak bersekutu dan dengan demikian apa saja yang diperintahkan kepadaku aku turut dan aku ini adalah orang yang berserah diri.”

Allahu Akbar Kabira walhamdulillahi katsira—ucapan takbir dilisankan dan dibenamkan menusuk hati sembari kedua tangan diangkat hingga kedua telapak tangan menyentuh bagian telinga saat ibadah shalat hendak dilaksanakan. Takbir—ungkapan kebesaran selain kebesaran-Nya, tiada yang lebih besar selain diri-Nya. Hanya dari-Nya sesuatu bersumber. Hanya kepada-Nya sesuatu kembali.

Shalat adalah media. Shalat adalah alat dan sarana ketundukkan seorang hamba kepada penciptanya. Dalam shalat terdapat komunikasi antara hamba dengan pemilik dirinya. Shalat adalah tempat seorang hamba menumpahkan kerinduan kepada Yang Agung pujaannya. Shalat adalah tanda ketaatan dan kepatuhan hamba kepada kuasa Tuhannya. Dalam shalat seorang hamba menyerahkan totalitas dirinya—pasrah sumerah dihadapan-Nya. Setelah kumandang takbir diucapkan, dilanjutkan dengan pengakuan diri dan ketundukkan dijanjikan. Sembahyangku, ibadahku, hidup dan matiku, aku serahkan kepadaMu Ya Allah.

Sembahyang pardlu hanya lima kali dalam sehari semalam. Bila sembahyang atau shalat diibaratkan sebagai sarana komunikasi dengan Allah, maka hanya lima kali saja manusia diperintahkan untuk menyapa Tuhannya. Padahal kepentingan kita kepada Allah melekat diseluruh gerak langkah hidup keseharian. Tidak akan dan tidak pernah lepas membutuhkan-Nya. Disaat kenyang, disaat lapar, disaat tidur, dan disaat bangun disadari ataupun tidak kita selalu membutuhkan-Nya. Disaat berjalan, disaat bekerja mencari nafkah, disaat duduk dan disaat sendiri di malam hari kita butuh akan kehadiran-Nya dalam hidup kita. Orang yang tidak mengenal kuasa Tuhannya dan meninggalkan-Nya diseberang kehidupannya, ia akan merugi dan hidup tanpa kendali diri. Berjalan tanpa arah tujuan dan hendak kemana ia pergi setelah kematian menjemputnya. Dalam sembahyanglah semua orang dapat bergumul dengan kecintaan Tuhannya. Sembahyang adalah bagian yang tertinggi dari ibadah yang diperintahkan Allah. Sembahyangku, ibadah-ibadahku yang lainnya keserahkan kepada-Mu juga Ya Allah.

Hidup dan matiku demi kebesaran-Mu. Semoga seluruh hidup ini berangkat dari niat yang tulus untuk menghadap kepada-Mu. Tiada yang berarti dalam hidup ini kecuali bersumber dan berakhir di titik ridla-Mu. Seluruh rezeki, harta benda, isteri yang cantik dan anak-anak yang Kau titipkan kepadaku semoga mendapat restu shaleh-Mu Ya Allah. Bila disadari ternyata seluruh kehidupan itu berangkat dari doa dan harapan rahman rahim-Nya. Bila telah nyata pasrah hidup ini demi untuk-Mu, silahkan ambil nyawa ini atas takdir-Mu demi kematianku dalam keshalehan Islam. Pasrah bersimpuh di dalam peluk-Mu. Semua itu menuntut keyakinan penuh dalam diri setiap orang bahwa Allah adalah sebagai sumber dari segala kuasa—Maliki Yaumid-Din.

Di dalam shalat terdapat perjanjian pula dengan Allah—wa bidzalika ‘umirtu—segala yang Engkau perintahkan akan aku turut dan mematuhinya. Perjanjian ini sekurang-kurangnya terucap dalam mulut dan hati umat Islam lima kali sehari semalam. Perjanjian yang tulus dari seorang manusia yang serba kekurangan kepada Tuhannya yang Maha Kaya terbenam dalam di lubuk hatinya, serta diakhiri dengan doa semoga aku ini termasuk orang yang berserah diri (Muslim). Wallahu ‘alam bishawwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s