PREDIKSI REZEKI

PREDIKSI REZEKI

Oleh: Wawan Kurniawan, M.Ag

Beriman sebuah kata yang mudah sekali untuk diucapkan, mudah dicerna dan dipahami bahkan seringkali kita dengar dalam pergaulan kita sehari-hari di mesjid, di sekolah, di kampus dan diperusahaan tempat kita bekerja. Namun kata iman tersebut sangat sulit untuk diterjemahkan secara mendalam apalagi dapat diambil saripatinya untuk kita tanamkan didalam hati dan jiwa dan akhirnya menjelma menjadi suatu aksi dalam sikap sehari-hari (living truth).

Iman sering dipadankan dengan istilah percaya atau yakin. Bila diungkapkan, ‘Kita beriman kepada Allah SWT atas segala kekuasaan-Nya’ berarti, Kita percaya atau yakin kepada Allah SWT atas segala kekuasaan-Nya. Percaya dan yakin disini memiliki arti mutlak dan tidak pernah terbagi, artinya benar-benar percaya dan yakin tanpa kecuali. Keimanan, kepercayaan ataupun keyakinan betul-betul dan sungguh-sungguh tercurah hanya kepada yang kita imani dan percayai itu, yang tidak akan pernah berbohong, menipu bahkan merugikan kita yang telah mengimani dan mempercayainya. Bila masih ada yang kita percayai, namun meleset dari kepercayaan kita kepadanya berarti dia bukan sesuatu yang mutlak yang harus kita imani dan percayai. Kita bisa merasakan sesuatu di dalam hati kita ketika kita mengungkapkan ‘saya percaya kepada ibu-bapakku yang tidak mungkin menjerumuskanku ke jalan kesesatan’. Di dalam ungkapan kalimat diatas, kita betul-betul yakin terhadap kedua orang tua kita yang tidak mungkin menjerumuskan anaknya ke lembah kenistaan. Itulah sinaran kata iman atau sering kita sebut dengan kepercayaan dan keyakinan yang melekat dalam arti yang tersembunyi di dalamnya, walaupun tentu jauh berbeda antara keimanan kepada Allah SWT dengan kepercayaan kita kepada ibu-bapak kita. Iman kita kepada Allah tidak semata usaha beriman kita kepada-Nya, karena rasa keimanannya itu sendiri tidak datang serta merta dari dalam diri kita tanpa ada yang menggerakkannya. Siapa yang menggerakkan itu? Silakan renungkan. Berbeda dengan kepercayaan kita kepada ibu-bapak kita. Kepercayaan itu bisa datang dari rasa kasih dan sayang orang tua kita hingga kita balik mengasihi dan menyayanginya. Bisa datang dari kejujuran orang tua kita, keteladanan hinga akhirnya kita mempercayainya. Namun sekali lagi, orang tua kita tetap tidak kuasa untuk menggerakkan hati kita untuk bisa mempercayainya. Usaha menggerakkan hati itu adalah datang dari Yang Maha Gerak—Allah SWT. Jadi keimanan kita kepada Allah, disampaing karena kasih sayang-Nya, kejujuran-Nya—(tidak pernah bohong), keteladanan-Nya—(Maha Adil bagi seluruh makhluq-Nya) hingga kita percaya dan yakin—(IMAN) kepada-Nya.

Untuk memahami lebih jauh tentang makna keimanan kita, setiap malam kita selalu tidur dengan pulas. Di waktu kita masih kecil orang tua dan guru TK (Taman Kanak-kanak) kita suka mengajarkan doa sebelum tidur: “Bismika Allahumma ahya wabismika amutu.”  Pengajaran orang tua dan guru kita tentang do’a sebelum tidur itu akan diakhiri dengan suka cita dan riang gembira mereka apabila kita bisa melafalkannya dan selalu hapal mengucapkannya ketika disuruh mengulang membacakannya. Pengajaran doa tersebut tuntas cukup disitu. Paling tidak ditambah dengan arti bahasa Indonesianya.

Namun bila kita mau merenungkan tentang keimanan di atas hubungannya dengan doa sebelum tidur yang selalu fasih diucapkan anak-anak kecil, akan termaknai secara mendalam. Coba sejenak kita bayangkan ketika kita tergolek lelah di atas tempat tidur sehabis seharian kita bekerja. Lalu kita membacakan doa sebelum tidur bismika Allahumma Ahya—atas namamu Ya Allah aku dihidupkan, wa bismika amutu—dan hanya dengan nama-Mu juga Ya Allah aku dimatikan. Disaat tergolek lelah ditempat tidur dan disaat kita membacakan doa tersebut, saat itulah kita pasrah dan berserah kepada Allah apakah tatkala kita tidur nanti nyawa kita yang diambil digenggaman-Nya akan dikembalikan lagi atau selamanya kita tertidur pulas dan tak bangun lagi. Disitu tampak ada sebuah ‘kekuasaan’ yang kita dan semua manusia tidak mampu untuk mengembalikan dari tidur kepada bangun. Bisa jadi dari tidur kepada tidur selamanya yang tak pernah bangun lagi. Adakah kekuasaan yang mampu mengembalikan tidur kepada bangun—bangun kepada tidur lalu bangun lagi oleh manusia sesuper apapun manusia itu? disitu mutlak ada ‘kekuasaan’ dari Yang Maha Kuasa. Berimankah kita kepada ‘kekuasaan itu? percayakah kita ada ‘kekuasaan’ di tempat tidur itu? yakinkah kita bahwa ada ‘kekuasaan dan kekuatan’ di balik tidur pulas dan bangun segar bugar itu? itulah keimanan dengan sinaran makna yang tersembunyi di dalamnya. Keimanan yang kadang kita lupa menanamkannya dalam jiwa. Keimanan yang malah sering kandas, sering lepas, tidak tersadari hilang dalam hati dan pikiran kita.

Dalam kehidupan ini, nilai keimanan adalah dasar dari segala dasar, fundamental value, pondasi dari segala langkah hidup dan hembusan nafas. Bila keimanan ini sudah tersadari dan tertanam dalam jiwa kita maka tinggal bagaimana selalu merawatnya agar tidak segera hilang oleh kemilaunya dunia. Kita sadar bahwa Al-imanu yazidu wa yanqushu—keimanan itu bisa bertambah dan berkurang—tidak tetap. Untuk itu pemeliharaannya yang mesti terus menerus ditingkatkan.

Bagi manusia hidup apalagi bagi manusia beragama seperti kita, nilai keimanan itu sangat penting keberadaannya. Tanpa keimanan yang kokoh, apapun hidup dan bentuk kehidupannya akan terasa kering tak berarti. Kehidupan yang dilandasi dengan keimanan akan terasa ringan dan menyenangkan. Harus iman, harus percaya dan harus yakin bahwa hidup penuh dengan keimanan akan terasa ringan menyenangkan. Ada cahaya di dalam hati, ada sinar terang di dalam jiwa. Jangan terjebak dengan hidup dan bentuk kehidupan yang sedang dialami sekarang. Jangan menyerah hanya karena bentuk usaha yang sedang dijalani belum memuaskan diri kita. Apapun usaha yang dilakukan sekarang, itu adalah jembatan menuju kebahagiaan. Usaha-usaha itu adalah peluang dan proses menuju titik harapan. Jika menginginkan rezeki dari usaha yang sedang dilakukan sekarang, itu adalah pintu masuk menuju garis yang diidam-idamkan. Ada sebuah rahasia Allah—yang susah untuk ditafsir akal pikiran manusia. Ada kekuatan ilahiyah—yang sulit untuk dicerna otak manusia. Dan ada kekuasaan Yang Maha Kuasa—yang irasional—yang akan menghantarkan niat kita menuju titik harapan dan cita-cita.

Namun penting untuk di tegaskan disini, bahwa setelah keimanan yang kokoh kepada Allah SWT mesti dilanjutkan dengan usaha dan doa yang ikhlas sebagai penyertanya. Surat Al-Laili ayat 4 menyatakan:

Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.”

Apapun bentuk usaha yang sedang kita lakukan sekarang, itu adalah peluang dan kesempatan untuk mendekatkan dan mendapatkan rizki. Seorang supir taksi, tukang kuli bangunan, tukang ojeg, guru, pegawai negeri dan lain sebagainya, semua jenis usaha itu tidak berbeda di mata Allah. Allah SWT tidak akan silau dengan satu bentuk usaha yang satu dengan lainnya. Semua profesi itu tetap akan mendapatkan imbalan dari usahanya. Surat Al-Ankabut ayat 69 menegaskan:

Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridoan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”

Tidak bisa dikalkulasi secara matematik bahwa satu jenis usaha yang ini, imbalannya akan lebih kecil dibandingkan dengan yang lainnya. Dan jenis usaha yang lain lebih besar pendapatannya dibandingkan dengan yang lainnya. Bila diukur dengan jumlah penghasilannya bisa saja angka yang didapatkan yang satu akan lebih besar dan lebih kecil dibandingkan dengan yang lainnya. Tapi sekali lagi, rahasia Allah akan mencukupkan bahkan melebihkan barokah dari yang penghasilan kecil namun mencukupi sejumlah kebutuhan yang diinginkannya. Ukuran-ukuran pendapatan ini akan berbeda segi manfaatnya bagi setiap orang. Bisa jadi yang berpenghasilan tinggi dimata yang lain, namun sangat tidak mencukupi untuk jumlah kebutuhan yang diharapkan orang tersebut. Begitu pula sebaliknya, yang berpenghasilan rendah namun manfaatnya malah sangat membahagiakan bagi kesejahteraan keluarganya. Kalkulasi seperti ini tergantung orang yang bersangkutan yang merasakannya. Maka dalam masalah pendapatan, rumusannya adalah (penghasilan, kemanfaatan dan rasa syukur) yang seimbang akan memunculkan kebahagiaan dan kebarokahan rezeki. Seorang yang kaya dimata yang lain, akan merasa sengsara menurut dirinya karena segudang kebutuhannya tetap saja selalu belum tercukupi tiap hari dan bulannya. Begitu pula seorang yang miskin dimata yang lain, malah nyaman bahagia dengan apa yang didapatinya. Inilah rahasia Allah Sang Ilahi Rabbi.

Usaha yang sedang kita lakukan dengan pendapatan yang diberikan Allah berapapun nyatanya, maka bersyukur adalah sarana rahasia selanjutnya untuk memanjangkan barokah rezeki tadi. Dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7:

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Kalimat ‘Kami akan menambah nikmat itu’ bisa jadi angka penghasilannya tetap, namun sisi manfaatnya bertambah. Bisa jadi pula memang angkanya akan terus bertambah dari hari kehari sebagai bentuk barokah rezeki dari orang yang selalu bersyukur.

Setelah keimanan yang kuat dan mensyukuri hasil usaha  dan jenis usaha yang sedang dilakukan, selanjutnya kepasrahan dan doa yang ikhlas adalah kunci pembuka dari kekayaan Allah yang melimpah. Al-Baqarah ayat 186 menagaskan:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Ayat di atas memberikan pemahaman kepada kita, bahwa Allah benar-benar dekat dengan kita (dengan siapa saja). Dan Allah akan mengabulkan segala bentuk permintaan bila kita meminta kepada-Nya dan melaknat bila meminta kepada selain Dia. Karena tidak sedikit manusia sekarang meminta rezeki kepada seseorang yang bisa (dukun), kepada gunung-gunung, dan kepada makhluk-makhluk halus (syetan) hanya demi mengharapkan rezeki yang banyak.  Ayat di atas adalah janji Allah. Allah bukan zat yang suka berbohong, penipu, apalagi mengingkari janji-janji-Nya. Jadi jelas ayat diatas ‘Allah akan mengabulkan segala permintaan bila meminta kepada-Nya’. Lalu mengapa kita mesti bingung, linglung dan kalang kabut dengan rezeki?

Dalam hal ini ada dua arah rezeki itu bisa datang. Pertama, melalui jalan langsung dari Allah kepada orang yang dikehendakinya. Dalam Al-Qur’an “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Allah akan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” Bisa jadi rezeki itu datang tanpa kita harus bekerja dan usaha, tiba-tiba rezeki itu datang menghampiri kita. Dan Kedua, rezeki akan datang melalui pelantara. Dalam hal ini, seorang besar Mario Teguh pernah mengatakan; “Rezeki itu datang dari langit (Allah), dan selalu datang melalui (orang yang kita kenal.” Perlu direnungkan disini, bahwa selalu datang melalui orang yang kita kenal ini adalah melalui teman, melalui kerabat, melalui saudara, famili dan siapa saja orang yang kita kenal dan dia kenal kita pula. Tiba-tiba seseorang atau teman lama kita datang dan memberikan proyek besar untuk kita kerjakan. Lalu paman kita, atau adik kakak kita datang juga dan menyuruh kita melakukan pekerjaan yang mereka percayakan kepada kita. Dan banyak lagi teori dan cara lain yang semua arah rezeki itu datangnya melalu seseorang yang kita kenal dan dia mengenali kita pula. Begitulah rahasia rezeki yang datang dari Allah yang Maha Rahman Rahim sulit untuk diprediksi dan dikalkulasi. Wallahu a’lam bis-shawwab.

Bandung, 7 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s