KALKULASI REZEKI

KALKULASI REZEKI

Oleh : Wawan Kurniawan, M.Ag

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.

Banyak yang beranggapan bahwa hidup di dunia ini tanpa kontrol, tanpa pengawasan. Banyak orang yang semena-mena mengarungi kehidupannya tanpa kendali, seolah-olah tidak ada yang sedang mengawasinya. Mereka berbuat sesukanya, melakukan ini dan itu semaunya saja. Padahal bila akal mau berpikir dan hati mau merasakan, dibelakang diri kita semua ada Allah yang selalu setia memperhatikan dan mengawasi kita. Allah itu dekat dengan kita, bahkan dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah itu lebih dekat daripada urat leher.

Tidak sedikit manusia yang kehilangan jati diri dan pegangannya. Mereka linglung memperjuangkan hidupnya, mereka bingung harus bagaimana menafkahi anak dan istrinya. Mereka kalang kabut ketika dihadapkan dengan berbagai kebutuhan rumah tangga yang selalu saja ada dihadapannya. Mereka mencari-cari solusi harus bagaimana mengantisipasi semua masalahnya. Keadaan seperti ini tidak patut dilakukan oleh kita selaku seorang muslim yang taat dan percaya akan keberadaan Allah Yang Maha Perkasa, Maha Pengasih dan Maha Pemberi Solusi. Ayat di atas tadi menegaskan kepada kita bahwa Allah akan mengabulkan setiap do’a bila manusia memohon kepadanya. Ini adalah janji Allah. Allah tidak akan pernah mengingkari segala janji-janji-Nya. Hanya terkadang kita jauh dari-Nya. Kita hanya ingat dan terjebak dengan hal-hal yang sifatnya konkret saja, seolah-olah Allah sudah tidak ada di dalam diri kita. Maka akhirnya tidak sedikit orang yang mencari solusi dengan mencurahkan segala pikiran dan jiwanya, seolah-olah dia perkasa untuk mampu menyelesaikan urusan-urusannya sendiri tanpa kekuatan di luar dirinya. Allah ditinggalkan, bahkan sudah dilupakan dan tak dikenali lagi.

Bila kita mau terus berusaha dan selalu belajar dan belajar dari kehidupan, kita bisa menerima nasihat dari seorang besar bapak Mario Teguh dimana beliau pernah mengungkapkan dalam siaran televisi, menurutnya: “Rizki itu datang dari langit (ALLAH), dan selalu berhubungan dengan manusia yang kita kenal (saudara, karib-kerabat atau teman)—maka perbaikilah hubungan pertemanan—(silaturahmi), niscaya akan mempermudah datangnya rizki”.

Coba renungkan sejenak, dari siapa kita mendapatkan peluang pekerjaan sehingga kita bisa diterima bekerja diperusahaan yang sekarang ini kita lakukan? Dari siapa kemaren kita mendapatkan tender proyek besar, hingga sekarang kita sibuk mengerjakannya dan sebentar lagi mendapatkan hasil besarnya? Coba ingat kembali, tiba-tiba kita dan anak-anak kita dikasih uang tanpa melakukan sebuah pekerjaan, siapa yang ngasih uang secara tiba-tiba itu? apakah semua yang telah memberi informasi pekerjaan, mengangkat jabatan, memberikan tender proyek dan yang ngasih uang secara tiba-tiba itu kita tidak kenal orangnya? Jawabannya mustahil kita tidak mengenal orang tersebut. Kita pasti mengenal orang itu. rizki itu datang dari langit (Allah) dan akan datang melalui orang yang tentu kita kenal. Maka perbaikilah perkenalan itu sebaik-baiknya, peliharalah silaturahmi, karena silaturahmi akan memperpanjang umur dan melapangkan rejeki.

Namun perlu diingat, apabila kita ingin dikabulkan segala permohonan kita, kita pun harus sebaliknya segera dan selalu memenuhi segala perintah-perintah-Nya. Perintah Allah harus dilaksanakan dan larangan-Nya harus ditinggalkan. Jangan sampai doa kita ingin selalu dikabulkan, tetapi segala perintah-Nya selalu juga ditinggalkan. Harus ada timbal balik pemahaman di dalam pikiran dan jiwa kita. Allah mengabulkan doa, dan kita melakukan perintah-Nya.

Diakhir ayat tadi disebutkan agar kita selalu beriman kepada-Nya agar kita selalu berada dalam kebenaran. keimanan dan keberadaan kita dalam tempat yang benar memiliki nilai filosofis yang sangat tinggi. Keimanan adalah bentuk kepercayaan kita kepada Allah yang tidak boleh lepas sedetikpun dalam hati dan pikiran kita. Kemanapun kita melangkah disana ada Allah. Apapun yang hendak kita lakukan disana ada Allah. Allah ada dan selalu setia dalam setiap derap langkah kita. Bila kenyataan ini betul-betul terbersit dalam segala kiprah kita setiap saat, maka disitulah nilai kebenaran tampak tercurah dalam diri kita. Bila sudah demikian, mudah, lapang dan ringan kita mengarungi bahtera kehidupan ini. Tinggal menunggu cita-cita kematian dalam keadaan iman dan Islam. Amien.

Bandung, 7 Juli 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s