IBADAH DAN PUASA UNTUK TAKWA

IBADAH DAN PUASA UNTUK TAKWA

Oleh : Wawan Kurniawan, M.Ag

Ada dua ayat dalam surat Al-Baqarah yang satu sama lainnya ada persamaan dan perbedaan. Ayat pertama, adalah ayat 21 yang menegaskan akan pentingnya beribadah—bersembah, “hai manusia, sembahlah Tuhan-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu agar kamu bertakwa”.Dalam surat Al-Baqarah ayat 21 ini ditujukan kepada seluruh manusia tanpa kecuali, baik orang-orang yang ada di eropa, di Amerika, di Asia bahkan mungkin di Indonesia. Orang-orang yang berbeda dalam bahasa, adat istiadat, warna kulit, yang kaya juga yang miskin terkena perintah beribadah ini.

Karena perintah dalam ayat ini ditujukan untuk seluruh manusia apapun bentuk, jenis dan predikatnya, maka bentuk perintahnyapun masih bersifat umum-universal untuk beribadah. Dalam Al-Qur’an Surat Al-Adz-Dzariyat ayat 56: “Tidaklah Aku menjadikan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada Allah”. Entah bagaimana bentuk dan kategori ibadahnya tersebut tidak jelas dan detail disampaikan. Karena perintah ibadah ini masih bersifat umum, maka kita tahu banyak orang-orang yang berbeda dalam praktek beribadahnya.

Perbedaan praktek ibadah ini dibenarkan oleh Islam. Artinya, bahwa Islam mentolelir bentuk-bentuk beribadah yang berbeda dengan praktek beribadah ‘ala Islam. Namun perlu dicatat disini, bahwa perbedaan praktek beribadah itu telah ada sebelum Rasul Muhammad diutus menjadi penyeru ke jalan Islam. Berbeda dengan keadaanya seperti sekarang ini setelah Islam ada. Allah menghendaki seluruh manusia untuk melakukan ibadah sebagaimana orang-orang Islam beribadah. Bila dahulu Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim dan kaumnya untuk beribadah, tentu berbeda praktek beribadahnya, kitapun tidak tahu bagaimana praktek beribadahnya. Begitu pula, ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Nuh dan kaumnya untuk beridah, tentu berbeda konsep dan praktek ibadahnya. Perintah Allah untuk beribadah kepada Nabi Musa, Nabi Isa beserta kaum-kaumnya tentu pula berbeda-beda. Walaupun berbeda-beda dalam praktek ibadah pada manusia sebelum Islam datang, namun ada benang merah yang sama yaitu teologi universal (aqidah yang paralel semenjak zaman Nabi Ibrahim sampai zaman Nabi Muhammad yaitu akidah islamiyyah). Perlu diingat pula, bahwa sebelum Muhammad dilahirkan bahkan di utus menjadi Rasul, Allah telah memerintahkan kepada manusia untuk beribadah. Jadi penekanan ayat 21 surat Al-Baqarah ini, yaitu pada suruhan Allah kepada manusia untuk beribadah, agar seluruh manusia bertakwa kepada Allah.

Dalam ajaran Islam, ada empat prinsip ibadah yang perlu kita ingat. Pertama, prinsip ibadah perbuatan. Ibadah perbuatan adalah bentuk ibadah-ibadah yang membutuhkan tindakan pekerjaan atau daya gerak tubuh, seperti shalat. Shalat membutuhkan kegiatan gerak yang mesti dilakukan oleh segenap tubuh. Yang kedua ialah prinsip ibadah harta atau (ekonomi). Prinsip ibadah harta ini dimana setiap umat muslim diwajibkan untuk mengeluarkan hartanya baik dizakatkan, diinfaqkan ataupun dishadaqahkan. Hal ini perlu dilakukan mengingat dalam setiap harta yang dimiliki itu terdapat hak fakir miskin. Yang ketiga, prinsip ibadah peniadaan, penolakan atau peninggalan (at-Tarku). Ibadah peniadaan ini artinya segala bentuk kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan dan dihalalkan oleh syariat Islam, sementara waktu harus ditinggalkan. Dan orang yang sengaja melakukannya dikategorikan orang yang telah melanggar syariat. Ibadah seperti ini tercermin dalam praktek ibadah puasa atau shaum. Segala yang dihalalkan di waktu-waktu tertentu, pada saat diperintahkan untuk puasa yaitu di bulan ramadhan seluruhnya haram dilakukan. Seperti makan, minum, dan menggauli istri dan suami di siang hari diharamkan dan harus ditinggalkan. Dan yang terakhir yaitu prinsip ibadah yang keempat, adalah prinsip ibadah harta dan perbuatan. Prinsip yang terakhir ini dapat kita jumpai dalam praktek ibadah haji, dimana kita sangat membutuhkan dana puluhan juta untuk berangkat menunaikan ibadah haji ini. Dan dalam ibadah haji inipun kita membutuhkan energi pisik untuk melakukan kegiatan-kegiatan ritual rukun-rukun haji. Jadi dalam ibadah haji ini dibutuhkan anggaran dana dan gerak perbuatan.

Sedangkan ayat 183 surat Al-Baqarah mengkhususkan hanya kepada orang-orang yang beriman saja untuk melakukan puasa, dengan tujuan yang sama seperti ayat 21 di atas, yaitu agar supaya bertakwa kepada Allah. ”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Pengkhususan hanya kepada orang-orang yang beriman ini tidak kepada seluruh manusia karena yakin bahwa Islam sudah ada, Islam sudah hadir diantara manusia sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, Islam sebagai rahmat bahkan sebagai agama yang diridhai Allah yang mesti dianut oleh seluruh manusia. Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir, tidak akan ada lagi Nabi dan Rasul setelah muhammad begitu pula ajarannya—agama Islam yang di bawanya.

Jadi logikanya, perintah Allah untuk berpuasa kepada orang-orang yang beriman itu, artinya kepada orang-orang Islam yang taat menjalankan syariatnya. Orang-orang Islam yang telah menjalankan puasanya dengan baik. Karena kita yakin setiap orang yang beriman itu adalah beragama Islam—setiap mukmin pasti muslim—dan tidak setiap orang muslim, mukmin. Kita lihat contoh di depan mata kita, hampir disetiap LAPAS (Lembaga Pemasyarakatan—penjara) bila kita mau melihat KTP-nya, mayoritas mereka beragama Islam. Pencopet, beragama Islam, koruptor beragama Islam, dan banyak lagi para pengagum kemaksiatan yang beragama Islam, ini artinya, bahwa tidak setiap orang Islam (muslim) itu pasti mukmin. Tapi dapat dipastikan kalau setiap orang mukmin pasti muslim, pasti orang Islam. Dia pasti selalu bersyahadat—bersaksi—di depan Allah dalam setiap shalatnya. Bila dia telah bersyahadat dalam setiap shalatnya, berarti dia telah ber-Islam—telah mempasrahkan diri (jiwa dan raganya) hanya untuk Allah, dan ini berarti dia telah beriman, telah anut, telah patuh dan telah taat kepada seluruh perintah dan larangan Allah.

Perintah puasa kepada orang-orang yang beriman ini, sama pula tujuannya dengan ayat pertama tadi, dimana dalam ayat pertama tercantum perintah Allah untuk seluruh manusia—untuk beribadah—dengan tujuan, agar bertakwa kepada Allah. Begitu pula, suruhan Allah kepada orang-orang yang beriman untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan, tiada lain tujuannya adalah untuk bertakwa kepada Allah SWT. Dari kedua ayat di atas tadi dibutuhkan pemahaman lanjutan yaitu mengenai—apakah itu ibadah? Apakah itu puasa? Dan tentu pula, apa yang dimaksud dengan takwa yang dikehendaki Allah diatas? Al-Hujurat ayat 13: “Semulia-mulia kamu di sisi Allah, ialah orang yang takut kepada Allah.”  Selamat merenungkan dan mendalami semoga segala daya pikir kita dapat tercurahkan hanya untuk kebesaran-Nya, amien Ya Rabbal ‘alamien.

Bandung, 7 Juli 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s