Kebangkitan Islam di Majalengka; Menelusuri Jejak Perjuangan K.H. Abdul Halim di dalam Memelopori Gerakan Kebangkitan Islam di Daerah Majalengka (1911-1962)

ABSTRAK

Kebangkitan Islam di Majalengka; Menelusuri Jejak  Perjuangan K.H. Abdul Halim di dalam Memelopori Gerakan Kebangkitan Islam di  Daerah Majalengka  (1911-1962)

 Sejak memasuki  dekade  pertama dari  abad  XX M,  di Indonesia muncul sebuah fenomena menarik dan baru yang terjadi  mewarnai kehidupan  sosio-religius masyarakat Indonesia, dengan munculnya sebuah gerakan yang disebut dengan gerakan kebangkitan Islam sebagai manifestasi kesadaran masyarakat Muslim untuk memperbaiki kehidupannnya. Fenomena  ini pun terjadi di daerah Majalengka yang dipelopori oleh K.H. Abdul Halim dengan gerakan-gerakan  pembaruannya yang mendorong gerakan kebangkitan Islam di daerah tersebut. .    

Penelitian ini berangkat dari teori yang dikemukakan Hiroko Horikosi yang menyatakan bahwa kiyai memiliki peran yang sangat penting di dalam mendorong munculnya  perubahan sosial. Sebaliknya  penelitian ini  menyanggah teori yang dikemukakan Cliffort Gertz yang menyatakan bahwa kiyai  hanya  merupakan “Makelar  Budaya” saja.   

Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui, pertama  riwayat dan sejarah perjalanan  hidup dari K.H. Abdul Halim. Kedua, untuk mengetahui perjuangan K.H. Abdul Halim di dalam memelopori gerakan kebangkitan Islam di daerah Majalengka pada periode 1911-1962.

Metode penelitian yang dipergunakan  dalam penelitian ini adalah metode  penelitian sejarah (historical research), yaitu metode penelitian yang mempelajari  kejadian-kejadian atau peristiwa – peristiwa di masa lalu dengan tujuan untuk  membuat rekonstruksi  terhadap masa lalu  secara sistematis dan objektif dengan cara  mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi  dan mensintesiskan  bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh kesimpulan yang benar

Dari hasil penelitian ini terungkap bahwa K.H. Abdul Halim merupakan salah seorang   figur  ulama  pembaru   dari Majalengka yang   memiliki jasa  yang besar di dalam mendorong kesadaran di kalangan masyarakat Muslim, bahkan bangsa Indonesia untuk bangkit  mengejar ketertinggalannnya dalam berbagai bidang  melalui serangkaian usaha-usaha  pembaruannnya.  Dari tahun 1911 sampai akhir hayatnya pada  tahun 1962 ia telah berjuang memajukan  kehidupan keagamaan, pendidikan  dan menanamkan  rasa  cinta  tanah air atau kesadaran nasional   terhadap masyarakat   melalui usaha-usaha melakukan dakwah Islam dengan mendirikan Majlisul Ilmî, Jam’îyatul muta’âlimîn di mana di dalamnya ia mengembangkan sistem  pendidikan yang memadukan antara model pendidikan pesantren  dan sekolah/madrasah. Selain itu, ia telah  banyak  memberikan kontribusi dalam usaha  memperbaiki ekonomi umat  dengan mendirikan  organisasi Hayâtul  Qulûb.  Selama hidupnya, ia banyak berkiprah dengan banyak  berpartisipasi aktif dalam berbagai organisasi  sosio-religious-politik seperti  menjadi ketua cabang organisasi  Sarekat Islam cabang Majalengka,  Persyarikatan Oelama (PO),  Perikatan Oemat Islam (POI), Chuo Sangi In, Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), maupun  Dokuritsi Zyiumbi Chosokai / Badan Panitia Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia / (BPUPKI). Dari kesemuanya itu  salah satu kiprahnya yang   paling monumental  adalah kontribusinya di dalam  memfusikan keberadaan dua organisasi sebelumnya yaitu  Perikatan Oemat Islam (POI)  dan Persatuan Umat Islam Indonesia  (PUII) dengan nama Persatuan Umat Islam (PUI),  di mana melalui wadah organisasi ini ia banyak melakukan  gerakan pembaruan/ modernisasi pendidikan seperti yang terefleksi dari madrasah-madrasah yang didirikannya  yang tersebar di berbagai daerah,  maupun keberadaan  pesantren Santi Asromo yang menghasilkan Santri Lucu-nya    

 ABSTRACT

 The Rise of Islam in Majalengka; Investigating the Struggling Track of K. H. Abdul Halim in Pioneering  Islamic Rise Movement in Majalengka Area (1911-1962)

 Entering the first decade of twentieth century, a new and interesting phenomenon appeared in Indonesia it was happened coloring Indonesian socio-religion, with emerging a movement called with Islamic Rise movement as Moslem social conscious manifestation to correct their life. This phenomenon was also happened in Majalengka area pioneered by K. H. Abdul Halim with his reformative movements that motivated Islamic rise movement in that area.

This research departs from a theory stated by Hiroko Horikosi who clarifies that Kiyai (Islamic teacher) has a very important role in motivating appearance of social movement. On the contrary this research argues the theory stated by Clifford Gertz that Kiyai is only “Culture intermediary”.

This research is aimed to find out, firstly, K. H. Abdul Halim’s history and his live journey. Secondly, to find out the fight of K. H. Abdul Halim in pioneering the Islamic rise movement in Majalengka on 1911-1962.

  The research method used here is historical research, viz. research method which studies occurrences and events on the past that is purposed to reconstruct, systematically and objectively, the past by some way of collecting, evaluating, verifying, and synthesizing evidence to stand a fact and to get the right solution.

  This research has discovered that K. H. Abdul Halim was one of religious figures of reformer from Majalengka who had great service that motivated the consciousness in Moslem society, even Indonesian people to stand pursuing their decline in many fields by his reformative efforts. From 1911 until the end of his life on 1962 he had struggled to progress the religious life, education, and to invest the feel of country interest or national awareness through society by the efforts of religious proselytizing (dakwah islam) by establishing Majlisul Ilmi, Jam’Iyatul muta’alimin within which he developed educative system that united boarding education model and school/Madrasah. Beside that, he had been giving so much contribution with effort of improving the members of an Islamic community economy by establishing Hayatul Qulub organization. During his life, he progressed to participate actively in many socio-religious-political organizations as becoming the branch chairman of Sarekat Islam in Majalengka, Persyarikatan Oelama (PO), Perserikatan Umat Islam (POI), Chuo Sangi In, Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), and Dokuritsi Zyiumbi Chosokai /an Indonesia Independent Preparation Effort Committee (Badan Panitia Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia/(BPUPKI)). From those organizations one of his monumental progress was his contribution in fusing the existence of the two previous organizations vis. Perikatan Oemat Islam (POI) and Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII) with the name of Persatuan Umat Islam (PUI), by that organization he had done so many educational reformative/modern movements as reflected from some Madrasah established by him around the region, and Santi Asromo boarding school that had delivered its  Santri Lucu.

 A.    Pendahuluan

 Dalam periodisasi sejarah dan peradaban Islam, abad XIX M bagi Dunia Islam acapkali disebut sebagai abad kebangkitan Islam. Penyebutan dengan penamaan itu sah-sah saja karena  memang pada periode itu di Dunia Islam muncul sebuah  gejala yang menggambarkan bangkitnya  suatu kesadaran  di kalangan masyarakat Muslim  akan kemunduran dan ketertinggalannya.

            Gejala-gejala kebangkitan itu mula-mula muncul dipelopori oleh  gerakan Wahabiyah yang dimotori Muhammad bin Abdul Wahab di Jazirah Arab dengan misi memberantas praktek praktek bid’ah, khurafat,  takhayul dan praktek kemusyrikan  yang sudah banyak dilakukan  umat Islam, dan mengarahkan mereka  kepada ketauhidan yang semurni-murninya. Kemunculan  paham dan gerakan Wahabi ternyata  telah memberikan pengaruh dan diterima oleh tokoh-tokoh pembaharu Islam pada abad XIX sebagai alternatif untuk membangkitkan  Dunia Islam.

            Selajutnya, dalam sejarahnya pengaruh  gerakan Wahabiyah secara tidak langsung telah turut memberikan inspirasi terhadap  gerakan pembaharuan yang datang sesudahnya  yang dilakukan tokoh-tokoh ulama pembaharu  seperti Jamaludin al-Afghani (1839-1897 M) dan  Syekh Muhammmad Abduh (1849-1905 M).  Dari merekalah  semangat dan gagasan kebangkitan Islam menyebar ke berbagai tempat di seluruh penjuru dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

            Pada awal abad XX  pengaruh gerakan kebangkitan Islam yang digelorakan di kawasan Timur Tengah masuk,  merembes dan  mulai memberikan landasannya   di Indonesia. Lewat hubungan jaringannya dengan ulama-ulama asal Indonesia yang bermukim dan belajar  di  Timur Tengah seperti  Syaikh Ahmad Khatib, Syaikh Taher Djalaludin, Syaik Muhammad Djamil Jambek dan  Haji Abdul Karim Amrullah semangat kebangkitan Islam melalui gerakan pembaharuan yang dibangun melalui  lembaga pendidikan dan kemunculan  organisasi yang didirikannnya   sedikit-demi sedikit mulai tertanam di Indonesia.

             Sebagai bukti dari itu pada tahun 1904, dengan hadirnya H. Abdullah Ahmad dan H. Abdul Karim Amrullah   di daerah Minangkabau berdiri sekolah Thawalib. Kemudian di Padang berdiri Sekolah Adabiyah.   Selanjutnya, pada 17 Juli tahun 1905 komunitas masyarakat Arab di Jakarta  mendirikan organisasi  al-Jamiat  al-Khaeriyah. Melalui organisasi yang dididirikannya ini, komunitas masyarakat Arab mulai bergerak untuk memajukan kegiatan pendidikan. Kemudian pada tahun 1913 Syaikh Ahmad Soorkati  mendirikan organissi  al-Irsyad. Pada tahun 1911 K.H. Abdul Halim  mendirikan tempat pendidikan yang bernama Majlisul Ilmi yang setahun  kemudian diperkuat oleh sebuah wadah organisasi yang bernama Hayatul Qulub. Pada tahun 1912 K.H. Ahmad Dahlan  mendirikan organisasi Muhammadiyah di Jogyakarta. Pada tahun 1920 A. Hasan  di Bandung mendirikan organisasi Persatuan Islam (Persis).[1]

            Demikianlah keberadaan  para ulama di dalam mendorong kebangkitan dan kemajuan pendidikan di Indonesia.   Hal ini pun telah dilakukan oleh  seorang figur  ulama kharismatik  kelahiran  daerah  Majalengka  yang bernama K. H. Abdul Halim.  Ia semasa hidupnya banyak   mengabdikan dirinya di dalam mendorong   kemunculan perubahan sosio-religius dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Melalui organisasi yang dibentuknya pada tahun 1912 yang bernama  Hayatul Qulub, yang kemudian  dilanjutkan dengan mendirikan Jam’iyyah I’anah al-Muta’alimin (1916) dan  Persyarikatan Ulama ( 1917), serta  lembaga pendidikan yang didirikannnya yang bernama Majlisul Ilmi (1911) dan Santi Asrama (1932), ia  telah berjuang menyampaikan gagasannnnya untuk menyebarkan agama Islam melalui serangkaian kegiatan   pembaharuan   yang dilakukannnya.  

            Sebagai bukti dari keberhasilan perjuangan yang dilakukan K.H. Abdul Halim maka organisasi  Persyarikatan Ulama  sejak tahun  1924     telah mendapat pengakuan untuk meluaskan cabang-cabangnya ke seluruh Jawa-Madura. Pada  tahun  1937 keberadaan cabang-cabangnya mulai meluas ke luar Jawa, di antaranya  ke Sumatera Selatan.[2] Kemudian dalam perkembangannnya,  setelah Indonesia merdeka di daerah Majalengka, Kuningan, Tasikmalaya, Cirebon  dan sekitarnya  banyak berdiri lembaga-lembaga pendidikan keagamaan yang berada di bawah naungan organisasi Persatuan Umat Islam (PUI) seperti Sekolah Rakyat Islam, Madrasah Fatimiyah, Sekolah Guru Islam (SGI)/ Mualimin/Mualimat PUI/Madrasah Darul Ulum PUI. Dari lembaga ini pula kegiatan  pembaharuan  yang menandai kebangkitan Islam di daerah Majalengka sebagai basisnya    berawal.    Begitu juga dari lembaga-lembaga pendidikan yang  dikelola oleh organisasi ini banyak menghasilkan para ulama, cendekiawan dan  alumni  yang bertebaran mengabdikan dirinya  di berbagai pesantren[3], lembaga pendidikan milik pemerintah[4] dan  masyarakat.[5]      

            K. H. Abdul  Halim telah meninggal pada tahun 1962 M. Sepeninggal ulama besar tersebut, jejak, warisan dan semangat  perjuangannnya di dalam menyebarkan agama Islam di daerah Majalengka   tidak pernah  terputus. Para keturunan dan para alumni yang dibesarkan di dalam lembaga pendidikan yang didirikannya banyak yang melanjutkan kepemimpinannnnya dengan membuka  pesantren dan mendirikan  lembaga pendidikan keagamaan  di bawah naungan organisasi Persatuan Umat Islam yang tersebar di daerah sekitar Majalengka seperti  Maja,  Talaga,  Cikijing, Bantarujeg, Cipeundeuy dan Malausma. 

            Namun demikian, dalam konteks sekarang, ada tendensi bahwa di kalangan masyarakat Muslim sudah banyak  yang melupakan jasa dan perjuangan K.H. Abdul Halim. Secara lebih khusus,  bisa jadi   di kalangan  generasi muda dewasa ini  mereka  mengenal K.H. Abdul Halim mungkin hanya dari nama besarnya yang diabadikan dalam nama sebuah jalan raya di kota Majalengka. Sebaliknya, mereka  banyak yang tidak tahu jejak dan berbagai bentuk  perjuangan yang pernah dilakukan  K.H. Abdul Halim  di dalam menyebarkam agama  Islam di  daerah Timur dari   ibukota propinsi ini. Permasalahan ini tampaknya merupakan  sebuah pemandangan yang sangat ironis dan tidak perlu muncul ke permukaan, karena  betapa tidak bahwa proses penyebaran agama Islam di Majalengka bagaimanapun  tidak bisa dipisahkan dari jejak dan perjuangan K.H. Abdul Halim, namun demikian masih  banyak di  antara masyarakat Muslim  yang  sudah tidak mengetahui  jejak dan perjuangannya.               

            Berangkat dari permasalahan tersebut  dari realita ini, akhirnya muncul beberapa  pertanyaan, bagaimana  riwayat dan sejarah perjalanan hidup dari  K.H. Abdul  Halim?  Bagaimana perjuangan K.H. Abdul  Halim di dalam  memelopori gerakan  kebangkitan Islam di daerah  Majalengka? Penelitian  berusaha untuk  pertanyaan-pertanyaan di sekitar itu

 B.    Kajian Teori

             Dalam penelitian ini,   teori yang dipergunakan ialah dengan mempergunakan pendekatan   teori perubahan sosial  yang dikemukakan oleh Hiroko Horikoshi[6]   tentang kiyai dan perubahan sosial yang menyatakan bahwa seorang kiyai memiliki  peran yang besar di dalam mendorong  munculnya perubahan sosial (agent of change) dalam kehidupan  masyarakat. Teori  ini  menepis keberadaan  teori sebelumnya yang dikemukakan Cliffort Gertz yang menyatakan bahwa keberadaan seorang kiyai yang hanya berperan   sebagai “makelar budaya” (cultural broker). Menurut Gertz, seorang kiyai hanya  berperan sebagai alat penyaring atas arus informasi  yang masuk  ke lingkungan kaum santri, menularkan apa yang dianggap berguna dan membuang apa yang dianggap  merusak bagi mereka.

            Apa yang dikemukakan Cliffort Gertz sangat kontradiktif dengan yang dikemukakan Hiroko Horikoshi. Menurut Hiroko  Horikoshi, justru keberadaan figur seorang kiyai dalam kehidupan masyarakat Islam di Indonesia   memiliki peran yang kreatif  di dalam mendorong arus   perubahan sosial.  Keberadaan figur  seorang kiyai bukan   mencoba meredam  akibat perubahan  sosial  yang terjadi seperti yang dinyatakan Gertz, melainkan  ia justru  banyak  memelopori  perubahan  sosial.  

            Seorang Kiyai menurut Hiroko Horikoshi  memiliki peran di dalam melakukan perubahan sosial, sebab pertama karena didukung  jaringan sosial  yang luas  antara ulama di bawah kepemimpinan kiyai  yang mempermudah mereka  untuk saling menukar ide dan informasi mengenai  pelaksanaan sistem nasional, dan untuk mengkordinasi  tindakan mereka jika diperlukan. Kedua,  didukung oleh  sumber kemanusiaan  dan finansial setempat  yang dapat digunakan  untuk mewujudkan  perubahan modernisme, dan  ketiga didukung oleh adanya  pengakuan politik dan aliansi  dengan pihak militer dan dengan kaum elit kaya lokal untuk menentang sekularis yang ekstrim.[7]

            Kiyai  menempati  posisi dalam masyarakat Islam. Ia mengambil peran  sebagai poros hubungan antara  umat dengan Tuhan.  Keberadaan kiyai  merupakan elemen penting  dalam kehidupan  masyarakat muslim  sebagai sumber penggerak  dinamika  masyarakat. Dalam perjalanan sejarah pergerakan di Indonesia,  keberadaan  seorang kiyai  bukan saja pandang sebagai  orang yang semata-mata  hanya memiliki pengetahuan  dalam bidang agama saja, namun lebih dari itu mereka banyak berperang di dalam memimpin gerakan perlawanan terhadap kaum penjajah. Begitu juga keberadaan kiyai  banyak yang berkiprah di dalam mendorong dan menanamkan  munculnya kesadaran berbangsa dan bertanah  air  melalui lembaga-lembaga pendidikan yang didirikannya.

            Kiyai juga  merupakan sumber inspirator  di dalam mendorong munculnya  gerakan pembaharuan dan kebangkitan Islam.  Telah banyak berbagai kemunculan  gerakkan keagamaan dan politik Islam  dimotori  oleh kehadiran para kiyai dengan tujuan untuk memperbaiki kualitas kehidupan keagamaan masyarakatnya.  Munculnya organisasi-organisasi keagamaan yang  melakukan usaha penyebaran Islam ke berbagai daerah dan gerakan pembaharuan serta turut mendukung  gerakan kebangkitan Islam  melalui  organisasi al-Irsyad, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, Persatuan Umat Islam  dan lain sebagainya tidak bisa dipisahkan dari peran seorang kiyai.  Dengan demikian telah banyak peran  yang telah diberikan kiyai dalam hubungannnya  dengan kegiatan pembangunan umat.

            Demikian juga bila dihubungkan dengan figur  K.H. Abdul Halim. Keberadaan  K.H. Abdul Halim dapat dipandang sebagai agen perubahan sosial   di dalam  mendorong  terjadinya perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat Islam. Selama hidupnya telah banyak berbagai usaha yang dilakukannnnya  dalam  hubungannnnya untuk meningkatkan  kualitas kehidupan keagamaan masyarakat Islam. Fakta historis yang menunjukkan bahwa kehadirannya dapat dipandang sebagai agen perubah sosial, dapat disaksikan hasil jerih payahnya di dalam  menanamkan ajaran Islam  dalam kehidupan masyarakat. Asumsinya  mungkin di daerah Majalengka tidak  akan ada organisasi Persatuan Umat  Islam  dengan berbagai  programnya yang monumental  di dalam memajukan kehidupan keagamaan tanpa ada usaha-usaha yang dilakukan K. H. Abdul Halim.  Begitu juga  di Majalengka dan daerah sekitarnya tidak akan ada gerakan kebangkitan atau  pembaruan tanpa ada usaha-usaha yang pernah dilakukan K.H. Abdul Halim sebelumnya.   Di sinilah kedudukan K.H. Abdul Halim seperti yang dikatakan Hiroko Horikosi untuk dikatakan sebagai agen perubahan sosial

 

 

 

 

 

 

       
     
 

H. Horikoshi

 

 

 

 

   

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. C.  Hasil Penelitian dan Pembahasan

 

1. Riwayat dan Sejarah Perjalanan Hidup K. H. Abdul Halim

            K.H. Abdul Halim adalah salah seorang figur  ulama  yang telah  memelopori gerakan pembaruan  Islam. Pada masa kecil K.H. Abdul Halim bernama Otong Syatori[8].  Ia dilahirkan  di Desa Sutawangi[9]  Kecamatan Jatiwangi  Kabupaten Majalengka pada hari Sabtu tanggal  26 Juni 1887 M. /4 Syawal  1304 H.[10]  Ia  sendiri merupakan anak bungsu dari delapan  bersaudara,[11] buah dari pernikahan K.H. Muhammad Iskandar dengan Hj. Siti Mutmainah. Ayahnya  merupakan penghulu di  Kewedanan  Jatiwangi dan ibunya  Hj. Siti  Mutmainah adalah puteri seorang ulama  yang bernama  K.H. Imam Safari.  Otong Syatori  menikah dengan Siti Murbiyah, puteri dari  K.H.  Mohammad Ilyas, pejabat Hoofd  Penghulu  Landrad Majalengka[12] yang pada waktu  itu  bertugas   di daerah  Majalengka dan sekitarnya.[13]

            Sejak masa kanak-kanak, Otong Syatori  sudah mulai belajar  mengaji (membaca)  mushaf al-Quran.  Selain  belajar membaca  dan menulis mushaf al-Quran, pada masa kecil Otong Syatori  belajar pula membaca tulis hurup Latin.  Dalam mempelajari hurup latin, ia pernah  belajar  kepada Mr. Van Hoeven[14], seorang missionaries   Kristen (Protestan)  dari keturunan bangsa Belanda. 

            Memasuki  usia  15 tahun, tepatnya  pada tahun 1901 ia mulai memasuki  dunia pesantren. Sebagai  tahap perkenalannya, mula-mula Otong Syatori mengawali pendidikannya dengan belajar di Pesantren  Ranji Wetan, Majalengka yang dipimpin oleh seorang kiyai yang bernama K.H. Anwar.[15]  Setelah itu  ia berpindah-pindah dari satu pesantren ke pesantren  lainnya.  Di antara beberapa kiyai   yang pernah menjadi gurunya  antara lain  K.H. Abdullah, pimpinan dan  pengasuh Pondok Pesantren Lontang Jaya, di  Desa Panjalin Kecamatan  Luewimunding Majalengka ; K.H. Sijak, pimpinan dan pengasuh Pondok  Pesantren  Bobos, Kecamatan Sumber Cirebon;  K.H. Ahmad Sobari, pimpinan dan pengasuh Pondok  Pesantren Ciwedas, Cilimus Kuningan  dan K.H.  Agus, pimpinan dan pengasuh Pondok Pesantren  Kedungwangi,  Pekalongan, Jawa Tengah.[16]

            Pada tahun 1908,  ketika   menginjak  usia 22 tahun, ia   berangkat  ke Mekkah  untuk menunaikan ibadah haji dan   memperdalami kembali ilmu agama.  Selanjutnya ia  pun bermukim  di sana selama  tiga tahun. Selama berada  di Mekkah, ia banyak belajar mendalami  pengetahuan agama  kepada Syekh  Ahmad Khatib  (imam dan khatib Masjidil Haram) dan Syeikh  Ahmad  Khayat. Kemudian ia pun  mulai mengenal  dan mempelajari  tulisan-tulisan  Sayid    Jamaludin al-Afghani dan Syekh  Muhammad Abduh yang  berkaitan dengan pembaharuan  Islam baik yang berhubungan dengan  keimanan , pendidikan,  politik maupun  kenegaraan.

            Ketika berada di Mekah, Abdul Halim  bertemu  dengan Ahmad Sanusi, Mas Mansur[17], Abdul Wahab Hasbullah[18]. Pertemuan  keempat  pemuda  asal Indonesia  tersebut  berlanjut dengan  persahabatan.  Mereka seringkali  terlibat   diskusi  dalam bidang pendalaman  ilmu agama  dan  juga perkembangan kondisi  tanah air  yang sedang dijajah  Belanda.. 

            Setelah selama  tiga tahun  bermukim di Mekah,  Otong Syatori yang telah berganti  nama menjadi Abdul Halim,  pada tahun   1911 M./1328 H  pulang ke Indonesia. Sekembalinya ke Indonesia Abdul Halim banyak aktif  menyampaikan ceramah, mengisi pengajian dan memberikan materi di sekolah-sekolah  dan di lembaga  pendidikan Santi Asromo yang didirikannya, ia juga banyak menulis  buku dan artikel di beberapa majalah  yang terbit ataupun yang diterbitkan  pada waktu itu.    Di antara buku-buku yang telah dikarang  di antaranya ialah  buku yang berjudul Risalah Petunjuk Bagi  Sekalian Manusia (tanpa tahun), Ekonomi dan Koperasi dalam Islam (1936), dan  Ketetapan Pengajaran di Sekolah Ibtidaiyah Persyarikatan Ulama (1934). Selain itu ia juga menulis buku yang berjudul  Da’watul Amal, Tarikh Islam, Neraca Hidup, Risalah, Ijtimaiyah Wailajuha, Kitab Tafsir Tabarok. Kitab 262 Hadits Indonesia dan Babul Rizki, namun  sayang karena buku-buku tersebut dibakar oleh  tentara Belanda ketika  agresi militer II pada tahun 1948, sehingga  yang tersisa tinggal tiga.

Adapun  di antara tulisan-tulisan yang melengkapi gagasan  dan  pemikirannya  lainnya telah   banyak tersebar dalam berbagai majalah dari tahun 1930-an sampai dengan tahun 1962  di antara tulian-tulian itu ialah:  “Jalan Sempurna  ke Arah Kebangkitan  Dunia Akhirat” , Catatan Harian/Manuskrip, tanpa tahun;   “Oelama Pembawa Amanat Allah”, dalam SMI, Vo. 16 Th.II. 1363/2604; “Agama Pelita masyarakat”, dalam Majalah Mingguan Hikmah, No. 19, th.X, 25 Mei 1957/25 Syawal 1376; “Masjarakat Hidup dan Semangat Bekerdja”, dalam majalah Soeara Muslimin Indonesia (SMI),  No.3, th II, 1363/2604;  “Tangga Kebahagiaan Oemoem”, dalam Soeara MIAI, No. 2, th.I, 1934; “Ruangan Hadis Tentang Penutup Para Nabi”,dalam majalah   Soeara  Madjlis Islam A’la Indonesia (MIAI),  No. 2, th. I, 1362/2603; “Azas dan Tujuan Pendidikan/Pengajaran Santi Asromo”  Santi Asromo ,  1932 dan lain sebagainya. 

Sebagai salah seorang pelopor pembaharuan, pemikiran K.H. Abdul Halim  menurut Cholid  Fadlullah[19]  terefleksi dalam tiga konsep utama yang disebut Trisila Hasta Wahana, yang mencakup   pertama konsep dasar bertindak, yang kemudian  disebut konsep  al-Salam. Selanjutnya yang kedua ialah  konsep wahana pendidikan   yang kemudian  terefleksi dalam pendidikan Santi Asromo. Kemudian yang ketiga ialah konsep  tentang hasil pendidikan  yang hendak dicapai yang diberi istilah Santri Lucu .

 

      2. Perjuangan K.H. Abdul Halim di dalam Memelopori Gerakan Kebangkitan Islam di Daerah Majalengka (1911-1962)

            K.H. Abdul Halim merupakan salah seorang   figur  ulama  pembaru   dari Majalengka yang   memiliki jasa  yang besar di dalam mendorong kesadaran di kalangan masyarakat Muslim, bahkan bangsa Indonesia untuk bangkit  mengejar ketertinggalannnya dalam berbagai bidang  melalui serangkaian usaha-usaha  pembaruannnya. 

Dengan berbekal  wawasan  ilmu  agama dan pengetauan  serta  pengalaman yang diperoleh  dari kota Mekah, K.H. Abdul Halim di dalam upaya memelopori gerakan kebangkitan Islam ia  telah berjuang  merancang berbagai   langkah  ke depan bagi kemajuan umat Islam. Diantara langkah-langkah itu ialah sebagai berikut :  

  1. Menyebarkan Agama Islam dengan Mendirikan Majlisul Ilmi.

Di dalam mengawali langkahnya, sebagai langkah yang pertama dari perjuangan yang ia lakukan ialah  bagaimana bisa menyampaikan pesan-pesan  ajaran agama  dalam kehidupan masyarakat. Untuk  merealisasikan cita-cita tersebut pada tahun 1911  ia  mendirikan tempat pendidikan yang bernama  Majlisul  Ilmi sebagai  tempat  pendidikan agama yang  pada awal berdirinya masih berupa   bangunan   yang sangat sederhana mirip sebuah langgar atau  surau.  

                 Pada majlis  ini  ia mulai  merealisasikan apa-apa yang menjadi gagasan-gagasannya  yaitu  memberikan pengetahuan agama  kepada para santrinya.[20]  Melalui  lembaga tersebut, ia terus  berusaha keras  untuk mengembangkan  pendidikan dan ekonomi  masyarakat  sehingga dapat meningkatkan harkat,  martabat  dan taraf hidup  rakyat  yang telah berabad-abad dieksploitasi  oleh Belanda. Dengan melalui jalur pendidikan  K.H. Abdul Halim  meyakini  bahwa kemiskinan,  kebodohan  dan keterbelakangan  yang menimpa masyarakat  pada waktu itu  bisa diperbaiki

                 Di Majlisul Ilmi itu pula  ia mencanangkan  cita-citanya  dalam mengembangkan  ajaran  syariat  Islamiyah melalui  lembaga pendidikan. Di antaramurid-muridnya  yang paling  awal  mengikuti kegiatan  pendidikan  itu berjumlah kurang lebih   tujuh orang,  yaitu : Moh. Syafari, Ahmad Syato, Ahmad Zuhri, Abdul Fatah, Jamaludin, M. Kosim dan M. Adnan. Mereka pada umumnya pada waktu itu  terdiri  anak-anak dan para remaja  yang berasal dari  keluarga  di sekitarnya.[21]

                  Itulah kegiatan yang dilakukan K.H. Abdul Halim dalam gerakannnya menyebarkan agama Islam melalui lembaga  Majlisul Ilmi. Dengan bertempat di langgar  yang sangat sederhana inilah, K.H. Abdul Halim mulai  melakukan berbagai gerakan dakwah. Gerakan dakwah untuk menyampaikan syiar Islam  yang dilakukannya   merupakan  langkah pertama  di dalam melakukan  perbaikan terhadap kondisi masyarakat. 

                  Kegiatan dakwah K.H. Abdul Halim  dalam Majisul Ilmi  tidak hanya menyampaikan  tentang hal-hal yang berkaitan dengan  persoalan-persoalan keagamaan saja.  Ia juga menyampaikan gagasannnya yang berkaitan dengan  pengenalan  dalam penataan ekonomi  bagi para santri dan  masyarakat sekitarnya. Pada majelis ini juga   ia banyak  memberikan  pengetahuan tentang  masalah ekonomi kepada  para santrinya.

   b.  Memperbaiki   Ekonomi Umat ;   Mendirikan Hayatul Qulub

    Pada tahun 1912, K.H. Abdul Halim  mendirikan sebuah  wadah yang bernama  Hayatul Qulub, yang berarti  Menghidupkan Hati[22].  Melalui lembaga ini ia  ingin mengembangkan  gagasan pembaruan  pendidikan, juga aktif dalam bidang sosial-ekonomi dan kemasyarakatan.[23] Hayatul Qulub berdiri  dilatarbelakangi  bahwa  pada masa  penjajahan, perekonomian  bangsa  Indonesia sangat  memperihatinkan. Rakyat banyak yang menderita  karena  kebijakan  politik pemerintah Hindia Belanda   yang kejam dan menindas. Selain itu, tingkat  penghidupan  perekonomian masyarakat  Indonesia mengalami ketertinggalan memiliki keterkaitan dengan adanya unsur  sifat malas  yang ditemukan di kalangan  masyarakat  Muslim[24].  Dengan melihat keadaan ini  K.H. Abdul Halim tergerak  untuk memperbaiki  perekonomian rakyat. Ia tidak ingin  melihat rakyat terjerumus  kepada kesengsaraan  yang berkepanjangan. Menurutnya,  bila rakyat terjepit oleh kesulitan  ekonomi, maka dikhawatirkan  akan memberikan dampak   pada rusaknya  akidah umat.. [25]

      Atas dasar tersebut pemikiran tersebut, K.H. Abdul Halim ingin menyadarkan manusia umat  untuk berpegang teguh  kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Ia ingin memberdayakan  masyarakat melalui gerakan-gerakan swadaya masyarakat. Dalam  rangka  mewujudkan sebuah masyarakat  yang  sejahtera lahir dan batin inilah, ia mendirikan organisasi Hayatul Qulub yang anggota-anggotanya  terdiri dari  para tokoh masyarakat, santri, pedagang dan petani.

  Anggota perkumpulan Hayatul Qulub yang didirikan  oleh K.H. Abdul Halim terdiri dari  para tokoh masyarakat, santri, pedagang dan petani.  Edi S. Ekadjati menyatakan  anggota  organisasi Hayatul Qulub pada mulanya  hanya berjumlah 60 orang,  yang terdiri dari  penduduk sekitar daerah Jatiwangi yang anggotanya  meliputi   para pedagang dan petani.  Setiap  yang mau mendaftar  menjadi anggota organisasi  membayar administrasi pendafataran 10 sen yang akan dipergunakan  untuk membiayai pendirian dan operasional  pabrik tenun yang akan didirikan,  dan membantu  para anggota di kalangan para pedagang untuk mengatasi persaingan  dengan para pedagang Cina.[26] Mereka banyak juga anggota-anggotanya  yang berasal dari  luar kota Majalengka.

   c. Berjuang dari Organissi ke Organisasi

Perjuangan K.H. Abdul Halim di dalam berdakwah dan menyebarkan agama Islam serta usahanya  untuk memperbaiki derajat masyarakat Muslim tidak terbatas aktif   melalui Majlisul Ilmi dan Hayatul Qulub. Ia pun banyak aktif dan berjuang di organisasi-organisasi lain. Di antara organisasi-organisasi itu ialah pertama  memimpin organisasi Sarekat Islam (SI).             Sarekat Islam  adalah salah satu  organisasi politik pada awal abad XX yang cukup menonjol  di Indonesia.  Dalam  perjalanannnya, organisasi ini telah mengalami perkembangan  dan  penyebarann yang sangat pesat. Sebagai organisasi politik  pelopor nasionalisme  Indonesia, Sarekat Islam pada dekade pertama  adalah organisasi politik besar  yang berhasil  merekrut  anggota-anggotanya  dari berbagai kelas  dan aliran  yang ada di Indonesia.[27]

Setelah sukses  pertama di Surakarta, gerakan ini mendapat kedudukan yang kuat di Surabaya. Selanjutnya di Cirebon, Jakarta dan Kudus  didirikan cabang-cabangnya pada tahun 1913. Tidak terkecuali  dengan K.H. Abdul Halim. Ia  pun  pada tahun 1912  bersedia  menjadi pemimpin  organisasi Sarekat Islam cabang Majalengka. Melalui  organisasi Sarekat Islam, K.H. Abdul Halim  akhirnya banyak bergaul  dengan tokoh-tokoh pimpinan pusat  yang mengendalikan Sarekat Islam seperti H.O.S Tjokroaminoto[28], Abdul Moeis, K.H. Agus Salim,  Soewardi Soeryaningrat. Melalui pergaulan itu pula, K.H.  Abdul Halim banyak  menerima  tambahan wawasan,  pengalaman, juga memperkuat ukhwah Islamiyah. Tidak hanya itu, panggilan jiwa untuk mengangkat  harkat dan martabat ummat juga tambah menyala.[29]

Pada situasi  yang secara politis sedang  dalam keadaan  di jajah Belanda, K.H. Abdul Halim  dalam kapasitasnya sebagai pimpinan Sarekat Islam kerap menentang  dan memprotes  setiap peraturan dan usaha yang merugikan, merendahkan, menindas dan menghina derajat umat Islam dan rakyat Indonesia.

Begitulah perjuangan K.H. Abdul Halim selama menjadi pimpinan Cabang Carekat Islam  Majalengka. Melalui jiwa kebersamaan di antara para pemimpin Sarekat Islam dan rakyat, berbagai gangguan bisa diatasi.  Begitu halnya  Sarekat Islam  cabang  Majalengka yang dipimpin K.H. Abdul Halim terus bergerak maju menggelorakan semangat nasionalisme yang dilandasi dengan keyakinan agama, melalui  bentuk kegiatan pesantren,  bidang pendidikan, perekonomian dan social.

Kedua,  Membentuk  Persyarikatan Oelama (PO). Persyarikatan Oelama dibentuk bulan Nopember 1916. Dari semenjak  terbentuk, organisasi Persyarikatan Oelama telah menyatakan diri  sebagai organisasi  yang bergerak  di bidang  pendidikan dan sosial. Secara struktural  organisasi ini terdiri  dari Pengurus Besar dan empat majelis. Pengurus Besar Persyarikatan Oelama menaungi : Pertama, Majelis  Perusahaan Umum yang membidangi perkoperasian dan pertenunan. Kedua, Majelis Perguruan yang mengelola  bidang pendidikan  dan pengajaran. Ketiga,  Majelis Pemuda  yang mengurus  bidang kepemudaaan  dan pengkaderan anggota PO, dan Keempat, Majelis Ilmu Pengetahuan yang mengelola  bidang keagaamaan dan publikasi[30].

Ketiga,  Mendirikan Perikatan  Oemat Islam (POI). Pada tahun 1942, K.H. Abdul Halim   mendirikan  perhimpunan yang  bernama   Perikatan Oemat Islam yang   disingkat POI sebagai kelanjutan  usaha-usaha Persyarikatan Oelama di jaman penjajah Belanda.. Adapun susunan pengurus besar  Perikatan Oemat Islam terdiri dari  K.H. Abdul Halim sebagai Ketua Umum, K.H. Ahmad Ambari sebagai Ketua Harian; M. Asyikin Hidayat dan H. Nawawi masing-masing sebagai  sekretaris I dan II; Abdul Wahab sebagai Bendahara dan beberapa orang pembantu.

Keempat, mendirikan  Organisasi Persatuan Umat Islam (PUI).  Pada tanggal  5 April 1952 M. atau bertepatan  tanggal  9 Rajab 1371 H.  dengan bertempat di Gedung  Nasional kota Bogor,  merupakan hari yang memiliki arti historis bagi warga Persatuan Umat Islam[31]. Dikatakan sebagai hari  yang memiliki nilai historis, karena pada hari itu dideklarasikan berdirinya  organisasi Persatuan Umat Islam yang disingkat PUI, hasil fusi  (peleburan)  dua organisasi sebelumnya   yaitu Perikatan Oemat Islam (POI) yang berpusat di Majalengka dengan pendiri K.H. Abdul Halim  dan Persatuan  Ummat Islam Indonesia (PUII)  yang berpusat di Sukabumi dengan pendiri K.H. Ahmad Sanusi. Ketika organisasi ini didirikan K.H. Abdul Halim, ia berkedudukan sebagai  sebagai Ketua Dewan Penasehat.

  d. Memelopori Kegiatan Pembaruan Pendidikan Islam

     1).Pemrakarsa Berdirinya Lembaga Pendidikan  Terpadu Pesantren dan 

          Madrasah (Jam’iyah I’anah al-Muta’alimin )  

     Pada tahun 1914 kegiatan pendidikan yang  dilakukan K.H. Abdul  Halim melalui Majlisul Ilmi   semakin mendapat perhatian  dari masyarakat, sementara itu apa  yang menjadi cita-citanya tidak hanya  terbatas kepada itu. Ia bercita-cita  ingin mengembangkan sebuah lembaga pendidikan   yang  dapat memadukan antara  pesantren dan sekolah/madrasah. Dengan adanya  pengintegrasian sistem pendidikan  dengan memadukan model pendidikan  pondok pesantren dengan madrasah,   K.H. Abdul Halim berharap  agar   anak didiknya dapat mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh, seimbang melalui latihan jiwa,  intelektual, dan diri manusia  yang rasional. Karena itu menurutnya, pendidikan harus mencapai pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya yang mencakup  spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah dan bahasa baik secara individu maupun kolektif yang mendorong semua aspek itu kearah kebaikan dan mencapai kesempurnaan[32].

     Untuk  segera merealisasikan gagasan tersebut, pada tanggal  16 Mei  1916  diadakan  pertemuan di sebuah  ruangan kantor Kepenghuluan Majalengka yang dihadiri antara lain  oleh K.H.  Muhammad Ilyas, K.H. Jubaedi,  K.H. Mas Hidayat, Mas Sastrasentana, Habib Abdullah al-Jufri, M. Sastrakusumah, R. Acung Sahlan dan K.H. Abdul Halim. Dalam  pertemuan itu dibicarakan  masalah manajemen  pengurusan, pemeliharaan dan pengembangan usaha-usaha pendidikan dan sebagainya. Sebagai tindak lanjut dari pembicaraan itu maka dibentuklah  sebuah perhimpunan yang bernama Ianatul Muta’alimin[33]    sebagai wadah untuk mengelola pesantren dan  madrasah itu.[34]

      K.H. Abdul Halim di dalam  memimpin dan mengelola  madrasah, masjid dan pondok banyak dibantu oleh Mu’alim Bunyamin, Mualim Saleh (K.H. Soleh Solahudin), Mualim  Asy’ari  (ayah dr. Abikusno ), Mu’alim Abhari dan Abdurahman. Perkembangan pesantren dan madrasah  yang dipimpin  K.H. Abdul Halim terus berkembang.   S. Wanta menyatakan  usaha K.H. Abdul Halim tidak sia-sia. Usaha yang dilakukakannnya mendapat  animo yang  besar dari masyarakat, sehingga dengan cepat menjadi terkenal dan  banyak didatangi dari berbagai   daerah  lain.  Di antara murid-muridnya  ialah Kizwini, Muhsin, H. Siroj, H. Amin, Asyikin Sudjai, Abdul Fatah, Abu Bakar, Ma’ruf, Abas, Hasan Ali, Mohamad Ilyas, Abdul Hamid, Romdhon, Abdul Rahim, Ibrahim, Mansyur, Dahlan, Nasuha, Abdul Rahim, Abdul Wahab, Ilham, Kosir, Hasan, Syarif, Amin, Unus, Undi Affandi, Abun Umar, Sahli,  Muhtar dan lain-lain[35].

         Mereka dididik  ilmu agama seperti akidah, akhlak, tarikh (sejarah Islam), fiqih, syariah dan ilmu pengetahuan umum seperti   ilmu bumi, berhitung dan ilmu sosial. Semua materi pelajaran itu  diajarkan melalui  pondok pesantren dan madrasah. Selain itu, para santri  atau pelajar  itu  juga  belajar tentang  berorganisasi. Mereka pada umumnya setelah berhasil menyelesaikan pendidikan  telah memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat  dan tidak jarang telah menempatkannya sebagai  pemimpin keagamaan, trampil di dalam memimpin organisasi. Mereka juga setelah menyelesaikan pelajarannnnya, kemudian ditugaskan  menjadi guru mengajar di cabang-cabang dimana  madrasah  telah didirikan  di tempat itu. Mereka semua  merupakan asset yang sangat berharga   untuk pengembangan madrasah dan cabang-cabangnya. 

         Sebagai hasilnya, selama dalam jangka waktu  tiga tahun (1917-1920)  di  Majalengka  telah berdiri 40 madrasah yang tersebar di  sejumlah tempat  seperti  Jatiwangi, Leuwimunding, Maja, Talaga, Kadipaten, Sukahaji, Kareo, Cideres, Panjalin, Rajagaluh, Kalapadua, Burujul, Sukaraja, Sindanghaji, Pakubeureum, Sukawana, Karanganyar,  Kertabasuki, Cipeundeuy, Losarang, Jatibarang, Cirebon, Bandung, Kuningan, Gegesik, Ciawigebang, Sindanglaut, Karangsambung, Tegal, Pacul, Indramayu, Bobos, Ciwedus, Jamblang, Palimanan dan Mandirancan.[36]

      2).Pendirian Kweeksckhool Persyarikatan Oelama / Sekolah Guru Islam  (SGI) /

          Mualimin/Mualimat PUI/Madrasah Darul Ulum PUI

  Usaha K.H. Abdul Halim  di dalam  memelopori pembaruan Islam melalui serangkaian kegiatan pendidikan  di Majalengka  tidak hanya cukup dengan mendirikan sekolah yang memadukan model  pesantren dan madrasah. Pada tahun 1919  ia mendirikan  Kweekschool  Persyarikatan Oelama, sebuah  lembaga pendidikan  yang didirikan  dengan tujuan pertama,  mencetak  tenaga guru . Kedua,  untuk mendidik  dan mengajar anak-anak  umat Islam  supaya kelak  menjadi manusia yang berharga dan berbahagia di dunia dan akhirat. Kemudian ketiga, untuk mengajak kaum Muslimin agar benar-benar dapat  memahami dan tumbuh rasa  keimanannnya kepada agama Islam.

  Sebagai Kweekschool  Persyarikatan Oelama  yang pertama ialah  Madrasah Tholibin (setingkat  Ibtidaiyah). Pada awalnya masa belajar di madrasah ini adalah lima tahun, tetapi kemudian ditambah menjadi dua tahun  sehingga lamanya menjadi tujuh  tahun. Penambahan  dua  tahun  dimaksudkan  agar murid  kelas tinggi bisa ditugaskan  untuk mengajar, sebagai guru madrasah-madrasah yang bertebaran di beberapa cabang-cabang dan daerah. Selanjutnya madrasah lanjutan dari madrasah Tholibin itu disebut Madrasah Mualimin  (sekolah Guru)[37].

  Pada tahun 1921 telah dibangun gedung  untuk  Kweekschool Persyarikatan Oelama[38]  di atas tanah milik H. Abdul Ghani. Bentuk bangunannya  terdiri  dari lima ruang belajar, permanen menghadap ke utara yang terketak di sebelah Barat alun-alun Majalengka. Selanjutnya, maka berdatanganlah  calon-calon pelajar  ke sekolah ini. Di samping dari  daerah sekitar Majalengka, mereka banyak yang datang dari  Tegal, Semarang, Kudus, Banyumas, Kediri, Pare,  Lampung,  Sumatera dan Jakarta[39].

   Sementara guru-gurunya yang turut memberikan pelajaran adalah  K.H. Abdul Halim, Kiai Asy’ari, Meneer Bontot, K.H. Soleh Solahudin  dan Kiai Abhari. Di samping itu  terdapat juga guru-guru muda seperti  Mohammad Darjo, M.E. Bunyamin, M. Cholil, Sumantri dan lain-lain[40].

  Pada tanggal 19-20 Nopember 1932 berlangsung Konferensi Kilat Persyarikatan Oelama yang bertempat di gedung Kweekschool Persyarikatan Oelama   Majalengka yang  yang mendapat  perhatian besar dengan hadirnya cabang-cabang dan majelis-majelis.  Di antara yang menjadi keputusannnya  adalah bahwa  nama Kweekschool  Persyarikatan Oelama   diganti namanya  menjadi Madrasah  Daroel  Oeloem[41] ( dibaca Darul Ulum).   Madrasah  Daroel Oeloem  Persayarikatan Oelama  kemudian dikenal  dan disingkat DOPOI.  Pada tahun 1932 didirikan DOPOI bagian puteri yang pendidikannnya tidak berbeda. Madarasah tersebut  didirikan  oleh organisasi wanita Persyarikatan Oelama yakni  Fathimiyah[42].

 Perkembangan Madrasah Daroel Oeloem  cukup pesat. Para pelajar  terus bertambah, yang berasal dari berbagai daerah. Dukungan dari para tokoh agama dan masyarakat terus mengalir, baik berupa moral dan material. Di beberapa  daerah yang memiliki cabang organisasi  Persyarikatan Oelama  juga berdiri madrasah-madrasah.

  Perkembangan Madrasah  Daroel Oeloem  Persyarikatan Oelama (PO)  lebih pesat lagi ketika pada tahun 1952 lahir organisasi  Persatuan Umat Islam (PUI).  Melalui organisasi PUI yang memiliki majelis  Pendidikan dan Pengajaran, madrasah-madrasah pun bermunculan, bagai jamur di musim hujan.

  Pada tahun 1968 Madrasah Mualimin (sebelum  madrasah Tholibin) yang telah berdiri  sejak tahun 1919 itu berubah  nama menjadi  Serkolah Guru Islam (SGI). Beberapa tahun kemudian, nama SGI berubah nama  kembali menjadi Madrasah Mualimin. Selanjutnya madrasah itu, sekarang menjadi Perguruan Darul Ulum di Majalengka. Perguruan tersebut menaungi Madrasah  Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawaiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah[43].

  3). Modernisasi Pendidikan melalui Santi Asromo

   Pada tahun 1931  K.H.A. Halim  dalam Kongres Persyarikatan Oelama IX  sebagai prasaran  yang bersumber dari risalah  yang  berjudul Afatul Ijtimaiyah wa Ilajuha mencetuskan gagasan bahwa anak didik  kelak harus  dapat hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat  dan tidak bergantung  kepada orang lain. Atas dasar pertimbangan itu,  mereka harus diberi bekal  keterampilan yang cukup, sesuai dengan kecenderungan dan bakat masing-masing. K.H. memandang  perlu memberikan  bekal  keterampilan kepada anak didik agar kelak dapat hidup mandiri tanpa harus tergantung kepada orang lain atau menjadi pegawai pemerintah.

Untuk meralisasikan  gagasan  tersebut pada kongres tersebut telah  disepakati   sekaligus memberikan dukungan dan kepercayaan sepenuhnya  kepada K.H. Abdul Halim untuk mengelola sebuah  program pendidikan yang tempatnya dibangun secara  terpisah dan khusus. Program  pendidikan itu kemudian  terkenal dengan nama Santi Asromo[44]  yang secara resmi  berdiri pada bulan April 1932.[45] Pengurus Besar  Persyarikatan Oelama (PB PO)  Majelis  Perguruan mengumumkan bahwa pertama, sistem pondok pesantren Santi Asromo, selain mengajarkan pelajaran agama dan pengetahuan umum seperti sejarah dunia, bahasa Belanda, diberi juga  pelajaran praktik bercocok tanam, tukang kayu, kerajinan tangan dan lainnya untuk memenuhi pendidikan akliyah,  pendidikan ruhaniyah dan pendidikan amaliyah. Kedua, program pendidikan Santi Asromo bertujuan agar   kelak anak-anak dapat  mencari rizki  yang halal  tidak memiliki ketergantungan  terhadap pertolongan luar, bahkan secara berangsur-angsur  dapat  memenuhi  kebutuhan sendiri dan percaya pada diri sendiri serta bisa menjadi  Santri Lucu. Ketiga,  para siswa wajib tinggal  di asrama atau pondok  selama 5 atau 10  tahun , dan  diharuskan membawa bekal  beras  30 kati dan uang F.0,60 (enam puluh sen)  tiap-tiap bulan yang  diserahkan kepada  pengurus, tidak dipungut uang sekolah, dan anak-anak harus belajr sendiri[46].

       Dengan memperhatikan kepada ketentuan  tersebut,  maka tujuan  pendidikan lembaga Santi  Asromo  yang didirikan K.H. Abdul Halim adalah pertama  membentuk akhlak yang mulia; kedua, membentuk  daya akal dan budi; ketiga, membentuk  rasa dan sifat sosial;  dan keempat membentuk warga negara yang baik.

       Untuk  pelaksanaan program  pendidikan  Santi Asromo, mula-mula K.H.  Abdul Halim membawa para pelajar  Kweekschool Persyarikatan Oelama (PO) kelas tertinggi. Mereka diajak  mendaki  bukit Sukamanah  ke Santi Asromo untuk belajar di sana seminggu sekali. Mereka berangkat  setiap hari Rabu  dari Majalengka  pukul 14.00 dengan berjalan kaki melewati  Desa Simpeureum – Desa Cigasong menuju Desa Ciomas  Kec. Sukajadi. Di Desa Ciomas biasanya  mereka beristrahat  untuk shalat  Maghrib. Pada malam harinya, para siswa tersebut  menuju Santi Asromo  dan menginap  sampai malam Jum’at. Pada Jum’at pagi mereka  kembali ke Majalengka dengan berjalan kaki pula.  Demikian seterusnya  para pelajar Kweekschool Persyarikatan Oelama  itu melakukannya setiap minggu sekali.[47]

  e. Berkiprah di Panggung   Politik

             Perjuangan K.H. Abdul tidak hanya dalam b idang agama, pendidik dan social. Ia juga  berjuang  dalam  bidang  politik.  Selama ia bermain peran dalam dunia politik, ia  telah berjuang secara maksimum dalam usahanya dengan kegiatan pengembangan politik Islam . Ia telah menumbuhkan kesadaran berpolitik dan bernegara  di kalangan umat Islam. Di samping itu ia telah mengupayakan  dan menggalang  kerja sama antar  organisasi-organisasi dan partai-partai  Islam untuk memperjuangkan syariat Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ia juga telah berupaya menyebarluaskan  prinsip-prinsip dalam berdemokrasi, kebebasan berpikir dan  menyatakan penadapat. Selain itu juga, ia memiliki jasa besar dalam mengembangkan  prinsip-prinsip persamaan, prinsip toleraansi beragama dan  prinsip keadilan.

              Kiprah K.H. Abdul Halim dalam bidang politik  praktis senantiasa  mencoba menampilkan  Islam secara modern dalam rangka mengantisipasi perkembangan zaman. Ia dikenal  sebagai politisi sekaligus negarawan. Hal itu dibuktikan  dalam perjuangan  seperti  keterlibatannnnya dengan aktif berjuang  merebut  kemerdekaan Indonesia dari cengkraman penjajah,  aktif sebagai  pelatih kemiliteran dalam Hizbullah dan Pembela Tanah Air (Peta), anggota  Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), aktif sebagai anggota Chuo Sangi in (Parlemen buatan Jepang), anggota Dokuritsu  Zyumbi Choosokai  / Badan Persiapan Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), anggota Komite Nasional Pemuda Indonesia Pusat (KNIP) dan sebagai  ketua delegasi penyampai resolusi kepada komisaris Republik Indonesia Serikat (RIS) agar negara Pasundan dilebur masuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).     Pada tahun 1959 kiprah K.H. Abdul Halim[48] dalam bidang politik terhenti[49] sinkron dengan kondisi kesehatannnya  yang sudah tidak memungkinkan lagi dan  adanya  pembubaran konstituante melalui Dektrit  Presiden.  Organisasi PUI sendiri  walaupun  bukan lagi anggota Masyumi, sejak  8 September  1959   semakin memfokuskan diri  sebagai sebuah organisasi keagamaan yang mencurahkan  amaliahnya  di bidang pendidikan,  sosial dan  dakwah. 

      

  1. D.  Kesimpulan dan Saran

 

K.H. Abdul Halim adalah salah seorang ulama pelopor pembaruan yang berasal  dari daerah   Majalengka. Melalui serangkaian usaha-usaha  pembaruannnya, dari tahun 1911 sampai akhir hayatnya pada  tahun 1962 ia telah berjuang memajukan  kehidupan keagamaan, pendidikan  dan menanamkan  rasa  cinta  tanah air dengan mendirikan Majlisul Ilmî, Jam’îyatul muta’âlimîn. Selain itu, ia telah  banyak  memberikan kontribusi dalam usaha  memperbaiki ekonomi umat  dengan mendirikan  organisas Hayâtul  Qulûb.  Selama hidupnya, ia juga banyak berkiprah dengan banyak  berpartisipasi aktif dalam berbagai organisasi  sosio-religious-politik seperti  menjadi ketua cabang organisasi  Sarekat Islam cabang Majalengka,  Persyarikatan Oelama (PO),  Perikatan Oemat Islam (POI), Chuo Sangi In, Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), maupun  Dokuritsi Zyiumbi Chosoka I Badan Panitia Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia / (BPUPKI). Salah satu kiprahnya yang   paling monumental  adalah kontribusinya di dalam  memfusikan keberadaan dua organisasi sebelumnya yaitu  Perikatan Oemat Islam (POI)  dan Persatuan Umat Islam Indonesia dengan nama Persatuan Umat Islam (PUI),  di mana melalui wadah organisasi ini ia banyak melakukan  gerakan pembaruan / modernisasi pendidikan seperti yang terefleksi dari madrasah-madrasah yang didirikannya  yang tersebar di berbagai daerah,  maupun keberadaan  pesantren Santi Asromo.

            Penelitian yang dilakukan ini  pada dasarnya baru merupakan langkah awal dari upaya mengungkap tentang kebangkitan Islam di Majalengka melalui kegiatan  pembaruan yang dilakukan K.H. Abdul Halim. Ada beberapa hal yang patut  dikemukakan sebagai saran yang ditujukan kepada, pertama   para peminat  ataupun   para  peneliti sesesudahnya yang merasa  tertarik untuk  melakukan  kegiatan penelitian lanjutan  dengan tema yang sama atau serupa sebaiknya melakukan penelitian tentang keberadaan PUI pasca terjadinya fusi  secara keseluruhan, tidak hanya terfokus di Majalengka. Apa yang diteliti penulis  baru bisa mengungkap tentang kebangkitan Islam, dan itu pun hanya difokuskan di daerah  Majalengka.

Saran  yang kedua,  berhubung K.H. Abdul Halim  telah menjadi Pahlawan Nasional dan keberadaan organisasi PUI sudah tidak terfokus di Majalengka dan  Sukabumi, hendaknya pihak  pengurus PUI bisa  menjaga dan merawat dokumen-dokumen dan arsip yang terkait dengan  aktivtas K.H. Abdul Halim dan kiprah PUI. Jika bisa  diperbanyak sehingga dapat menjadi informasi yang sangat berharga dan dapat diketahui  oleh masyarakat dan generasi mendatang.

     

DAFTAR  PUSTAKA

 A. BUKU

 

Abdul Halim.1934.  Ketetapan Pengajaran di Sekolah Ibtidaiyah Persyarikatan Ulama.  Majalengka: POI-POMP.

 

—————-. 1936.  Ekonomi dan Koperasi Dalam Islam,  Majalengka: Santi Asromo.  

 

—————-.1938. Risalah Penunjuk bagi Sekalian Manusia.  Tasikmalaya, Galunggung Drukkerij.  

 

Ameltz.1952. H.O.S. Tjokroaminoto: Hidup dan Perjuangannya.  Jilid I dan II. Jakarta : Bulan Bintang.

 

Anhar Gonggong. 1985. HOS Tjokroaminoto. Jakarta : Departemen Pendidkan dan Kebudayaan.

 

A.K. Pringgodigdo. 1991. Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat.

 

Aqib Suminto. 1996.  Politik Islam Hindia Belanda.  Jakarta: Lembaga  Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES)

 

Al-Afghani, Sayid Jamaludin.  1995.  “Solidaritas Islam”, dalam John J. Donohue dan John L. Esposito (Ed.), Islam dan Pembaharuan : Ensiklopedi Masalah-masalah, Terj. Machnun Husein.  Jakarta : Rajawali Pers.

 

Anonimous, 1988.  “Abdul Halim” dalam Harun Nasution  dkk. (Ed.), Ensiklopedi Islam.  Jakarta : Departemen Agama.

 

—————-. 1988.  “Pengajian Sorogan/Wetonan”,  dalam Harun  Nasution dkk. (Ed.), Ensiklopedi Islam. Jakarta : Departemen Agama.

 

Aqib Suminto. 1996.  Politik Islam Hindia Belanda.  Jakarta: Lembaga  Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES)

 

  1. Hanafi. 1964.  Pengantar Teologi  Islam.  Yogyakarta : Sumbangsih.

 

  1. Mansur Suryanegara, “Mengenali Kembali Lambang Banteng Sarekat Islam”, Panji Masyarakat,  No. 318 / Tahun XXII,  1981.  

 

————————-. 1995.  Menemukan  Sejarah: Wacana Pergerakkan Islam di Indonesia. Bandung : Mizan.

 

  1. Aziz Halim, 1977. “Ulang Tahun ke-45 Santi Asromo” ,  Brosur , Majalengka : Tanpa Penerbit.

 

Badri Yatim. 1997.  Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Rajawali Pers bekerjasama dengan Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan (LSIK). Cetakan Keenam.

 

Cholid Fadlullah. 1994.  Tri Sila Hasta Wahana dalam Intisab Persatuan Umat Islam. Bandung: Panitya Muktamar IX PUI.

 

Dartum Sukarsa. 2007. Potret K.H. Abdul Halim Dalam Eksistensi Nasionalisme dan Perbaikan Umat (1887-1962).  Bandung: PT Sarana  Panca Karya Nusa.

 

Deliar Noer. 1991.  Gerakan Moderen Islam  di Indonesia 1900-1942. Jakarta: Lembaga  Penelitian, Pendidikan dan  Penerangan Ekonomi dan Sosial. Cetakan Keenam.

 

Edi S. Ekadjati, 1984.  “Sejarah Sunda”  dalam Edi S. Ekadjati (Ed.) Masyarakat Sunda  dan Kebudayaan. Jakarta : Girimukti Pasaka.

 

——————. 2006.  “PUI: Dulu, Kini dan Masa Mendatang” dalam A. Darun Setiady (Ed.),  Revitalisasi Peran PUI dalam  Pemberdayaan Umma.  Bandung : Pimpinan Wilayah Persatuan Ummat Islam Jawa Barat, hlm. 274-275.  

 

G.F. Fijper. 1987.  Fragmenta Islamica: Beberapa Studi Mengenai Sejarah Islam  di Indonesia awal Abad XX, Terj. Tudjimah. Jakarta:  UI Press.

 

Gibs H.A.R dan J.H. Kramers. 1947.  Shorter Encyclopedia of Islam. Leiden: 

 

Graaf, H.J. De   dan G.Th. Pigeaud. 1989.  Kerajaan-kerajaan Islam di Jawa: Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Jakarta: Graffiti Press.

 

Hasan Mu’arif Ambary. 2006.  “Sejarah Perkembangan Persatuan Ummat Islam (PUI)” , dalam  A. Darun Setiady (Ed.), Revitalisasi Peran PUII dalam  Pemberdayaan Ummat, (Bandung : Pimpinan Wilayah Persatuan Ummat Islam Jawa Barat, 2006), hlm. 251.

 

Horikoshi, Hiroko. 1987.  Kiyai dan Perubahan Sosial, Jakarta: Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat.

 

HOS Tjokroaminoto. 1965.  Tafsir Program Asas dan Program Tandhim. Jakarta : Lajnah Tanfiziyah PSII.

 

HOS Tjokroaminoto. 1963.  Islam dan Sosialisme. Jakarta: Lembaga Penggali dan Penghimpun Sejarah Revolusi Indonesia.  

 

Jalaludin.1990.  “Santi  Asromo K.H. Abdul Halim Studi  tentang  Pembaharuan  Pendidikan Islam  di Indonesia.”   Disertasi., Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah.

 

Karel Steenbrink.1984.  Beberapa Aspek Tentang Islam di  Indonesia Abad  ke-19. Jakarta :  Bulan Bintang.

 

Korver, A.V.E. 1985.  Sarekat Islam: Gerakan Ratu Adil. Jakarta: PT Grafitti  Pers.  

 

Kuntowijoyo. 1994.  Paradigma Islam: Interperetasi untuk  Aksi. Bandung: Mizan.

 

Lapidus, Ira M. 1999.  Sejarah Sosial Ummat Islam, Bagian Ketiga, Terj. Ghufron A. Mas’adi, Jakarta: Rajawali Pers.

 

Lewis, Bernard. 1991.  Kebangkitan Islam di Mata Seorang Sarjana Barat.  Terj. Hamid Luthfi A.B.  Bandung : Mizan.

 

Lubis, Nina Herlina.  2006.   “Sejarah Perjuangan Ummat Islam di Jawa Barat” dalam A. Darun Setiady (Ed.). Revitalisasi Peran PUI dalam Pemberdayaan Ummat, Bandung : Pimpinan Wilayah  Persatuan ummat Islam (PUI),   hlm. 264-265.

 

Mardjani Martamin.1985.  Tuanku Imam Bonjol. Jakarta : Departemen Pendidikan dan kebudayaan.

 

Mastuhu. 1994.   Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren: Suatu Kajian  tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: Indonesian-Netherlands Coperation  in Islamic Studies (INIS)

 

Moh. Akim, 1964.  Kiai Haji Abdul Halim Penggerak PUI. Majalengka: Yayasan K.H. Abdul Halim.

 

Mohammad Iskandar.  2001. Pergulatan Pemikiran Kiai dan Ulama di jawa barat, 1900-1950: Para Pengemban Amanah. Yogyakarta: Mata Bangsa.

 

Muhammad bin Abdul Wahab,T.t.  Kasyfal-Syubhat, T.t : Muassasah al- Nur Riadl.

 

M.A. Gani. 1984.  Cita Dasar dan Pola Perjuangan Syarekat Islam. Jakarta : Bulan Bintang.  

 

M. Rusli Karim. 1993.  Perjalanan Partai Politik  di Indonesia : Sebuah Potret Pasang  Surut. Jakarta : Rajawali Pers.

 

Nasution, Harun. 1985.  Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya. Jilid I dan II. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

           

——————-. 1992.  Pembaharuan dalam Islam :  Sejarah Pemikiran dan Gerakan.   Jakarta : Bulan Bintang.  

 

Niel, Robert Van. 1984. Munculnya Elit Modern Indonesia, Terj. Zahara Deliar Noer. Jakarta : Pustaka Jaya. 

 

O.Taufiqullah. 2007.  “PUI dan Ahl  al-Sunnah Wa al-Jamaah”, dalam Ending Solehudin dkk. (Ed.), Refleksi 70 Tahun Prof. Drs. H.O.  Taufiqullah, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dalam Dinamika Perjalanan Tugas dan Pengabdian Terhadap Umat, Bandung: Fakultas Syariah dan Hukum,   hlm. 202-204.

 

Ricklefs, M.C. 1994. Sejarah Indonesia Modern.  Terj. Dharmono  Hardjowidjono. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada Press.

 

Sartono Kartodirdjo. 1992.  Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme. Jilid 2. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Slamet Mulyana. 1985.   Kesadaran Nasional dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan. Jilid 3. Jakarta : Inti Idayu Press.

 

Stoddard, Lothrof. 1966.  Dunia Baru Islam. Jakarta : Panitia Penerbit.

 

———————. 1966.  Pasang Naik Kulit Berwarna. Jakarta : Panitia Penerbit.

 

Sulaeman Sullendraningrat. 1994.  Babad Tanah Sunda Babad Cirebon, Cirebon: Tanpa Penerbit.

 

Suhartono.1994. Sejarah Pergerakan Nasional dari Budi Utomo sampai Proklamasi 1908-1945. Yogyakarta :  Pustaka Pelajar.

 

Susanto Tirtoprodjo. 1961.  Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia.  Jakarta: PT Pembangunan.  

 

S. Wanta. 1990.  Intisab PUI Lahir Penjelasan dan Penerangannnya. Majalengka:  PB PUI Majlis Pendidikan Penerangan dan Dakwah.  

 

—————. 1990.  Al-Mawaiz: Metoda Hidup dan Kendalanya, Buku I s.d. XXVII, Majalengka : Sekretaris Dewan Pembina PB-PUI.

 

—————-. 1991.   35 Tahun  Persatuan Umat Islam, Majalengka, PB PUI, 1991; 

 

—————. 1991.  Seri Ke-PUI-an, Jilid I s.d. IX, PB-PUI, Majalengka : Majelis  Penyiaran Penerangan dan Dakwah.

 

—————. 1997.  Tafsir Asas Persatuan Ummat Islam. Seri III. Majalengka: Pengurus Besar Persatuan Umat Islam  Majelis Pengajaran.

             

—————. 1997.  Aswaja: Ahlussunah waljamaah, Seri V, (Bandung: Pengurus Besar Persatuan Ummat Islam

 

—————. 1997.   K.H. Halim Iskandar dan Pergerakannnya. Seri VI. Majalengka: Pengurus Besar  Persatuan Ummat Islam Majlis  Pengajaran.

 

—————-.1997.  Persatuan Umat Islam Pergerakan Aliran Modern, Seri VIII,  (Majalengka: Pengurus Besar  Persatuan Umat Islam.

 

—————-.1997.  Kelembagaan dan Organisasi Pemuda Pelajar Persatuan  Ummat Islam : Bidang Studi Ke-PUI-an,   Seri IX,  Majalengka : Pengurus Besar  Persatuan Ummat Islam..

             

Tim Penulis IAIN Syahid. 1992.  Ensiklopedi  Islam Indonesia. Jakarta: Djambatan.

 

Sagimun  M.D. 1986.   Perlawanan dan Pengasingan  Perjuang  Pergerakan Nasional.  Jakarta : Inti Idayu Press.

 

Steenbrink, Karel A.  1984.  Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia abad ke-19.  Jakarta:  Bulan Bintang.

 

———————. 1986.  Pesantren, Madrasah, Sekolah: Pendidikan dalam Kurun Modern, Jakarta :  LP3ES

 

———————.  Steeinbrink, Kawan dalam Pertikaian Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia 1596-1942.   Bandung : Mizan.

 

Unang Sunardjo. 1983.  Meninjau  Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809   Bandung : Tarsito.

 

Wawan Hernawan. 2007.  Teologi K.H. Abdul Halim: Ikhtiar melacak  Akar-akar Pemikiran  Teologi Organisasi  Massa Islam  Persatuan Umat Islam (PUI).  Bandung :  Pimpinan Wilayah Persatuan Ummat Islam (PUI) Jawa Barat.

 

Wessel, Antonie. 1984. “Kebangkitan Islam dalam Perspekrif  Sejarah.” Makalah. Jakarta:  IAIN Syarif Hidayatullah.

 

Zamaksyari Dhofier. 1982. Tradisi Pesantren:  Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarata: Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial.

 

           

B. MAJALAH / BULETIN / KORAN         

           

 

Abdul Halim. ”Ajakan yang Sermpurna  Menuju  Kebahagiaan Dunia dan Akhirat”, dalam Buletin  POI, Majalengka:  Tanpa Penerbit.

 

Abdul Halim , “Islah” dalam majalah As-Syuro, No. 5  Tahun VI, 1935, hlm. 185. 

             

Abdul Halim, “Agama Pelita  Masyarakat” dalam Majalah Mingguan Hikmat , No. 19, th.X, 25 Mei 1957/25 Syawal 1376        

 

Abdul Halim, “Pemandangan Kita tentang Persyarikatan Oelama” dalam Majalah  Suara Persyarikatan Oelama, No. 6,7,8 Tahun III

           

Abdul Halim, “ Menuju ke Arah Perbaikan Peri Pergaulan Hidup Manusia bersama dalam Dunia Allah”  dalam majalah Suara Muslimin  Indonesia, No. 4 tahun II, 15 Pebruari 1944/2604.

 

Abdul Halim, “Agama Pelita Masyarakat” Hikmat, No. 19 tahun X, 25 Mei 1957/25 Syawal 1376.

 

Abdul Halim, “Ajakan Sempurna Menuju Ke Arah Kebahagiaan Dunia Akhirat” Buletin Hikmah Syariat, tanpa tahun.

             

Abdul Halim, Buletin Santri Asromo. Majalengka, Sederhana, tanpa tahun.

 

Abdul Halim, “Islah”, dalam Majalah as-Syuro No. 3-4,   Tahun VI, 1935.

             

Anonimous, “Biografi Pendiri PUI : K.H. Abdul Halim (1887-1962)”,   dalam  majalah  Intisabi, No.01 Rabiul Tsani 1430 H/April 2009.

 

Lubis, Nina Herlina,  “K.H. Abdul Halim: Kiai Pergerakan Islam”, dalam harian Umum Pikiran Rakyat, 7 April 2009.

           

 

C. INTERNET            

           

  1. Ki Santri. (2008). Kiai Haji Abdul Halim. (online). Tersedia : http: /www. pp pui.blogspot. com/2008/06/para pendiri PUI/.hotmail  [20 Juni 2009].

 

  1. Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama Republik Indonesia. K.H. Abdul Halim. (online). Tersedia:  http:www.pondokpesantren.net.  [23 Juli 2009].

 

  1. Lubis, Nina Herlina. (2009). “K.H. Abdul Halim: Kiai Pergerakan Islam”. Pikiran-Rakyat. (online). Hlm. 1-4. Tersedia: http:www.pikiran rakyat.com. [20 Juni  2009].

 

  1. Pemerintah  Provinsi Jawa Barat. (2009). Profil Kabupaten/Kota. (online). Tersedia: http://www.majalengka.go.id.  [23 Juli 2009]

 

  1. Erwyn Kurniawan. (2008). K.H. Abdul Halim : Pahlawan Nasional dari Majalengka. (online). Tersedia : http://esgmagazine.com. [23 Juli 2009]

 

  1. Sekretariat Daerah Majalengka. (2009).  Sejarah Majalengka.(online). Tersedia  : http://www.majalengka.co.cc.  [23 Juli 2009).

 

  1. Arthur Maja Kelana. (2009). Sejarah Majalengka. (online). Tersedia: http:// benaloe.wordspress.com. [23 Juli 2009].

 

 


                [1]Deliar Noer, Gerakan  Moderen dalam Islam 1900-1942, (Jakarta : Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, 1991, Cetakan Keenam), hlm.  37-104.

[2]Lihat Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama Republik Indonesia,  K.H. Abdul Halim,  (online),  Tersedia:  http:www.pondokpesantren.net,   [23 Juli 2009].

                [3]Seperti K.H. Soleh Solehudin, K.H. Abdul Aziz  Halim (Putera K.H. Abdul Halim), Karim Halim (putera K.H. Abdul Halim), K.H. Abdul Syakur, K.H. Bunyamin Ma’ruf, K.H. Syiraj Bunjamin, K.H. Ijing Muhajir, K.H. Abdullah Yasin Basyuni, K.H. Ahmad Nawawi, K.H. Muhidin Tohir, K.H. Masum Nawawi, K.H. Masum Ambari, K.H. Endun Abdul Rahim, K.H. Abdul Wahab, K.H. Asikin Hidayat (mantu K.H. Abdul Halim), K.H. Adnan, K.H. Buchari al-Mutasim, Ustadz Toha Kabir, Ustad Muhadzir, S. Wanta dan  lain-lain.

                [4]Di antaranya Prof. Dr. Hasan Muarif Ambari  (alm.),  Prof. Drs. H. Djauharudin AR (alm.),   Prof.Drs. H. O. Taufiqullah dan lain-lain.

                [5] Endang Nurjaman, “Sekilas Propil Prof. H. O. Taufiqullah: Sebuah Biografi Singkat”  dalam Ending Solehudin dkk, Refleksi 70 Tahun Prof. Drs. H. Taufiqullah Dalam Dinamika Perjalanan dan Pengabdian Terhadap Umat, Bandung, Fakultas Syariah dan Hukum, 2007.

                [6]Hiroko  Horikoshi,  Kiyai dan Perubahan Sosial, (Jakarta:  Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat, 1987),   hlm. 242-246.

                [7]Hiroko Horikoshi,  Ibid.,   hlm. 246.

                [8]Sebutan Otong adalah  sebutan  khas  bagi    panggilan untuk  anak-anak di daerah Pasundan sebagai panggilan manja  dari orang tua  terhadap anaknya. Kendatipun  panggilan dengan   sebutan ini sudah jarang dipergunakan  bagi anak-anak  generasi sekarang, panggilan Otong  sama dengan  Acep, Ujang atau Asep yang dikenal  saat ini.  

                [9]Menurut A. Aziz Halim  dam S. Wanta  K.H. Abdul Halim dilahirkan di Desa Sutawangi, sedangkan menurut  Deliar Noer dan Suwandi Wigena Prawira  Abdul Halim dilahirkan  di Desa Cibolerang. Dalam tulisan ini penulis  mengikuti pendapat A.Aziz Halim dan S. Wanta yang menyebutkan bahwa K.H. Abdul Halim dilahirkan di  Desa Sutawangi .

                [10]Lihat S. Wanta  K.H. Halim Iskandar dan Pergerakannnya, (Majalengka: PB PUI, Majlis  Penyiaran, Penerangan dan Dakwah, 1991), hlm. 1. Lihat juga Tim Penulis IAIN Syahid, Ensiklopedi  Islam Indonesia, (Jakarta: Djambatan, 1992), hlm. 8.  Pendapat yang berbeda  dikemukakan  A. Aziz Halim, “Ulang Tahun ke-45 Santi Asromo” ,  Brosur , Majalengka 1977 dan Moh. Akim,  Kiai Haji Abdul Halim Penggerak PUI, (Majalengka: Yayasan K.H. Abdul Halim, 1964), hlm. 5 yang menyebutkan bahwa K.H. Abdul Halim  lahir pada tahun 1892. 

                [11]Di antara saudara – saudara K.H. Abdul  Halim ialah Iloh  Mardiyah,  Empon Kotbiyah, Empeu Sodariyah, Jubaedi, Iping  Maesaroh, Hidayat dan Siti  Sa’diyah.

                [12] Sekarang setingkat Kepala Kantor Departemen Agama  tingkat kabupaten

                [13]Anonimous, “Biografi Pendiri PUI : K.H. Abdul Halim (1887-1962)”,   dalam  majalah  Intisabi, No.01 Rabiul Tsani 1430 H/April 2009, hlm. 29.

[14]Mr. Van Hoeven adalah  seorang misionaris zending  yang mengurus  badan-badan  penyelenggara penyebaran  Injil  agama Kristen. Ketika itu, para kaum  Zending banyak tersebar di berbagai pelosok Nusantara, termasuk  salah satunya adalah Cideres sebagai  pusat  penyebaran agama Kristen Protestan  di wilayah kabupaten Majalengka..

[15] Dartum Sukarsa, Potret K.H. Abdul Halim dalam Eksistens Nasionalisme dan Perbaukan Umat, (Bandung: PT Sarana Panca Karya Nusa, 2007),   hlm.11.  

                [16] Anonimous, “Biografi Pendiri PUI : K.H. Abdul Halim…,   hlm. 29.

                [17]K.H. Mas Mansur   berasal dari Surabaya. Ia berada di Mekah  dalam rangka  menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu, bersama dengan Abdul Halim.  Ia datang ke Mekah pada tahun 1908 M. Setelah  menimba  dan memperdalam ilmu agama di kota Mekah, Mas Mansur  melanjutkan  belajarnya ke Universitas Al-Azhar di Mesir.  Di Mesir inilah ia melihat kebangkitan nasionalisme  dan gerakan pembaruan yang dilakukan pemuda-pemudi  Mesir, untuk bekal dalam pergerakannya di tanah air. Selama berada di Timur Tengah ini juga, Mas Mansur  sempat mengunjungi Libya  yang saat itu sedang dijajah Italia.

                [18]Abdullah Wahab Hasbullah  adalah seorang  pemuda  asal Pesantren Tambak Beras Jombang. Ia pergi ke Mekah  dalam rangka  menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu .

                [19] Cholid Fadlullah adalah cucu K.H. Abdul  Halim dari anaknyanya yang bernama Siti Fatimah yang menikah dengan Abdul Kohar

                [20] Anonimous, “Biografi Pendiri PUI : K.H. Abdul Halim…,  hlm. 29.

                [21] S. Wanta, K.H.A. Iskandar  dan…,    hlm. 6.

                [22]Anonimous, “Sejarah dan Dinamika PUI”, dalam  Majalahh Intisabi,  No. 01/April  2009 M/Rabiul Akhir 1430 H, hlm. 22.

[23]Ibid, hlm. 30; Lihat juga Ki Santri,  Kiai Haji Abdul Halim,  (online),  Tersedia : http: /www. pp pui.blogspot. com/2008/06/para pendiri PUI/.hotmail,   [20 Juni 2009].

[24]Anonimous, “Abdul Halim”  dalam Harun Nasution dkk. (Ed.), Ensiklopedi Islam , Jilid  I, (Jakarta : Departemen Agama, 1988),  hlm. 11. 

                [25]Dartum Sukarsa, Potret K.H. Abdul Halim Dalam Eksistensi Nasionalisme …,  hlm.57.

                [26]Edi S. Ekadjati, “PUI: Dulu, Kini dan Masa Mendatang” dalam A. Darun Setiady (Ed.),  Revitalisasi Peran PUI dalam  Pemberdayaan Ummat, (Bandung : Pimpinan Wilayah Persatuan Ummat Islam Jawa Barat, 2006), hlm. 274.

[27]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Peradaban, (Jakarta : Rajawali Pers bekerjasama dengan Lembaga Studi Islam dan Kemasyarakatan, 1997),  hlm. 259.

                [28]Hubungan K.H. Abdul Halim dengan H.O.S Tjokroaminoto sangat  akrab dan dekat, seperti kakak dan adik.  Mereka sering bertemu  di Majalengka ataupun  di Solo dalam kegiatan organisasi. |Oleh karena  terikat dengan  kegiatan organisasi Sarekat Islam, antara K.H. Abdul Halim dan H.O.S Tjokroaminoto,  dalam  beberapa pertemuan sering kali dimintanya  nasihat  kepada Tjokroaminoto untuk ikut  membantu  memikirkan bagaimana menyusun  dan mengatur organisasi.  

                [29]Dartum Sukarsa, Potret K.H. Abdul Halim Dalam Eksistensi Nasionalisme …, hlm. 67

                [30]S. Wanta, K.H. A. Halim Iskandar dan …, hlm. 11

[31]Anonimous, “Persatuan  Umat  Islam” dalam Harun Nasution dkk., Ensiklopedi …, hlm. 920.

                [32]Dartum Sukarsa, Potret K.H. Abdul Halim dalam Eksistensi Nasionalisme…, hlm. 70

                [33]Ianatul Muta’alimin  artinya  pertolongan kepada para pelajar.

                [34] Dengan pengaruhnya sebagai Hoofd Penghulu Landraad  Majalengka (Sekarang setara dengan Kepala Kantor Departemen  Agama) , K.H. Muhammad Ilyas , dalam waktu singkat  di wilayah kabupaten Majalengka  banyak berdiri  cabang-cabang Ianatul Muta’alimin. Para naib dan penghulu  banyak yang membantu  pendirin  wadah itu  di tingkat kecamatan.

                [35]S. Wanta, K.H. A. Halim Iskandar dan…,   hlm. 8.

                [36]S. Wanta, K.H. A. Halim Iskandar dan…, hlm. 9.

                [37]S. Wanta, K.H. A. Halim Iskandar dan…, hlm. 16.

                [38] Dalam membangun Kweekschool Persyarikatan Oelama   ini jasa K.H. Muhammad Ilyas, mertua K.H. Abdul Halim sangat besar, baik tenaga, pikiran dan  tenaga.

                [39] S. Wanta, K.H.A. Halim Iskandar dan …,  hlm. 17

                [40] S. Wanta, K.H.A. Halim Iskandar dan …,  hlm. 17

                [41]Madrasah tersebut sekarang  menjadi Perguruan Darul Ulum di Majalengka. Kini dalam perguruan tersebut  terdapat Madrasah Diniyah, Tsanawiyah dan Aliyah.

                [42]S. Wanta, K.H.A. Halim Iskandar dan …,  hlm. 18.

                [43]Dartum Sukarsa, Potret K.H. Abdul Halim dalam Eksistensi Nasionalisme…, hlm. 96.

                [44]Nama Santi Asromo  berasal dari bahasa Kawi atau Jawa Kuno yakni Santi  yang berarti tempat dan Asromo yang berarti  damai serta sunyi. Maksudnya, Santi Asromo adalah tempat  pendidikan  yang sunyi dan damai, yang terhindar dari pengaruh keramaian kota dan memberikan  kedamaian bagi anak didik dalam belajar.  K.H. Abdul halim berpendapat  bahwa anak didik harus terhindar dari   pengaruh yang akan meracuni  perkembangan jiwanya. Menurutnya, pada tempat yang ramai   sangat sulit menanamkan  nilai-nilai pemdidikan kepada anak didik. Sebaliknya di tempat yang  sunyi  hal itu  dapat tertanam kuat dan dan tumbuh subur di hati mereka.

[45]Lihat Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama Republik Indonesia,  K.H. Abdul Halim. (online). Tersedia:  http:www.pondokpesantren.net.  [23 Juli 2009].

                [46] S. Wanta, K.H.A. Halim Iskandar  dan …, hlm. 19

                [47] S. Wanta, K.H.A. Halim Iskandar  dan…, hlm. 19-20.

[48]Pada tanggal   7 Mei  1962 M.  / 3 Dzulhijah 1381H.   K.H. Abdul Halim meninggal dunia dengan tenang di  Pesantren   Santi Asromo. Atas  jasa-jasa dan perjuangannya, K.H. Abdul Halim  dari Pemerintah R.I. mendapat penghargaaan  sebagai  Perintis Kemerdekaan dan Bintang Mahaputera Utama. Selanjutnya dengan  mempertimbangkan  bahwa jasa-jasanya yang jauh lebih besar bagi bangsa Indonesia, pada tahun  2008  pemerintrah R.I. menetapkan K.H. Abdul Halim sebagai  Pahlawan Nasional.  

                [49]Walaupun K.H. Abdul  Halim  sejak tahun 1959 sudah tidak menggeluti  politik praktis,  namun ide-ide atau gagasan cemerlangnya  masih banyak mendapat perhatian dan acuan  dari kawan-kawannnnya, seperti Soekarno, Mohamad Roem, Mr. Ali Sastroamijoyo, Idham Cholid dan lain-lain. Menurut informasi, Presiden   Soekarno sering menghubungi K.H. Abdul Halim dengan mengunjungi K.H. Abdul Halim  ke Pondok Pesantren Santi Asromo untuk bersilaturahmi ataupun  memohon fatwa  tentang persoalan-persoalan bangsa. 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s